Foto Perjalananku

Hanjin Aqua Aground in Sunda Strait

MV Hanjin _Henk Widi4 copy

MV Hanjin Aqua

The container ship Hanjin Aqua (4,500-TEU) ran aground off Sangiang Island in Indonesia’s Banten, Sunda Strait.

The ship with 2303 containers on board is en route from Adelaide Australia to Jakarta, including hazardous cargo class A.

Vessel (249m length overall and beam of 37m) has a portside list 3 degrees, grounded by bow part, hull is understood to be breached, details unclear. Indonesia patrol ships are on grounding site, crew remaining on board, as there is no danger of sinking.

Local reports say that though the hull has breached, there is no danger of the ship sinking. The local coastguard is on the scene assessing the situation.

“There is no reported casualties or marine pollution and the cause of the accident is currently under investigation,” the spokesperson said.

To what extent the grounding of the Hanjin Aqua will impact the operation of the AUS loop is still unknown.

The vessel was built in 2012 by Hyundai Samho Heavy Industries in their shipyard in Samho, South Korea and operated by South Korean Hanjin Shipping.

MV Hanjin _Henk Widi4 copy

Mv Hanjin

Source: http://www.marinelink.com

Efforts to Self-Float Hanjin Aqua Unsuccessful

Attempts of the South Korean shipping company Hanjin Shipping to refloat containership Hanjin Aqua that ran aground off Sangiang Island, Indonesia on December 4 have proved to be unsuccessful, according to an update from the ship’s owner. Baca lebih lanjut

Iklan
Categories: Adventure, Foto Perjalananku, Kisah Kisahku | Tag: , , , , , | Tinggalkan komentar

Mengayun Di Jembatan Gantung, Sensasinya Tuh Di Sini

Mengayun di jembatan gantung sebenarnya bukan hal baru bagiku. Namun menjadi baru karena di sini harus mengantri..Di mana? ya di atas jembatan gantung di kawasan Wisata Sawarna Lebak Banten. Setidaknya dulu waktu kecil sering lewat jembatan gantung di desa ku namun berpapasan dengan orang adalah sesuatu yang tak biasa.

Sensasi 3

Jembatan Gantung ke Sawarna (Foto: Hendricus Widiantoro)

Namun di Sawarna dari tiga jembatan yang kulalui dan semuanya jembatan gantung semuanya dilalui dengan harus berpapasan, mengantri dan bahkan menunggu. Saking banyaknya yang mau lewat. parahnya lewat bukan hanya dengan jalan kaki tapi menggunakan kendaraan bermotor. Kebayang deh kalau pas jalan di atas jembatan goyang goyang dan rasa takut pasti ada jika jatuh tercebur di sungai. Jika berpapasan maka kaki akan berasa bergetar karena dari dua arah jembatan pasti akan bergoyang.

Tapi sepertinya belum ada yang tercebur. Setidaknya ada tiga jembatan yang kulalui dan semuanya adalah jembatan gantung. Pertama saat ke kampung Sawarna, kedua akan ke spot Goa lalay dan ketiga saat akan menikmati Sunrise di Legoon Pari. Setidaknya sensasi itu pasti akan terasa seusai menyeberangi jembatan gantung tersebut baik jalan kaki maupun menggunakan kendaraan roda dua. Jika sudah merasakannya maka tak salah jika bisa mengucapkan: Mengayun di Jembatan Gantung Sensasinya Tuh Di Sini! di Sawarna, Lebak Banten.

Berikut beberapa jembatan gantung tersebut dan suasananya serta sensasinya pasti: Baca lebih lanjut

Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Foto Perjalananku, Kisah Kisahku | Tag: , , , | 18 Komentar

Malioboro : Memori Historis

Malioboro 0

Jalan Maliboro (Foto : Inijogja.co.id)

Yogyakarta: Kenangan kenangan itu. Kota historis yang memberiku banyak pengalaman.. Semuanya datang, pergi entah dalam bahagia entah dalam kesedihan. Datang dalam bahagia dan pergi dalam kesedihan. Bertemu untuk sebuah perpisahan dan perpisahan oleh kematian. Itu yang terjadi di Yogyakarta.

Malioboro

Malioboro (Foto: Aris Mundayat/ Jogjatrip.com)

Kisah itu : ngonthel menyusuri jalan kaliurang menuju ring road, menyusuri parit parit di dekat UGM..dikempesi ban sepeda oleh polisi..tahun 2004 yang memberi banyak arti dan goresan historis di buku hidupku. Atau jalan jalan menyusuri Malioboro

Salah satu kisah yang masih kuingat adalah saat nongkrong di depan benteng Vredeburg bersama salah seorang konfraterku kala itu. Nyore dan santai sambil minum es tebu yang segar di hari yang panas. Saat itulah konfraterku mengajak “taruhan” dan itu pasti akan menjadi tertawaan bagi kami kalau bertemu.

