Monthly Archives: November 2015

Ruwat Laut Tradisi dan Keceriaan Masyarakat Nelayan Lampung Selatan

Aku Widi 3 copy

Melarung sesaji nelayan Kalianda (Foto: Hendricus  Widiantoro)

Ruwat laut merupakan tradisi yang sudah dilestarikan warga pesisir yang ada di seluruh Indonesia dengan beragam cra serta keunikan. Salah satunya di Lampung Selatan. Ruwat laut yang kuikuti kali ini merupakan kesekian kali ruwat laut yang dilakukan di Lampung Selatan. Kemeriahannya pun selalu sama. Antusiasme masyarakat akan rasa syukur hasil tangkapan sebagai nelayan diungkapkan dalam beragam cara diantaranya menghias semua kapal yang akan melakukan ruwat laut.

Aku Utama copy.jpg

Sesaji dilarung (Foto: Hendricus Widiantoro)

Tradisi ruwat laut yang pernah kuikuti diantaranya Ruwat Laut masyarakat pesisir Bakauheni:

https://hendricuswidiantoro.wordpress.com/2015/01/21/yuk-ikutan-ruwat-laut-nelayan-di-selat-sunda/

Ritual melarung sesaji merupakan tradisi untuk memohon keselamatan dan hasil tangkapan yang banyak bagi para nelayan. Dengan menggunakan ratusan perahu, warga mengiringi satu perahu besar yang membawa sesaji yang akan dilarung ke Selat Sunda yang menjadi lokasi para nelayan mencari ikan untuk kehidupan mereka.

Aku Widi 4 copy.jpg

Keceriaan masyarakat (Foto: Hendricus Widiantoro)

Ratusan warga dari anak-anak hingga orangtua tampak antusias mengikuti prosesi tersebut. Setelah sampai di titik yang ditentukan, tak jauh dari dermaga Boom Kalianda, perahu-perahu mulai mengitari lokasi tersebut sebanyak tiga kali.

Setelah pembacaan doa oleh sesepuh desa setempat, perahu dilarung ke laut. Sesaji yang dilarung langsung menjadi rebutan untuk mendapat berkah bagi yang mengambilnya menurut kepercayaan warga sekitar. Sesaji tersebut di antaranya kepala kerbau lengkap dengan bagian bagian tubuhnya, hasil pertanian, dan berbagai sesaji lain.

Aku Widi 6 copy

Perahu yang akan dilarung (Fot0: Hendricus Widiantoro)

Puluhan kapal diantara ratusan kapal di dermaga Boom Kalianda beriringan menuju titik sesaji akan dilarung. Sesaji berupa kepala kerbau, bunga rampai, buah buahan, makanan tradisional nelayan, bahkan HANDPHONE alias telepon genggam pun terlihat dilarung. Saat salah satu pembuat sesaji ditanya kenapa melarung handphone mereka beralasan salah satu hasil dari tangkapan ikan selanjutnya dijual untuk membeli handphone jadi rasa syukur diantaranya dengan “mengembalikan” handphone tersebut ke laut. Aya aya wae kata urang Sunda mah!

Antusiasme masyarakat nelayan pun terlihat mulai dari arak arakan hingga di laut pun arak arakan tersebut terlihat. Ada yang narsis merekam prosesi tersebut. Ada yang mabok laut bahkan karena tak pernah naik perahu ada yang terjatuh. Namun semuanya berakhir dengan senyum bahagia para nelayan tersebut. Bahari yang menjadi ladang mereka mencari penghasilan telah menerima persembahan untuk Dewa Baruna dan penguasa lautan. Baca lebih lanjut

Iklan
Categories: Adventure, Kalianda, Kapal, Kisah Kisahku, Kuliner | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Bunga dan Mencintai Kehidupan

????????????????????????????????????

Bunga

Musim hujan tiba. Tanah mulai basah dan rumput rumput tak berdaya mulai menunjukkan hasrat untuk kembali menutupi tanah. Rumput masih bertahan dengan akar yang menghujam ke tanah dan bunga bunga yang memiliki umbi mulai gembira menunjukkan keelokan dan kecantikannya. Bunga bunga yang awalnya muncul dari tangan dingin ibuku yang rajin menyirami saat kemarau berkepanjangan melanda sebagian wilayah bumi Nusantara.

Aku masih mencintai bunga bunga itu meski hanya sekali kali melindunginya dari kekeringan. Air yang terbatas, panas dan cuaca tak menentu masih membuatnya bertahan untuk memulai kehidupan baru. Ketegaran yang ditunjukkan ciptaanNya yang memberi kami kehidupan layaknya ibu yang selalu melindungi kami dari berbagai macam tempaan kehidupan.

????????????????????????????????????

