Pelabuhan Bakauheni

Backpacker, Traveler ini Penampakan Baru Pelabuhan Bakauheni

Bagi Traveler yang sering bepergian menggunakan moda transportasi laut terutama lintasan Bakauheni Lampung dan Merak Banten dan menggunakan moda transportasi bus pastinya akan melewati loket pembelian tiket. Toll gate system yang ada di Pelabuhan Bakauheni ini memilki tampilan yang berbeda dibandingkan sebelumnya akibat perubahan sistem untuk penggunaan tiket elektronik lebih maju dari sebelumnya yang masih menggunakan sistem semi elektronik. Dipastikan penerapan sistem ini akan memiliki kelebihan dan tentunya masih dalam tahap penyesuaian pengguna jasa pelabuhan.

Henk Widi 1 copy

Pintu pembelian tiket Pelabuhan Bakauheni Lampung terbaru (Foto: Hendricus Widiantoro)

Bagi yang terbiasa melihat pintu masuk pelabuhan Bakauheni untuk pembelian tiket kendaraan roda dua dan roda empat ini pasti akan mengalami perubahan. Bayak tiang tiang sensor yang akan terpasang menyambut pengguna jasa pelabuhan Bakauheni dan sudah dikhususkan untuk kendaraan dengan jenis yang berbeda beda. Kendaraan dengan panjang serta ukuran tertentu berdasarkan kelas akan memilliki pintu khusus dan ini akan ditandai dengan papan penunjuk agar tidak salah jalur. Sementara untuk jalur kendaraan setelah membeli tiket pun akan diarahkan ke dermaga 1,2,3,4,4,6 menggunakan tanda tanda khusus serta petugas security. Masih membingungkan tapi nanti lama lama terbiasa.

Henk Widi 2 copy

Sistem elektronik di Toll Gate Pelabuhan Bakauheni (Foto: Hendricus Widiantoro)

Semoga dengan perubahan ini tidak membingungkan bagi pengguna jasa Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan dan selamat menikmati perubahan yang tentunya memiliki maksud positif. Berikut beberapa foto are Pelabuhan Bakauheni yang lebih baru: Baca lebih lanjut

Iklan
Categories: Backpackeran, Bakauheni, Kapal, Lampung, Lampung Selatan, Pejalan, Pelabuhan Bakauheni, Selat Sunda | Tag: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Traveling Nyaman Butuh Transportasi Nyaman , Edisi Naik KMP Dharma Rucitra I

Traveling menjadi sebuah kegiatan yang penuh dengan tantangan. Tantangan yang perlu dihadapi salah satunya moda transportasi yang harus digunakan oleh traveler baik sebagai backpacker atau cara bepergian yang lain. Sebagai pecinta moda transportasi laut terutama kapal ferry atau yang dikenal dengan kapal Roll on Roll Off (Roro) kebutuhan akan moda transportasi publik satu ini dari tahun ke tahun sudah meunjukkan peningkatan dalam hal pelayanan serta dalam hal infrastrukturnya baik kapal maupun pelabuhan yang disiapkan.

????????????????????????????????????

Live Music Room di KMP Dharma Rucittra I

Perbaikan yang penulis lihat setelah membandingkan dari tahun ke tahun terutama dengan patokan pergerakan penumpang baik menggunakan kendaraan pribadi maupun sebagai penumpang pejalan kaki. Pelabuhan Bakauheni Lampung dan Pelabuhan Merak Banten telah melakukan peningkatan pelayanan di berbagai bidang. Hasilnya tentu terlihat dari volume antrian di kedua Pelabuhan yang penulis lihat di tahun 2015 lebih ramai lancar dibanding tahun sebelumnya di tahun 2014 saat angkutan Mudik Idul Fitri 1435 dan 1436 Hijriyah.

????????????????????????????????????

KMP Dharma Rucitra I

Kenyamanan tersebut merupakan harapan semua pengguna jasa pelayaran. Kapal kapal yang kini melintasi Selat Sunda sudah berjumlah sekitar 45 kapal dengan sebanyak 17 perusahaan pelayaran operator kapal Roro. Jumlah yang bisa dibilang cukup untuk kelancaran transportasi laut di Selat Sunda dan mengalihkan rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) dan berganti menjadi perbaikan sarana dan prasarana Pelabuhan.

