Backpackeran

Kisah kisah backpackeran yang kudokumentasikan

Butterfly Park and Simply Journey

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Perjalanan ke sebuah lokasi wisata yang tematik dan menjadi lokasi menyenangkan bagi keluarga,sepasang kekasih,sahabat serta para pecinta alam nyaris terjadi tanpa rencana. Mengalir dan menuju ke lokasi tersebut atas rekomendasi kawan,akhirnya bisa sampai di Taman kupu kupu dan hutan kera. Taman kupu kupu ( Butterfly Park) teletak di Jalan Wan Abdurahman Kemiling Bandarlampung. Berbagai hal menarik dijumpai di tempat ini terutama kupu kupu beterbangan di area seluas 4,8 hektar.

Sambutan hangat dari mba Fusi Anita yang ada di Museum serta mengantar ade ade tingkatku membuat mereka nyaman berada di Museum Kupu kupu Gita Persada. Anak anak usia sekolah yang menjadikan lokasi ini tempat betakhir pekanpun siap dengan ksmera SLR dan Smartphone karena beberapa tempat memiliki view menarik.

Rumah pohon,ayunan,rumah kupu kupu,museum jadi tempat menarik yang dikunjungi pecinta media sosial untuk mengunggah hasil jepretan kameranya di Instagram dan jejaring sosial lain. Ini adalah perjalanan sederhana hingga bisa mencari inspirasi baru.

Hidup harus sederhana dan mengalir dengan bertemu banyak orang dan melihat kesederhanaan dalam perjumpaan bahkan di tempat baru. Keceriaan dan kebahagiaan sederhana yang bahkan ditemukan pada satwa di hutan kera. Kera jinak yang bisa diajak berintersksi tersebut bahkan telah menjadi tujuan yang menarik. Semuanya dalam kesederhanaan. Kesederhanaan yang perlu disyukuri sebagai anugerahnya terlihat dalam kisah ini:

Kupu Kupu 17

Kupu Kupu 2

Kupu Kupu 5

Kupu Kupu 6

Special thank to Aji,Ilham mba Fusi Putri

Kupu Kupu 12

Kupu Kupu 15

Kupu Kupu 14

Kupu Kupu 13

sang Fotografer, Devina,Uhty, Intan dan ade ade yang jadi model foto.

 

Iklan
Categories: Adventure, Adventure and Treking, Backpackeran, Bloger, Kisah Kisahku | Tinggalkan komentar

Pelalawan Loncat Ke Kebumen

pelalawan 1

Gerbang indah memasuki kawasan pemerintahan Kabupaten Pelalawan

Sebuah perjalanan ke sejumlah tempat di Sumatera kembali memberikan dokumen berupa foto foto. Beberapa wilayah yang sebelumnya tak pernah tersentuh untukku diantarnya Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau di Pulau Sumatera yang merupakan salah satu kabupaten kaya di Riau. Wilayah ini merupakan salah satu kejayaan Kesultanan Pelalawan.

Kabupaten Pelalawan dibelah oleh aliran Sungai Kampar, serta pada kawasan ini menjadi pertemuan dari Sungai Kampar Kanan dan Sungai Kampar Kiri. Kabupaten Pelalawan memilik beberapa pulau yang relatif besar yaitu: Pulau Mendol, Pulau Serapung dan Pulau Muda serta pulau-pulau yang tergolong kecil seperti: Pulau Tugau, Pulau Labuh, Pulau Baru Pulau Ketam, dan Pulau Untut.Pelawan1 copy

Waktu yang terbatas membuat aku tak bisa mengeksplore wilayah ini dan beruntung bisa berada di wilayah tersebut dan melewati Masjid Agung yang Megah, Kantor DPRD, Kantor Bupati serta beberapa gedung olahraga yang megah. Salah satu hal yang menakjubkanku adalah saat melintas sebentar sebentar melewati jembatan panjang yang membelah sungai Kampar dan beberapa sungai di riau.

Saat melihat lihat dokumen perjalanan ke Sumatera salah satu kawan mengingatkanku akan perjalanan ke Kebumen. Sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang juga memiliki banyak tempat menarik. Dokumen itu akhirnya membuatku meloncat ke Pulau Jawa tepatnya di Kebumen.