Di mana sih dan apa sih Benteng Vredeburg, bisa di tengok di sini:
http://yogyakarta.panduanwisata.com/hiburan/benteng-vredeburg-manifestasi-perdamaian-yang-terjaga-hingga-saat-ini/

Sebagai senior yang pastinya sudah banyak kawan di Jogja ia yakin akan menang taruhan. Terus apa taruhannya? kata dia: Siapa yang pertama bertemu dengan orang yang di kenal di sini nanti dia yang akan traktir makan malam!

Wah jelas ketar ketir ini mana mungkin aku kenal sama orang orang di situ karena kawan kawanku masa SMA yang kuliah di Jogja sudah wisuda dan meninggalkan Jogja.

Tapi lima belas menit kemudian aku menengok ke arah alun alun setelah aku sempat berjalan sejenak di seberang jalan di depan kantor pos lama yang ada di seberang benteng Vredeburg.

benteng-Vredeburg-300x207

Benteng Vredeburg (Foto: yogyakarta.panduanwisata.com)

Tanpa disangka sangka muncul kawan kos saat di Pringsewu. Ia ga salah lagi itu kakak kelasku namanya Refo Gifta. Dia pun kaget melihat aku duduk duduk di depan benteng Vredeburg.

Bertahun tahun tak bertemu dengan mas Refo dia masih ingat aku dan sebaliknya. Spontan dia teriak ” Widiiiiii!”

Meski sama sama di Jogja karena kesibukan masing masing kami tak pernah bertemu dan saat bertemu di Malioboro ia pun kaget.

Ngobrol ngalor ngidul sambil memperkenalkan konfraterku akhirnya ia pamit karena ia sedang ada janji sama kawannya di Kota baru.

“Ayo siapa yang traktir ini?” ujarku pada konfraterku.

“Nyerah deh kalahh pada babak pertama” ujarnya.

Setelah itu aku hendak menyruput es tebu yang tadi aku minum. Saking asiknya kami ngobrol rupanya dari tadi aku tak menyadari kalau minuman di gelas plastik yang kuletakkan di kursi semen sudah berpindah ke tangan orang. Bukan kawanku tapi seseorang yang berpakaian compang camping dan juga rambut acak acakan.

“Tuh es mu diminum sama kakakmu!” kata konfraterku sambil tertawa.

Setelah bertemu dengan kawanku konfraterku rupanya sudah janjian juga dengan kawannya di Malioboro. Malioboro, memang memiliki banyak kenangan dan sisi historis bagi siapapun, mungkin jika belum tahu atau belum pernah ke Malioboro bisa melihatnya di wikipedia:

Jalan Malioboro (bahasa Jawa: Hanacaraka, ꦢꦭꦤ꧀​ꦩꦭꦶꦲꦧꦫ, Dalan Malioboro) adalah nama salah satu kawasan jalan dari tiga jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Secara keseluruhan terdiri dari Jalan Pangeran Mangkubumi, dan Jalan Jend. A. Yani. Jalan ini merupakan poros Garis Imajiner Kraton Yogyakarta.

Pada tanggal 20 Desember 2013, pukul 10.30 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X nama dua ruas jalan Malioboro dikembalikan ke nama aslinya, Jalan Pangeran Mangkubumi menjadi jalan Margoutomo, dan Jalan Jend. A. Yani menjadi jalan Margomulyo.[1]

Terdapat beberapa obyek bersejarah di kawasan tiga jalan ini antara lain Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg, dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.

Jalan Malioboro sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas jogja dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan gudeg khas jogja serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya para seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art, pantomim, dan lain-lain di sepanjang jalan ini.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_Malioboro

Seusai menikmati sore di Malioboro kami mampir di UGM dan akhirnya menuju ke Utara menyusuri jalan kaliurang. Makan nasi goreng Seafood bersama di pinggir jalan Kaliurang dan menyruput es krim di kafe.

Malioboro…Yogyakarta dan kenangan itu..

644482_589313647760199_1096046858_n

Aku dan kawan kawan di depan kampus (Foto: Hendricus Widiantoro)

Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Foto Perjalananku, Inspirasi, Yogyakarta | Tag: , , , , , | 3 Komentar

Mau Pro-Amatir Ayo Beraksi Di Sini

BP 6

Tanjung Layar Sawarna (Foto: Hendricus Widiantoro)

Bagi pecinta fotografi mungkin mengetahui atau setidaknya pernah ke Sawarna Beach, Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Moment yang paling ditunggu biasanya menjelang matahari terbit atau matahari terbenam. Nah moment ini digunakan untuk mengabadikan hal tersebut. Nah saat perjalananku ke Sawarna sebagai backpaker sengaja aku mengabadikan moment moment tersebut..meski aku bukan seorang fotografer..

