Perjalanan

Mengagumi Arsitekur Peninggalan Masa Silam

????????????????????????????????????

Gereja Hati Kudus Malang atau dikenal Gereja Kayoetangan

Arsitektur merupakan sebuah karya seni yang sangat mengagumkan. Secara pribadi meski tidak mendalami arsitektur namun melihat bangunan bangunan megah yang masih bertahan hingga kini menimbulkan decak kagum. Kekaguman akan ketelitian serta makna yang mendalam akan karya seni dan fungsi bangunan tersebut dibangun. Secara khusus untuk rumah ibadah berupa gereja yang dibangun untuk kepentingan ibadah pemeluk agama Kristiani.

Salah satu dari beberapa gereja yang menurut penulis cukup unik adalah gereja yang ada di Malang Jawa Timur ini. Berdasarkan sumber yang penulis peroleh,di Malang pada zaman kolonial, terdapat dua buah gereja Katolik yang besar. Pertama adalah Gereja Hati Kudus Yesus yang ada di Jalan Kayoetangan (sekarang Jl. Basuki Rachmad), dan Gereja Santa Theresia (Theresia Kerk) yang berada di Jalan Ijen. Yang tertua adalah Gereja Hati Kudus di Jalan Kayoetangan, yang didirikan pada tahun 1905.

????????????????????????????????????

Katedral Ijen

Sementara gereja kedua yang penulis kunjungi adalah Katedral Ijen di Malang,Gereja Ijen merupakan salah satu gereja Katolik yang terkenal dan berada di pusat Kota Malang. Alamat resminya berada di Jalan Guntur 2 Malang, tetapi karena berada tepat di sudut jalan yang berdekatan dengan Jalan Ijen sehingga banyak yang menyebutnya sebagai Gereja Ijen.

Beberapa sudut gereje tersebut terekam dalam kamera yang memperlihatkan kokohnya bangunan yang sudah berumur cukup tua tersebut dan menjadi salah satu kekayaan arsitektur kota Malang. Sebuah foto foto kenangan saat pernah menjadi Kera Ngalam: Baca lebih lanjut

Iklan
Categories: Arsitektur, Malang, Perjalanan, Wista Rohani | Tag: , , , , , | 2 Komentar

Menyusuri Bibir Lautan Hindia Berbekal Kearifan Lokal Way Haru

????????????????????????????????????

Way Haru Pesisir Barat

Perjalanan menyusuri bibir lautan hindia merupakan perjalanan pertama kali yang kulakukan. Perjalanan yang harus bersentuhan dengan jilatan ombak yang menerjang untuk menuju sebuah wilayah di bibir Samudera Hindia bernama Way Haru Kecamatan Bengkunat Belimbing Pesisir Barat. Awalnya dari kisah yang kudengar dari pak Hindar dan pak Supri yang mengajakku ke lokasi ini perjalanan ke lokasi Way Haru harus menyeberangi sungai, muara dan pasir yang bersentuhan langsung dengan Samudera Hindia. Bayangan basah, menyeberangi sungai dengan sesekali melihat penyu Belimbing atau Buaya Muara sirna setelah melihat kenyataan berbeda.

????????????????????????????????????

Way Haru Pesisir Barat

Kenyataan berbeda tersebut bukan karena salah melainkan karena pak Hindar jauh jauh hari memperhitungkan kondisi cuaca terbaik menuju lokasi itu adalah jangan waktu musim penghujan. Benar saja berbekal tekhnologi serta kearifan lokal masyarakat setempat tentang penghitungan waktu terbaik untuk melintasi jalan pasir membuat kami menemukan keindahan yang berbeda dari perjalanan sebelumnya.

Pasir bersih, nyaris tidak ada batu karang dan hanya sampah sampah kayu kering sesekali kami temui di perjalanan. Konon menurut warga pasir putih tersebut ada masanya karena ada waktunya nanti saat “pembersihan” dimana penguasa lautan akan kembali menarik pasir pasir tersebut untuk dibersihkan dan baru saat itu karang karang kecil akan muncul. Siklus yang bagi masyarakat dihitung untuk memudahkan perjalanan.

Tulisan perjalanan ini kuposting ditulisan sebelumnya:

https://hendricuswidiantoro.wordpress.com/2015/09/11/perjalanan-ke-barat-way-haru-negeri-sejuta-pesona-yang-terlupa/

Masyarakat Way Haru, Way Heni dan sekitar wilayah di Bengkunat Belimbing bahkan lebih banyak menggunkan kalender Jawa yang menghitung penanggalan bulan. Penghitungan tersebut untuk melihat pasang surut air laut. Saat bulan purnama dan waktu waktu sebelum purnama datang kondisi pasang air laut menjadi saat yang dihindari untuk bepergian kecuali karena terpaksa. Alasannya kondisi lautan sedang pasang sehingga air laut menyentuh tebing tebing pantai. Tebing tebing pantai tersebut sebaliknya pada saat surut bulan awal akan berjarak jauh dari pantai bahkan bisa mencapai setengah kilometer saat terjadi surut.

????????????????????????????????????