Kolaborasi ini merupakan kiriman dari salah satu karibku di Kebumen. Ia membuatku kepingin berada di sana kembali meski saat berada di Jogja tempat ini sering kulewati. Beberapa tempat sudah kudatangi meski belum semuanya sempat bisa diabadikan karena saat itu masih jarang pemilik gawai seperti saat ini. Namun kali lain aku akan kembali.Pantai Henk Widi 7 copy

Beberapa tempat yang menarik itu diantaranya: Baca lebih lanjut

Categories: Adventure, Backpackeran, Kisah Kisahku | Tag: , , , , , , | Tinggalkan komentar

Kelezatan Mie Aceh dan Bolu Kemojo di Pekanbaru

Mie Aceh 9

Pekanbaru kota Madani

Perjalanan ke sebuah wilayah baru merupakan sebuah kesempatan untuk berburu kuliner. Mengingat ingat perjalanan yang pernah kulakukan salah satunya di wilayah Pekanbaru Provinsi Riau. Kota Pekanbaru yang indah saat malam hari, penataan kota yang sangat rapi dan tentunya keramahtamahan penduduk Pekanbaru merupakan sebuah sambutan akan Indonesia yang sebenarnya. Dinamika kehidupan yang sangat beragam dengan banyaknya suku suku yang ada di Pekanbaru merupakan gambaran Indonesia. Namun bukan ini yang akan kubahas karena perjalanan Indonesia mengajarkan keberagaman sebagai modal persatuan.

Salah satu modal persatuan yang menjadi kekayaan Indonesia salah satunya adalah kelezatan kulinernya. Beruntung salah satu kenalan asal Aceh mengajakku menikmati sajian yang sangat tepat disantap pada malam hari yakni Mie Aceh. Kota Pekanbaru menjadi begitu hangat dengan banyaknya kedai kopi, kedai mie Aceh yang terkenal itu salah satunya di kawasan Jalan Arifin Ahmad kota Pekanbaru.

Mie Aceh 5

Mie Aceh

Sama dengan mie jenis lainnya, mie merupakan sajian kuliner yang menarik untuk lidah. Mie Aceh Asli yang merupakan makanan khas dari daerah Aceh dari Kepulauan Sumatera. Dari namanya sudah terdengar sedikit asing jika anda bukan orang asli Aceh terlebih jika belum pernah menjumpai atau mendengar nama Mie Aceh.

Menurut sang pembuat, mie Aceh memang sudah terkenal dan aku mencoba mencari tau sebetulnya apa keistmewaan mie tersebut. Resep Mie Aceh itu sangat mudah, sama halnya seperti mie ayam namun kalau mie aceh rasanya lebih terasa beda dari mie mie lainnya karena aroma dan rasanya benar-benar istimewa hampir seperti kari tapi tidak berkuah.

Henk Widi_PKU 30

Menunggu Mie Aceh

Jika di Korea terkenal dengan mie bulgogi yang unik dan enak, di Indonesia juga ada Mie Aceh yang tidak kalah nikmatnya dengan isi daging sapi, udang serta sayuran yang tidak kalah lezat dari negeri drama romansa tersebut. Anda yang belum pernah mencoba merasakan kenikmatan dari Mie Aceh, sekarang di daerah perkotaan sudah banyak restoran atau rumah makan yang menyajikan menu makanan Mie Aceh. Baca lebih lanjut

Categories: Adventure, Backpackeran, Kisah Kisahku, Kuliner | Tag: , , , , , , , | 2 Komentar

Ruwat Laut Tradisi dan Keceriaan Masyarakat Nelayan Lampung Selatan

Aku Widi 3 copy

Melarung sesaji nelayan Kalianda (Foto: Hendricus  Widiantoro)

Ruwat laut merupakan tradisi yang sudah dilestarikan warga pesisir yang ada di seluruh Indonesia dengan beragam cra serta keunikan. Salah satunya di Lampung Selatan. Ruwat laut yang kuikuti kali ini merupakan kesekian kali ruwat laut yang dilakukan di Lampung Selatan. Kemeriahannya pun selalu sama. Antusiasme masyarakat akan rasa syukur hasil tangkapan sebagai nelayan diungkapkan dalam beragam cara diantaranya menghias semua kapal yang akan melakukan ruwat laut.

Aku Utama copy.jpg

Sesaji dilarung (Foto: Hendricus Widiantoro)

Tradisi ruwat laut yang pernah kuikuti diantaranya Ruwat Laut masyarakat pesisir Bakauheni:

https://hendricuswidiantoro.wordpress.com/2015/01/21/yuk-ikutan-ruwat-laut-nelayan-di-selat-sunda/

Ritual melarung sesaji merupakan tradisi untuk memohon keselamatan dan hasil tangkapan yang banyak bagi para nelayan. Dengan menggunakan ratusan perahu, warga mengiringi satu perahu besar yang membawa sesaji yang akan dilarung ke Selat Sunda yang menjadi lokasi para nelayan mencari ikan untuk kehidupan mereka.