Detik 3

Sunset di Tanjung Layar (Foto: Hendricus Widiantoro)

Nah jangan minder deh mau kamu fotografer profesional , amatir, menggunakan kamera merk Canon, Nikon ataupun kamera dari gadget handphone, ipad pun jadilah…Demikian juga kalau kamu memang model profesional atau hanya foto foto narcis jadilah dengan mengambil moment ombak yang memecah karang pantai di Tanjung layar. Ratusan orang bahkan rela menunggu moment untuk mengambil matahari terbenam. Beberapa diantaranya dengan memakai kamera DSLR lengkap dengan filternya yang kereen, digital, atau hanya kamera dari telepon genggam. Berikut moment yang kuabadikan saat para fotografer ini beraksi lengkap dengan modelnya yang juga sudah pasang gaya.,,atau para sahabat yang mengambil moment tak terlupakan itu ..

hjuh

Aksi Fotografer di Tanjung Layar menunggu Sunset (Foto: Hendricus Widiantoro)

Detik 1

Menanti detik detik senja (Foto: Hendricus Widiantoro)

Detik 2

Para pemburu senja (Foto: Hendricus Widiantoro)

Detik 4

Romantisme senja di Tanjung Layar (Foto: Hendricus Widiantoro)

Detik 5

Senja di Tanjung Layar yang mempesonaku (Foto: Hendricus Widiantoro)

Detik 7

Tanjung Layar (Foto: Hendricus Widiantoro)

Detik 8

Menunggu Matahari tenggelam (Foto: Hendricus Widiantoro)

Detik 9

Sang Surya (Foto: Hendricus Widiantoro)

Detik 10

Tanjung Layar Sawarna Banten (Foto: Hendricus Widiantoro)

Detik 11

Tanjung Layar Sawarna (Foto: Hendricus Widiantoro)

Detik 6

Romansa senja (Foto: Hendricus Widiantoro)

Model 1

Gadis cantik ala model (Foto: Hendricus Widiantoro)

Foto 2

Fotografer di Tanjung Layar (Foto: Hendricus Widiantoro)

Foto 3

Kebersamaan di sini (Foto: Hendricus Widiantoro)

Foto 4

Siap siap Selfie (Foto: Hendricus Widiantoro)

Foto 5

Kokoh menjulang objek foto favorit (Foto: Hendricus Widiantoro)

Foto 6

Difoto memoto (Foto: Hendricus Widiantoro)

Foto 19

Siap difoto (Foto: Hendricus Widiantoro)

Meski di lokasi banyak hal yang bisa diambil tapi kenangan ini pasti akan jadi pelajaran di masa depan.. Selain moment indah tersebut lengkap juga mengunjungi spot spot di Sawarna Beach: Tanjung Layar, Pasir Putih, Gua Lalay, Gua Langir, Legon Pari, Pulau Manuk…. (Catatan: Foto masih sama dengan posting sebelum sebelumnya)

Categories: Adventure and Treking, Alam, Backpackeran, Foto Perjalananku, Fotografi, Inspirasi, Kisah Kisahku, Perjalanan | Tag: | Tinggalkan komentar

Backpackeran: “Florida” Hingga Anyer Weekend With Dharma Rucitra I Part 3

Blog_Widi6

Pantai Anyer

Seperti biasanya spontan dan pastinya dengan budget super minim untuk bisa mengekplore wilayah lain di bagian Indonesia tercinta pun tercapai. Kali ini destinasi yang sebelumnya cuma kami lewati saat ke Sawarna akhirnya kesampaian juga di pantai Anyer. Lokasinya tak jauh dari Hotel Marbela.

Meski dekat dengan Marbela Hotel Convention and Spa yang ada di Jl. Raya Karang Bolongkm 135, Desa Bandulu, Anyer, Anyer, pastinya buat Backpacker sepertiku mimpi untuk bisa tidur di tempat tersebut. Sebuah hotel yang cukup megah dengan view pantai Anyer yang pastinya bagus untuk melihat sunset…Mimpi kali yee!

222486_121212110730299_STD

Marbela Hotel Convention and Spa (Agoda)

Flashback deh ke sehari sebelumnya..

Hari pertama, Sabtu 20 September 2014

Spontan dan tiba tiba kawanku mengajak untuk hunting foto di Banten untuk melihat keindahan Banten. Karena tanpa rencana tapi sekaligus untuk menghabiskan akhir pekan akhirnya kami memutuskan berangkat.

Keberangkatan kali ini dengan budget yang cukup minim tapi karena kemurahan hati dan keberuntungan akhirnya Revo ku bisa naik kapal menyeberangi Selat Sunda untuk pertama kalinya.