Nah, penulis untuk kesekian kalinya berkesempatan untuk “mengecek” dari dekat aktifitas serta pelayanan yang ada di salah satu dari sekian banyak kapal Roro yang ada di Selat Sunda. Salah satunya adalah KMP Dharma Rucitra I yang merupakan salah satu dari beberapa kapal yang dimiliki PT Dharma Lautan Utama (DLU) di lintasan Selat Sunda. Masih ada KMP Kirana II, KMP Dharma Kencana IX yang menjadi armada favorit di Selat Sunda (versi saya).

????????????????????????????????????

Anjungan Kapal Dharma Rucitra I

Keberuntungan saat penulis naik KMP Dharma Rucitra I dan sang kepala cabang, Sunaryo memberikan kesempatan penulis untuk “diperlakukan” sebagai tamu VVIP. Bahkan saat berada di ruang live music, sang penyanyi di kapal tersebut menganngap penulis yang hanya seorang Bloger ini sebagai “tamu istimewa sang kepala cabang”. Diminta maju menyanyi adalah sesuatu yang istimewa tapi karena memang tidak memiliki talenta untuk menyanyi terpaksa  hanya bisa melihat penyanyi mendendangkan lagu lagu manis selama pelayaran dari Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni. Baca lebih lanjut

Categories: Backpackeran, DLU, Jalan jalan, Pelabuhan Bakauheni, Transportasi laut, Traveling | Tag: , , , , | 2 Komentar

Heli Heli TNI AU Parkir di Dermaga 3 Pelabuhan Bakauheni

Tak seperti hari hari biasa. Dermaga 3 Pelabuhan Bakauheni yang biasanya menjadi tempat parkir kendaraan hari ini menjadi tempat mendarat empat helikopter. Sebuah helikopter yang membawa Kapolda Lampung Brigjen Edward Syah Pernong dan tiga helikopter  super puma TNI AU yang membawa rombongan Presiden Republik Indonesia Jokowi.

????????????????????????????????????

Heli TNI AU di dermaga 3 Bakauheni (Hendricus Widiantoro)

Keberadaan heli heli super puma tersebut sempat menjadi tontonan para pedagang yang sehari hari berjualan di area dermaga. Semua dermaga penuh dengan anggota keamanan baik tentara, polisi. Meskipun demikian warga hanya bisa melihat dari jauh saat heli heli tersebut mendarat karena area sekitar dermaga sudah disterilkan dari orang orang yang tak memiliki kepentingan. Hari ini Sabtu (13/6/2015) memang menjadi saat peresmian 3 kapal baru di Bakauheni sekaligus peresmian pemakaian dermaga VI Bakauheni, Lampung Selatan.

????????????????????????????????????

Heli TNI AU di dermaga 3 Bakauheni (Hendricus Widiantoro)

Bagi para pejalan yang biasanya mendarat di dermaga 3 Pelabuhan Bakauheni saat akan menuju Pulau Sumatera atau Pulau Jawa suasana hari ini agak berubah, tak ada kendaraan jenis truk karena dialihkan ke dermaga lain. Berikut penampakan tak biasa dermaga 3 Pelabuhan Bakauheni hari ini yang bisa jadi tak akan terjadi di hari hari lain:

????????????????????????????????????

Heli TNI AU di dermaga 3 Bakauheni (Hendricus Widiantoro)

Baca lebih lanjut

Categories: Dermaga 3 Bakauheni Lampung Selatan, Helikopter, Lampung Selatan, Pelabuhan Bakauheni, TNI AU | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Serbuan Kapal Kapal Baru di Selat Sunda

Kapal kapal di Selat Sunda beberapa pergi dan beberapa datang. Kebutuhan akan transportasi laut di lintasan Selat Sunda bisa terlihat dari hajat tahunan yakni arus mudik dan arus balik lebaran yang membutuhkan moda transportasi vital yakni kapal laut.

????????????????????????????????????

KMP Sebuku (Hendricus Widiantoro)

Beberapa kapal baru didatangkan dan beberapa diantaranya merupakan kapal baru versi blog ini diantaranya. Sementara sebelumnya lintasan Merak-Bakauheni telah memiliki beberapa kapal Roll on Roll off (Roro) dari beberapa perusahaan pelayaran.

