Perjalanan ke Barat, Way Haru Negeri Sejuta Pesona yang Terlupa

Perjalanan yang kali ini kulakukan di awal bulan September merupakan sebuah perjalan ke Barat. Bersama dua orang hebat yang mengajariku banyak hal: Kehidupan, petualangan, berbagi, bersyukur, melihat kehidupan dari sisi sedekat mungkin dan dengan kacamata yang berbeda. Perjalanan ke Barat yang begitu dekat namun begitu jauh. Negeri yang sangat membutuhkan orang orang hebat dan memberikan hidupnya bagi masyarakat yang terpinggirkan.

????????????????????????????????????

Gerobak sapi di Way Haru Pesisir Barat Lampung (Hendricus Widiantoro)

Perjalanan berawal dari pintu keluar kapal Jemla saat dua “musafir” Mr. Hindar n Mr. Supri dengan Nissan Navara serta sebuah ATV yang dibawanya untuk melakukan perjalanan berkilo kilo meter di sejumlah wilayah di Barat negeri Lampungku. Kisah kisah awal yang menggerakkan untuk pergi ke Barat berawal dari sang Musafir yang memperlihatkan kepadaku negeri yang terus tertatih tatih mengejar ketertinggalan dan ketimpangannya.

Ketimpangan yang sang musafir sebut sebagai: Wilayah Indonesia yang waktunya berbeda dengan Indonesia yang lain. Bukan Waktu Indonesia Bagian Barat atau Waktu Indonesia Bagian Tengah maupun Waktu Indonesia bagian Timur. Ini adalah sebuah tepat di bibir pesisir pantai Lautan Hindia yang berdengung di telingaku sebagai “negeri yang waktunya melambat”. Melambat dalam segala hal jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia pada umumnya.

????????????????????????????????????

Musafir

Setelah menyusuri jalanan di negeri Tanah Lada, Kopi dan segala sebutan indah tersebut siang berganti sore dari Lampung Selatan- Bandarlampung- Pesawaran- Pringsewu- Tanggamus bahkan saat malam perjalanan tetap dilanjutkan menyusuri hutan hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Gelap sepanjang jalan sebelum memasuki tanjakan Sedayu Kabupaten Tanggamus dan berada di rerimbunan pohon sepanjang Jalan Lintas Barat menuju wilayah termuda di Lampung yakni Pesisir Barat. Jalan berkelok kelok saat malam hari di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan menjadi saksi dengan suara suara binatang hutan yang mengawasi perjalanan kami dari kegelapan.

Berada di kendaraan dua kabin membuat perjalanan terasa berbeda. Bukan sebagai rider, bukan sebagai backpacker tetapi sebagai bagian dari perjalanan ke Barat. Tengah malam kami akhirnya tiba di Way Heni Belimbing Bengkunat sekitar pukul 22:00 WIB pada Minggu (6/9). Suara angin dan deburan ombak mulai terdengar di tengah malam yang tanpa bintang. Deburan ombak yang sangat keras terdengar dari Lautan Hindia yang akan menjadi saksi perjalanan perdanaku ke Way Haru wilayah Pesisir Barat Lampung.

????????????????????????????????????

Para pengojek di Way Haru Pesisir Barat Lampung

Istirahat pertama malam tersebut masih terdengar suara deburan ombak dari jarak sekitar 4 kilometer. Kisah kisah Gajah mengamuk atau gajah berjalan jalan di perkebunan warga, suara petasan untuk mengusir Gajah yang masuk ke perkampungan warga masih terdengar menjadi dongeng sebelum tidur sambil mempersiapkan untuk perjalanan ke Antar Siku Way Haru.

Pagi berganti saat kokok ayam jantan membangunkan semesta dan matahari mulai meyinari tanaman lada, tanaman coklat yang masih tumbuh subur di wilayah pesisir Barat. Persiapan dilakukan dengan membawa beberapa buah tangan dari anak anak negeri di belahan bumi yang lain untuk para warga yang ada di negeri Way Haru: makanan, pakaian serta tali asih yang merupakan setitik embun di musim kemarau di tepian Samudera Hindia.

????????????????????????????????????

Jalan menuju Way Haru Pesisir Barat Lampung

Paginya Senin (7/9) kami berangkat dengan 1 ATV, dua motor roda dua menyusuri jalan jalan berbatu yang masih jauh dari sempurna. Ketimpangan infrastruktur yang masih ada di negeri yang kaya akan lada dan kekayaan alam yang sangat banyak di dekat Taman Nasional dan Samudera Hindia. Perjalana beberapa kilo menjadi awal perjalanan ke arah Way Haru untuk melihat negeri yang berada di tepian Lautan Hindia tersebut.