Bunga di halaman rumah

Bunga yang tumbuh bermekaran itu bukan tanpa cobaab, bukan tanpa menahan diri. Semuanya membutuhkan waktu untuk bisa menyambut hujan rintik rintik yang turun sepanjang malam dan mulai hilang saat siang. Tanah tanah basah, tanah tanah kering silih berganti. Hujan dan panas layaknya kehidupan penuh dengan masa kebahagiaan dan kesulitan.

Ibuku telah mengajari semua ini dan bunga bunga ini adalah simbol bahwa saat sesudah masa sulit pasti akan muncul masa yang lebih cerah. PemeliharaanNYA, kebaikan, serta ajaran untuk mencintai kehidupan itu telah muncul dalam senyuman bunga bunga di depan rumah sederhana. Kehangatan dan cinta dan semua yang dibangun dalam kesederhanaan.

Bunga bunga itu yang mengajari untuk tetap survive di tengah berbagai tempaan. Tetap bertahan meski disakiti oleh panas dan terinjak injak. Selalu bersyukur dengan kondisi apapun dalam kehidupan ini. Bahwa sebagai pejalan tak selamanya menemui kesenangan dalam perjalanan.

????????????????????????????????????

Bunga di halaman rumah

Selamat datang butir butir hujan, selamat datang kehidupan baru dan masa masa sulit itu tergambar dalam pohon pohon meranggas yang kini mulai bertunas. Bunga bunga layu yang kini telah mulai muncul dengan warna warni. Love a life and Love our Mother! like she love a flowers in my home. Baca lebih lanjut

Categories: Bunga, Inspirasi, Liburan, Perjalanan Hidup, renungan | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Bangunan Menyerupai Benteng di Perkebunan Kecamatan Penengahan

Perbatasan Desa Banjarmasin dan Desa Gayam Kecamatan Penengahan di bawah kaki Gunung Rajabasa dilalui Jalan Lintas Sumatera penghubung kota kota di Sumatera menuju ke Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan.

????????????????????????????????????

Bangunan berbentuk gerbang indah

Saat melintas di Jalinsum Desa Banjarmasin sesekali pengendara akan melihat bangunan berbentuk gapura, benteng dan memiliki kesan sebuah bangunan kuno yang unik dan sebagian bahkan mengira itu adalah sebuah benteng peninggalan masa silam yang masih bertahan hingga sekarang. Pertanyaan tersebut bahkan muncul saat seseorang yang bertanya kepada saya mengira bangunan tersebut adalah sebuah kerajaan di masa silam yang kini tak terawat.

Rasa penasaran sang penanya kepada saya akhirnya terjawab setelah dia mendapat penjelasan dari saya dan beberapa orang yang mengetahui bahwa bangunan tersebut bukanlah sebuah bangunan peninggalan masa silam apalagi benteng kerajaan. Peninggalan masa silam yang masih tetap lestari di Kecamatan Penengahan yang pasti tetap adalah Benteng Cempaka di Desa Gedong Harta yang kini menjadi kompleks makam Raden Inten II. Selain itu peninggalan lain adalah keramat seksi yang dahulu merupakan benteng di Desa Kuripan dan kini berada di area persawahan warga Banyuurip.

????????????????????????????????????

‘Benteng”

Nah,bangunan apakah yang menyerupai benteng dengan gapura yang penampilannya cukup unik tersebut? Jawabannya kuperoleh dari salah seorang penggarap kebun di sekitar lokasi tersebut. Salah satunya Ahmad, yang mengatakan awalnya bangunan tersebut justru merupakan bangunan yang cukup indah dengan pagar berwarna putih dengan lokasi penjagaan di pintu masuknya. Pintu besar berukuran sekitar 3 meter dan pintu kecil melengkung di kedua sisi juga menjadi pintu masuk. Sebuah bangunan yang kini tak digunakan lagi namun masih menyisakan kejayaan peternakan di lokasi tersebut dan merupakan nilai estetika sang pembuatnya.

Bangunan tersebut selain bernilai artistik bukanlah sebuah bangunan kerajaan melainkan bekas lokasi usaha peternakan ayam. Akibat sesuatu hal lokasi peternakan ayam yang pernah ada tersebut akhirnya ditinggalkan berikut bangunan bangunan kayu tempat peternakan ayam. Beberapa tahun kemudian peternakan tersebut tinggal menyisakan pagar berbentuk bangunan dengan pintu melengkung menyerupai benteng benteng peninggalan zaman Belanda. Ada aroma mistis saat berada di lokasi tersebut meski saya hanya berniat untuk mengabadikannya.

????????????????????????????????????