Serbuan serbuan kapal baru tersebut adalah sebuah harapan akan kapal kapal yang memberi kenyamanan bagi para penumpang pengguna jasa pelayaran. Pilihan pilihan akan kapal kapal yang lebih bagus dari sebelumnya secara fisik maupun pelayanan.

????????????????????????????????????

KMP Virgo 18 (Hendricus Widiantoro)

Selengkapnya tentang kapal kapal di Selat Sunda bisa dilihat dipostingan saya sebelum ini:

https://hendricuswidiantoro.wordpress.com/2014/04/30/travel-via-sunda-strait-apa-saja-kapal-di-selat-sunda/

Kapal kapal baru tersebut diantaranya:

– KMP Elysia
– KMP Suki II
– KMP Salvatore
– KMP Safira
– KMP Sagita
– KMP Trimas Laila
– KMP Sebuku (uji coba)
– KMP Legundi (Uji coba)
– KMP Batu Mandi Baca lebih lanjut

Categories: Kapal, Kapal Roro, Merak, Pelabuhan Bakauheni, Pelayaran, Selat Sunda | Tag: , , , , , | 2 Komentar

Nyore Asik di Menara Siger

Bagi anak anak muda yang menyukai motor di wilayah Bakauheni dan sekitarnya , nongkrong saat sore agaknya kurang afdol kalau tidak di Menara Siger. Bermodalkan kendaraan roda dua ciamik serta membawa gebetan di atas tongkrongan yang keren merupakan hal biasa di Menara Siger.

????????????????????????????????????

Ayo siapa mau balapan sama aku? (Hendricus Widiantoro)

Tak jarang beberapa remaja terlihat berboncengan bersama pasangannya dan nyore di Menara Siger. Beberapa berpasangan dengan sang kekasih, tetapi diantaranya bersama kawan kawannya untuk menengok sunset dari Menara Siger.

Beberapa remaja tersebut diantaranya berkumpul di tugu Zero Sumatera dan bercengkerama di lingkaran tepat di tangga Menara Siger. Lokasi yang bagus untuk berselfie ria menjadi pilihan. Setidaknya Menara Siger masih menjadi pilihan untuk nyore bagi remaja remaja sekitar Bakauheni.

????????????????????????????????????

Ayo nyore (Hendricus Widiantoro)

Bersosialisasi bersama kawan kawan. Hari biasa Menara Siger ini dikunjungi puluhan warga namun saat akhir pekan ratusan warga tak hanya dari sekitar Bakauheni, Ketapang, Penengahan menggunakan waktu untuk berkumpul di sini. Keasikan nyore di Menara Siger akan semakin terlihat saat menjelang bulan Ramadhan. Warga akan menggunakan waktu menunggu berbuka puasa “ngabuburit” dengan nongkrong di sini.

????????????????????????????????????

Nongkrong (Hendricus Widiantoro)

Keasikan nyore di Menara Siger tersebut terangkum dalam beberapa foto berikut: Baca lebih lanjut

Categories: Jalan jalan, Menara Siger, Pelabuhan Bakauheni | Tag: , , , | 2 Komentar

Menanam Mangrove Di Sebuah Pulau Kecil Selat Sunda

Melakukan traveling, berwisata menjadi kegiatan rutin yang selalu aku lakukan. Namun sering kali perjalanan wisata yang sebelumnya kulakukan adalah perjalanan yang hanya menikmati kesenangan dan berbagai fasilitas yang bersifat memanjakan mata, pikiran dan suasana baru, tak berkonsep dan hanya sekedar jalan jalan.

AB3

Dermaga Keramat titik poin keberangkatan ke Pulau Rimau Balak (Hendricus Widiantoro)

Hingga suatu ketika aku memutuskan melakukan perjalanan yang memang diniati untuk melakukan sebuah aktifitas menanam yang memang sempat menggelitik untuk kuprotes meski bukan dengan kata kata tapi dengan tindakan.

