Posts Tagged With: Lampung

Momen Berbagi Momen Kebahagiaan Bersama

Zrami 48

Curug Cilember Bogor Jawa Barat

Hari ini banyak yang merayakan Valentine Day sebagai hari kasih sayang. Meski banyak pro kontra terkait peringatan yang diperingati setiap tanggal 14 Februari tersebut. Sisi historis yang memang tak berhubungan dengan kearifan lokal warga Indonesia dan dianggap sebagai budaya Barat yang ditanggapi berbeda biarlah kembali kepada keyakinan masing masing. Hal terpenting meskipun momen hari Valentine dirayakan oleh sebagian masyarakat jadi polemik, lebih baik meningkatkan kadar rasa sayang yang selama ini kurang atau menghilang.

Salah satu cara yang kulakukan dalam mengungkapkan rasa sayang kepada puteri kecilku adalah mengajaknya menikmati keindahan Indonesia. Indonesia yang kaya akan beragam hal, keindahan, keberagaman agama, keberagaman alam serta hal hal lain yang bisa meningkatkan kadar cinta kepada alam dan sesama. Cinta toh tak hanya termanifestasikan kepada manusia tetapi kepada alam serta lingkungan. Sebuah rasa cinta yang akan terus abadi saat menyatu dengan alam dan sesama.My Ezra 2

Momen berbagi cinta, momen kebersamaan dan momen kebahagiaan tak akan pernah terulang. Tetap survive dan menjalani kehidupan dengan penuh cinta meski tertatih tatih pasti akan dialami oleh setiap manusia. Jika ada yang mengatakan obat paling mujarab untuk mengobati segala patah hati adalah jalan jalan, ada benarnya. Menikmati kebahagiaan bersama puteri kecilku dengan tetap menikmati sebatang coklat kecil, secangkir kopi hangat dan merasakan keceriaannya.

Air akan tetap murni dengan mengalir dan akan memberi kejernihan dalam aliran selanjutnya

Momen momen kebahagiaan itu tetap harus terus terjaga meskipun bukan dalam momen Valentine.

henk-widi-18

Dermaga Boom Kalianda

https://hendricuswidiantoro.wordpress.com/2014/11/02/wake-me-up-they-dont-like-us-why/

Tak ada bahagia yang berangkat dari hati. Pagi ini dalam keindahan Matahari pagi. Puteriku mengajakku jalan jalan dalam suasana pagi di kaki Gunung Rajabasa. Bangun pagi dan menikmati suasana alam pedesaan. Memberi kebahagiaan dan keceriaan bagi puteriku pagi ini. terima kasih Tuhanku. Baca lebih lanjut

Iklan
Categories: Aventure, Kisah Kisahku | Tag: , , , , , , | Tinggalkan komentar

Sebuah Perjalanan: Tiga Provinsi Satu Lensa

Henk Widi_PKU13

Jembatan di Provinsi Jambi

Perjalanan menuju tempat baru. Pemandangan, pengalaman yang terekam seorang pejalan belum lengkap jika tidak terekam dalam dokumentasi visual. Rekaman ingatan masih terkadang belum sempurna sehingga perlu dituangkan dalam bentuk dokumen visual. Perjalanan tiga Provinsi dari Provinsi asal, Lampung-Sumatera Selatan-Jambi-Riau merupakan sebuah perjalanan seorang backpacker sepertiku. Menggunakan metode tumpangan atau istilah kerennya hitchiking membuat sebuah tempat bisa kukunjungi dengan beberapa pertimbangan. Perlu sebuah tantangan dan komunikasi yang untuk mengenal orang orang baru dan di tempat baru yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.

 

Henk Widi_PKU18

Belilas Provinsi Riau

Meski bukan seorang pejalan, backpacker, hitchhiker profesional, namun pengalaman melakukan perjalanan adalah bentuk rasa syukur atas kesempatan mengunjungi tempat tempat baru. Perjalanan selalu menghadirkan hal hal baru baik infrastruktur jalan, jembatan, kuliner, tempat tempat baru yang memiliki keberagaman sebagai Indonesia yang sebenarnya. Keramahtamahan Indonesia yang tetap ada sebagai warisan suku bangsa Melayu di Pulau Sumatera.

Henk Widi_PKU1

Jalanan di Provinsi Jambi

Perjalanan yang terekam dalam kamera memperlihatkan kekayaan Indonesia dalam banyak hal meskipun belum secara keseluruhan. Sebuah rekaman yang merupakan dokumen pribadi akan sebuah perjalanan yang memberikan kenangan akan indahnya Pulau Sumatera dari beberapa aspek. Kesan infrastruktur yang bagus dan berbeda dengan beberapa provinsi lain.

Berikut beberapa jepretan perjalanan ke beberapa Provinsi yang terekam dalam lensaku: Baca lebih lanjut

Categories: Adventure, Kisah Kisahku | Tag: , , , , , , , | 8 Komentar

Nikmati Liburan Akhir Tahun dengan Tepat

 

Liburan Idul Adha 5

Liburan di pantai

Liburan sekolah, liburan Natal dan menjelang tahun baru banyak pilihan yang dilakukan masyarakat.Bagi pecinta wisata pantai bersama keluarga tentunya akan mengajak keluarga ke pantai. Namun saat ini dengan pikiran yang sama semua orang memenuhi hampir setiap tempat wisata. Pergi berpiknik ke luar kota tentunya akan sangat macet karena semua orang memiliki keinginan yang sama berlibur di luar kota. Konsekuensinya jalanan penuh dengan kensaraan berbagai jenis mulai dari kendaraan roda dua dan roda empat.