Aku Widi 4 copy.jpg

Keceriaan masyarakat (Foto: Hendricus Widiantoro)

Ratusan warga dari anak-anak hingga orangtua tampak antusias mengikuti prosesi tersebut. Setelah sampai di titik yang ditentukan, tak jauh dari dermaga Boom Kalianda, perahu-perahu mulai mengitari lokasi tersebut sebanyak tiga kali.

Setelah pembacaan doa oleh sesepuh desa setempat, perahu dilarung ke laut. Sesaji yang dilarung langsung menjadi rebutan untuk mendapat berkah bagi yang mengambilnya menurut kepercayaan warga sekitar. Sesaji tersebut di antaranya kepala kerbau lengkap dengan bagian bagian tubuhnya, hasil pertanian, dan berbagai sesaji lain.

Aku Widi 6 copy

Perahu yang akan dilarung (Fot0: Hendricus Widiantoro)

Puluhan kapal diantara ratusan kapal di dermaga Boom Kalianda beriringan menuju titik sesaji akan dilarung. Sesaji berupa kepala kerbau, bunga rampai, buah buahan, makanan tradisional nelayan, bahkan HANDPHONE alias telepon genggam pun terlihat dilarung. Saat salah satu pembuat sesaji ditanya kenapa melarung handphone mereka beralasan salah satu hasil dari tangkapan ikan selanjutnya dijual untuk membeli handphone jadi rasa syukur diantaranya dengan “mengembalikan” handphone tersebut ke laut. Aya aya wae kata urang Sunda mah!

Antusiasme masyarakat nelayan pun terlihat mulai dari arak arakan hingga di laut pun arak arakan tersebut terlihat. Ada yang narsis merekam prosesi tersebut. Ada yang mabok laut bahkan karena tak pernah naik perahu ada yang terjatuh. Namun semuanya berakhir dengan senyum bahagia para nelayan tersebut. Bahari yang menjadi ladang mereka mencari penghasilan telah menerima persembahan untuk Dewa Baruna dan penguasa lautan. Baca lebih lanjut

Categories: Adventure, Kalianda, Kapal, Kisah Kisahku, Kuliner | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Backpacker, Traveler ini Penampakan Baru Pelabuhan Bakauheni

Bagi Traveler yang sering bepergian menggunakan moda transportasi laut terutama lintasan Bakauheni Lampung dan Merak Banten dan menggunakan moda transportasi bus pastinya akan melewati loket pembelian tiket. Toll gate system yang ada di Pelabuhan Bakauheni ini memilki tampilan yang berbeda dibandingkan sebelumnya akibat perubahan sistem untuk penggunaan tiket elektronik lebih maju dari sebelumnya yang masih menggunakan sistem semi elektronik. Dipastikan penerapan sistem ini akan memiliki kelebihan dan tentunya masih dalam tahap penyesuaian pengguna jasa pelabuhan.

Henk Widi 1 copy

Pintu pembelian tiket Pelabuhan Bakauheni Lampung terbaru (Foto: Hendricus Widiantoro)

Bagi yang terbiasa melihat pintu masuk pelabuhan Bakauheni untuk pembelian tiket kendaraan roda dua dan roda empat ini pasti akan mengalami perubahan. Bayak tiang tiang sensor yang akan terpasang menyambut pengguna jasa pelabuhan Bakauheni dan sudah dikhususkan untuk kendaraan dengan jenis yang berbeda beda. Kendaraan dengan panjang serta ukuran tertentu berdasarkan kelas akan memilliki pintu khusus dan ini akan ditandai dengan papan penunjuk agar tidak salah jalur. Sementara untuk jalur kendaraan setelah membeli tiket pun akan diarahkan ke dermaga 1,2,3,4,4,6 menggunakan tanda tanda khusus serta petugas security. Masih membingungkan tapi nanti lama lama terbiasa.

