Posts Tagged With: Budaya

Kelezatan Mie Aceh dan Bolu Kemojo di Pekanbaru

Mie Aceh 9

Pekanbaru kota Madani

Perjalanan ke sebuah wilayah baru merupakan sebuah kesempatan untuk berburu kuliner. Mengingat ingat perjalanan yang pernah kulakukan salah satunya di wilayah Pekanbaru Provinsi Riau. Kota Pekanbaru yang indah saat malam hari, penataan kota yang sangat rapi dan tentunya keramahtamahan penduduk Pekanbaru merupakan sebuah sambutan akan Indonesia yang sebenarnya. Dinamika kehidupan yang sangat beragam dengan banyaknya suku suku yang ada di Pekanbaru merupakan gambaran Indonesia. Namun bukan ini yang akan kubahas karena perjalanan Indonesia mengajarkan keberagaman sebagai modal persatuan.

Salah satu modal persatuan yang menjadi kekayaan Indonesia salah satunya adalah kelezatan kulinernya. Beruntung salah satu kenalan asal Aceh mengajakku menikmati sajian yang sangat tepat disantap pada malam hari yakni Mie Aceh. Kota Pekanbaru menjadi begitu hangat dengan banyaknya kedai kopi, kedai mie Aceh yang terkenal itu salah satunya di kawasan Jalan Arifin Ahmad kota Pekanbaru.

Mie Aceh 5

Mie Aceh

Sama dengan mie jenis lainnya, mie merupakan sajian kuliner yang menarik untuk lidah. Mie Aceh Asli yang merupakan makanan khas dari daerah Aceh dari Kepulauan Sumatera. Dari namanya sudah terdengar sedikit asing jika anda bukan orang asli Aceh terlebih jika belum pernah menjumpai atau mendengar nama Mie Aceh.

Menurut sang pembuat, mie Aceh memang sudah terkenal dan aku mencoba mencari tau sebetulnya apa keistmewaan mie tersebut. Resep Mie Aceh itu sangat mudah, sama halnya seperti mie ayam namun kalau mie aceh rasanya lebih terasa beda dari mie mie lainnya karena aroma dan rasanya benar-benar istimewa hampir seperti kari tapi tidak berkuah.

Henk Widi_PKU 30

Menunggu Mie Aceh

Jika di Korea terkenal dengan mie bulgogi yang unik dan enak, di Indonesia juga ada Mie Aceh yang tidak kalah nikmatnya dengan isi daging sapi, udang serta sayuran yang tidak kalah lezat dari negeri drama romansa tersebut. Anda yang belum pernah mencoba merasakan kenikmatan dari Mie Aceh, sekarang di daerah perkotaan sudah banyak restoran atau rumah makan yang menyajikan menu makanan Mie Aceh. Baca lebih lanjut

Categories: Adventure, Backpackeran, Kisah Kisahku, Kuliner | Tag: , , , , , , , | 2 Komentar

Kuda Lumping Sari Budoyo Tontonan Segala Usia

Kuda Lumping dengan berbagai sebutannya diantaranya kuda kepang, jaranan, encling, pegon serta sebutan lain merupakan kesenian tari yang memiliki banyak jenis, sejarah serta ragam tarian yang berbeda beda. Keunikan seni yang masih kental dengan aroma mistis serta masih berhubungan dengan hal hal magis yang bagi sebagian orang mustahil tersebut nyatanya justru menjadi daya tarik yang membuat kuda lumping masih tetap lestari dan menjadi kesenian yang sering ditanggap atau dijadikan hiburan saat hajatan atau kegiatan khusus di pedesaan.

????????????????????????????????????

Kuda Lumping Sari Budoyo

Salah satu kelompok kuda lumping yang tak pernah sepi ditonton oleh berbagai kalangan di wilayah Lampung Selatan adalah kuda lumping Sari Budoyo. Diketuai oleh Nyoto, pemerhati kesenian kuda lumping dan puluhan remaja yang masih mencintai kesenian kuda lumping, Sari Budoyo mulai mendapat perhatian khalayak karena keunikannya.

Berusia dua tahun saat bulan Oktober 2015 ini tidak menjadikan kelompok kuda lumping Sari Budoyo kehilangan penonton. Salah satu yang menjadi daya tarik selain gerakan yang tak monoton, atraksi atrkasi di luar dugaan para penarinya, kuda lumping Sari Budoyo bahkan sering tak hanya menyajikan kesenian tersebut di desa asal tapi di wilayah lain.

????????????????????????????????????

Sari Budoyo

Sari Budoyo memiliki kelompok kuda lumping yang sebagian besar pemainnya laki laki namun satu sesi kuda lumping pun mempertunjukkan kuda lumping khusus wanita. Beberapa atraksi yang menjadi ciri khas kuda lumping diantaranya memakan beling, kaca, berguling di duri pohon Salak, serta beberapa atraksi lain saat pemain sedang trance atau dikenal dengan mabuk kuda lumping. Ketidaksadaran tersebut tergambar dalam gerak gerik yang unik dan menarik bagi anak anak kecil, tua muda yang menonton.