Pantai 11

Nikmati pantai

 

Alam Henk Widi 5

South Lampung

Sebagai pejalan tentunya akan menghindari bepergian pada saat ini. Meskipun budget cukup namun jika hasilnya bukan sukacita melainkan justru bete di jalan mendingan memiliki siasat yang setiap orang tentunya memiliki cara sendiri. Berkumpul bersama keluarga di rumah dengan memasak masakan kesukaan, bakar ikan, serta kegiatan keluarga lainnya. Pastinya liburan bukan untuk menikmati suasana macet dan apalagi berlama lama di jalan.

Lampung Selatan yang biasanya merupakan kawasan tanpa macet pun saat liburan akhir tahun kondisinya sangat macet. Berbagai kalangan baik wisatawan lokal maupun wisatawan dari daerah lain memadati kawasan wisata di sekitar pesisir pantai Kalianda dan dampaknya macet !

Apapun cara menikmati liburan tentunya jangan justru menjadikan suasana liburan justru mengecewakan karena terjebak macet. Selamat berlibur akhir tahun! Beberapa suasana kemacetamn saat liburan di Lampung Selatan  seperti terlihat di gambar ini: Baca lebih lanjut

Categories: Adventure, Adventure and Treking, Kisah Kisahku | Tag: , , , | 2 Komentar

Eksotisme Pasir Timbul Pulau Mengkudu Lampung Selatan

Jalanan berliku liku dengan view perbukitan, punggung Gunung Rajabasa menjadi pemandangan menarik saat akan menuju salah satu spot jalur wisata petualangan yang ada di Lampung Selatan. Lokasi wisata ini sedang booming, bagi para instagramer, Twitter, maupun yang sedang senang eksis dengan selfie serta pose pose cantik berlatarbelakang Pulau Mengkudu yang ada di Desa Totoharjo Kecamatan Bakauheni (Semula sempat dikenal dan penulis menulis sebagai wilayah Desa Batu Balak Kecamatan Rajabasa , tapi diralat oleh warga sekitar he he ) tersebut. Keindahan ini jangan serta merta ditelan mentah mentah karena harus ada pengorbanan yang baik waktu, tenaga serta kuda besi yang harus selalu dalam kondisi prima.

????????????????????????????????????

Pulau Mengkudu Lampung Selatan ( Foto: Hendricus Widiantoro)

Eksotisme tersebut merupakan reward khusus dan tertantang untuk melakukan petualangan untuk menghadiahi diri dalam rangka hari jadi, ulang tahunku. Bagaimana tidak bersyukur karena ada yang memberi hadiah mungkin untuk bepergian jauh ke Raja Ampat atau Bali, Lombok tapi menyadari semua itu harus memerlukan budget lebih serta mengganggu pekerjaan maka destinasi terdekat masih seputar Lampung. Lampung Selatan yang menjadi gerbang Pulau Sumatera rupanya memiliki potensi keindahan yang bisa dinikmati dengan low budget.

Menyusuri jalan lingkar pesisir dari arah Desa Gayam Kecamatan Penengahan menyusuri desa desa dan perbuktian, sawah dan pemandangan alam Gunung Rajabasa adalah hadiah istimewa bagi yang akan menuju ke Pulau Mengkudu. Setelah beberapa menit tepatnya menyusuri jalan beraspal dengan kuda besiku Revo akhirnya jembatan penghubung Desa Totoharjo dan Desa Kerinjing dan Desa Batu Balak harus kusudahi untuk menyusuri jalanan tanah yang berdebu (mungkin jika musim hujan berlumpur).

????????????????????????????????????

Tanda arah

Di pos pertama seorang petugas security dengan ramah memintaku untuk mengisi daftar tamu. Buku tamu yang menjadi saksi berapa jumlah pengunjung yang berniat untuk mengunjungi Batu Lapis dan Pulau Mengkudu. Ada ratusan pengunjung dari beberapa daerah bahkan dari luar Lampung atau luar Sumatera. Security tersebut tampak ramah dan menunjukkan arah untuk menuju ke lokasi yang kumaksud. Ia adalah security yang menjaga jalur untuk ke lokasi penambangan batu di wilayah tersebut dan sekligus menjadi jalan untuk akses ke Pulau Mengkudu.

????????????????????????????????????

Jalan tanah ke lokasi

Batu batu besar, sungai kecil dengan air jernih, sawah dan beberapa petani yang menggarap sawahnya menjadi pemandangan saat menuju Pulau Mengkudu. Sebaiknya membawa masker atau penutup hidung serta pelindung mata jika melintasi wilayah ini karena debu yang timbul akibat angin. Jalanan selebar empat meter akan berakhir dengan cegatan sebuah sungai yang sangat jernih airnya dan arah menuju ke Batu lapis dan Pulau Mengkudu akan berubah jalur menjadi jalans etapak yang hanya bisa dilalui oleh satu atau dua kendaraan bermotor. Setelah sungai kecil tersebut pengguna kendaraan roda empat harus rela berjalan kaki atau berganti akomodasi kendaraan roda dua atau kalau menyukai hiking, treking bisa menikmatinya sambil menyanyi atau menikmati hijaunya tumbuhan di sana (sambil bercengkerama dengan burung burung atau melihat buah durian bergelantungan, tapi jangan ikut bergelantungan he he he..monyet yach?).