Blog_Widi1

Pelabuhan Merak Banten

Berangkat dari dermaga I Pelabuhan Bakauheni Kapal Motor Penumpang milik PT ASDP yaitu Jatra I menghantar kami ke Pulau Jawa. Berangkat sehabis tengah hari membuat kami sampai di Pelabuhan Merak sudah beranjak malam. Malam ini mencari tempat untuk berteduh di wilayah Merak dan rekomendasi dari kawan lain ada penginapan yang low budget di Merak jadilah kami menginap di sebuah Hotel yang ga menguras kantong bagi kelas backpacker sepertiku.

Blog_widi2

Aku di Pelabuhan Merak Banten

Malam Minggu dengan menggunakan motor kami mengeksplore Merak dan sekitarnya, meski bukan anak touring tapi Revo ku telah membawaku hingga ke Pulau Jawa. Malam yang semarak untuk sebuah kota Pelabuhan, Industri.

Malam ini sekilas saja menikmati kuliner di Merak dan setelahnya melihat lihat suasana malam di pelabuhan Merak. Ketiadaan tempat nongkrong membuat Pelabuhan Merak pun menjadi lokasi asik untuk berkumpul anak anak muda untuk menikmati malam Minggu.

Sesudahnya kami menelusuri Merak yang pastinya semarak dengan kehidupan malamnya: ada bilioar, karaoke, hotel berbagai kelas, dan pastinya “keindahan” lainnya.

Karena cuaca tak mendukung akhirnya kami balik ke hotel dan menghabiskan malam dengan menonton bola.

Hari Kedua, Minggu 21 September 2014

Hari kedua aku bangun agak terlambat untuk ukuran Backpacker, kebapa terlambat karena bangun jam 06. lewat, tak bisa menikmati suasana pagi apalagi sunset.

Arah perjalanan kali ini menyusuri pantai ke arah Pulorida, ia bukan Florida..namun karena tak menemukan spot yang cukup bagus akhirnya motor diarahkan ke Kota Cilegon.

Arah selanjutnya yang harus ditempuh adalah Anyer. Jalanan masih sepi menuju Anyer namun pantai pantai sudah penuh dengan para wisatawan yang datang.

Pilihan pantai yang kami jadikan destinasi adalah pantai Anyer di sebelah Hotel Marbella. Tiket masuk seharga Rp 20 ribu untuk kendaraan motor berpenumpang dua orang sudah cukup sesuai menurutku sehingga akhirnya kami masuk ke pantai tersebut.

Blog_widi17-1

Pantai Anyer

Blog_Widi7

Hotel Marbela dari Kejauhan

Blog_Widi18-2

Siap naik banan boat dan Ski air?

Blog_Widi19

ATV

Pantai ini cukup bagus untuk rekreasi keluarga terutama membawa anak anak kecil karena wahana permainan yang beragam dan juga pantai dengan pasirnya yang putih dan cukup luas.

Wahana banana boat yang ditawarkan dengan harga Rp 150 ribu perrpaket untuk 5 orang pun cukup menjadi favorit. Selain itu ada terbang dengan parasut yang ditarik dengan perahu motor senilai Rp 300 ribu cukup diminati. Kalau membawa anak kecil ban yang disewakan dengan harga Rp 15 ribu bisa menjadi pilihan untuk mengajak anak bermain.

Pilihan lainnya adalah dengan naik perahu yang dihargai Rp 10 ribu perorang untuk mutar mutar di pantai. Pun jika tak mau menikmati wahana wahana tersebut kulihat masih banyak yang bersama anak anaknya bermain pasir dan ombak. Alangkah menyenangkannya melihat kebahagiaan mereka: Kebahagiaan para keluarga, para sejoli dan pastinya anak anak yang bermain pasir.

Selain melihat suasana yang semakin beranjak siang jika mau sebenarnya bisa melihat suasana sunset di tempat tersebut. Jauh di sana Marbela Hotel yang tampak megah sembari berdoa semoga suatu ketika bisa menginap di tempat tersebut.

Puas dengan melihat suasana yang ada di pantai tersebut akhirnya kami putuskan untuk melihat spot lain. Tujuan kami sebenarnya ingin ke Karang Bolong namun memperhitungkan waktu akhirnya kami balik ke arah Merak. Anyer- Cilegon- Merak kami lalui untuk kembali ke Sumatera.

Berikut beberapa foto suasana di Anyer:

Blog_widi21

Foto foto agenda wajib yang datang ke pantai ini

Blog_Widi5

Anyer

Blog_Widi4

Perahu untuk disewa

Blog_Widi8

Pantai Anyer

Blog_Widi9

Nyoba Jet Ski nampang doang

Blog_widi10

Jet ski

Blog_Widi11

Bermain pasir

Blog_Widi12

Di Pantai Anyer

Blog_Widi13

Anyer

Blog_Widi14

Banana Boat Siap

Blog_Widi15

Tato temporal yang laris

Blog_Widi16

Perahu yang akan membawa penumpang keliling pantai

Blog_widi17

Anyer

Blog_widi20

Kebersamaan

Berkat kebaikan hati Direktur Dharma Lautan Utama pemilik Kapal Motor Penumpang Dharma Rucitra I maka kami pun naik Kapal “terbagus” yang ada di Selat Sunda untuk rute pelayaran Merak-Bakauheni tersebut. “Terbagus” setidaknya bagi backpacker sepertiku karena melihat dari berbagai hal: Fasilitas, pelayanan, interior , kecepatan kapal. Tak mengherankan banyak orang nyaman dan bahkan terkadang sengaja memilih KMP Dharma Rucitra I untuk melintas di Selat Sunda.