Pesisir Way Haru

Kearifan lokal tersebutlah yang dijaga hingga sekarang bahkan semua warga saat melakukan perjalanan saling bantu mulai dari menyeberang menggunakan rakit, melalui muara, serta saat motor yang dikendarainya terjatuh akibat mati mesin terjilat bibir ombak. Kearifan lokal tersebut menjadikan wilayah terisolir penghasil lada,kopi, kelapa dan hasil bumi lainnya menjadi wilayah yang sangat unik dan menjadi tempat di bibir Samudera Hindia yang istimewa.

Berikut foto foto perjalanan ke lokasi tersebut: Baca lebih lanjut

Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Bengkuat belimbing, Fotografi, Lampung, Perjalanan, Pesisirr Barat, Samudera Hindia, Way Haru, Way Heni | Tag: , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Fotografi Dalam Perjalanan

Semua orang kini bisa menjadi seorang fotografer. Munculnya gadget smartphone, kamera digital, kamera DSLR serta berbagai alat perekam foto semakin memberi kesempatan untuk mewujudkan semua bisa menjadi fotografer atau setidaknya bisa mengabadikan momen momen yang tanpa disengaja saat di perjalanan atau potret potret kehidupan masyarakat yang ada di Indonesia.

????????????????????????????????????

Ojek Motor Nelayan di Labuhan Maringgai (8/7/2015)

Saya bukan seorang fotografer tepatnya dan hanya menyukai memotret objek saat perjalanan saya. Namun semuanya tentu akan memberi pengalaman bahwa dalam setiap momen ada hal hal yang tak bisa diulang. Kecepatan dalam mengambil keputusan untuk mengarahkan objek terutama saat dalam kendaraan tentunya membutuhkan kecepatan.

Perlu mempelajari tekhnik untuk mendapatkan foto yang dikenal dengan fotografi jalanan. Awalnya fotografi jalanan mungkin hal yang dilakukan sambil iseng namun secara histori rupanya ini menjadi aliran fotografi yang pastinya akan jadi acuan.

Fotografi jalanan (bahasa Inggris: street photography) adalah salah satu aliran dalam fotografi. Fotografi jalanan umumnya memuat objek yang diambil di ruang terbuka publik dalam kondisi candid atau tanpa pengarahan. Belum ada kesepakatan mengenai padanan yang baku untuk street photography dalam bahasa Indonesia, namun istilah fotografi jalanan sering dipakai dalam beberapa kesempatan. Foto-foto dalam street photography dapat mengambil lokasi dari berbagai ruang publik seperti jalan, pasar, mal, terminal, stasiun kereta api, dan sebagainya.

Foto-foto yang diambil pada aliran fotografi ini umumnya memakai teknik straight photography. Foto menggambarkan kondisi apa adanya dengan meminimalkan manipulasi objek. Dalam perkembangannya, fotografi jalanan banyak memasukkan unsur-unsur seperti surealisme, humor, dan kejutan dalam komposisinya. Untuk mendapatkan unsur-unsur tersebut dalam suatu foto, perlu dicari saat yang paling tepat dengan posisi objek yang unik. Istilah decisive moment diperkenalkan oleh Henri Cartier-Bresson untuk menggambarkan kondisi tersebut.

Selengkapnya: https://id.wikipedia.org/wiki/Fotografi_jalanan

Perjalanan yang saya lakukan ke beberapa tempat memberikan sebuah pemahamanan untuk lebih peka pada situasi dalam perjalanan. Secepatnya untuk mengarahkan kamera pada objek yang momennya tak akan kembali. Semoga saya bisa terus belajar dan akan terus belajar mengenai aliran fotografi ini.

Berikut pelajaran yang saya ambil dalam perjalanan perjalanan saya. Mohon koreksi untuk jepreten jepretan ini. Foto saya urutkan berdasarkan tahun pengambilan:

1. Pemulung Mencari Kertas Koran Sehabis Sholat Ied (15/10/2013)

Teluk Betung Selatan-20131015-022901 Teluk Betung Selatan-20131015-022891

2. Pengepul Pisang di Pulau Sebesi (20/2/2014)

????????????????????????????????????

Pengepul Pisang di Pulau Sebesi

Baca lebih lanjut

Categories: Belajar, Fotografi, Perjalanan, Street Fotografi | Tag: , , , | 2 Komentar

Berbuat Hal Kecil Untuk Pantai Pantai di Lampung Selatan

Sebuah Keprihatinan untuk bisa berbuat #Saveourbeach:

Pantai 1

Kali ini aku ingat dengan rekanku Fitri, si pecinta alam yang gigih dan penuh perjuangan. Beberapa gunung di Sumatera sudah didakinya diantaranya Gunung Dempo, Gunung Tanggamus, Gunung Rajabasa , Gunung Krakatau dan gunung gunung yang lain.

Tak hanya gunung dia mengaku juga si pecintai pantai, pantai yang selelu memberinya banyak inspirasi. Semua hal yang berkaitan dengan alam dan pendakian alam, explore hutan dan juga pantai.

Lampung Selatan dikenal Kabupaten Gerbang Sumatera memiliki bentang alam yang sangat indah membentang dari Tanjung Tua di Bakauheni hingga Ketibung dihiasi dengan bentangan pantai yang eksotik di pantai barat dengan pulau pulaunya.