Kedatanganku disambut sang sobat, Zamroni yang sudah menunggu bersama dengan beberapa petugas yang memang menunggu lokasi parkir kendaraan roda dua. Sebanyak tujuh orang tetap menjadi penjaga area parkir sekaligus dengan sangat ramah akan menjadi pemandu menunjukkan spot spot menarik untuk mengambil view. Catatan: para penunggu parkiran ini benar benar sangat friendship dan saat berbincang denganku terlihat beberapa memang berlaku seperti pemandu wisata (Salut deh untuk pemuda Batu Balak!).

????????????????????????????????????

Guard dan Guide Pulau Mengkudu

Keramah tamahan yang kuperoleh tersebut adalah cerminan bahwa wisata Lampung Selatan adalah kunci untuk menarik wisatawan berkunjung. Aku bahkan sempat ditunjukkan view menarik sebelum akhirnya turun ke spot utama di Pasir Timbul Pulau Mengkudu.

Tiba di lokasi untuk parkir kendaraan sekaligus base camp. Bagi yang masih kuat fisiknya bisa langsung turun ke lokasi pasir timbul. Tapi ini juga membutuhkan stamina cukup baik karena jalanan yang terjal di sini. Nah setelah beberapa menit menyusuri kebun pisang maka deburan ombak dan sesekali bisa berswa foto. Tapi ada yang membuat miris karena para pecinta alam yang ngaku pecinta alam justru membuang kertas sembarangan dan juga sampah sampah plastik. Jangan lebay dan alay buat foto foto tapi buang sampah sembarangan!

????????????????????????????????????

Pasir Timbul

Saat sampai di bawah deburan ombak akan terasa saat menyusuri pantai dan bisa mlihat pasir putih yang ada di lokasi pasir timbul dan Pulau Mengkudu di seberang. Jika sedang beruntung atau membawa bekal bisa makan makan di tepi pantai serta di bawah rerimbunan pohon yang banyak terdapat di Pulau Mengkudu. Pasir timbul ini konon memang ada karena pertemuan antara dua arus sehingga menimbulkan pasir, koral serta batu batu karang kecil di antara Pulau Sumatera dan Pulau Mengkudu.

Saat berada di sini beruntung bisa bertemu dengan dua orang pemancing yang sengaja datang untuk memancing. Keduanya merupakan warga Desa Totoharjo yang menyempatkan akhir pekan untuk mencari ikan di Pasir Timbul Pulau Mengkudu. Setelah asik melihat dari dua sisi dari Pulau Sumatera dan melihat ke arah sebaliknya dari Pulau Mengkudu ke arah Pulau Sumatera akhirnya aku meminta tolong sang pemancing untuk mengambil gambarku di atas pasir timbul. Pulau Mengkudu ini menjadi lokasi yang sangat unik dan menjadi lokasi tepat untuk menenangkan diri karena jauh dari hiruk pikuk. Cocok untuk mencari keheningan dan mensyukuri keindahan yang telah diberikan Pencipta di alam Indonesia khususnya di Lampung Selatan. Baca lebih lanjut

Categories: Lampung, Lampung Selatan, PAsir Timbul, Pulau Mengkudu, Wisata | Tag: , , , , , , , | 37 Komentar

Navara Ajakku Nikmati Petualangan Alam Lampung

Ketangguhan Navara yang merupakan salah satu produk pabrikan otomotif dari PT Nissan Motor Indonesia (NMI) merupakan pertama kalinya kulakukan bersama pak Hindar dan pak Supri dari Jakarta. Awal petualangan dengan kedua petualang sejati tersebut diawali dari pintu keluar kapal milik PT Jemla Raja Rakata kemudian menyusuri jalanan mulus di Lampung Selatan, melintasi jalanan mulus hingga ke Tanggamus dan Pesisir Barat Lampung. Ini kali pertama Navara mengajakku menikmati keindahan Sang Bumi Khua Jurai yang terkenal dengan tanah lada.

????????????????????????????????????

Nisan Navara melintasi Way Haru Suoh lampung Barat Lampung

Sebelum berangkat sudah kucari terkait kendaraan yang cocok untuk petualang tersebut. Sebuah kendaraan dobel kabin yang mungkin tak bisa kumiliki he he (harganya muahaal amit). Berdasarkan informasi yang kuhimpun PT Nissan Motor Indonesia (NMI) meluncurkan All New NP300 Navara, double cabin 4WD dengan desain paling modern di kelasnya, teknologi terdepan, terbukti tangguh di berbagai medan dan efisien.

All New NP300 Navara yang merupakan generasi Nissan pick-up ke-12, kini hadir dengan dua model, mid-grade (SL) yang ditawarkan bagi pelaku bisnis dan high-grade (VL) bagi segmen privat yang gemar berpetualang. Dengan dukungan 115 jaringan dealer di seluruh Indonesia dan layanan purna jual – Nissan Maximum Service, khusus bagi All New NP300 Navara – produk terbaru Nissan ini siap menembus segmen komersial di Indonesia.

????????????????????????????????????

Mendekati Perbatasan Tanggamus di trek jalan tanah merah dan batu

Steve Ardianto, President Director NMI menjelaskan, “Segmen komersial merupakan pasar yang besar di Indonesia, dengan komposisi sekitar 30% dari total pasar otomotif nasional. Untuk itu, melalui keahlian Nissan selama 80 tahun untuk membuat pick-up yang reliable, kami membidik segmen ini melalui All New NP300 Navara. Generasi terbaru ini kini memiliki tipe mid-grade, yang akan memberikan solusi terbaik bagi para pelaku bisnis di segmen komersial, tanpa melupakan segmen privat yang selama ini dipenuhi Navara melalui tipe high-grade”.