Aku masih ingat beberapa waktu sebelumnya di wilayah Lampung Selatan tempat aku berasal, sebuah tempat wisata yang ada di pesisir pantai mengaku memberikan uang tanggungjawab sosial kepada masyarakat senilai ratusan juta untuk menanam Mangrove. Namun pengelolaannya diberikan kepada sebuah organisasi untuk menanam Mangrove di daerah wisata tersebut. Namun hasilnya tanaman mangrove yang sedianya bisa tumbuh justru mati dan nilai uang dan hasil penanaman Mangrove pun tak sebanding dan proyek Mangrovisasi bernilai fantastis tersebut. Semuanya gagal total dengan Mangrove yang mati dan bahkan publisitas yang pernah dilakukan tak lagi menyisakan Mangrove yang tumbuh. Miris namun terjadi.

Konsep wisata alam yang semula direncanakan sepertinya tak berjalan dengan semestinya dan berbanding terbalik dengan biaya yang sudah dikeluarkan. Sempat ada penyesalan dari sang pengelola resor saat berbincang denganku saat aku dimintanya untuk melihat konsep baru yang diciptakannya yakni hutan wisata dengan menananam berbagai jenis tanaman langka di resornya. Konsep ini sepertinya yang cocok sehingga akhirnya terus berjalan dan pohon pohon yang ditanam pun teus tubuh besar.

Merahku

Di atas kapal menuju Pulau Rimau Balak (Hendricus Widiantoro)

Berangkat dari keprihatinan tersebut aku memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan yang tak biasa. Menyeberang ke salah satu pulau yang ada di Selat Sunda. Butuh waktu sekitar 15 menit dari dermaga Keramat dalam kondisi ombak yang tenang untuk sampai di Pulau bernama Rimau Balak tersebut. Pulau Rimau Balak tepat berada di dekat Pelabuhan Bakauheni sehingga bagi para traveler yang melintas di Selat Sunda menggunakan kapal Roll on Roll Off dari Pulau Jawa menuju Pulau Sumatera pasti akan melihatnya. Baca lebih lanjut

Categories: MAngrove, Pelabuhan Bakauheni, Pulau Rimau Balak, Traveler, Wisata | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Yuk Ikutan Ruwat Laut Nelayan Di Selat Sunda

WIDI_Foto Kita 2_2

Prosesi Ruwat Laut (Foto: Hendricus Widiantoro)

Salah satu tradisi yang terus dilakukan oleh masyarakat nelayan yang menggantungkan hidupnya dari laut adalah ruwat laut. Tradisi ini masih dijaga oleh nelayan yang ada di Desa Bakauheni Lampung Selatan. Yuk kita intip bagaimana prosesinya. Meskipun saat ini penulis menunggu saat saat prosesi ini diadakan namun berdasarkan penuturan tokoh nelayan setempat belum bisa dipastikan kapan lagi acara serupa akan diselenggarakan.

Pesta laut atau dikenal ruwat laut menjadi acara tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Muara Piluk Bakauheni, Lampung Selatan. Acara ini merupakan kegiatan yang mencerminkan rasa syukur warga yang berprofesi sebagai nelayan. Selain dihadiri ribuan orang dari sekitar tempat pelelangan ikan di Muara Piluk, acara ini juga dihadiri oleh masyarakat di Kecamatan Bakauheni. Penulis mencatat tradisi ini terakhir dilakukan pada tahun 2013 dan menurut warga kemungkinan akan dilakukan setiap tahun namun belum ditentukan waktu pastinya.

Cendana 3

Ritual melarung sesaji merupakan tradisi untuk memohon keselamatan dan hasil tangkapan yang banyak bagi para nelayan. Dengan menggunakan ratusan perahu, warga mengiringi satu perahu besar yang membawa sesaji yang akan dilarung ke Selat Sunda yang menjadi lokasi para nelayan mencari ikan untuk kehidupan mereka.
Ratusan warga dari anak-anak hingga orangtua tampak antusias mengikuti prosesi tersebut. Setelah sampai di titik yang ditentukan, tak jauh dari Tanjung Tua, perahu-perahu mulai mengitari lokasi tersebut sebanyak tiga kali. Baca lebih lanjut

Categories: Lamoung Selatan, Musik Tradisional, nelayan, Pelabuhan Bakauheni, Ruwat Laut, Wisata | Tag: , , , , , | 6 Komentar

Perjuangan Para Porter Pelabuhan

Ombak sedang tak bersahabat bagi kapal kapal Roll On Roll Off di perairan Selat Sunda saat aku menyusuri gangway pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan pada puncak liburan tahun baru, sekolah. Ribuan penumpang pejalan kaki berjejal di gangway, tangga menuju ke kapal di dermaga 1,2,3  karena keterlambatan jadwal kapal yang bersandar.