Blog_Widi22

KMP Dharma Rucitra I di dermaga III Merak

Blog_Widi30

Pramugari KMP Dharma Rucitra I yang ramah

Blog_Widi23

Akhirnya naik kapal juga, nunggu di dermaga 3 Merak

Blog_Widi24

Kabin di Restoran KMP Dharma Rucitra I

Blog_Widi25

Dari kabin Restoran melihat Sakura Express melintas

Blog_Widi26

Mau nyanyi di sini tempatnya kabin untuk yang hobi menyanyi

Blog_Widi27

Saatnya beraksi lagu lagu dangdut, pop

Blog_Widi28

Pramugari KMP Dharma Rucitra I dengan ramah membagikan kertas untuk Request lagu: sopan, rapi dan anggun

Bagaimana tidak: Area bermain anak yang membuat anak merasa nyaman, area untuk pijat refleksi, area untuk live musik, restoran, tangga berjalan. Semuanya bukan seperti berada di atas kapal Roro tetapi seperti di atas kapal pesiar (padahal aku aja belum  pernah naik kapal pesiar).

Selain itu restoran dengan harga terjangkau lengkap dengan menu menu yang sudah disiapkan dengan daftar harga yang sudah pasti membuat penumpang kelas Backpacker sepertiku terasa dimanjakan. Bahkan pramugari pramugari yang cukup cantik dan ramah menyapa penumpang.

Menikmati live musik membuat port time, sailing time pun tak berasa. Hanya sekitar 2 jam perjalanan kapal tersebut merapat di dermaga 3 Pelabuhan Bakauheni dan sampai di Pelabuhan Bakauheni sekitar pukul 13.00.

Perjalanan dua hari yang mengesankan.
Sumbersari 21 September 2014

Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Foto Perjalananku, Fotografi | Tag: , , , , , | 2 Komentar

Pohon Asam Kering : Refleksi Hidup dan Kematian!

Kering_Widi15

Pohon Asam Jawa di depan Dekranasda Lamsel

Hari ini sambil menunggu perwakilan Duta Besar dari negara sahabat yang melakukan kunjungan ke Lampung Selatan ke kantor Dekranasda lalu ke Gunung Krakatau , namun mataku justru tak tertarik dengan para duta besar tersebut. Meskipun yang datang ada sekitar 6 duta besar : Dari Amerika Serikat, Belarusia, Polandia, Korea Utara, Kazhakstan namun tetap saja pandanganku tertuju pada sebuah pohon Asam Jawa yang berdiri dengan kokoh, namun dia sudah MATI.

Gagah dan kokoh meski semuanya kering dan pastinya sudah MATI. Namun justru keindahan muncul saat pohon tersebut sudah mati. Keindahan tersebut juga pastinya akan tertangkap oleh orang yang memiliki sense of art. Meski aku bukan seniman namun melihat pohon tersebut langsung memiliki persepsi dan visi yang lain lebih dari sekedar pohon kering.

Pohon ini bukan pohon biasa pastinya dan jika melihat pohon sudah sebesar dan setinggi itu pasti pohon tersebut berumur cukup tua.

Kering_Widi4

Pohon Asam Jawa di depan Dekranasda Lamsel

Ngintip Wikipedia langsung deh ketemu ASAM JAWA yang kokoh berdiri di hadapanku. Kuputari pohon tersebut dan kuamati dari bawah hingga pucuknya. Dalam Wikipedia ketemu juga info tentang pohon ini: http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_jawa

Asam jawa, asam atau asem adalah sejenis buah yang masam rasanya; biasa digunakan sebagai bumbu dalam banyak masakan Indonesia sebagai perasa atau penambah rasa asam dalam makanan, misalnya pada sayur asam atau kadang-kadang kuah pempek.

Asam jawa dihasilkan oleh pohon yang bernama ilmiah Tamarindus indica, termasuk ke dalam suku Fabaceae (Leguminosae). Spesies ini adalah satu-satunya anggota marga Tamarindus. Nama lain asam jawa adalah asam (Mly.), asem (Jw., Sd.), acem (Md.), asang jawa, asang jawi (berbagai bahasa di Sulawesi) dan lain-lain[1]. Juga sampalok, kalamagi (Tagalog), magyee (Burma), ma-kham (Thai), khaam (Laos), khoua me (Kamboja), me, trai me (Vietnam), dan tamarind (Ingg.)[2]. Buah yang telah tua, sangat masak dan dikeringkan biasa disebut asem kawak.