Navara Henk Widi 10

Melintasi Jembatan Way semaka di Tanggamus

All New NP300 Navara menawarkan kombinasi sempurna antara tampilan yang memikat, performa impresif, efisiensi, ketahanan dan ketangguhan yang teruji di beragam medan – antara lain menjadi double cabin bertransmisi otomatis pertama yang berhasil menapak Gunung Tambora.

All New NP300 Navara dilengkapi mesin generasi terbaru 2.5-liter DOHC in-line 4-cylinder intercooled turbo Diesel yang dikombinasikan dengan transmisi manual 6-percepatan (tipe SL dan VL) dan transmisi otomatis 7-percepatan (tipe VL), yang menghasilkan performa impresif, akselerasi dinamis dan efisien bahan bakar.

All New NP300 Navara menawarkan pilihan warna, Brilliant Silver, Black Star, Solid White (tipe SL), Pearl White (tipe VL) dan Savanna Orange (tipe VL), dengan harga on the road Jakarta: Rp 380 juta (tipe SL M/T), Rp 415 juta (tipe VL M/T) dan Rp 430 juta (tipe VL A/T).

Nah berbekal informasi tersebut, akhirnya menjadi kenyataan bisa berada di samping kemudi dan berada di kabin belakang. Modifikasi warna orange di depan, samping dan belakang pada Navara milik Pak Hindar ini menamabah garang Navara yang mengantar kami ke beberapa kabupaten di Lampung.

????????????????????????????????????

Navara di Lampung Barat

Perjalanan yang kami tempuh memakan waktu total waktu sekitar enam hari dengan melintasi Kabupaten Lampung Selatan hingga ke Lampung Barat. Beberapa rute yang kami lalui sangat beragam: jalan mulus, jalan berbatu, melintasi bukit, tanjakan, lembah serta kubangan berair. Bahkan yang lebih mengasikkan melintasi sungai Way Haru yang masih mengalir meski debit airnya kecil akibat musim kemarau.

Ketangguhan Navara tersebut sangat terasa mengatasi medan medan sulit apalagi di medan mulus. Trek dan jalur berliku bahkan ditaklukkan dengan mudah dibawah kendali pak Hindar. Aku mah hanya duduk di belakang sambil mengintip jika aku memperoleh  view view menarik dari kabin. Navara telah memberiku kesan mendalam akan kendaraan petualang yang nyaman dan save. Selain mendapatkan pengalaman petualangan akhirnya aku bisa juga merasakan camping di Rumah Kalkun Pringsewu, menikmati kuliner di beberapa wilayah di Lampung yang kami lalui.

Berikut perjalanan yang terekam dalam perjalananku bersama Navara, selain itu jepretan foto foto Navara lain yang kuperoleh dalam perjalanan dan huntingku: Baca lebih lanjut

Categories: Adventure, Adventure and Treking, All New NP300 Navara, Lampung, Navara, PT Nissan Motor Indonesia (NMI) | Tag: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Menyusuri Bibir Lautan Hindia Berbekal Kearifan Lokal Way Haru

????????????????????????????????????

Way Haru Pesisir Barat

Perjalanan menyusuri bibir lautan hindia merupakan perjalanan pertama kali yang kulakukan. Perjalanan yang harus bersentuhan dengan jilatan ombak yang menerjang untuk menuju sebuah wilayah di bibir Samudera Hindia bernama Way Haru Kecamatan Bengkunat Belimbing Pesisir Barat. Awalnya dari kisah yang kudengar dari pak Hindar dan pak Supri yang mengajakku ke lokasi ini perjalanan ke lokasi Way Haru harus menyeberangi sungai, muara dan pasir yang bersentuhan langsung dengan Samudera Hindia. Bayangan basah, menyeberangi sungai dengan sesekali melihat penyu Belimbing atau Buaya Muara sirna setelah melihat kenyataan berbeda.

????????????????????????????????????

Way Haru Pesisir Barat

Kenyataan berbeda tersebut bukan karena salah melainkan karena pak Hindar jauh jauh hari memperhitungkan kondisi cuaca terbaik menuju lokasi itu adalah jangan waktu musim penghujan. Benar saja berbekal tekhnologi serta kearifan lokal masyarakat setempat tentang penghitungan waktu terbaik untuk melintasi jalan pasir membuat kami menemukan keindahan yang berbeda dari perjalanan sebelumnya.

Pasir bersih, nyaris tidak ada batu karang dan hanya sampah sampah kayu kering sesekali kami temui di perjalanan. Konon menurut warga pasir putih tersebut ada masanya karena ada waktunya nanti saat “pembersihan” dimana penguasa lautan akan kembali menarik pasir pasir tersebut untuk dibersihkan dan baru saat itu karang karang kecil akan muncul. Siklus yang bagi masyarakat dihitung untuk memudahkan perjalanan.