Buruh Utama

Porter Pelabuhan Bakauheni (Foto: Hendricus Widiantoro)

Bukan karena keinginan nahkoda serta ABK kapal melainkan cuaca perairan yang terlihat berombak cukup tinggi dengan angin kencang. Sempat berbincang dengan Otoritas Kesyahbandaran pelabuhan Bakauheni cuaca memang sedang tak bersahabat sehingga keselamatan harus diutamakan dalam pelayaran. Kapal kapal yang bersandar di semua dermaga pun agak kesulitan melakukan olah gerak untuk sandar.

Buruh 1

Menunggu kapal sandar

Liburan yang sudah berakhir membuat para pekerja, anak sekolah, serta semua orang yang berlibur dari Pulau Sumatera dan ingin kembali ke Pulau Jawa membludak di Pelabuhan Bakauheni. Ini adalah sebuah momen untuk mencari rejeki bagi para “buruh tenteng” (Istilah ini sebenarnya muncul dari kegiatan mereka yang banyak menenteng barang barang milik penumoang dengan imbalan yang disepakati kedua belah pihak, istilah yang memang mereka sendiri ucapkan padaku). Namun bagiku sebutan porter lebih terlihat memberi kesan bahwa pekerjaan mereka pun sama dengan pekerjaan lain untuk nafkah, apapun sebutan yang diberikan orang kepadanya. Baca lebih lanjut

Categories: Buruh Angkut, Buruh tenteng, Inspirasi, Kisahku, Pelabuhan Bakauheni | Tag: , , , , , , , | 2 Komentar

Sudahkah Anak Anak Ini Nyaman Jelang Naik Kapal

Rasa kasihan terbersit muncul saat berada di kerumunan penumpang pejalan kaki yang akan menyeberang ke Pelabuhan Merak dari Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan. Suara tangis, jeritan, empati bercampur aduk saat melihat anak anak berusia di bawah lima tahun juga anak anak yang turut bersama orangtua berlibur di beberapa tempat baik di Jawa maupun Sumatera dengan menggunakan moda transportasi umum: mobil, dan akhirnya kapal laut yang ada di Selat Sunda.

Anak Baim

Anak anak ikut menunggu naik kapal (Foto: Hendricus Widiantoro)

Bisa dibayangkan berapa kali anak anak ini dalam kondisi kurang menyenangkan, kurang nyaman, bahkan kurang aman dalam pemikirannya. Hal tersebut masih ditambah dengan menunggu, mengantri selam berjam jam, sesuatu yang mungkin akan terkenang selama hidupnya bahwa perjalanan saat liburan menggunakan moda transportasi laut harus melalui proses demikian.

Lihat saja: saat para calon penumpang pejalan kaki ini turun dari kendaraan dari berbagai tempat di Pulau Sumatera menempuh perjalanan selama berjam jam. Setelah itu sesampainya di pelabuhan Bakauheni antrian calon penumpang pejalan kaki masih mengantri untuk membeli tiket itupun membutuhkan waktu hampir lebih dari 20 menit dalam situasi lonjakan penumpang pejalan kaki yang meningkat, setelah itu 20 menit lagi harus menunggu di loby ruang tunggu, ditambah lagi nyaris 30 menit lebih berada di Gangway menanti kapal yang berasal dari Merak menuju Bakauheni yang membutuhkan waktu sandar cukup lama.

Anak 4

Anak anak di perjalanan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Semua situasi tersebut bagi orang dewasa tentunya masih bisa ditahan meski banyak juga orang dewasa yang tak tahan. Dalam kenyataannya kulihat di Gangway Pelabuhan Bakauheni banyak anak terlihat gelisah, menangis, merengek dan bahkan meski dalam gendongan pun mereka terlihat tak nyaman. Saat akan menuju kapal pun berdesak desakan dengan para penumpang dewasa membuat situasi tersebut tak hanya membuat rasa tak nyaman tapi juga bisa membahayakan: secara psikologis, secara fisik.