Pantai 2

Ini salah satu pantai di Lampung Selatan, Pantai Minang Ruah (Hendricus Widiantoro)

Selain itu di Pantai Timur membentang dari Bakauheni menuju Ketapang juga pantai dan pulau pulau kecil menghiasi.

Kekayaan pantai tersebut menambah aset dan juga penghasilan bagi para pelaku wisata yang menambah pundi pundi di sektor wisata. Namun apakah keindahan alam tersebut dibarengi oleh upaya penyelamatan biota yang ada di sekitarnya.

Miris saat berada di beberapa pantai, mau menyelam banyak pecahan beling dan kaca serta sampah sampah plastik. Tapi di beberapa tempat masih ada lokasi yang bisa digunakan untuk melakukan penyelaman.

Lalu aku berkata kepada Fitri: “Apa kita cuma jalan jalan saja tanpa berbuat untuk tempat yang kita kunjungi?”

Menanggapi hal tersebut ia langsung berujar: “Ayo lakukan sesuatu #Saveourbeach katanya. Jiwa petualangan dan kecintaannya terhadap alam terketuk sebagai mahasiswa pecinta alam. Melakukan hal positif dengan secara sukarela berbuat untuk pantai pantai yang dikunjungi menjadi sebuah konsep yang terbersit saat itu dan langsung dilakukan. Baca lebih lanjut

Categories: Bersih pantai, Kisahku, Pantai, Perjalanan, Wisata | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

8 Hal Hal Penting Bikin Anak Tetap Senang Saat Traveling

Hari ini dikenal sebagai hari Ayah “Father Day”. Menyenangkan pastinya bagi yang memiliki keluarga utuh yang memiliki ibu, ayah serta anak anak. Bersama sang ibu bisa dirayakan hari ayah tersebut dengan banyak cara, memasak, melakukan perjalanan maupun berlibur untuk merayakan hari ayah . Namun bagiku yang singelparents hal tersebut tak mengurangi saat untuk membahagiakan puteriku. Perjalanan bersama puteriku ke tempat tempat baru tetap masih bisa dilakukan untuk bisa menikmati keindahan alam, pantai dan berbagai tempat menyenangkan lainnya.

4

Perjalanan di Pantai Kalianda Lampung Selatan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Melakukan liburan atau perjalanan dengan putera puteri kita tentunya akan menjadi saaat yang menyenangkan dan membahagiakan. Namun mengajak putera puteri kita melakukan perjalanan jauh tentunya memiliki tantangan. Menerjemahkan secara bebas tips tips perjalanan dari Michelle Bucher, penulis perjalanan di http://www.travelpulse.com saya menemukan beberapa tips yang layak diterapkan dalam perjalanan yang mengajak putera puteri kita.

Banyak keluarga melakukan perjalanan bersama putera puteri mereka sesekali dalam setahun untuk liburan melepas kepenatan atau saat liburan sekolah. Hal tersebut kadang kadang menantang para orangtua untuk menjaga putera puteri yang diajak tetap terhibur dan bahagia sepanjang perjalanan yang terkadang memakan jarak cukup jauh. Menyitir penulis, penulis mengingat pernah merasakan kebosanan yang sangat dan hal tersebut membuat berpikir hal tersebut sesuatu yang menggelikan.

Zrami 48

Curug Cilember Bogor Jawa Barat (Foto: Hendricus Widiantoro)

Nah berikut beberapa tips jitu yang bisa diterapkan para ayah untuk membantu putera puteri tetap merasa nyaman, bahagia, terhibur selama perjalanan:

1.Libatkan Anak Ikut Merencanakan Perjalanan

Upayakan putera puteri kita ikut terlibat dalam merencanakan perjalanan yang akan dilakukan. Jika mereka dilibatkan dalam bagian perjalanan tersebut mereka akan lebih tahu perjalanan yang akan dilalui, mereka akan lebih tahu serta memahami berapa lamanya waktu perjalanan yang akan ditempuh dari satu spot ke spot lain dan mereka akan tahu berapa jauh traveling yang akan dilakukan.

2. Siapkan Catatan Perjalanan

Mintalah kepada putera puteri kita untuk membuat catatan tentang perjalanan tersebut. Cara ini tak hanya membuat peninggalan sesuatu untuk dikenang di masa mendatang, tapi catatan harian perjalanan ini juga memberikan mereka beberapa hal untuk dikerjakan selama perjalanan. Akan menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak anak jika kita menyertakan juga Kamera selama perjalanan tersebut. Usahakan mereka bisa mengabadikan foto foto perjalanan yang menarik selama perjalanan tersebut untuk menghiasi catatan perjalanan mereka.

Zrami 31

Curug Cilember Bogor Jawa Barat (Foto : Hendricus Widiantoro)

3. Sesekali Berhentilah

Kadangkala berhenti sementara membuat perjalanan menjadi lebih lama, namun ini merupakan tips bagus untuk setiap orang keluar sejenak dari mobil dan beristirahat. Rencanakan sesekali berhenti selama perjalanan untuk beristirahat dari perjalanan jauh dan menghilangkan kebosanan untuk putera puteri kita. Hal ini juga memberi waktu bagi mereka untuk menuliskan catatan perjalanan dan tetap menjaga mereka tertarik pada traveling yang sedang dijalaninya.