Tulisan perjalanan ini kuposting ditulisan sebelumnya:

https://hendricuswidiantoro.wordpress.com/2015/09/11/perjalanan-ke-barat-way-haru-negeri-sejuta-pesona-yang-terlupa/

Masyarakat Way Haru, Way Heni dan sekitar wilayah di Bengkunat Belimbing bahkan lebih banyak menggunkan kalender Jawa yang menghitung penanggalan bulan. Penghitungan tersebut untuk melihat pasang surut air laut. Saat bulan purnama dan waktu waktu sebelum purnama datang kondisi pasang air laut menjadi saat yang dihindari untuk bepergian kecuali karena terpaksa. Alasannya kondisi lautan sedang pasang sehingga air laut menyentuh tebing tebing pantai. Tebing tebing pantai tersebut sebaliknya pada saat surut bulan awal akan berjarak jauh dari pantai bahkan bisa mencapai setengah kilometer saat terjadi surut.

????????????????????????????????????

Pesisir Way Haru

Kearifan lokal tersebutlah yang dijaga hingga sekarang bahkan semua warga saat melakukan perjalanan saling bantu mulai dari menyeberang menggunakan rakit, melalui muara, serta saat motor yang dikendarainya terjatuh akibat mati mesin terjilat bibir ombak. Kearifan lokal tersebut menjadikan wilayah terisolir penghasil lada,kopi, kelapa dan hasil bumi lainnya menjadi wilayah yang sangat unik dan menjadi tempat di bibir Samudera Hindia yang istimewa.

Berikut foto foto perjalanan ke lokasi tersebut: Baca lebih lanjut

Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Bengkuat belimbing, Fotografi, Lampung, Perjalanan, Pesisirr Barat, Samudera Hindia, Way Haru, Way Heni | Tag: , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Perjalanan ke Barat, Way Haru Negeri Sejuta Pesona yang Terlupa

Perjalanan yang kali ini kulakukan di awal bulan September merupakan sebuah perjalan ke Barat. Bersama dua orang hebat yang mengajariku banyak hal: Kehidupan, petualangan, berbagi, bersyukur, melihat kehidupan dari sisi sedekat mungkin dan dengan kacamata yang berbeda. Perjalanan ke Barat yang begitu dekat namun begitu jauh. Negeri yang sangat membutuhkan orang orang hebat dan memberikan hidupnya bagi masyarakat yang terpinggirkan.

????????????????????????????????????

Gerobak sapi di Way Haru Pesisir Barat Lampung (Hendricus Widiantoro)

Perjalanan berawal dari pintu keluar kapal Jemla saat dua “musafir” Mr. Hindar n Mr. Supri dengan Nissan Navara serta sebuah ATV yang dibawanya untuk melakukan perjalanan berkilo kilo meter di sejumlah wilayah di Barat negeri Lampungku. Kisah kisah awal yang menggerakkan untuk pergi ke Barat berawal dari sang Musafir yang memperlihatkan kepadaku negeri yang terus tertatih tatih mengejar ketertinggalan dan ketimpangannya.

Ketimpangan yang sang musafir sebut sebagai: Wilayah Indonesia yang waktunya berbeda dengan Indonesia yang lain. Bukan Waktu Indonesia Bagian Barat atau Waktu Indonesia Bagian Tengah maupun Waktu Indonesia bagian Timur. Ini adalah sebuah tepat di bibir pesisir pantai Lautan Hindia yang berdengung di telingaku sebagai “negeri yang waktunya melambat”. Melambat dalam segala hal jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia pada umumnya.

????????????????????????????????????

Musafir

Setelah menyusuri jalanan di negeri Tanah Lada, Kopi dan segala sebutan indah tersebut siang berganti sore dari Lampung Selatan- Bandarlampung- Pesawaran- Pringsewu- Tanggamus bahkan saat malam perjalanan tetap dilanjutkan menyusuri hutan hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Gelap sepanjang jalan sebelum memasuki tanjakan Sedayu Kabupaten Tanggamus dan berada di rerimbunan pohon sepanjang Jalan Lintas Barat menuju wilayah termuda di Lampung yakni Pesisir Barat. Jalan berkelok kelok saat malam hari di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan menjadi saksi dengan suara suara binatang hutan yang mengawasi perjalanan kami dari kegelapan.

Berada di kendaraan dua kabin membuat perjalanan terasa berbeda. Bukan sebagai rider, bukan sebagai backpacker tetapi sebagai bagian dari perjalanan ke Barat. Tengah malam kami akhirnya tiba di Way Heni Belimbing Bengkunat sekitar pukul 22:00 WIB pada Minggu (6/9). Suara angin dan deburan ombak mulai terdengar di tengah malam yang tanpa bintang. Deburan ombak yang sangat keras terdengar dari Lautan Hindia yang akan menjadi saksi perjalanan perdanaku ke Way Haru wilayah Pesisir Barat Lampung.

????????????????????????????????????

Para pengojek di Way Haru Pesisir Barat Lampung

Istirahat pertama malam tersebut masih terdengar suara deburan ombak dari jarak sekitar 4 kilometer. Kisah kisah Gajah mengamuk atau gajah berjalan jalan di perkebunan warga, suara petasan untuk mengusir Gajah yang masuk ke perkampungan warga masih terdengar menjadi dongeng sebelum tidur sambil mempersiapkan untuk perjalanan ke Antar Siku Way Haru.

Pagi berganti saat kokok ayam jantan membangunkan semesta dan matahari mulai meyinari tanaman lada, tanaman coklat yang masih tumbuh subur di wilayah pesisir Barat. Persiapan dilakukan dengan membawa beberapa buah tangan dari anak anak negeri di belahan bumi yang lain untuk para warga yang ada di negeri Way Haru: makanan, pakaian serta tali asih yang merupakan setitik embun di musim kemarau di tepian Samudera Hindia.