Tapi bukan membahas soal tanaman tersebut…aku hanyalah seorang pejalan yang mencintai keindahan dan seni dan entah mengapa justru inspirasi muncul saat melihat pohon asam jawa ini.

Aku sendiri merupakan penikmat seni yang masih amatir belum terlalu dalam. Entah kenapa aku menyukai tanaman kering yang terkadang jika aku menemukannya di sungai kadang kubawa pulang saat kecil. terlihat melankolis memang, tapi segala sesuatu yang membuatku harus menatap keatas memberikan refleksi yang merasuk ke dalam sukmaku.

Berbicara tentang pohon yang kering, semua makhluk hidup pastinya akan mati. Semua yang bernyawa akan kering dan mati. Setidaknya hal tersebut hal penting yang dapat kurefleksikan. Masuk ke dalam pikiranku aku dan pohon asam Jawa tersebut sama sama ciptaanNYA. Punya masa untuk jatuh, kalah, gugur, atau bahkan mati. Aku memang tak sekuat itu untuk hidup sesuai dengan kemauan. Pada ujungnya , saatnya, ketika diriku semakin tua, atau ketika masalah dari luar menimpa diriku, aku pasti akan jatuh, gugur atau mati.

Aku teringat dengan 1 Petrus 1 ayat 24 “sebab semua yang hidup adalah seperti bunga rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering dan bunga gugur.” Ternyata benar juga. Petrus yang mengutip kembali firman yang sebelumnya ditulis oleh Nabi Yesaya ini sangat rill. Kita memang hanya seperti bunga rumput, atau seperti dedaunan yang tadi. Akan layu dan gugur. Wah, hari itu aku tiba-tiba merenung sejenak menyadari betapa ngga ada apa-apanya aku ini.

Kemudian apa hubungannya dengan pohon asam Jawa yang tetap tegak berdiri ini? Bagiku ini memiliki makna entah buat orang lain mungkin terkesan tak berarti, mati ya mati kering dan akan dibakar di bara api.

Lebih ke dalam lagi, pohon yang kering ini masih menyisakan kekokohan dan juga sarang sarang burung di puncaknya. Pastinya dulu pohon ini pernah hijau dan menghasilkan buah asam yang cukup banyak hingga saatnya mengering dan mati.

Perjuangan dari kecil hingga besar , berbuah dan mati pasti sudah dialami pohon tersebut. Bahkan lebih dari itu pohon tersebut telah mengalami berbagai macam cuaca hujan, panas dan bahkan juga menyaksikan berbagai peristiwa manusia yang ada di sekitarnya.

Namun setelah hidup pohon tersebut akhirnya kering dan mati. Meskipun di masa hidupnya pasti ia sudah memberi manfaat bagi semua makhluk hidup demikian pun saat sudah mati ia masih terlihat indah. Kematian yang masih bisa memberi keindahan.

Mampukah aku?

Seperti apakah penampakan pohon asam yang kumaksud berikut pose posenya:

Kering_Widi1

Kering meski kokoh

Kering_Widi4

Asam Jawa

Kering_Widi15

Ranting ranting

Kering_Widi4

Kering

Kering_Widi1

Kokoh

Kering_widi13

Kering

Kering_Widi14

Asam

Kering_Widi15

Kering

Kering_Widi16

Sarang burung di puncaknya

Kering_Widi4

Kering

Kering_Widi17

Kering kerontang dan mati

Categories: Alam, Foto Perjalananku, Fotografi, Inspirasi, Kisah Kisahku | Tag: , , , | 6 Komentar

Side Of Our Beach in South Lampung Regency

AB

Pantai Minang ruah (Foto: Hendricus Widiantoro)

Beberapa sisi pantai yang kuabadikan di beberapa tempat di Lampung Selatan. Mulai dari pesisir Barat dan Pesisir Timur Lampung Selatan. Keberagaman dan situasi pantai yang ada di Kabupaten Serambi Sumatera.

Sembari menuliskan posting ini sebuah sisi di Serambi Sumatera, mendengarkan alunan Ace of Base “Wonderful Life” yang mengalun lembut dengan penuh keindahan akan hidup. Baca lebih lanjut

Categories: Backpackeran, Foto Perjalananku, Fotografi, Kisah Kisahku, My Captured | Tag: , , , | 8 Komentar

Ritual Melasti

10155956_754851477873081_1539954023_n

Persiapan upacara Melasti di Tridharmayoga Ketapang Lampung Selatan

Seperti kubaca dari beberapa literatur tepatnya di dalam lontar Sundarigama berbunyi seperti ini: “….manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata.”. Sementara Melasti dalam ajaran Hindu Bali berbunyi nganyudang malaning gumi ngamet Tirta Amerta atau menghanyutkan kekotoran alam menggunakan air kehidupan. Laut sebagai simbol sumberTirtha Amertha (Dewa Ruci, Pemuteran Mandaragiri). Umat Hindu di Bali melaksanakan upacara Melasti sebagai rangkaian pelaksanaan perayaan Hari Raya Nyepi.

