Posts Tagged With: Kearifan lokal

Jalan Jalan itu Bukan Sekedar Jalan Jalan

????????????????????????????????????

Penjual jagung rebus

Jalan jalan itu bukan sekedar jalan jalan. Kalimat ini merupakan sebuah petuah, kalimat yang memiliki makna dalam bagiku. Begitu berkesan melihat sebuah perjalanan sebagai bagian untuk berempati, melihat kondisi real masyarakat yang dijumpai selama perjalanan. Banyak yang berkomentar kenapa aku hobi jalan jalan apakah tak menghabiskan uang ataukah tidak memikirkan untuk menabung saja dibandingkan jalan jalan. Jalan jalan pun bukan hanya melulu soal selfie, soal berfoto di lokasi yang dikunjungi untuk diposting di medsos dan agar diketahui bahwa si empunya foto pernah datang di lokasi tersebut. Perjalanan merupakan sebuah pembelajaran sepanjang jalan.

Bagi yang tak memahami bagaimana semuanya itu ku-manage, mungkin akan komplain tapi setidaknya aku banyak belajar dari senior senior yang telah menempuh perjalanan ke lima benua. Sebuah pengalaman untuk melihat semua mahkhluk hidup sebagai bagian dari kebaikan sang Pencipta.Belajar Hidup Widi 1

Pengalaman jalan jalan merupakan sebuah situasi yang tak bisa diprediksi. Terkait arah dan tujuan termasuk bagaimana dan dimana akan berhenti.Salah satu hal yang kupelajari dan akhirnya memberi pemahaman baru bagiku adalah bagaimana menghargai kearifan lokal. Kearifan lokal yang masih menjadi bagian masyarakat dan tetap dipertahankan. Salah satunya menjual hasil bumi dan hasil kebun yang diolah untuk ditawarkan kepada pelintas termasuk bagiku sebagai pejalan.

Bagiku, cukup mudah bagi sang seniorku untuk memilih akan makan dan akan membeli makanan dengan pilihan tempat yang lebih mewah. Namun tak demikian. Saat melintas di sebuah jalanan ke arah Liwa Lampung Barat, aku diajak mampir di sebuah warung yang sebagian bahkan sudah bocor di bagian gentengnya. Sang senior mengatakan kepadaku sejak sekitar 10 tahun lalu sang ibu ini tetap berjualan di tempat yang sama dan menjual hal yang sama diantaranya: keripik pisang, keripik ketela, keripik gadung, ubi rebus, jagung rebus, kopi. Semuanya sebagian besar merupakan hasil kebun miliknya bersama sang suami.

“Saya beli karena ingin sang ibu tetap bisa berjualan lagi dan bisa menghidupi keluarganya,” ungkap sang senior kepadaku.

Kalimat itu aku renungkan sepanjang jalan. Selama ini hal hal tradisional sudah tergeser dengan hal hal modern karena status sosial, gengsi dan tetek bengek lainnya. Bagaimana menikmati kopi yang sebetulnya banyak hasil dari kebun lokal namun lebih nikmat menikmati kopi produk luar (itu soal selera juga sih), membeli di pasar modern dibandingkan membeli di pasr tradisional, atau membeli minuman bersoda atau kemasan dibandingkan membeli minuman dari kelapa muda yang dijual penduduk lokal. Baca lebih lanjut

Categories: Fotografi, Jalan jalan, Kearifan lokal | Tag: , , , | 2 Komentar

Parade Budaya Dalam Festival Krakatau XXIII

Parade Budaya akan meriahkan Festival Krakatau XXIII

Tapis Karnival

Di Lampung, ada tradisi seni topeng. Tupping namanya. Seni topeng ini berkembang dari daerah Kalianda, Lampung Selatan. Tupping merupakan topeng kayu dengan berbagai ekspresi wajah dan karakter tokoh yang berbeda-beda. Karakter yang ditampilkan dalam tupping antara lain karakter ksatria yang sakti, tetua yang bijaksana, kesatria berwatak kasar, ksatria berwibawa, putri yang lemah gemulai, anak-anak yang sedang bersedih, dan tokoh jenaka. Karakter topeng yang ditampilkan disesuaikan dengan kisah yang ditampilkan dalam pertunjukan.

Pada masa lalu, keberadaan tupping dianggap memiliki nilai sakral yang tinggi. Karena itu, jumlah tupping di suatu daerah amat spesifik, tidak dapat ditambah, dikurangi, atau ditiru. Kesakralan tupping pun membuat tidak sembarang orang dapat mengenakan topeng ini. Di daerah Kuripan, misalnya. Tupping di daerah ini berjumlah 12 buah dan masing-masing hanya dapat digunakan oleh orang dari garis keturunan tertentu. Sementara, tupping dari daerah Canti (yang juga berjumlah 12 buah) hanya boleh digunakan oleh pemuda berusia 20 tahun.

Pada saat ini, oleh masyarakat Lampung, tupping ditampilkan sebagai drama tari kepahlawanan. Drama ini biasa ditampilkan antara lain dalam prosesi pernikahan adat Lampung. Cerita yang diangkat biasanya mengisahkan kegigihan pasukan Radin Inten I (1751-1828), Radin Imba II (1828-1834), dan Radin Inten II (1834-1856) dalam melawan kolonial Belanda. Para tokoh ini dikenal sebagai pahlawan kebanggaan masyarakat Lampung yang gigih mengobarkan semangat perlawanan terhadap pasukan Belanda.

Widi 12

Tuping

Nama-nama Tupping 12 Wajah Dari Keratuan Darah Putih yang berada di Desa Kuripan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan berdasarkan ciri khas tuping yang dimaksud yakni: Baca lebih lanjut

Categories: Budaya, Kearifan lokal, Kisah Kisahku, Lampung Selatan | Tag: , , , , , | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.