Pertanyaannya apakah hal tersebut penting untuk dibahas? Bagi yang tak pernah mengalami membawa anak kecil dalam perjalanan dengan kerepotan membawa barang sekaligus mungkin tak ada masalah. Namun menjasi sebuah pertanyaan saat anak anak tersebut ikut berdesak desakan, bahkan menangis karena berhimpit himpitan dengan para penumpang dewasa lain. Baca lebih lanjut

Categories: Anak anak, Liburan, Pelabuhan Bakauheni | Tag: , , | 2 Komentar

Mangrovisasi Bukan Semata Publisitas

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Rimau Balak bukan keindahan alam pulau kecil di dekat Pulau Sumatera ini yang kusaksikan. Aku justru bertatap muka dan bertegur sapa dengan seorang laki laki tua bernama Abdurachmin yang berumur sekitar 57 tahun tengah asik memunguti biji biji yang berada di lumpur yang belakangan kuketahui itu adalah biji Mangrove atau pohon Bakau. Ketika kutanyakan kepadanya biji biji Bakau yang panjang tersebut sengaja akan ditanamnya di pantai yang tak jauh dari gubuk temapt tinggalnya. Ditanam dengan berjajar dan beberapa kulihat sudah cukup tinggi tumbuh dengan subur.

Menjaga Api 3 Widi

Penanam Bakau , penjaga pantai dari Abrasi (Foto: Hendricus Widiantoro)

Menurut Abdurachmin yang mengaku asal Banten dan menetap di Pulau Rimau ini ia prihatin melihat pohon pohon Bakau yang kini hampir hilang dari Pulau Rimau Balak. Tanpa diminta, tanpa perintah siapapun ia berinisiatif menanamnya setelah kian hari dilihatnya pohon kelapa yang ditanamnya tumbang diterjang hempasan air laut. Penanaman pun dilakukan ketika dirinya sedang tak bekerja di kebunnya yang berada di pulau tersebut. Hasilnya ribuan Mangrove tumbuh subur danterlihat hijua berjajar rapi. Ia mengaku sengaja menanamnya seperti pagar agar saat besar bisa menjadi pagar hidup dari terjangan air laut.

Aku masih ingat saat di wilayah Lampung lainnya dari pemilik resort yang ada di pesisir pantai mengaku memberikan uang tanggungjawab sosial kepada masyarakat senilai ratusan juta untuk menanam Mangrove. Namun nilai uang dan hasil penanaman Mangrove pun tak sebanding dan proyek Mangrovisasi bernilai fantastis tersebut gagal total dengan Mangrove yang mati dan bahkan publisitas yang pernah dilakukan tak lagi menyisakan Mangrove yang tumbuh. Miris namun terjadi.

Menjaga Api 1 Widia

Penanaman Mangrove pola berjajar (Foto:Hendricus Widiantoro)

Pemikiran bodohku terbakar. Mengapa uang ratusan juta tersebut tak diberikan saja kepada laki laki tua yang tak mengharapkan publisitas ini. Laki laki yang menanam dengan kesadarannya akan pentingnya menjaga pulau dari abrasi. Ia pun tak memberiku banyak teori. Memintaku ikut memunguti biji biji Bakau dan menanamnya. Mangrovisasi bukan semata publisitas tapi kesadaran warga pesisir pantai yang apinya tak akan padam meski hidup terasa berat tanpa fasilitas listrik, air bersih dan infrastruktur memadai seperti jalan serta dermaga yang memprihatinkan.

Lewat Abdurachmin, aku mengerti kesadaran untuk berbuat bagi lingkungan seharusnya bukan karena ingin mendapat pujian. Bahkan meski ia sempat dibilang kurang kerjaan namun Bakau yang ditanamnya usia tahunan pun sudah subur ditambah dengan bakau bakau usia bulanan yang akan menjadi saksi kegigihan laki laki tua ini. Semoga api semangat bagi para pecinta lingkungan tanpa pamrih sepertinya akan terus menyala.

Categories: #MenjagaApi, Inspirasi, Lampung, Pelabuhan Bakauheni, Pulau Rimau Balak | Tag: , , , , | 6 Komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.