4. Rencanakan Pergi Seharian

Melakukan perjalanan jauh bisa memerlukan waktu lama. Ini cukup penting termasuk di dalamnya aktifitas menyenangkan sepanjang perjalanan, tapi juga bisa direncanakan untuk pergi seharian sehingga keluarga masih memiliki waktu cukup untuk relaks dan menikmati perjalanan tersebut. Keluarga penulsi kadang kadang suka membuat rencana seharian di tempat tempat yang dekat dengan pantai, atau spot untuk hiking. Hal ini membuat kita bisa keluar dari kendaraan dan membiarkan kita bisa mengeksplore kegiatan alam bebas.

5. Beri Reward Bagi Anak Untuk Kebiasaan Bagusnya

Hal ini merupakan tips yang sangat penting untuk mengembangkan kebiasaan bersikap baik selama perjalanan. Berikan kejutan kejutan kecil bagi putera puteri kita hadiah selama perjalanan berlangsung. Hadiah bisa diberikan meski hanya sebuah es krim, Kejutan kecil tersebut bisa saja diberikan ketika mengunjungi sebuah taman seharian.

6. Siapkan Makanan Ringan

Siapkan beberapa makananan ringan di kendaraan bagi putera puteri kita secukupnya sedari awal dari rumah. Hal ini cara terbaik untuk menghemat uang, dengan cara ini maka akan menjaga kita terlalu sering menghabiskan waktu berhenti di tempat tempat seperti restoran cepat saji sepanjang perjalanan. Tapi ini bisa saja berbeda dengan orangtua lain karena biasanya orangtua berhenti di restoran cepat saji untuk membeli makanan cepat saji.

Henk Widi 2

Selat Sunda dari Gunung Rajabasa Lampung Selatan (Foto: Hendricus Widiantoro)

7. Hindari Kemacetan

Hal ini terlihat cukup mudah diucapkan dibanding kenyataannya karena kemacetan tak bisa diprediksi, tapi usahakan untuk melakukan perjalanan sebelum jam jam sibuk. Pikirkan juga apa yang akan dilakukan putera puteri kita saat berhenti dalam sebuah kemacetan dalam beberapa jam tanpa bergerak sama sekali. Secara pribadi saya lebih suka melakukan perjalanan di malam hari di mana sering taka da kemacetan dan anak anak justru malah tertidur sepanjang malam.

8. Jangan Stress

Hal ini merupakan hal terpenting dalam sebuah perjalanan. Perjalanan dimaksudkan untuk membuat petualangan menyenangkan bagi semua anggota keluarga. Anak anak bisa membuang tingkat stress dalam perjalanan tersebut tapi mereka juag bisa menjadikannya modal besar untuk membangun sebuah kenangan indah terkait perjalanan yang dibuat. Buatlah keseluruhan perjalanan dengan anak anak kita menjadi hal yang menyenangkan dan perkecil tingkat stress yang dialami.

Henk Widi 21

Dermaga Boom Kalianda (Foto: Hendricus Widiantoro)

Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari : http://www.travelpulse.com/opinions/blog/8-essentials-to-keeping-kids-happy-while-road-tripping.html

Nah, semoga hari ayah ini bisa digunakan oleh para keluarga untuk merayakan bersama dengan putera puterinya. Melakukan perjalanan perjalanan menarik ataupun melakukan hal hal menyenangkan lainnya.

Selamat hari Ayah !

Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Fotografi, Hari Ayah, Kisahku, Perjalanan, Traveling, Trip | Tag: , , , , , | 2 Komentar

Tak Selamanya Senja Itu Indah

Ada perbedaan “mengejar ” Senja dan mengejar pagi. Dari sharing dengan beberapa teman fotografer, lebih mudah mengejar Senja alias Matahari terbenam atau yang keren disebut Sunset dibandingkan mengejar Matahari terbit atau Sunrise.  Kenapa demikian..alasan yang klasik: tidak setiap orang mau dan ingin serta berniat bangun pagi pagi buta hanya untuk mengejar Matahari terbit. Biasanya para survivor, para Mountainer maupun para pecinta alam yang berniat untuk menikmati Matahari terbit sudah menyiapkan jauh sebelumnya.

Boom Blog 12

Sunset In Kalianda South Lampung regency (Images By: Hendricus Widiantoro)

Berbeda dengan menikmati Matahari terbenam di ufuk Barat, Sang Surya yang turun ke peraduan. Hampir setiap orang tua, muda, besar, kecil baik hobi atau karena keberuntungan bisa melihatnya dan mengabadikannya. Kalau menikmati Matahari terbit sepertinya belum ada cerita “sudah mandi” lalu tampil keren dan wangi he he (pengalaman saat di beberapa tempat mengejar Sunrise) selalu belum mandi dengan niat yang ogah ogahan.

Tapi, mengejar Sunset selalu saja sudah siap dengan tongkrongan keren, motor roda dua yang keren lengkap dengan sang kekasih pujaan. Nah kalau pagi hari pasti modalnya sweater atau bahkan sarung buat selimut karena masih terbalut dingin. Sore hari biasanya sudah wangi dan peralatan fotografi sudah pasti akan disiapkan. Tak hanya pecinta fotografi profesional, Sunset bagi pemilik gadget Smartphone maupun alat fotografi amatir lainnya pun bisa mengabadikan moment indah tersebut.