Tak hanya di Bali di Lampung tepatnya di Lampung Selatan, ribuan umat Hindu pun merayakan Melasti sebagai ritual suci setiap tahunnya menjelang Nyepi. Meski diadakan setiap tahun baru tahun ini aku berkesempatan mengabadikan beberapa momen tersebut.

Foto foto ini sebenarnya diambil sekitar beberapa bulan yang lalu tepatnya bulan Maret . Sebuah ritual suci bagi umat Hindu yang diselenggarakan di Pantai Onaria Ketapang Lampung Selatan.

Berikut beberapa fotonya:

10155956_754851477873081_1539954023_n

                                                       Melasti

1375682_754851114539784_289195709_n

                              Tarian dalam upacara Melasti

1507573_754851274539768_173391271_n (2)

Sebelum melarung di laut sesaji dibawa ke tepi laut

1601443_754851124539783_1249931535_n (1)

                     Barong dalam upacara Melasti

1656346_754851277873101_528307991_n

                                         Siap melarung sesaji

1925344_754851094539786_1013034346_n

                                         Pernak pernik Melasti

1977342_754851311206431_703726450_n

                                        Melarung sesaji di Pantai

Categories: Budaya, Foto Perjalananku | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

My Captured :I Left With More Confidence Than I Have Ever Had!

Widi_1

Pantai Tanjung Layar Sawarna (Jepretan mas Dedi Sutomo)

At Tanjung Layar Sawarna_1

Retouch oleh Mas Dedi Sutomo candid seseorang yang ga tau dari mana, namanya sapa, lagi apa, asal jepret aja

sunset at Tanjung Layar Sawarna_2

Sunset yang syahdu di Tanjung Layar Sawarna

sunset at Tanjung Layar Sawarna_3

Para pemburu senja menanti matahari terbenam di Pantai Tanjung Layar Sawarna Lebak Banten

sunset at Tanjung Layar Sawarna_5

Dua batu karang eksotis ini menjadi objek foto fotografer manapun yang ingin mengasah kemampuan fotografinya

sunset at Tanjung Layar Sawarna_6

Deburan ombak Laut Selatan yang menghantam batu karang Pantai Sawarna

Detik 3

Siluet di Pantai Tanjung Layar Pantai Sawarna Lebak Banten

Detik 1

Rame rame menanti sang surya terbenam

Detik 5

Berbagai jenis, berbagai usia tak peduli menikmati keindahan matahari terbenam

Detik 6

Memanfaatkan waktu untuk berfoto bersama

Detik 7

Kebersamaan saat senja

Detik 8

Menanti senja di horison

Detik 9

Meski sendiri tetap setia menemani bumi : sang surya

Detik 10

Semuanya berangsur pergi dan tinggal pencari romantisme

Detik 11

Tanjung Layar

Wallpaper

Foto favoritku di Tanjung Layar Sawarna Lebak Banten

Categories: Adventure and Treking, Foto Perjalananku, Kisah Kisahku, My Captured | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Bukit Jempol, Bukit Gajah..Lahat I Miss It!

images (7)

                                                     Bukit Jempol credit: Net

Palembang- Lahat Sumatera Selatan sebuah perjalanan yang selalu kuingat dalam hidupku. Perjalanan selama 5-6 jam dari Palembang menuju ke arah Bengkulu, setelah melewati Ogan Ilir, Prabumulih, Muara Enim dan Lahat,  Perjalanan menggunakan mobil dari Palembang menuju Lahat dengan rute yang sangat memanjakan mata masih kuingat saat live in dan promosi panggilan, sebuah kenangan yang menjadi sejarah hidupku dan pastinya tak akan terlupa bagi kelas Gramatica, Sytaxis, Poecis dan Rhetorica. Sebuah misi yang pasti akan diingat oleh ratusan siswa hingga kini. Memperkenalkan sekolah kami kepada para siswa TK hingga SMA di Lahat Sumatera Selatan. Seperti halnya dusun-dusun lain di Sumatera Selatan, kondisi wilayah yang berbukit, rumah-rumah panggung kayu dengan kebanyakan penduduknya yang sehari-hari bekerja berkebun kopi menjadi suasana yang kulewati.

images (8)

                                         Lahat

Saat itu aku ingat perjalananku bersama dengan Romo Joseph dengan mobilnya sementara yang lain naik bis. Meskipun sudah sangat lama namun hal yang tetap terpatri di pikiran adalah Bukit Jempol dan Bukit Gajah di lahat, Sumatera Selatan. Jarak yang cukup jauh dari palembang ke Lahat sekitar 217 kilometer.