Bayangan jalan bagus agaknya telah kubuang jauh jauh mendengar kisah kisah dari Mr. Andri yang rela meninggalkan negerinya di Manado Sulawesi untuk mengabdi di Way Heni yang menceritakan tentang buaya, muara, sungai dan jalanan yang sangat berat. Kisah itu menjadi sebuah rekaman yang kualami sendiri saat aku jatuh pertama kalinya dari motor yang dikemudikan oleh pak Petrus akibat batu batu yang terlepas dari jalan sementara Beli Nyoman dan Mr.Supri sudah berada di depan.

Debu jalanan berpadu dengan lalu lalang kendaraan roda empat jenis mobil yang bisa dihitung dengan jari dan menyusul di belakang mr. Hindar yang mengemudikan ATV lengkap dengan barang barang di kendaraan roda empat tersebut.

Deburan ombak mulai ribut di telinga dan dari kejauhan terlihat antrian kendaraan pengangkut hasil bumi dari wilayah Way Haru dan sekitarnya. Kendaraan roda dua tersebut membawa beberapa karung hasil bumi yang akan dibawa ke pasar untuk bertukar dengan rupiah dan dibawa pulang kembali dalam bentuk kebutuhan hidup yang tak ada di wilayah tersebut. Kendaraan roda dua tersebut mulai menaiki rakit bambu yang dibuat ponton dan digerakkan dengan tambang oleh sang penjaga jembatan rakit tersebut.

DSC_0289

Menyeberangi Rakit menuju ke Way Haru dan sebaliknya

????????????????????????????????????

Pesisir pantai Way Haru Pesisir Barat Lampung

Motor, Atv, serta para musafir telah menyeberang ke bibir Lautan Hindia setelah menyeberang menggunakan rakit. Kesan mistis dengan kabut tipis terlihat di sepanjang pantai Samudera Hindia. Pasir putih dengan jejak kendaraan roda dua menjadi pemandangan yang biasa di temoat tersebut namun sangat luar biasa bagiku  perdana kali berada di negeri asing tersebut. Muncul dari kejauhan samar samar puluhan motor kemudian kendaraan jenis gerobak yang ditarik menggunakan sapi.

Melewati jalanan berpasir bukan sebuah hal mudah. Perhitungan matang tentang pergerakan ombak merupakan sebuah irama yang harus ditaati oleh para pengendara motor yang melintas di sepanjang jalan berpasir yang hanya bisa dilalui dengan kendaraan bermotor dalam waktu tertentu. Sesekali kendaraan yang kunaiki harus berhenti karena mati mesin. Jatuh kedua kali yang kualami akibat dihantam ombak dan membuat mesin mati.

????????????????????????????????????

Jembatan gantung Antar Siku Way Haru Pesisir Barat Lampung

Perjalanan zig zag menghindari terjangan ombak pun berubah menjadi perjalanan menyusuri jalanan tanah setelah memilih perjalanan dengan jalur darat. Kebun kebun kopi, lada serta tanaman lain menghiasi perjalan kami lengkap dengan hadiah debu yang memenuhi jalanan karena musim kemarau. Batang batang kayu kering disusun oleh warga menjadi jalan yang bisa dilintasi untuk kendaraan roda dua serta jalan kaki. Berkali kali kami berpapasan dengan gerobak sapi, motor yang dimodifikasi menjadi motor trail serta warga yang berjalan kaki.

Perkampungan pertama dilalui dengan sambutan hangat dari anak anak SDN Bandar Dalam. Seusai upacara bendera ratusan siswa mengerubungi kami karena melihat ATV yang jarang muncul di wilayah tersebut. Mr. Hindar bahkan nyaris tak terlihat karena dikerubuti oleh antusiasme anak anak berseragam Merah Putih tersebut. SDN Bandar Dalam menjadi sekolah Dasar yang kami lalui pertama kali dan terlihat lebih bagus meski ada lokal lain yang masih berdinding papan.

????????????????????????????????????

SDN 1 Way Haru Belimbing Bengkunat Pesisir Barat Lampung

Perjalanan dilanjutkan ke titik selanjutnya dan kami melewati sekolah lainb lain yang juga sedang melakukanb kegiatan upacara bendera, seragam biru putih terlihat dari pagar yang kami lewati. Setelah melewati sekolah SMP tersebut kami masih harus melewati perkampungan warga yang masih mempertahankan kearifan lokal dalam membuat rumah panggung. Pohon pohon kelapa berjajar di depan rumah panggung warga. Pemandangan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Setelah melewati perkampungan tersebut sebuah bangunan Sekolah Dasar terlihat lagi dengan kondisi yang sama masih memprihatinkan di beberapa bagian.

Tujuan utama yang kami tunggu pun akhirnya sampai. Jalanan berlubang bahkan lebih mirip merupakan selokan kering terlihat menuju SDN 1 Way Haru yang akan kami tuju. Sambutan hangat dari beberapa guru dan keramahan terlihat dari wajah wajah mereka dan menyambut kami. Selain sambutan guru yang ramah, dari atas bendera merah putih melambai lambai lengkap dengan lambaian plafon yang sudah nyaris lepas dan atap asbes yang bolong di atas akibat terpaan angin.