Tapi, tak selamanya senja itu Indah, tak sebagus di dalam foto foto para Fotografer yang membuat Senja seakan menjadi cantik dan Amazing! Terkadang kendala cuaca akan menjadi penghalang yang tak bisa dielakkan. Kalau soal Filter kamera atau soal peralatan masih bisa diakali. Tapi kalau sudah urusan cuaca biarkan saja deh awan menutupi sang Surya.

Salam Sang Maha Surya Terima Hormatku

Bila Malam Tlah Usai Kuterima HormatMu

Salam Sang Maha Surya 

Terima Syukurku

Slamat Slamat Malam…

Boom Blog 1

Sunset in Boom Kalianda (Images By: Hendricus Widiantoro)

Lagu itu selalu kunyayikan saat malam. Namun senja tetap menjadi saat yang istimewa. Istimewa pun masih bisa terhalang kabut. Definisi senja yang bagus seperti apa? Mungkin para fotografer yang sudah puluhan bahkan ratusan kali memburu senja akan bisa membedakan Senja yang bagus dan tidak.

Dari pengalamanku mengejar Sang Surya di Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Pulau Bangka beberapa diantaranya relatif memiliki arti spritual bagiku pribadi dibanding sebuah keindahan. Pastinya tak selamanya senja itu indah bahkan tak hanya soal hasil foto melainkan sisi hati dan suasana hati juga menjadi faktor penentu.

Saat saat ini yang khususnya di daerah Lampung Selatan mulai diguyur hujan sepertinya mendapatkan suasana senja akan menjadi sebuah perjuangan para fotografer. Tapi jangan berkecil hati karena masih ada waktu lain dan kuncinya adalah kesabaran. Mencoba lagi dan mencoba lagi sambil menyiapkan gadget yang baik untuk mendapatkan hasil foto terbaik. Berikut beberapa hasil jepretan tukang jepret amatir sepertiku yang kuperoleh dari beberapa tempat:

Boom Blog 1

Sunset In Kalianda South Lampung (Images By: Hendricus Widiantoro)

Boom Blog 11

Sunset In Kalianda South Lampung (Images By: Hendricus Widiantoro)

Boom Blog 12

Sunset In Kalianda South Lampung (Images By: Hendricus Widiantoro)

Detik 7

Sunset in Sawarna Beach ( Images by: Hendricus Widiantoro)

Detik 3

Sunset in Sawarna Beach ( Images by: Hendricus Widiantoro)

Detik 6

Sunset in Sawarna Beach ( Images by: Hendricus Widiantoro)

A

Sunset in Bangka Belitung (Images by: Hendricus Widiantoro)

13

Sunset in Bangka Belitung (Images by: Hendricus Widiantoro)

14

Sunset in Bangka Belitung (Images by: Hendricus Widiantoro)

Indah atau tidak relatif. Pengalaman mengambil momen senja dan pastinya beberapa momen saat pagi menjadikanku semakin bisa mencari saat tepat untuk menjepret. Pastinya tak selamanya senja itu indah. tapi indah atau tidak bagi yang sedang jatuh cinta pasti akan terasa romantis.

Selamat berburu senja,

Senja di Penengahan Lampung Selatan 7 November 2014

Categories: Adventure and Treking, Alam, Backpackeran, Fotografi, Indonesia, Kisahku, Matahari, Perjalanan, Senja, Sunset | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Hiking Lereng Gunung Rajabasa

Hiking 16

Air Terjun Way Kalam (Foto: Hendricus Widiantoro)

Hiking ke alam terbuka merupakan kegiatan yang mengasikkan bagi yang menyukainya. Hiking akan lebih mengasikkan jika dilakukan di lokasi yang sebelumnya belum pernah dikunjungi. Namun to hike, hikin, berjalan kaki bukanlah hal yang mudah. Butuh persiapan fisik, mental dan perbekalan yang memadai. Hiking yang kulakukan bersama kawanku merupakan hiking ke sekian kalinya di lereng Gunung Rajabasa.  Gunung Rajabasa merupakan salah satu Gunung Di Lampung.

Sebelumnya di penghujung tahun 2012 lalu kami bahkan melakukan hiking ke lereng Gunung Rajabasa, sebuah lokasi yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya. Setidaknya ini bisa menjadi latihan bagi fisik terutama kaki. Medan yang berat dan turun naik membuat kaki terasa pegal setelahnya namun juga bisa membakar lemak dan juga membantu pernapasan setelah biasa menghirup udar akotor dengan asap dan debu maka menghirup udara pegunungan dan air terjun bisa mendapat udara yang bersih. Pepohonan besar dan segarnya daun daun membuat udara masih terasa segar dan sejuk.

Itulah alam Lampung Selatan yang kujadikan lokasi hiking kali ini yakini di Way Kalam Lampung Selatan. Berikut beberapa foto perjalanan kami. Jalanan menurun dan mendaki dengan fasilitas seadanya.