Tapi karena candaan dari Romo Joseph membuat perjalanan tersebut ga terasa ditambah dengan lagu lagu romantis yang disukai Romo Joseph meskipun lagunya agak ga jelas karena pake bahasa Perancis.

Tahun 2002, belum ada dan tepatnya yang pasti ga ada yang memiliki gadget untuk berfoto. Satu satu satunya foto yang dimiliki oleh Romo Kusmaryadi selalu menjadi moment buat berfoto bersama di setiap lokasi yang kami singgahi. Foto dicuci cetak terus dipajang dan jika ada foto yang bersangkutan maka minta dicuci (strategi marketing kala itu .).

images (7)

Legenda dan Kisah Lokal

Tentang bukit jempol pasti hal ini boleh dibilang aneh tapi nyata. Entah kenapa jarang sekali atau sulit sekali mengambil foto gunung telunjuk atau sering orang lahat bilang gunung jempol mistis nya sekira nya sudah di foto atau sudah pas posisi foto nya kadang suka tidak ada gambarnya di layar handphone atau kamera. Ya boleh percaya boleh ga nama nya juga mitos.

Ada sebuah mitos mengenai bukit telunjuk yang saya dengar dari nenek saya. Dia berkata bahwa untuk mengambil gambar gunung telunjuk tidak semudah mengambil gambar pemandangan alam lainnya. Karena setiap kali mata mengarah ke bidikan kamera, pasti tak berapa lama gambar itu akan hilang gambarnya dari memmory kamera.

Ada orang yang menamai gunung ini dengan sebutan gunung telunjuk, tapi lebih banyakan yang menyebutnya gunung jempol. Dah, nggak usah dipermasalahkan, yang penting keduanya adalah nama-nama jari.

Kalau menurut ceritanya yang saya tau dari nenek saya adalah konon pada suatu hari, di sebuah desa tinggallah seorang ibu dan anak. Ibu dan anak itu hidup dengan miskin. Si anak suka melawan orang tua dan anak itu juga setiap hari hanya ingin makan kalau lauknya ikan. Ibunya pun setiap hari juga pergi ke sungai untuk memancing ikan.

Tapi, lama-kelamaan ikan di sungai itu habis, karena setiap hari selalu ditangkap. Sang ibu pun berkata pada anaknya “anakku, ikan di sungai telah habis. Bagaimana bila kamu tidak usah makan ikan lagi?”. Anak itu pun menjawab “ibu, aku tidak mau makan kalau bukan selain ikan!”. Ibunya pun bingung, dengan tingkah anakanya itu yang hanya mau memakan ikan. Karena bingung ibu itu masuk ke dalam hutan. Dan berkata lah ibu itu di dalam hutan dengan sedih “ya Tuhan, mengapa anakku tidak makan yang lain selain ikan? Sedangkan ikan di sungai itu telah hampir habis. Seandainya aku bisa jadi gunung telunjuk, aku ingin supaya anak ku melihat ku sebagai sebuah gunung”.

Permohonan ibu itu terkabul. Saat itu juga sang ibu menjadi sebuah gunung, dan bentuk gunung itu pun seperti jari telunjuk. Di rumah anak itu pun mencari ibunya kemana-mana, hingga akhirnya dia masuk ke dalam hutan. Dia menemukan sebuah gunung yang berbentuk telunjuk, dan telunjuk itu mengarah kepada anak itu. Anaknya itu pun akhinya sadar bahwa gunung itu adalah ibunya. Karena pada gunung itu ada benda milik ibunya. Anak itu hanya bisa menangis dan berteriak “ibu.. kenapa ibu menjadi sebuah gunung” sambil membenturkan kepala nya ke pohon. Akhirnya anak itu pun mati dan ibunya tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena telah menjadi gunung telunjuk.

Sesudah melewati daerah tersebut sampailah kami di Lahat dan kebetulan aku mendapat homestay di Bukit Gajah. Rumah seorang warga yang menyambut kami bersama salah satu kawan dari Wonogiri Jawa Tengah. Kenapa dinamakan bukit Gajah pun masih membuatku bertanya tanya.

Waktu dua hari Sabtu minggu digunakan oleh siswa dari sekolahku untuk bertemu dengan siswa siswa TK hingga SMA di Lahat yang pastinya memperkenalkan sekolahku di Jalan Bangau 60. Meskipun sehari saat di Lahat menyisakan kesan yang cukup dalam dalam hidupku.

Lahat, mungkin kapan kapan aku diberi waktu untuk mengunjungi tempat itu.

Next trip..

Categories: Backpackeran, Foto Perjalananku, Kisah Kisahku | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.