Mistis

Bangunan tersebut tepatnya kini hanyalah beberapa pagar yang sudah tak berfungsi. Namun merupakan saksi kejayaan peternakan ayam di Kecamatan Penengahan. Sementara saat musim tanam jagung bangunan tersebut berada di rerimbunan tanaman jagung dan saat musim hujan dengan berbagai tanaman menghijau, bangunan tersebut tersembunyi diantara pepohonan menambah nuansa benteng yang tersembunyi di perkebunan. Bahkan diskusi dengan kawan, tak ada bangunan wisata saat ini yang memilki bangunan seindah ini. Sebuan bangunan, properti yang menjadi saksi masa lalu.

Tak ada yang bisa membuat gerbang cukup indah seperti bangunan tersebut! tempat wisata sekalipun saat ini

Setidaknya bangunan yang dikira oleh salah satu kawanku sebagai bangunan benteng tersebut telah terjawab. Beberapa sudut yang tak sempa tereksplore bisa memberikannya gambaran bagaimana banguan tersebut dahulu dibangun dan kini masih kokoh berdiri. Bangunan yang sudah ada sejak masa masa SMA ku dan selalu dilintasi saat akan menuju Pelabuhan Bakauheni dan sebaliknya. Berikut beberapa bagian banguan yang masih tersisa: Baca lebih lanjut

Categories: Bangunan, Benteng, Kecamatan Penengahan, LampungS elatan, Peninggalan, Properti, Seni | Tag: , , , , , , | 2 Komentar

Jalan Jalan itu Bukan Sekedar Jalan Jalan

????????????????????????????????????

Penjual jagung rebus

Jalan jalan itu bukan sekedar jalan jalan. Kalimat ini merupakan sebuah petuah, kalimat yang memiliki makna dalam bagiku. Begitu berkesan melihat sebuah perjalanan sebagai bagian untuk berempati, melihat kondisi real masyarakat yang dijumpai selama perjalanan. Banyak yang berkomentar kenapa aku hobi jalan jalan apakah tak menghabiskan uang ataukah tidak memikirkan untuk menabung saja dibandingkan jalan jalan. Jalan jalan pun bukan hanya melulu soal selfie, soal berfoto di lokasi yang dikunjungi untuk diposting di medsos dan agar diketahui bahwa si empunya foto pernah datang di lokasi tersebut. Perjalanan merupakan sebuah pembelajaran sepanjang jalan.

Bagi yang tak memahami bagaimana semuanya itu ku-manage, mungkin akan komplain tapi setidaknya aku banyak belajar dari senior senior yang telah menempuh perjalanan ke lima benua. Sebuah pengalaman untuk melihat semua mahkhluk hidup sebagai bagian dari kebaikan sang Pencipta.Belajar Hidup Widi 1

Pengalaman jalan jalan merupakan sebuah situasi yang tak bisa diprediksi. Terkait arah dan tujuan termasuk bagaimana dan dimana akan berhenti.Salah satu hal yang kupelajari dan akhirnya memberi pemahaman baru bagiku adalah bagaimana menghargai kearifan lokal. Kearifan lokal yang masih menjadi bagian masyarakat dan tetap dipertahankan. Salah satunya menjual hasil bumi dan hasil kebun yang diolah untuk ditawarkan kepada pelintas termasuk bagiku sebagai pejalan.

Bagiku, cukup mudah bagi sang seniorku untuk memilih akan makan dan akan membeli makanan dengan pilihan tempat yang lebih mewah. Namun tak demikian. Saat melintas di sebuah jalanan ke arah Liwa Lampung Barat, aku diajak mampir di sebuah warung yang sebagian bahkan sudah bocor di bagian gentengnya. Sang senior mengatakan kepadaku sejak sekitar 10 tahun lalu sang ibu ini tetap berjualan di tempat yang sama dan menjual hal yang sama diantaranya: keripik pisang, keripik ketela, keripik gadung, ubi rebus, jagung rebus, kopi. Semuanya sebagian besar merupakan hasil kebun miliknya bersama sang suami.

“Saya beli karena ingin sang ibu tetap bisa berjualan lagi dan bisa menghidupi keluarganya,” ungkap sang senior kepadaku.

Kalimat itu aku renungkan sepanjang jalan. Selama ini hal hal tradisional sudah tergeser dengan hal hal modern karena status sosial, gengsi dan tetek bengek lainnya. Bagaimana menikmati kopi yang sebetulnya banyak hasil dari kebun lokal namun lebih nikmat menikmati kopi produk luar (itu soal selera juga sih), membeli di pasar modern dibandingkan membeli di pasr tradisional, atau membeli minuman bersoda atau kemasan dibandingkan membeli minuman dari kelapa muda yang dijual penduduk lokal. Baca lebih lanjut

Categories: Fotografi, Jalan jalan, Kearifan lokal | Tag: , , , | 2 Komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.