Panjat 1 Hiking 2 Hiking 3

Hiking 5 Hiking 6

Hiking 8

Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Hiking, Inspirasi, Perjalanan | Tag: , , , , | 2 Komentar

Awan, Langit Selalu Menginspirasi

Blog 9

Awan, langit, senja di Air Anyir Sungai Liat Kepulauan Bangka Belitung (Foto: Hendricus Widiantoro)

Awan, langit dan saat senja selalu memberi inspirasi. Satu hal yang kualami dalam perjalanku. Tak hanya tempat tempat dan kulinernya. Saat senja menjadi saat tepat untuk melihat langit dengan awan yang berarak sebelum langit menjadi gelap dan Matahari turun ke peraduannya.

Salah satu lokasi yang kuabadikan adalah saat perjalananku ke  Airanyir Sungailiat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Berikut beberapa perjalananku hingga menemukan langit dan awan di dekat lubang camoy bekas penggalian timah. Langit, awan pasti menginspirasi bagi yang memiliki intuisi.

Berikut beberapa foto saat memandang awan dan langit tersebut:

Blog 14

Awan, langit, senja di Air Anyir Sungai Liat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Foto: Hendricus Widiantoro)

Blog 7

Awan, langit, senja di Air Anyir Sungai Liat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Foto: Hendricus Widiantoro)

Blog 8

Awan, langit, senja di Air Anyir Sungai Liat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Foto: Hendricus Widiantoro)

Blog 9

Awan, langit, senja di Air Anyir Sungai Liat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Foto: Hendricus Widiantoro)

Blog 10

Awan, langit, senja di Air Anyir Sungai Liat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Foto: Hendricus Widiantoro)

Blog 12

Awan, langit, senja di Air Anyir Sungai Liat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Foto: Hendricus Widiantoro)

Blog 13

Awan, langit, senja di Air Anyir Sungai Liat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Foto: Hendricus Widiantoro)

Awan, langit tersebut merupakan perjalanan sore hari setelah sebelumnya melakukan perjalanan berikut ini:

Bangka 2

Berangkat dari Dermaga Boom Baru Palembang Sumatera Selatan dengan Kapal Cepat Sumber Bangka 6 (Foto: Hendricus Widiantoro)

Bangka1

Berangkat dari Dermaga Boom Baru Palembang Sumatera Selatan dengan Kapal Cepat Sumber Bangka 6 (Foto: Hendricus Widiantoro)

Blog 2

Light house di Tanjung Kalian Muntok Bangka Barat menyambutku di pelabuhan (Foto: hendricus Widiantoro)

Blog 3

Kapal cepat Expres Bahari, Sumber Bangka 6 yang sandar di Pelabuhan Tanjung Kalian Muntok Bangka Barat (Foto: Hendricus Widiantoro)

Blog 4

Dermaga di Pelabuhan Tanjung Kalian Bangka Barat (Foto: Hendricus Widiantoro)

Blog 1

Dua backpacker

Blog 6

Lubang Camoy (Foto: Hendricus Widiantoro)

Blog 5

Lubang Camoy (Foto: Hendricus Widiantoro)

Blog 11

Lubang Camoy (Foto: Hendricus Widiantoro)

Kala itu tak akan kulupa…

Categories: Adventure and Treking, Inspirasi, Kisah Kisahku, Perjalanan | Tag: , , , , , , | Tinggalkan komentar

KMP Suki 2 Satu Lagi Kapal Jepang di Selat Sunda

いらっしゃいませ Irasshaimase alias selamat datang! , andai kapal kapal Jepang tersebut  mampu menjawabnya. Bagi backpacker “kere” sepertiku kapal ferry alias Kapal Roll on Roll Off alias kapal Roro menjadi akomodasi atau jembatan penyeberangan yang paling sering kugunakan. Kenapa selalu memakai kapal, ya terang saja  karena lebih memilih kapal daripada pesawat. Nah kali ini aku ingin memperkenalkan salah satu kapal baru (versi kedatangannya maka baru) meskipun kapal tersebut hampir bisa dibilang cukup tua jika ada di daerah asalnya Jepang.

Suki 2

KMP Suki 2 di dermaga V Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan. Foto diambil 8/10/2014 (Foto: Hendricus Widiantoro)

Perlintasan penyeberangan penumpang dengan rute Pelabuhan Bakauheni– Merak hari ini terlihat dengan kehadiran sebuah kapal baru. Hari ini aku mencoba melihat Kapal Motor Penumpang yang masih terlihat bertuliskan huruf kanji Jepang tersebut bersandar di dermaga V Pelabuhan Bakauheni siang ini untuk pelayanan.

Menurut informasi yang  kuperoleh dari PT ASDP satu unit kapal yaitu Kapal Motor Penumpang (KMP) Suki 2 adalah kapal Roll On Roll Off milik perusahaan pelayaran PT Bukit Merapin Nusantara Lines. Sebelumnya PT Bukit Merapin Nusantara Lines sudah memiliki KMP Sakura Express yang melayani pelayaran di Selat Sunda.

Suki 2 a

KMP Suki 2 di dermaga V Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan. Foto diambil 8/10/2014 (Foto: Hendricus Widiantoro)

Kapal Suki 2 memiliki  spesifikasi KMP Suki 2 buatan Jepang tersebut memiliki berat mencapai 2.052 ton. Kapal tersebut dapat menampung penumpang hingga 500 orang dan 75 kendaraan campuran dengan IMO 9066722.