Henk Widi 2 copy

Sistem elektronik di Toll Gate Pelabuhan Bakauheni (Foto: Hendricus Widiantoro)

Semoga dengan perubahan ini tidak membingungkan bagi pengguna jasa Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan dan selamat menikmati perubahan yang tentunya memiliki maksud positif. Berikut beberapa foto are Pelabuhan Bakauheni yang lebih baru: Baca lebih lanjut

Categories: Backpackeran, Bakauheni, Kapal, Lampung, Lampung Selatan, Pejalan, Pelabuhan Bakauheni, Selat Sunda | Tag: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Menyusuri Bibir Lautan Hindia Berbekal Kearifan Lokal Way Haru

????????????????????????????????????

Way Haru Pesisir Barat

Perjalanan menyusuri bibir lautan hindia merupakan perjalanan pertama kali yang kulakukan. Perjalanan yang harus bersentuhan dengan jilatan ombak yang menerjang untuk menuju sebuah wilayah di bibir Samudera Hindia bernama Way Haru Kecamatan Bengkunat Belimbing Pesisir Barat. Awalnya dari kisah yang kudengar dari pak Hindar dan pak Supri yang mengajakku ke lokasi ini perjalanan ke lokasi Way Haru harus menyeberangi sungai, muara dan pasir yang bersentuhan langsung dengan Samudera Hindia. Bayangan basah, menyeberangi sungai dengan sesekali melihat penyu Belimbing atau Buaya Muara sirna setelah melihat kenyataan berbeda.

????????????????????????????????????

Way Haru Pesisir Barat

Kenyataan berbeda tersebut bukan karena salah melainkan karena pak Hindar jauh jauh hari memperhitungkan kondisi cuaca terbaik menuju lokasi itu adalah jangan waktu musim penghujan. Benar saja berbekal tekhnologi serta kearifan lokal masyarakat setempat tentang penghitungan waktu terbaik untuk melintasi jalan pasir membuat kami menemukan keindahan yang berbeda dari perjalanan sebelumnya.

Pasir bersih, nyaris tidak ada batu karang dan hanya sampah sampah kayu kering sesekali kami temui di perjalanan. Konon menurut warga pasir putih tersebut ada masanya karena ada waktunya nanti saat “pembersihan” dimana penguasa lautan akan kembali menarik pasir pasir tersebut untuk dibersihkan dan baru saat itu karang karang kecil akan muncul. Siklus yang bagi masyarakat dihitung untuk memudahkan perjalanan.

Tulisan perjalanan ini kuposting ditulisan sebelumnya:

https://hendricuswidiantoro.wordpress.com/2015/09/11/perjalanan-ke-barat-way-haru-negeri-sejuta-pesona-yang-terlupa/

Masyarakat Way Haru, Way Heni dan sekitar wilayah di Bengkunat Belimbing bahkan lebih banyak menggunkan kalender Jawa yang menghitung penanggalan bulan. Penghitungan tersebut untuk melihat pasang surut air laut. Saat bulan purnama dan waktu waktu sebelum purnama datang kondisi pasang air laut menjadi saat yang dihindari untuk bepergian kecuali karena terpaksa. Alasannya kondisi lautan sedang pasang sehingga air laut menyentuh tebing tebing pantai. Tebing tebing pantai tersebut sebaliknya pada saat surut bulan awal akan berjarak jauh dari pantai bahkan bisa mencapai setengah kilometer saat terjadi surut.

????????????????????????????????????

Pesisir Way Haru

Kearifan lokal tersebutlah yang dijaga hingga sekarang bahkan semua warga saat melakukan perjalanan saling bantu mulai dari menyeberang menggunakan rakit, melalui muara, serta saat motor yang dikendarainya terjatuh akibat mati mesin terjilat bibir ombak. Kearifan lokal tersebut menjadikan wilayah terisolir penghasil lada,kopi, kelapa dan hasil bumi lainnya menjadi wilayah yang sangat unik dan menjadi tempat di bibir Samudera Hindia yang istimewa.

Berikut foto foto perjalanan ke lokasi tersebut: Baca lebih lanjut

Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Bengkuat belimbing, Fotografi, Lampung, Perjalanan, Pesisirr Barat, Samudera Hindia, Way Haru, Way Heni | Tag: , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Traveling Nyaman Butuh Transportasi Nyaman , Edisi Naik KMP Dharma Rucitra I

Traveling menjadi sebuah kegiatan yang penuh dengan tantangan. Tantangan yang perlu dihadapi salah satunya moda transportasi yang harus digunakan oleh traveler baik sebagai backpacker atau cara bepergian yang lain. Sebagai pecinta moda transportasi laut terutama kapal ferry atau yang dikenal dengan kapal Roll on Roll Off (Roro) kebutuhan akan moda transportasi publik satu ini dari tahun ke tahun sudah meunjukkan peningkatan dalam hal pelayanan serta dalam hal infrastrukturnya baik kapal maupun pelabuhan yang disiapkan.

????????????????????????????????????

Live Music Room di KMP Dharma Rucittra I

Perbaikan yang penulis lihat setelah membandingkan dari tahun ke tahun terutama dengan patokan pergerakan penumpang baik menggunakan kendaraan pribadi maupun sebagai penumpang pejalan kaki. Pelabuhan Bakauheni Lampung dan Pelabuhan Merak Banten telah melakukan peningkatan pelayanan di berbagai bidang. Hasilnya tentu terlihat dari volume antrian di kedua Pelabuhan yang penulis lihat di tahun 2015 lebih ramai lancar dibanding tahun sebelumnya di tahun 2014 saat angkutan Mudik Idul Fitri 1435 dan 1436 Hijriyah.

????????????????????????????????????

KMP Dharma Rucitra I

Kenyamanan tersebut merupakan harapan semua pengguna jasa pelayaran. Kapal kapal yang kini melintasi Selat Sunda sudah berjumlah sekitar 45 kapal dengan sebanyak 17 perusahaan pelayaran operator kapal Roro. Jumlah yang bisa dibilang cukup untuk kelancaran transportasi laut di Selat Sunda dan mengalihkan rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) dan berganti menjadi perbaikan sarana dan prasarana Pelabuhan.

Nah, penulis untuk kesekian kalinya berkesempatan untuk “mengecek” dari dekat aktifitas serta pelayanan yang ada di salah satu dari sekian banyak kapal Roro yang ada di Selat Sunda. Salah satunya adalah KMP Dharma Rucitra I yang merupakan salah satu dari beberapa kapal yang dimiliki PT Dharma Lautan Utama (DLU) di lintasan Selat Sunda. Masih ada KMP Kirana II, KMP Dharma Kencana IX yang menjadi armada favorit di Selat Sunda (versi saya).

????????????????????????????????????

Anjungan Kapal Dharma Rucitra I

Keberuntungan saat penulis naik KMP Dharma Rucitra I dan sang kepala cabang, Sunaryo memberikan kesempatan penulis untuk “diperlakukan” sebagai tamu VVIP. Bahkan saat berada di ruang live music, sang penyanyi di kapal tersebut menganngap penulis yang hanya seorang Bloger ini sebagai “tamu istimewa sang kepala cabang”. Diminta maju menyanyi adalah sesuatu yang istimewa tapi karena memang tidak memiliki talenta untuk menyanyi terpaksa  hanya bisa melihat penyanyi mendendangkan lagu lagu manis selama pelayaran dari Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni. Baca lebih lanjut

Categories: Backpackeran, DLU, Jalan jalan, Pelabuhan Bakauheni, Transportasi laut, Traveling | Tag: , , , , | 2 Komentar

Enjoy The Experience: Bromo Sunrise Tour

No more word about all experience. Only feel; cold,sunrise,fog,horse, and friendship. There more love and let me share what I can find in this amazing landscapes in Indonesia. Bromo, one of landscapes ini Bromo Tengger Semeru National Park. All people can say that this place is one amazing place in Indonesia.

????????????????????????????????????

Sunrise

As a backpacker I can not say anymore about it because i think some people go there and have so many experiences, and awesome moment with their beloved, family and friend in friendship moment. So enjoy your experiece like I have and see the dramatic sunrise with a cold air in the morning in Bromo Sunrise tour.

Henk Widi Bromo 1

Bromo

????????????????????????????????????

Bromo

We can go with our own car, but local tour organizers will basically hire you a car with a driver to take you to Bromo with their hartop or jeep car. See more there in my experience with Angeline’s Adventure Trip : Baca lebih lanjut

Categories: Aventure, Backpackeran, Bromo, Semeru, Tengger | Tag: , , , , , | 2 Komentar

Adventure Trip East Java: Coban Rondo

Perjalanan menuju Jawa Timur selanjutnya menuju sebuah air terjun yang cukup terkenal di Kota Batu, yakni Coban Rondo. Sebenarnya kalau mengingat coban ini sedikit perih rasanya (ingat masa lalu) saat saat kebersamaan dengan seseorang di Malang, but itu masa lalu. Zaman dikala pergi ke tempat ini belum memiliki gadget untuk merekam momen momen tersebut.

????????????????????????????????????

Coban Rondo (Hendricus Widiantoro)

Perjalanan ke coban rondo dari wisma Unio di Jalan Jaksa Agung Suprapto 75 Malang sekitar 45 menit menggunakan kendaraan pribadi. Dalam perjalanan AC mobil tak perlu dihidupkan karena udara memang sudah cukup dingin. Angin dan udara pegunungan yang menyejukkan setelah lama berada di daerah yang berdebu dan bising. Udara segar yang diperoleh selama perjalanan ke coban rondo ini.

Coban Rondo terletak 12 Km dari Kota Batu, tepatnya berada di desa Pandansari, Kecamatan Pujon. Air terjun di Coban Rondo memiliki ketinggian 60 M dan merupakan wahana air terjun yang paling mudah di tempuh.

????????????????????????????????????

Coban Rondo (Hendricus Widiantoro)

????????????????????????????????????

Coban Rondo (Hendricus Widiantoro)

Nah, untuk mengetahui mengapa diberi nama coban rondo, beberapa plang serta petunjuk telah disiapkan di tempat ini. Akomodasi yang cukup representatif tentunya sebanding dengan tiket masuk yang dibayar. Baca lebih lanjut

Categories: Adventure and Treking, Air Terjun, Backpackeran, Batu, Coban Rondo, East Java, Jawa Timur, Malang | Tag: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Ideologi Pejalan : Perjalanan Bijak Di Saat Tepat

Menjadi pejalan itu sebuah keputusan. Bukan sebuah paksaan ataupun keharusan. Semua butuh proses dan tak semua menyukainya.

????????????????????????????????????

KMP Windu Karsa Pratama (Hendricus Widiantoro)

Fasilitas transportasi yang semakin modern membuat fasilitas transportasi yang lainnya ditinggalkan. Sisi positifnya karena transportasi yang dipilih lebih cepat dibanding dengan transportasi lainnya. Semisal perjalanan darat menggunakan mobil, kereta api,laut dengan kapal berbeda dengan perjalanan menggunakan pesawat udara dengan koper lengkap dan tinggal tarik bukan dengan backpacker.

Saya pernah memiliki kawan yang menolak untuk melakukan perjalanan darat dengan alasan: ribet, lama dan penuh dengan tetek bengek yang membuatnya tak mau menempuh perjalanan darat plus perjalanan laut. Kawan saya ini tinggal di salah satu jantung ibukota Lampung dan saya juga berpikir logis karena perjalanan lewat udara menuju ibukota Indonesia lebih cepat dibandingkan darat. Ist okey! Semuanya juga tergantung budget alias isi dompet.

Pejalan, lagi lagi memiliki perbedaan dalam hal memilih moda transportasi. Itu soal “ideologi” pejalan yang menentukan pernak pernik perjalanan sampai dalam hal menentukan moda transportasi.

????????????????????????????????????

Pramugari kapal Windu Karsa Pratama (Hendricus Widiantoro)

Bagi pemilih jalur darat, laut pun bukan berarti pemilik budget rendah. Jangan salah, di pelabuhan Bakauheni saya pernah bertemu dengan para backpacker dari Eropa diantaranya dari Spanyol yang notabene turis turis keren sehabis berselancar di tanjung Setia Lampung Barat.

Mereka memanfaatkan jalur darat dan tak memilih jalur udara. Tapi mereka tetap enjoy dan meski bukan “turis kere” saya yakin mereka lebih berkantong tebal dibanding saya. Selain para turis tersebut beberapa kawan backpacker yang saya temui bahkan memiliki Fortuner dan Pajero Sport. Ia asli Pajero, bukan seperti Pejero yang saya miliki (Panas Njobo Njero) hujan kehujanan panas kepanasan. Ya mereka memilih menenteng ransel di punggung bukan menyeret koper lalu naik ke pesawat.

????????????????????????????????????

Cara memakai jake keselamatan (Hendricus Widiantoro)

Itu pilihan dan saya yakin setiap pejalan memiliki ideologi sendiri. Menentukan perjalanan bijak dan tepat ! itulah ideologi para pejalan yang sering aku temui dan juga kulakukan. Melakukan perjalanan ke beberapa daerah dengan budget minim dan tentunya dengan bijak memilah milah tempat untuk tinggal. Baca lebih lanjut

Categories: Backpackeran, Flashpacker, Kapal, Kapal Roro, Pejalan, Selat Sunda | Tag: , , , , , , , | 8 Komentar

Blog di WordPress.com.