????????????????????????????????????

Jalan menuju Way Haru Pesisir Barat Lampung

Paginya Senin (7/9) kami berangkat dengan 1 ATV, dua motor roda dua menyusuri jalan jalan berbatu yang masih jauh dari sempurna. Ketimpangan infrastruktur yang masih ada di negeri yang kaya akan lada dan kekayaan alam yang sangat banyak di dekat Taman Nasional dan Samudera Hindia. Perjalana beberapa kilo menjadi awal perjalanan ke arah Way Haru untuk melihat negeri yang berada di tepian Lautan Hindia tersebut. Baca lebih lanjut

Categories: Kecamatan Belimbing Bengkunat, Lampung, Pesisr Barat, SDN 1 Way Haru, Sekolah, Sekolah Dasar | Tag: , , , , , | 6 Komentar

Mangrovisasi Bukan Semata Publisitas

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Rimau Balak bukan keindahan alam pulau kecil di dekat Pulau Sumatera ini yang kusaksikan. Aku justru bertatap muka dan bertegur sapa dengan seorang laki laki tua bernama Abdurachmin yang berumur sekitar 57 tahun tengah asik memunguti biji biji yang berada di lumpur yang belakangan kuketahui itu adalah biji Mangrove atau pohon Bakau. Ketika kutanyakan kepadanya biji biji Bakau yang panjang tersebut sengaja akan ditanamnya di pantai yang tak jauh dari gubuk temapt tinggalnya. Ditanam dengan berjajar dan beberapa kulihat sudah cukup tinggi tumbuh dengan subur.

Menjaga Api 3 Widi

Penanam Bakau , penjaga pantai dari Abrasi (Foto: Hendricus Widiantoro)

Menurut Abdurachmin yang mengaku asal Banten dan menetap di Pulau Rimau ini ia prihatin melihat pohon pohon Bakau yang kini hampir hilang dari Pulau Rimau Balak. Tanpa diminta, tanpa perintah siapapun ia berinisiatif menanamnya setelah kian hari dilihatnya pohon kelapa yang ditanamnya tumbang diterjang hempasan air laut. Penanaman pun dilakukan ketika dirinya sedang tak bekerja di kebunnya yang berada di pulau tersebut. Hasilnya ribuan Mangrove tumbuh subur danterlihat hijua berjajar rapi. Ia mengaku sengaja menanamnya seperti pagar agar saat besar bisa menjadi pagar hidup dari terjangan air laut.

Aku masih ingat saat di wilayah Lampung lainnya dari pemilik resort yang ada di pesisir pantai mengaku memberikan uang tanggungjawab sosial kepada masyarakat senilai ratusan juta untuk menanam Mangrove. Namun nilai uang dan hasil penanaman Mangrove pun tak sebanding dan proyek Mangrovisasi bernilai fantastis tersebut gagal total dengan Mangrove yang mati dan bahkan publisitas yang pernah dilakukan tak lagi menyisakan Mangrove yang tumbuh. Miris namun terjadi.

Menjaga Api 1 Widia

Penanaman Mangrove pola berjajar (Foto:Hendricus Widiantoro)

Pemikiran bodohku terbakar. Mengapa uang ratusan juta tersebut tak diberikan saja kepada laki laki tua yang tak mengharapkan publisitas ini. Laki laki yang menanam dengan kesadarannya akan pentingnya menjaga pulau dari abrasi. Ia pun tak memberiku banyak teori. Memintaku ikut memunguti biji biji Bakau dan menanamnya. Mangrovisasi bukan semata publisitas tapi kesadaran warga pesisir pantai yang apinya tak akan padam meski hidup terasa berat tanpa fasilitas listrik, air bersih dan infrastruktur memadai seperti jalan serta dermaga yang memprihatinkan.

Lewat Abdurachmin, aku mengerti kesadaran untuk berbuat bagi lingkungan seharusnya bukan karena ingin mendapat pujian. Bahkan meski ia sempat dibilang kurang kerjaan namun Bakau yang ditanamnya usia tahunan pun sudah subur ditambah dengan bakau bakau usia bulanan yang akan menjadi saksi kegigihan laki laki tua ini. Semoga api semangat bagi para pecinta lingkungan tanpa pamrih sepertinya akan terus menyala.

Categories: #MenjagaApi, Inspirasi, Lampung, Pelabuhan Bakauheni, Pulau Rimau Balak | Tag: , , , , | 6 Komentar

Kau Cantik Jika Jauh Oh Menara Siger

Menara SIGER. Sebuah bangunan berbentuk SIGER yakni mahkota yang biasa dikenakan oleh gadis Lampung dalam acara acara besar dan bahkan merupakan mahkota khas yang digunakan dalam kegiatan kegiatan penting seperti saat pernikahan maupun saat dalam tarian. Sebenarnya apa yang ditawarkan dari keindahan menara yang didominasi warna kuning keemasan dan merah tersebut?

Blog 3

Menara Siger (Foto: Hendricus Widiantoro)

Siger yang dikenal sebagai mahkota  mudah ditemukan di Lampung bahkan dalam  produk produk tertentu kini memakai simbol Siger sebagai ciri khas dan keunikan dari Lampung. Wujudnya bisa berupa gambar atau bentuk fisik. Siger dalam arti sebenarnya mahkota yang biasa dikenakan wanita Lampung, memang sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat ” Sang Bumi Ruwa Jurai” ini.