????????????????????????????????????

Kelas 6 di SDN 1 Way Haru Belimbing Bengkunat Pesisir Barat Lampung

Sekolah tersebut hanya terdiri dari dua lokal yang dibagi menjadi masing masing tiga kelas. Sebanyak delapan guru dengan satu kepala sekolah yang sudah PNS dan tujuh guru honorer menjadi pengajar di sekolah yang masih berdinding papan dan beralaskan tanah tersebut. Kondisi yang berkebalikan dengan semangat sekitar 100 orang berseragam merah putih tersebut. Ruang guru tidak bisa ditemui di SDN 1 Way Haru karena memang tidak ada ruang guru. Dinding dinding papan bolong pun menjadi sambutan kedatangan kami.

Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami dan sambutan hangat dari sang guru, bingkisan yang kamni bawa diterima dengan senang hati oleh para guru dan siswa. Sebagain siswa masih mengerubuti ATV yang kami bawa dan menjadi tontonan yang di wilayah tersebut merupakan sebuah benda yang sangat langka.

????????????????????????????????????

ATV dan Siswa SD Bandar Dalam Way Haru

Kami melanjutkan perjalanan ke sebuah keluarga yang ada di dekat lapangan Way Haru dan mampir ke rumah warga yang masih tinggal di rumah sederhana meskipun energi yang digunakan merupakan energi matahari.

Seusai mengunjungi warga selama beberapa jam dan melihat keramahan warga kami berpamitan untuk mengejar ombak yang sewaktu waktu bisa membahayakan. Perjalan dengan rute berbeda dimulai dengan melewati jembatan gantung sepanjang sekitar 30 meter. Bergoyang goyang saat kami lalui dan menjadi pembuka perjalanan pulang ke Way Heni. Menyusuri pantai bertebing, savana terbakar dengan beberapa ekor sapi yang digembalakan menjadi pemandangan sepanjang perjalanan.

????????????????????????????????????

Pak Pri si “polisi hutan” yang mencoba trek pantai

????????????????????????????????????

Mr. Pri Menolong pengojek yang terjebak pasir

Deburan ombak serta sesekali motor tak menyala menjadi warna perjalanan kami dengan kondisi air laut yang terus menerus mengejar kami. Sementara beriringan juga para pengojek yang membawa hasil bumi beberapa diantaranya “nyungsep” dihantam ombak. Sesekali kami berpapasan dengan gerobak sapi. Melewati beberapa muara sungai yang kering karena terbendung secara alami oleh pasir.

Perjalanan sekitar satu jam menyuri jalanan tanah, tebing serta pasir akhirnya mengantar kami ke titik awal dan kami harus kembali melewati rakit bambu di muara sungai yang kering dan akan membesar saat musim hujan. Seharian berada di Way Haru telah usai dengan waktu cukup singkat tapi telah melihat bagian Indonesia yang berada di bibir Samudera Hindia. Way Haru menjadi sebuah pesona akan Indonesia yang selalu akan dirindui, dan Way Haru menjadi bagian dari perjalananku. Berikut foto foto selengkapnya:

????????????????????????????????????

SDN 1 Way Haru Pesisir Barat Lampung

????????????????????????????????????

Jembatan Gantung Way Haru Pesisisr Barat

????????????????????????????????????

Jalan Antar Siku Way Haru Pesisir Barat Lampung

????????????????????????????????????

Kelas VI di SDN 1 Way Haru Pesisir Barat Lampung

????????????????????????????????????

SDN Bandar Dalam Pesisir Barat Lampung

????????????????????????????????????

SDN Bandar Dalam Pesisir Barat Lampung

????????????????????????????????????

SDN Bandar Dalam Pesisir Barat Lampung

bersama sang musafir.

Iklan
Categories: Kecamatan Belimbing Bengkunat, Lampung, Pesisr Barat, SDN 1 Way Haru, Sekolah, Sekolah Dasar | Tag: , , , , , | 4 Komentar

Navigasi pos

4 thoughts on “Perjalanan ke Barat, Way Haru Negeri Sejuta Pesona yang Terlupa

  1. Perjalanan menarik mas. Pantainya bagus juga.

    • He he betul mas Ryan..pantai Samudera Hindia yang memang menjadi jalur untuk ke daerah tersebut..pantai sedang surut sehingga bisa dilalui..

      • Menik

        Maaf pak Hendri, mau tanya ja,
        Itu di way haru ada sinyal dn listrik gak ya??? Lg cari2 info ttg way haru, khusussny daerah sekitar sdn way haru 1,terima Kasih sebelumnya

      • Listrik gunakan tenaga surya,,,trus kalau sinyal untuk operator tertentu saja mba,,kebetulan saya pakai Telkomsel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: