Kalianda

Pantai Merak Belantung

IMG_20160330_125240Pantai Merak Belantung di Kalianda Lampung Selatan memiliki bibir pantai yang bersih. Berbagai nama pantai di pesisir Kalianda tersebut diantaranya Pantai Bagus, Pantai Embe merupakan kawasan Grand Elty milik P_20160330_101032salah satu pengusaha di Lampung.

Akhir pekan dalam suasana yang cerah dan langit yang biru ini pilihan tepat untuk menikmati suasana pantai.

Berikut foto fotonya:

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

IMG_20160330_125118IMG_20160330_210841

IMG_20160414_124813

Iklan
Categories: Fotografi, Kalianda, Kisah Kisahku, Lampung Selatan, Pantai | 2 Komentar

Hijaunya Sudut Sudut Lampung Selatan

Lampung Selatan_Henk Widi 7

Lampung Selatan dari atas Kapal di Selat Sunda

Melakukan perjalanan keliling Provinsi Lampung merupakan sebuah perjalanan yang sangat melelahkan. Provinsi yang berada di ujung Selatan Pulau Sumatera ini merupakan sebuah provinsi yang memiliki keberagaman adat istiadat, budaya, bentang alam yang sangat indah. Beberapa jepretan perjalanan yang kulakukan diantaranya merupakan sebuah perjalanan di sela sela tugasku.

Curug Widi 7 copy

Pantai Minangruah di Lampung Selatan

Beberapa kabupaten telah kulalui dan saat melalui beberapa pedalaman Lampung diantaranya Pesisir Barat, Lampung Barat, Tanggamus semua memiliki keindahan alam yang berbeda. Tergantung sudut pandang untuk melihatnya. Salah satu tempat sekaligus tanah kelahiran adalah Lampung Selatan, negeri para penjelajah yang terus berpacu dengan waktu mengejar ketertinggalan dalam pembangunan. Beberapa jepretan kali ini merupakan beberapa sudut di Lampung Selatan yang kuabadikan dan beberapa diantaranya akan menyusul untuk kuunggah.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Keindahan Lampung Selatan yang memiliki pegunungan, laut, dataran rendah tak perlu diragukan lagi. Potensi alam yang membuat Lampung Selatan dijuluki Serambi Sumatera ini merupakan sebuah anugerah dari Tuhan untuk negeri ini.

Pesisir Lampung Selatan yang berpadu dengan pegunungan menjadikan Lampung Selatan masih terus menjadi tujuan wisata tak terkalahkan dibandingkan kabupaten lain di Provinsi Lampung. Pemandangan yang hijau di sana sini membuat Lampung Selatan selalu terlihat sejuk dalam pandangan mata. Baca lebih lanjut

Categories: Adventure, Adventure and Treking, Kalianda, Kisah Kisahku, Rajabasa | Tag: , , , , , | Tinggalkan komentar

Ruwat Laut Tradisi dan Keceriaan Masyarakat Nelayan Lampung Selatan

Aku Widi 3 copy

Melarung sesaji nelayan Kalianda (Foto: Hendricus  Widiantoro)

Ruwat laut merupakan tradisi yang sudah dilestarikan warga pesisir yang ada di seluruh Indonesia dengan beragam cra serta keunikan. Salah satunya di Lampung Selatan. Ruwat laut yang kuikuti kali ini merupakan kesekian kali ruwat laut yang dilakukan di Lampung Selatan. Kemeriahannya pun selalu sama. Antusiasme masyarakat akan rasa syukur hasil tangkapan sebagai nelayan diungkapkan dalam beragam cara diantaranya menghias semua kapal yang akan melakukan ruwat laut.

Aku Utama copy.jpg

Sesaji dilarung (Foto: Hendricus Widiantoro)

Tradisi ruwat laut yang pernah kuikuti diantaranya Ruwat Laut masyarakat pesisir Bakauheni:

https://hendricuswidiantoro.wordpress.com/2015/01/21/yuk-ikutan-ruwat-laut-nelayan-di-selat-sunda/

Ritual melarung sesaji merupakan tradisi untuk memohon keselamatan dan hasil tangkapan yang banyak bagi para nelayan. Dengan menggunakan ratusan perahu, warga mengiringi satu perahu besar yang membawa sesaji yang akan dilarung ke Selat Sunda yang menjadi lokasi para nelayan mencari ikan untuk kehidupan mereka.

Aku Widi 4 copy.jpg

Keceriaan masyarakat (Foto: Hendricus Widiantoro)

Ratusan warga dari anak-anak hingga orangtua tampak antusias mengikuti prosesi tersebut. Setelah sampai di titik yang ditentukan, tak jauh dari dermaga Boom Kalianda, perahu-perahu mulai mengitari lokasi tersebut sebanyak tiga kali.

Setelah pembacaan doa oleh sesepuh desa setempat, perahu dilarung ke laut. Sesaji yang dilarung langsung menjadi rebutan untuk mendapat berkah bagi yang mengambilnya menurut kepercayaan warga sekitar. Sesaji tersebut di antaranya kepala kerbau lengkap dengan bagian bagian tubuhnya, hasil pertanian, dan berbagai sesaji lain.

Aku Widi 6 copy

Perahu yang akan dilarung (Fot0: Hendricus Widiantoro)

Puluhan kapal diantara ratusan kapal di dermaga Boom Kalianda beriringan menuju titik sesaji akan dilarung. Sesaji berupa kepala kerbau, bunga rampai, buah buahan, makanan tradisional nelayan, bahkan HANDPHONE alias telepon genggam pun terlihat dilarung. Saat salah satu pembuat sesaji ditanya kenapa melarung handphone mereka beralasan salah satu hasil dari tangkapan ikan selanjutnya dijual untuk membeli handphone jadi rasa syukur diantaranya dengan “mengembalikan” handphone tersebut ke laut. Aya aya wae kata urang Sunda mah!

Antusiasme masyarakat nelayan pun terlihat mulai dari arak arakan hingga di laut pun arak arakan tersebut terlihat. Ada yang narsis merekam prosesi tersebut. Ada yang mabok laut bahkan karena tak pernah naik perahu ada yang terjatuh. Namun semuanya berakhir dengan senyum bahagia para nelayan tersebut. Bahari yang menjadi ladang mereka mencari penghasilan telah menerima persembahan untuk Dewa Baruna dan penguasa lautan. Baca lebih lanjut

Categories: Adventure, Kalianda, Kapal, Kisah Kisahku, Kuliner | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Pantai Banding Resor , Memandang Krakatau dari Kejauhan

Pantai banding Resor merupakan salah satu jajaran pantai di pesisir Kalianda Lampung Selatan. Pantai ini memiliki bentang yang luas dengan penahan gelombang buatan dan sebagian masih alami dengan pasir yang bersih.

Banding Resor Henk Widi 2 copy

Pantai Banding Resor Rajabasa Lampung Selatan

Berada di Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan dan dekat dengan jalan lintas Pesisir membuat pengunjung bisa lebih mudah mencapainya.

Banding Resor Henk Widi 3

Pantai Banding Resor Rajabasa Lampung Selatan

Penulis biasa berada di pantai ini untuk mencari inspirasi foto, memandang gugusan Pulau Sebuku, Pulau Sebesi dan Gugusan Gunung Krakatau yang samar samar terlihat dari kejauhan. Semuanya berpadu dalam suasana pantai yang membuat pengunjung akan betah berada di sini terutama bersama keluarga.

Kondisi air yang bening pada saat saat tertentu membuat pengunjung bisa melihat ikan ikan hias yang bersembunyi di balik bebatuan. Suasana santai bisa didapatkan di pantai yang berada di kaki Gunung Rajabasa ini. Berikut beberapa foto pantai tersebut: Baca lebih lanjut

Categories: Fotografi, Kalianda, Lampung Selatan, Pantai, Pantai banding, Rajabasa | Tag: , , , , , | 2 Komentar

Menengok Vihara Dharma Sasana Kalianda

Perayaan Tri Suci Waisak 2559 BE/2015 dirayakan oleh umat Budha di seluruh dunia. Vihara Dharma Sasana Kalianda Lampung Selatan merupakan salah satu Vihara bersejarah di Kalianda.

????????????????????????????????????

Vihara Dharma Sasana Kalianda (Hendricus Widiantoro)

Berikut beberapa sudut vihara yang terletak di Jalan Pratu M.Yusuf No.98 Kalianda:

????????????????????????????????????

Vihara Dharma Sasana (Hendricus Widiantoro)

????????????????????????????????????

Vihara Dharma Sasana (Hendricus Widiantoro)

Baca lebih lanjut

Categories: Budha, Kalianda, Kisah Kisahku, Vihara, Waisak | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Mengajak Puteriku Memahami dan Menghargai: Edisi Imlek 2566

Suasana Tahun Baru Imlek yang jatuh hari ini adalah kesekian kalinya bisa kuikuti. Sebelumnya karena huan dan keadaan membuatku tak bisa mengikuti dan berkunjung ke beberapa kerabat yang merayakannya.

Widi Imlek 8

Images : Hendricus Widiantoro

Widi Imlek 9

Images; Hendricus Widiantoro

Sebuah keberuntungan sekaligus kebersyukuran pastinya bagi yang masih bisa merayakan Tahun Baru Imlek pada 2015 initerutama etnis Tionghoa yang tinggal di Kalianda Lampung Selatan.

Widi Imlek 6

Image: Hendricus Widiantoro

Kali ini aku langsung menuju Vihara Dharma Sasana di Kalianda yang terletak di Jalan Pratu M Yusuf No 89 Kalianda. Bau dupa dan hio yang dibakar yang dinyalakan oleh umat yang bersembahyang di tempat tersebut beraroma harum dan aku disambut oleh pengurus vihara dengan ramah.

Rupanya si Kokoh sudah hapal wajah karena hampir tiap Imlek aku selalu berada di situ untuk mengabadikan momen yang istimewa tiap tahunnya di vihara tersebut. Ia mempersilakanku untuk mengambil gambar sebab ia sedang disibukkan oleh jemaat yang akan sembahyang.

widi Imlek 5

Images: Hendricus Widiantoro

Di luar beberapa polisi berjaga, sementara di dalam beberapa umat sedang berdoa. Pengurus vihara lainnya pun sibuk memeriksa ratusan lilin berwarna merah yang menyala. Lilin tersebut rata rata memiliki label nama sesuai keluarga yang membawanya. Tanda ungkapan syukur dalam tahun yang baru.

Karena aku ada di dalam Vihara beberapa umat yang datang pun sempat mengucapkan Qiong Hi! padaku dan kujawab serupa. Seusai mengambil gambar aku malah diminta mendekat oleh si kokoh,” de ini ada kue keranjang kan jarang jaran ada!” dengan berpamitan dan berterima kasih : xie xie kokoh! aku meninggalkan Vihara tersebut yang masih dipenuhi doa doa umat Budha tersebut.

Widi Imlek 4

Images: Hendricus Widiantoro

Dalam kalender yang didasarkan oleh perhitungan bulan, Tahun Baru Imlek 2015 dirayakan pada Kamis, 19 Februari ini dan secara hitungan lunar tadi merupakan tahun baru yang ke-2566. Sedangkan menurut perhitungan shio (dalam tradisi Tionghoa), tahun 2566 adalah tahun kambing.

Sayang karena tadi malam hujan aku tak bisa ikut melihat doa malam hari jelang pergantian tahun sehingga baru bisa datang pagi harinya bersama puteriku.

Widi Imlek 3

Images: Hendricus Widiantoro

Menurut pengurus Vihara beberapa persiapan menjelang Imlek biasanya dilakukan oleh etnis Tionghoa: Mendekorasi ulang rumah, membersihkan barang-barang dan menyortir barang yang sudah lama diganti yang baru, menyiapkan baju untuk dipakai saat Tahun Baru Imlek, dan tak ketinggalan ialah menstok bahan makanan yang nantinya akan dimasak saat makan malam Tahun Baru Imlek.

Widi Imlek 2

Images: Hendricus Widiantoro

Dari pagi hingga siang umat Budha nampak berdatangan rata rata bersama anggota keluarganya. Berdoa dengan khusuk dan penuh dengan harapan di tahun baru ini.

Amat istimewa bagiku bersama puteriku bisa berkunjung ke salah satu keluarga yang ada di Kalianda. Kue keranjang dan sajian khas yang ada saat Imlek tersaji di meja. Tanpa lupa pula angpao pun menjadi tradisi yang tak pernah telat saat Imlek kali ini.

Imlek 9

Images: Hendricus Widiantoro

Sebagai masyarakat yang majemuk, akupun tak lupa mengucapkan:

Gong Xi Fat Cai 2566. Xin Nian Khua Le. Wan She Ru Yi, semoga tahun baru 2566 ini menjadi awal yang baik.

Widi Imlek Utama

Images: Hendricus Widiantoro

Widi Imlek1

Images: Hendricus Widiantoro

Imlek 12

Images: Hendricus Widiantoro

Categories: Angpao, Imlek 2566, Kalianda, Lampung Selatan, Tahun Baru China, Tionghoa, Vihara | Tag: , , , , , , | 6 Komentar

BBM Naik Rela Mengantri Asal Masih Ada!

Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) baik premium maupun solar yang tadinya Rp. 6.500 terhitung 18 Nov 2014 menjadi Rp. 8.500, naik Rp.2000 tak hanya premium solar pun ikut naik. Kenaikan itu pun mendapat respon dari netizen, Tweeps yang memberikan hastag #BBMNaik dan berbagai hastag lainnya. Yang pasti #BBMNaik merajai trending topik tadi  malam  di linimasa Twitter.

ANTRI DIRIJEN 4

Antrian BBM (Foto: Hendricus Widiantoro)

Tak mempedulikan reaksi di media sosial, jejaring sosial langsung aja yuk diintip bagaimana sih aksi mengantri BBM di SPBU yang ada di Lampung. Buat warga yang masih bisa membelinya: “Mahal tak masalah asal masih tersedia, jangan sudah mahal eh langka pula!”. Baca lebih lanjut

Categories: BBM Naik, Kalianda, Premium, Solar | Tag: , , , | 4 Komentar

Tragisnya Mereka: Korban Perdagangan Satwa

Satwa satwa yang dilindungi di Indonesia sudah semakin banyak dikarenakan nyaris punah akibat habitat  yang makin sempit, sumber makanan terbatas berhimpitan dengan habitat manusia yang juga semakin membutuhkan banyak ruang untuk hidup. Namun satwa yang nyaris punah dan dilindungi bahkan tetap diburu untuk diperdagangkan. Inilah yang terjadi di beberapa hutan di Pulau Sumatera. Satwa satwa tersebut diburu lalu di “packing” dalam kardus kardus sempit, keranjang buah, atau besek besek bambu yang kemudian di masukkan dalam kendaraan jenis truk maupun bus yang tak layak untuk pengiriman satwa.

A Widi 13

Siamang. Petugas Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandarlampung Wilker Bakauheni saat memberi makan Siamang yang berhasil dibebaskan dari pedagang satwa di Bakauheni (Foto: Hendricus Widiantoro)

Saksi dari upaya penyelundupan satwa satwa baik yang dilindungi maupun tak dilindungi adalah para petugas Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandarlampung Wilayah Kerja Bakauheni. Beberapa bulan ini bahkan dalam kurun waktu tiga bulan berturut turut sudah berhasil diselamatkan beberapa ribu ekor burung, primata, reptil serta berbagai jenis hewan lain serta bagian hewan lainnya yang digunakan untuk keperluan tertentu. Ada yang lolos dari pengawasan petugas, namun banyak pula yang akhirnya berhasil diselamatkan oleh para petugas Balai Karantina Pertanian.

Beberapa satwa yang berhasil diamankan atau diselamatkan merupakan tangkapan dari hutan yang jumlahnya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan seperti halnay jenis burung. Beberapa tangkapan lain yakni : Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Monkey Forest, Trenggiling (Manis Javanica), Siamang (Symphalangus syndactylus), Beo nias (Gracula robusta), Cucak rante (Chloropis Venusta) berbagai jenis burung lainnya serta satwa satwa lainnya seperti Elang Hutan (Nisaetus nanus) dari Pulau Sumatera yang semuanya akan dikirim ke Pulau Jawa.

A Widi 4a

Paska pembebasan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Akibat cara pengiriman yang tak layak maka setelah berhasil diselamatkan beberapa ratus dari satwa satwa tersebut terkadang ditemukan dalam keadaan sekarat, mati dan bahkan beberapa diantaranya masih hidup meski sudah cacat dan tak berhasil diselamatkan. Kebijakan yang diambil oleh Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandarlampung Wilker Bakauheni  diantaranya segera melepasliarkan satwa satwa yang habitatnya pun sama dengan asal satwa satwa tersebut. pelepasliaran dilakukan untuk menyelamatkan satwa tersebut dengan terlebih dahulu merawatnya agar bisa beradaptasi di alam bebas.

A Widi 12

Siamang. Petugas Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandarlampung Wilker Bakauheni saat memberi makan Siamang yang berhasil dibebaskan dari pedagang satwa di Bakauheni (Foto: Hendricus Widiantoro)

“Kita rawat terlebih dahulu agar pulih kesehatannya. Jika tak demikian dikuatirkan justru mereka tak bisa bertahan di alam bebas setelah dilepaskan. Pemberian makanan, air merupakan pertolongan pertama bagi satwa satwa tersebut. Jika tak dilepasliarkan di sini maka diserahkan ke BKSDA Lampung agar dilepasliarkan di Taman Nasional Bukit Barisan, ” terang Penanggung Jawab Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandarlampung Wilker Bakauheni.

Satwa satwa tersebut diamankan dari berbagai jenis kendaraan baik kendaraan angkut barang bahkan acapkali disertakan bersamaan dengan penumpang dalam bus bus Antar Lintas Provinsi. Seperti yang terjadi pada Jumat (7/11/2014) PO Laju Prima yang merupakan bus jurusan Palembang Jakarta membawa ribuan ekor burung jenis Cucak Keling, Trocok yang dibawa dalam keranjang keranjang buah untuk diperdagangkan di Rawa Mangun Jakarta. Penumpang bus tak menyadari bus yang mereka naiki membawa ribuan burung karena burung dimasukkan dalam bagasi belakang. Akibatnya para penumpang bahkan menderita sesak nafas akibat hal tersebut. Selengkapnya di sini:

http://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fnews.liputan6.com%2Fread%2F2131049%2Fribuan-ekor-burung-gagal-diselundupkan-ke-jakarta&h=nAQFXciIZ

A Widi 1

Haus paska perjalanan jauh. (Foto: hendricus Widiantoro)

Tragis nasib satwa satwa tersebut. Diangkut tanpa dokumen kesehatan hewan, diangkut dengan moda transportasi tak semestinya dan bahkan beberapa diantaranya mati dalam perjalanan dengan kondisi kurang makanan dan air. Balai Karantina Pertanian Bakauheni selalu menjadi gerbang terakhir untuk menyelamatkan berbagai jenis satwa yang akan diselundupkan berkoordinasi dengan Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan Bakauheni.  Namun tak jarang juga pengiriman tersebut berhasil lolos dan menyeberang melalui Pelabuhan Bakauheni Lampung.

Kejadian kejadian ini pastinya akan terus terulang jika tak banyak pihak yang peduli dengan kelestarian hewan dilindungi. perdagangan satwa akan terus dilakukan karena kurangnya pemahaman akan konservasi dan kembali ke urusan perut. Para pelaku perdagangan melakukan perdaganagn satwa karena tergiur oleh hasil penjualan satwa satwa atau bagian bagian satwa yang sudah mati namun masih bisa dijual diantaranya kulit Trenggiling, Kulit Harimau, Kulit Ular Sanca dan berbagai bagian satwa lainnya.

Melihat nasib tragis satwa satwa tersebut dan kelucuan mereka semoga aktifitas perdagangan satwa bisa dihentikan. Peran serta pemangku kepentingan untuk memberdayakan masyarakat hutan agar tak melakukan perburuan satwa dilindungi menjadi Pekerjaan Rumah bagi masing masing daerah.

A widi 14a

Memberi makan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Tragisnya mereka : korban perdagangan satwa jika tak mati, cacat maka jika lolos maka akan semakin menumbuhkan penyelundupan satwa yang akan terus berlangsung hingga kapanpun. Save Nature Save Animal! 

Jumlah yang diamankan cukup banyak demikian juga yang dilepasliarkan. Ini bukti bahwa perdagangan satwa ilegal masih marak terjadi melalui jalur darat dari hutan hutan di Pulau Sumatera.

Berikut beberapa hewan hewan yang berhasil diselamatkan oleh kepolisan dan Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandarlampung Wilker Bakauheni :

A widi 14a

Kasih sayang petugas karantina (Foto: Hendricus Widiantoro)

A Widi 1a

Kehausan (Foto: Hendricus Widiantoro)

A Widi 2a

Segarnya (Foto : Hendricus Widiantoro)

A Widi 3a

Makan sejenak sebelum bebas (Foto : Hendricus Widiantoro)

A Widi 4a

Makan dulu (Foto : Hendricus Widiantoro)

A Widi 5a

Sedih atau Bahagia bercampur jadi satu setelah bebas (Foto: Hendricus Widiantoro)

D3

Dilepasliarkan (Foto: Hendricus Widiantoro)

B1

Pelepasliaran (Foto: Hendricus Widiantoro)

Buaya 1

Buaya Muara yang dijual secara Online (Foto: Hendricus Widiantoro)

D2

Pelepasliaran (Foto: Hendricus Widiantoro)

Meskipun para pelaku terancam melanggar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem dengan ancaman penjara lima tahun dan denda Rp100juta. Namun sepertinya hukuman itu tak menyurutkan upaya perdagangan satwa bahkan beberapa diantaranya kini sudah menggunakan sistem penjualan dan pembelian online seperti pengamanan buaya yang ditengarai penjualan online.

Categories: Adventure and Treking, Alam, Fotografi, Jurnalis, Kalianda, Kisahku, Konservasi, Satwa | Tag: , , , , | 1 Komentar

Wisata Keluarga Nuansa Pantai di Kalianda

Mencari tempat wisata di Kalianda Lampung Selatan yang pertama kali terbersit adalah wisata di tepi pantai. Hal tersebut cukup tepat sebab pantai, laut, ombak, pasir merupakan hal yang sangat disukai berbagai usia dan kalangan. Bermain air dan mengajak keluarga adalah sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan. Antusiasme untuk berenang memang menjadi keinginan anak anak yang memang paling senang jika diajak bermain air. Dari pagi putriku sudah sibuk ingin mengajak renang.

5

Pantai Ketang Kalianda Minggu 26/10/2014 (Foto: Hendricus Widiantoro)

Awalnya pilihan kami ingin pergi ke kolam renang yang ada di Kalianda yang pastinya banyak pilihan. Namun sebuah miskomunikasi membuat renang di kolam renang diurungkan alias batal. Mengapa? Sebab saat sampai di kolam renang ternyata kolam renang tutup sekitar pukul 17:00 sedangkan kedatangan kami pun cukup mepet  sehingga asumsi waktu berada di kolam renang akan sangat singkat. Bersama keluarga kawanku kami pun balik kanan untuk pergi ke laut dan mengurungkan niat untuk renang di kolam renang. Namun dalam perjalanan ke pantai anugerah Ray Of Light menghujam ke langit menjadi momen yag patut diabadikan sore itu. Baca lebih lanjut

Categories: Kalianda, Keluarga, Kisahku, Pantai, Wisata | Tag: , , , , , , , | 5 Komentar

Menanti Sang Surya Turun Ke Peraduan Wisata Indah Dari Tuhan

Hunting Sang Surya turun ke peraduannya kali ini bukan sebuah kesengajaan.Awalnya pulang dari resepsi pernikahan salah satu kakak kelasku rencana itu bermula. Seusai dari gereja untuk Sakramen Perkawinan resepsi di rumah mempelai wanita membuat kami yang jarang bertemu akhirnya bertemu dengan banyak kawan lama. Reuni yang dibuat secara tak sengaja.

Boom Blog 1

Susnet di Dermaga Boom diambil 18 Oktober 2014 (Foto: Hendricus Widiantoro)

Kawan satu kelasku sekaligus tetanggaku berniat mengajak kawan kawannnya yang berasal dari Pulau Jawa untuk menikmati kota Kalianda. Kalianda memang memiliki banyak keindahan yang cukup bagus namun pastinya tak akan bisa dijangkau dalam sehari karena waktu yang mepet buat para pekerja di perusahaan farmasi besar di Cikande tersebut.

Akhirnya dengan tiga buah motor kuhantar kawan kawan tersebut untuk menikmati Sang Surya turun ke peraduannya di Pantai Boom Kalianda. Pantai Boom Kalianda merupakan sebuah tempat pelelangan ikan yang ada di Kalianda. Karena lokasinya yang cukupo dekat dengan pusat ibukota Lampung Selatan Kalianda maka tempat ini menjadi favorit untuk nyore. Menikmati deburan ombak, melihat orang memancing ikan di antara bebatuaan, menikmati kebersamaan dengan keluarga, membeli ikan segar yang dijual di pusat Kuliner Kalianda.