Di beberapa tempat bahkan memasang bentuk siger. Demikian juga kantor dinas/instansi pemerintah dan swasta di Lampung tidak ketinggalan memasang siger. Bentuk mahkota perempuan itu menjadi daya tarik Lampung, simbol yang menjadi ciri khas Lampung.

Blog 4

Menara Siger dari kejauhan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Agaknya inilah yang mendorong Pemerintah Provinsi Lampung mewujudkan siger dalam bentuk menara.  Layaknya Monumen Nasional (Monas) di Jakarta, pembangunan Menara Siger di Lampung dimaksudkan sebagai ciri khas, atau mengingatkan wisatawan akan wilayah Lampung. Lokasi yang berada di puncak bukit membuat Menara Siger mudah dilihat dari kejauhan bahkan terkesan “SANGAT INDAH” jika dilihat dari jauh apalagi saat malam hari Menara tersebut disinari dengan lampu yang membuat kesan menara tersebut lebih indah.

Seingatku tepat di bawah Menara Siger masih ada Giant Letter bertuliskan LAMPUNG yang menyala di waktu malam yang kini agaknya sudah tak begitu menyala. Akan terlihat indah dikala malam. Menara Siger pada siang hari terlihat berwarna kekuningan dan merah.

Zero 8

Selat Sunda dari atas Menara Siger (Foto: Hendricus Widiantoro)

Di bagian atas Menara Siger, terbentuk tujuh kerucut yang simetris, dengan satu kerucut di tengahnya yang lebih tinggi. Tiga kerucut masing dibangun di sebelah kanan dan kiri. Kerucut tersebut dipercaya masyarakat setempat melambangkan tujuh gunung yang berada di Lampung.

Jika menengok sejarahnya Menara Siger dibangun tahun 2005 dan diresmikan tahun 2008. Menara tersebut didirikan di atas Bukit Gamping, Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan. Wisatawan yang datang dari arah Pelabuhan Bakauheni bisa langsung melihat menara yang didominasi warna merah dan kuning emas. Menara Siger memiliki enam tingkat dan berada di ketinggian 32 meter.

Futsal Jelang Buka Puasa

Menara Siger dari samping (Foto : Hendricus Widiantoro)

Di dalamnya terdapat kereta kencana dan juga display tentang kabupaten yang ada di Lampung dan juga keistimewaan masing masing kabupaten baik sisi wisata maupun keberagaman daerah di Lampung yang bisa dilihat sambil bisa membeli oleh oleh khas Lampung baik makanan maupun cindera mata.

Pegunjung yang memang melintasi Lampung, sebagian besar tidak melewatkan untuk mampir ke Menara Siger. Dari ketinggian Menara Siger wisatawan bisa melihat  ke arah Selat Sunda yang menjadi penghubung Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. dari kejauhan terlihat kapal kapal Roll On Roll Off hilir mudik dari Pelabuhan Bakauheni dan Pelabuhan Merak Banten.

ZERO 1

Tugu Zero Sumatera (Foto: Hendricus Widiantoro)

Zero 7

Selat Sunda

Kini di Menara Siger sudah dilengkapi dengan teropong untuk melihat Selat Sunda dengan menggunakan lensa teropong tersebut dengan cara memasukkan koin sehingga pengunjung bisa melihat suasana Selat Sunda dari dekat. Selain teropong pengunjung kini bisa menikmati Flying fox yang disediakan oleh pengelola. Para penghobi panjat tebing pun sudah disiapkan lokasi panjat dinding di sisi Timur.

Masih belum puas dengan wahana tersebut masih ada wahana jam Matahari, wahana bermain anak anak yang biasanya dibuka saat kegiatan tertentu dan juga even khusus. Lapangan futsal juga disiapkan untuk menjadi tempat olahraga bagi pecinta futsal di samping lokasi pertunjukan yang disiapkan oleh pihak pengelola Menara Siger.

Bagi fotografer atau pecinta foto hal wajib yang perlu dilakukan di tempat ini adalah selfie, foto bersama atau narsis. Karenanya aku menulis judul “Kau Cantik Jka Jauh Oh Menar Siger”. Mengapa? karena bagiku pribadi keindahan Menara Siger akan terlihat dari kejauhan dan kecantikannya akan semakin anggun jika dilihat dari jauh. Tapi ini sih pendapat pribadi he he.

Hampir di semua jejaring sosial bagi yang pernah ke Menara Siger pasti akan memposting pernah berada di sini lengkap dengan foto foto selfie atau bersama kawan kawannya. Setidaknya tempat ini merupakan tempat indah salah satunya yang ada di Lampung Selatan yang berupa bangunan.

Kau Cantik jika jauh oh Menara Siger. Keindahan itu pasti “relatif” dan semua memiliki persepsi dalam memandang Menara Siger ini baik dari bawah, atas, kejauhan atau dari manapun.

Berikut beberapa orang yang memanfaatkan Menara Siger untuk berfoto:

Hasibuan 5 Hasibuan 1 Hasibuan 2 Hasibuan 3 Hasibuan 4

Siger 3 Siger 1 Siger 2

Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Fotografi | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Are You A Backpacker, Traveler? Welcome To South Lampung Regency

I was born here, Lampung regency. A wonderful place to traveling. Travel is one of the greatest blessings, so here are my most memorabe travel in every place. South Lampung Regency is one of the regency in Lampung.

“What people think about Lampung: Elephant, Dolphin in Kiluan Bay or Tanjung Setia ,other?”