Sementara kapal Roro ini dibuat  tahun 1993, dengan panjang kapal 99 meter, lebarnya 16 meter, untuk kecepatan kapal dapat mencapai 18 knot. Namun anehnya seperti kapal kapal lain entah karena namanya yang asing atau bagaimana aku mencoba mencarinya di situs Marinetraffic kok ga muncul beda dengan salah satu saudaranya yakini KMP Sakura Express.

Suki 2 b

KMP Suki 2 di dermaga V Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan. Foto diambil 8/10/2014 (Foto: Hendricus Widiantoro)

Suki 2 c

KMP Suki 2 di dermaga V Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan. Foto diambil 8/10/2014 (Foto: Hendricus Widiantoro)

Suki 2 d

KMP Suki 2 di dermaga V Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan. Foto diambil 8/10/2014 (Foto: Hendricus Widiantoro)

Tapi bagi penumpang pejalan kaki sepertiku yang tak memiliki kendaraan pribadi agaknya akan sulit untuk naik kapal ini. Sebab seperti biasanya aku sebagai backpacker lebih sering naik di dermaga 1, 2 maupun 3 Pelabuhan Bakauheni.

Kalau mau mencoba kapal buatan Jepang Silakan naik di dermaga V pelabuhan Bakauheni.

Kecintaan, atau tepatnya karena keseringan traveling via Selat Sunda kuhapal satu demi satu nama nama kapal yang melintas di Selat Sunda. Untuk tahu lebih banyak kapal kapal yang beroperasi di Selat Sunda bisa dibaca dipostinganku sebelumnya di sini;

https://hendricuswidiantoro.wordpress.com/2014/09/28/travel-via-sunda-strait-apa-saja-kapal-di-selat-sunda-2/

Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Kisah Kisahku, Pelabuhan Bakauheni, Perjalanan, Selat Sunda | Tag: , , , , , , , | 3 Komentar

Mendinginkan Hati di Air Terjun Way Kalam

Go Lost 1

Air Terjun Way Kalam Kecamatan Penengahan Lampung Selatan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Akhir pekan, tas backpackerku dan Revo kesayangan sudah menunggu. Seperti tradisi sebelum sebelumnya jika ada kawan baru pulang dari luar daerah hal paling utama adalah mengunjungi lokasi lokasi yang tak pernah ditemui di kota. Kali ini salah seorang kawanku dari Provinsi Banten pulang kandang.

Menghirup udara perkotaan membuatnya ingin menikmati hawa dingin pegunungan ditambah cuaca yang cukup panas dan berdebu. Plus ingin merasakan keheningan di antara pepohonan hutan yang rimbun dan mendengarkan suara “kawan kawannya” di antara pepohonan berusia puluhan tahun diantara aliran air di punggung Gunung Rajabasa. Ya hari ini kami mengunjungi Air Terjun Way Kalam .

“Sekaligus mendinginkan hati, mendinginkan pikiran. Di kota bising, kadang emosi dan pikiran tak terkontrol maklum macet dan hiruk pikuk hampir jadi santapan sehari hari. Ayo menghilang sejenak! Menemui kawan kawan lama di pepohonan dan bebatuan serta air terjun” ujarnya.

0_2

Tebing menyerupai Green Canyon di jalan menuju Air Terjun Way Kalam (Foto: Hendricus Widiantoro)

Biasanya Narso kawanku ini mengajak ke pesisir untuk keliling Gunung Rajabasa dengan motor. Namun cuaca panas agaknya mengurungkan niat untuk menyusuri pantai. Setidaknya kebutuhan akan udara dan hawa sejuk membuat keputusan destinasi yang akan dilakukan untuk : hiking, traking, panjat tebing, panjat gunung kali ini adalah Air Terjun Way Kalam di Kecamatan Penengahan Lampung Selatan. Bagi yang berasal dari daerah Penengahan dan sekitarnya pasti tak asing dengan tempat ini. Apalagi di masa masa sekolah biasanya Pramuka menjadikan tempat ini sebagai salah satu tujuan dan jalur untuk hiking

Perjalanan dengan destinasi Air Terjun Way Kalam, Desa Way Kalam, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, terlaksana juga meski sebelumnya akan mengajak kawan lainnya karena tak bisa terpaksa kami berangkat berdua menggunakan Revo. Rupanya di tempat tersebut beberapa anak muda sudah lebih dahulu berada di lokasi air terjun.

1

Air Terjun Way Kalam diambil 4 Oktober 2014 (Foto: Hendricus Widiantoro)

Meskipun musim kemarau namun  pemandangan alam Way Kalam dari mulai masuk melalui Desa Banjarmasin  menuju ke desa  Way Kalam sudah terasa kesejukannya. Dari titik ketinggian biasanya dapat dilihat laut yang membiru  namun karena cuaca pada hari ini agak kurang mendukung berkabut membuat laut tak terlihat. Kontur jalan yg menanjak ke punggung Gunung Rajabasa di ketinggian tertentu memungkinkan para tourist melepaskan pandangan menyaksikan keindahan alam sekitar dan dataran dibawahnya.