Widi_News8

Kuliner Kalianda di Dermaga Boom Kalianda (Foto: Hendricus Widiantoro)

Bagi anak anak muda tempat ini mungkin menjadi tempat yang romantis untuk menikmati malam Minggu atau saat senja setiap hari. Hal itulah yang membuat kawan kawanku ini senang berada di sini. Selain cuacanya yang bersahabat moment menanti Sang Surya tenggelam merupakan saat yang dinantikan untuk selfie atau foto bersama.

Lebih menariknya kawan kawanku yang juga hobi jalan jalan ini bisa naik Kapal Patroli Napoleon yang bersandar di samping Kapal Inka Mina milik Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung Selatan serta Puskesmas Keliling Dinas Kesehatan Lampung Selatan. Naik kapal Ferry dari Merak Bakauheni yang berukuran besar, kini mereka naik kapal fiber ukuran kecil hanya sekedar untuk foto foto dan itu membuat mereka bahagia bahkan berfoto narsis di atas kapal.

Boom Blog 4

KP Napoleon, Pusling, Kapal Inka Mina di dermaga Boom Kalianda (Foto; Hendricus Widiantoro)

Detik demi detik menanti Sang Surya turun ke peraduan akhirnya tiba. Masing masing siap dengan gadgetnya untuk mengambil moment terbaik. Buatku moment Sang Surya turun ke peraduan yang berada di tepi laut merupakan moment paling bagus. Meskipun Golden Sunrise merupakan hal bagus setidaknya Sunset bisa diabadikan oleh banyak orang dan itu adalah keindahan dari Tuhan yang gratis.

Pengalaman mengejar Golden Sunrise di berbagai tempat memang lebih berat daripada mengejar Sunset. Menanti Sang Surya terbangun dari peraduannya merupakan momen berat karena harus bangun pagi pagi sepert yang kualami di Sawarna Lebak Banten saat harus bangun sekitar pukul 04 pagi untuk berangkat ke Legoon Pari, demikian juga saat berada di Pulau Sebesi. Berbeda halnya dengan keindahan dari Tuhan yang diberikan pada sore hari: tua, muda, bear kecil, anak anak bahkan bayi pasti bisa diajak menikmati moment Sunset ini.

Boom Blog 11

Sunset Dermaga Boom Kalianda 18 Oktober 2014 (Foto: Hendricus Widiantoro)

Setelah puas dengan jepretan jepretan dari Telepon pintar, Android nya dan juga kamera SLR nya akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke lapangan Korpri Pemda Lamsel untuk menikmati suasana malam di sana sekaligus ke Masjid Agung dan ke Tpoeng Tuping yang di sebelahnya dicanangkan sebagai Malioboro Kalianda. Malioboro nya Kalianda. Puas menikmati semuanya dengan acara mati lampu PLN yang syahdu akhirnya mereka mengajak pulang.

Kesan yang mengasikkan mereka peroleh karena dapat menikmati momen Sang Surya terbenam. Berikut beberapa moment saat menikmati Matahari turun ke peraduan di Kalianda:

Boom Blog 19

Bahagianya mereka di atas KP Napoleon

Boom Blog 6

Pohon meranggas di dermaga boom

Boom Blog 7

Dermaga Boom Kalianda saat senja (Foto : Hendricus Widiantoro)

Boom Blog 8

Dermaga Boom Kalianda saat senja untuk narsis kawan kawan (Foto : Hendricus Widiantoro)

Boom Blog 12

Dermaga Boom Kalianda saat senja (Foto : Hendricus Widiantoro)

Boom Blog 13

Dermaga Boom Kalianda saat senja (Foto : Hendricus Widiantoro)

Boom Blog 14

Dermaga Boom Kalianda saat senja (Foto : Hendricus Widiantoro)

Boom Blog 15

Dermaga Boom Kalianda saat senja (Foto : Hendricus Widiantoro)

Boom Blog 16

Pemancing di Dermaga Boom Kalianda. Dermaga Boom Kalianda saat senja (Foto : Hendricus Widiantoro)

Boom Blog 17

Dermaga Boom Kalianda saat senja (Foto : Hendricus Widiantoro)

Amy 3

Dermaga Boom Kalianda saat senja (Foto : Hendricus Widiantoro)

Amy 7

Jauh jauh dari Magelang, Lamteng, Blora

Amy 4

Kepooooo

Amy 8

Narsis

Amy 9

Awass

Amy 10

Pemilik kapal pesiar

Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Jalan jalan, Kalianda | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.