Blog 3

Menara Siger dari atas KMP Dharma Rucitra I (Foto: Hendricus Widiantoro)

But South Lampung is famous as the gate of Sumatera Island. That is Bakauheni port as a bussy port in South East, crossing which become a transit from Java to Sumatera Island and the contrary. So Bakauheni port is becoming the gate of South part of Sumatera Island. South Lampung Regency haas lots of natural panorama and culture.

For many traveler and Backpacker Child of Krakatoa or Krakatau be a best destination in South lampung regency because this is a ancient legacy. One of the interesting spots and be legend is the Child of Krakatau which is still active. The existence of child of Krakatoa has invited domestic and foreign tourist to come and see closely about the biggest eruption evidence in 1883.

Not only the object of nature, South Lampung Regency also keeps a lot of original culture which preserved in both archeological things culture and dances performed in specificoccasions.

The Child Of Krakatoa Volcano Mountain

1229891_649597258398504_1845410277_n

Child Of Krakatoa Volcano Mountain (Foto : Hendricus Widiantoro)

Since 1927 or more than 40 years after the Krakatoa Volcano Eruption, built other volcano which konow as the child of Krakatau from ancient Caldera which is active and getting higher time by time.

The speed of height is about 20 inches per month. Every year it become higher about 20 feet and 40 feet wider. Another note states the grow this about 4 cm per year and if it is counted in 25 years later it can reach until 7.500 inches or 500 feet higher from the previous. It is getting higher because of the material which come out from that new volcano Stomach.

Now the high of Child Krakatau reaches about 230 metres on the sea surface level. Whereas the previous Krakatau Volcano reached to 813 metres from the sea surface level. Its explosionand additional volcanic material which attract the tourist to come to the child of Krakatau.

Other Wonderful Spots

Widi_News8

Pantai Boom (Foto: Hendricus Widiantoro)

Other interesting spots to visit is Way Belerang (Sulfur) Simpur which located in Babulang Kalianda. Cugung Waterfall in Rajabasa, Way Kalam Waterfall in Penengahan, More wonderful beach in Kalianda- Rajabasa.

Not only natural attractions full of charm, but the beauty of nature and culture tourism, which is still protected and preserved from generation to generation. One is the breeding period. Where the breeding period is caled the special forces from Lampung Radin Inten II hero who used to outsmart the enemy troops during the war of the past. So far breeding period is often used to accompany traditional rites and wedding society South Lampung.

Lampung Province also have Food center. Industrial and craft home. Located in Main of Sub Natar. Centered on Deklarasda among write batik, Traditional clothes Lampung ”Tapis” craft and various the very interesting domestic tourist and foreign. Ready to receive the commercial soft touch. The parties are interested to developed tourism is promising.

Gambar

Bakauheni Port (Foto; Hendricus Widiantoro)

Rows plantation commodities, Coconut tree with area 34.730 with copra 30.436 tons per year. Palms 7636 tons. Cocoa 6907 tons. Spices. And the vast expanse of rices fields. Irrigation system with technical. In 17 sub South of Lampung Regency. South of Lampung Regency is one of corn production in Lampung Province. The potential land for dry and support for the mind and agroecosystem suport for corn. Potential estated elapsed 60% to 40% empty land. The managers are waiting fretesional. Land and experts to improve results for farming.

Throught the Departement of public works. Are continuing to well on transportation, with development and road sector suport. To make a good result production to distributed to Java island. For the future plan to build Sunda Strait Bridge (JSS).
Mining in South of Lampung Regency have developed and very profitable. Geological formations South of Lampung Regency are much of andesite covers most old andesite. With average productioan 6.413 million tons per year. 618,720 tons zeolite. Processed into stone marble chalk with 1,952,920 tons. Iron and seeds 12.000 tons. Just a small percentage the earth South of Lampung Property.

Land approximately 60% of production which have not been touched hands mining experts in. Alll be ready lay the pieces benefits for investor. Throught the local government and commmunity. Guaranteed to supply and energy from Center Supply Electrical Energy of Government (PLN) power plant and CenterSteam Supplyy Electrical Energy (PLTU) to supply electrical energy covered the Regency.

Through the Departement of Fisheries and maritime Capture. With area long lines and coastal waters marine 180 KM 173,347 hectare. Embracing South of Lampung regency. Generate the the amazing sensation. With capacity seaweed cultivation productions 300.000 tons per year. 51,000 tons Kerapu Fish. Shrimp 18.200 tons and pearl point 5 million per years. Be leading valuabe by high waiting presence of capital and integrated marketing for foreign exchange generate the infinite.

Executed by system integrated transportation in Lampung province. Contributions to the fixed system. The mining results means to trasnport or other goods. South Lampung Regency have One Port for specific goods carry weight name Panjang Port. While to carry passengers avaiable in Bakauheni Port and Radin Intan II Airport. Which have important rule for trasportations. Conecting the Java Island and Sumatera island. Port city. And trade center. The busy signify. South of Lampung Regency. Very Life. Ready to pick dream of the investor.

At Local government a very supportive and make it easier through investment agency licensing and integrated service. Government of South Lampung regency. Invite investors to invest in the Regency whicyh call as “The gates of Sumatera” Regency. Government will facililitate your licensing process with the quick and easy. Enable the creation of the situation and providing facilities and infrastructure supporting business investor.

417100_355253681166198_1105531551_n

Banding

Categories: Adventure and Treking, Inspirasi, Perjalanan, Wisata | Tag: , , , | 2 Komentar

Blog di WordPress.com.