View  tersebut kalau kata kawanku dan menurutku juga sih hampir sama jika dibandingkan dengan dengan situasi di kawasan Puncak di Bogor, Jawa Barat atau daerah Batu di Malang, Jawa Timur. Meski sebelumnya infrastruktur jalan menjadi kendala para wisatawan untuk datang karena jalan menanjkan dan jelak namun kini jalan mulus beraspal membuat kendaraan jenis motor dan mobil pun bisa sampai ke Desa Way Kalam. Menuju ke lokasi air terjun baru ada jalan setapak berbatu dan kemudian jalan beton yang cukup bagus.

Sesaat menuju ke lokasi Air Terjun Way Kalam, pemandangan kita dimanjakan kala menyusuri jalan beton (ukuran satu meter lebar, untuk roda dua) yang mengular menembusi perkebunan kopi dengan panorama serba hijau dan udaranya yg terasa sejuk. Bentuk jalannya yg meliuk-liuk dan berbelok-belok, sungguh menyenangkan.

Plang Way Kalam

Papan penunjuk arah ke Way Kalam (Foto: hendricus Widiantoro)

Sesampainya di posko penjagaan sekaligus lokasi parkir terdapat dua gubuk untuk beristirahat. Kami parkir kendaraan di lahan yang disediakan.  Banguann tersebut pun masih cukup sederhana , warga stempat yg mengelolanya.  Kalau fasilitas?  he he  sementara jangan ditanya dulu. Hanya berupa pondokan bambu yang bisa dipakai  untuk duduk warga yg menjaga. Untuk saat ini lupakan soal toilet, lupakan keperluan2 dadakan sebab tidak ada warung, apa lg fasilitas pendukung wisata air terjunnya!

Di penghujung jalan beton di posko penjagaan, rute menuju air terjun berupa jalan setapak menurun berundak-undak dengan tiang tiang bambu untuk pegangan yang saat ini mungkin sudah harus diperbarui (Atau jika memungkinkan bisa diganti dengan besi atau sejenisnya yang lebih kuat: Ini pasti terkait birokrasi he he ). Untungnya kami datang di saat musim kemarau sehingga jalan setapak tersebut tidak licin.

Dalam kondisi musim hujan akan terasa licin dan harus berhati hati. Keadaan jalan yang licin dengan turunannya yang terjal dan bertebing, serta tanpa pengamanan, menjadi sangat2 beresiko. Pengamanan sangat mengandalkan sulur-sulur akar yang tumbuh alami di sekitar jalan yang dilalui. Otomatis  di jalan turun semua orang harus berhati hati.

Panjat 1

Jalan turun ke air terjun (Foto:Hendricus Widiantoro)

Jalan menurun hingga ke dasar aliran air memakan waktu sekitar 10-20 menit dengan suasana petualangan yg memacu adrenalin. Merasakan sensasinya di sini terutama yang tak terbiasa olahraga dengan jalan menurun membuat kaki harus menapak dengan ekstra lebih keras menahan. Rasa pegal pasti akan menjadi bonusnya di antara pergelangan kaki, paha dan pinggang pastinya (Aku selalu ngos ngosan naik turun di trek ini) apalagi badanku yang kini agak berisi alias ndut.

Menahan bobot sendiri saja agak kesulitan. Jadi kalau mau ke sini memang harus siap mental dan kesehatan.

Go Lost 2

Air Terjun Way Kalam bersama Narso si Narsis (Foto: Hendricus Widiantoro)

Tiba di dasar aliran air,  kami melihat ada empat orang anak usia SMA yang sedang asik berada di aliran air. Rupanya demam batu mulia dan juga batu untuk dijadikan batu cincin membuat mereka berburu batu di aliran air terjun tersebut. Kami langsung menuju ke atas menyusuri aliran air. bebatuan besar yang saat musim kemarau ini tak licin membuat perjalanan kami menjadi lebih cepat sampai di ceruk yang merupakan lokasi limpahan air terjun dari ketinggian sekitar 30-50 meter lebih itu.

Sesampainya di lokasi air terjun embun dari air yang mengguyur dari atas terlihat membuat kawanku mulai menggigil. Tapi bagiku itu menyegarkan dan sungguh menjadi semangat untuk mandi dan berenang di kolam airnya. Air terjun  tampak menghujam dari atas bebatuan dan membuat udara menjadis semakin dingin.

Di dasar air terjun terdapat kolam bentukan alam dengan kedalaman setengah meter dan lebar kurang-lebih 5×5 meter. Cukuplah bagi 3-4 pengunjung untuk mandi di kolam bahkan puluhan jika musim hujan karena menjadi semakin luas. Curahan air terjun juga menantang untuk disiramkan ke badan dengan menahan hempasannya.

Ritual selfie, atau dokumentasi menjadi hal wajib di sini. Akhirnya setelah mandi, dan merasakan hempasan air terjun Way Kalam perjuangan untuk naik ke atas lagi menjadi beban berat bagiku. rasanya ga kuat tapi mau ga mau harus naik.

Setidaknya hari ini Amazing banget! Berikut foto foto di Air Terjun Way Kalam:

20
6 7
13 14 15 16 17 18 19

Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Inspirasi, Kisah Kisahku, Perjalanan | Tag: , , , , , , , | 2 Komentar

Blog di WordPress.com.