Keseruan yang tak menghalangi berbagai kalangan dan usia untuk bersama sama menonton di sekitar pemain kuda lumping tanpa sedikitpun rasa takut. Kesenian ini dipastikan akan selalu menjadi alternatif hiburan yang cukup diminati dibanding kesenian lain dan sebagai bentuk pelestarian budaya, kesenian dan kearifan warga setempat. Selain anak anak terhibur beberapa pedagang juga ikut menangguk rejeki dengan berjualan mainan, minuman serta makanan kecil yang menjadi saat saat menyenangkan bagi anak anak.

????????????????????????????????????

Barongan

Bagi sahabat traveler, backpaker, bepergian di tempat baru merupakan sesuatu yang mengasikkan terutama untuk mengenal budaya serta kesenian baru yang sebelumnya tak pernah dilihat. Kesenian yang merupakan kekayaan tradisi Indonesia menjadi hiburan menari saat melakukan perjalanan ke suatu daerah seperti salah satunya kesenian kuda lumping ini.

Berikut beberapa foto terkait kesenian kuda lumping Sari Budoyo Dusun Sumbersari Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan: Baca lebih lanjut

Categories: Budaya, Kesenian, Kuda Lumping | Tag: , , , | 3 Komentar

Ritual Melasti

10155956_754851477873081_1539954023_n

Persiapan upacara Melasti di Tridharmayoga Ketapang Lampung Selatan

Seperti kubaca dari beberapa literatur tepatnya di dalam lontar Sundarigama berbunyi seperti ini: “….manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata.”. Sementara Melasti dalam ajaran Hindu Bali berbunyi nganyudang malaning gumi ngamet Tirta Amerta atau menghanyutkan kekotoran alam menggunakan air kehidupan. Laut sebagai simbol sumberTirtha Amertha (Dewa Ruci, Pemuteran Mandaragiri). Umat Hindu di Bali melaksanakan upacara Melasti sebagai rangkaian pelaksanaan perayaan Hari Raya Nyepi.

Tak hanya di Bali di Lampung tepatnya di Lampung Selatan, ribuan umat Hindu pun merayakan Melasti sebagai ritual suci setiap tahunnya menjelang Nyepi. Meski diadakan setiap tahun baru tahun ini aku berkesempatan mengabadikan beberapa momen tersebut.

Foto foto ini sebenarnya diambil sekitar beberapa bulan yang lalu tepatnya bulan Maret . Sebuah ritual suci bagi umat Hindu yang diselenggarakan di Pantai Onaria Ketapang Lampung Selatan.

Berikut beberapa fotonya:

10155956_754851477873081_1539954023_n

                                                       Melasti

1375682_754851114539784_289195709_n

                              Tarian dalam upacara Melasti

1507573_754851274539768_173391271_n (2)

Sebelum melarung di laut sesaji dibawa ke tepi laut

1601443_754851124539783_1249931535_n (1)

                     Barong dalam upacara Melasti

1656346_754851277873101_528307991_n

                                         Siap melarung sesaji

1925344_754851094539786_1013034346_n

                                         Pernak pernik Melasti

1977342_754851311206431_703726450_n

                                        Melarung sesaji di Pantai

Categories: Budaya, Foto Perjalananku | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Parade Budaya Dalam Festival Krakatau XXIII

Parade Budaya akan meriahkan Festival Krakatau XXIII

Tapis Karnival

Di Lampung, ada tradisi seni topeng. Tupping namanya. Seni topeng ini berkembang dari daerah Kalianda, Lampung Selatan. Tupping merupakan topeng kayu dengan berbagai ekspresi wajah dan karakter tokoh yang berbeda-beda. Karakter yang ditampilkan dalam tupping antara lain karakter ksatria yang sakti, tetua yang bijaksana, kesatria berwatak kasar, ksatria berwibawa, putri yang lemah gemulai, anak-anak yang sedang bersedih, dan tokoh jenaka. Karakter topeng yang ditampilkan disesuaikan dengan kisah yang ditampilkan dalam pertunjukan.

Pada masa lalu, keberadaan tupping dianggap memiliki nilai sakral yang tinggi. Karena itu, jumlah tupping di suatu daerah amat spesifik, tidak dapat ditambah, dikurangi, atau ditiru. Kesakralan tupping pun membuat tidak sembarang orang dapat mengenakan topeng ini. Di daerah Kuripan, misalnya. Tupping di daerah ini berjumlah 12 buah dan masing-masing hanya dapat digunakan oleh orang dari garis keturunan tertentu. Sementara, tupping dari daerah Canti (yang juga berjumlah 12 buah) hanya boleh digunakan oleh pemuda berusia 20 tahun.

Pada saat ini, oleh masyarakat Lampung, tupping ditampilkan sebagai drama tari kepahlawanan. Drama ini biasa ditampilkan antara lain dalam prosesi pernikahan adat Lampung. Cerita yang diangkat biasanya mengisahkan kegigihan pasukan Radin Inten I (1751-1828), Radin Imba II (1828-1834), dan Radin Inten II (1834-1856) dalam melawan kolonial Belanda. Para tokoh ini dikenal sebagai pahlawan kebanggaan masyarakat Lampung yang gigih mengobarkan semangat perlawanan terhadap pasukan Belanda.

Widi 12

Tuping

Nama-nama Tupping 12 Wajah Dari Keratuan Darah Putih yang berada di Desa Kuripan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan berdasarkan ciri khas tuping yang dimaksud yakni: Baca lebih lanjut

Categories: Budaya, Kearifan lokal, Kisah Kisahku, Lampung Selatan | Tag: , , , , , | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.