Menanam Mangrove Di Sebuah Pulau Kecil Selat Sunda

Melakukan traveling, berwisata menjadi kegiatan rutin yang selalu aku lakukan. Namun sering kali perjalanan wisata yang sebelumnya kulakukan adalah perjalanan yang hanya menikmati kesenangan dan berbagai fasilitas yang bersifat memanjakan mata, pikiran dan suasana baru, tak berkonsep dan hanya sekedar jalan jalan.

AB3

Dermaga Keramat titik poin keberangkatan ke Pulau Rimau Balak (Hendricus Widiantoro)

Hingga suatu ketika aku memutuskan melakukan perjalanan yang memang diniati untuk melakukan sebuah aktifitas menanam yang memang sempat menggelitik untuk kuprotes meski bukan dengan kata kata tapi dengan tindakan.

Aku masih ingat beberapa waktu sebelumnya di wilayah Lampung Selatan tempat aku berasal, sebuah tempat wisata yang ada di pesisir pantai mengaku memberikan uang tanggungjawab sosial kepada masyarakat senilai ratusan juta untuk menanam Mangrove. Namun pengelolaannya diberikan kepada sebuah organisasi untuk menanam Mangrove di daerah wisata tersebut. Namun hasilnya tanaman mangrove yang sedianya bisa tumbuh justru mati dan nilai uang dan hasil penanaman Mangrove pun tak sebanding dan proyek Mangrovisasi bernilai fantastis tersebut. Semuanya gagal total dengan Mangrove yang mati dan bahkan publisitas yang pernah dilakukan tak lagi menyisakan Mangrove yang tumbuh. Miris namun terjadi.

Konsep wisata alam yang semula direncanakan sepertinya tak berjalan dengan semestinya dan berbanding terbalik dengan biaya yang sudah dikeluarkan. Sempat ada penyesalan dari sang pengelola resor saat berbincang denganku saat aku dimintanya untuk melihat konsep baru yang diciptakannya yakni hutan wisata dengan menananam berbagai jenis tanaman langka di resornya. Konsep ini sepertinya yang cocok sehingga akhirnya terus berjalan dan pohon pohon yang ditanam pun teus tubuh besar.

Merahku

Di atas kapal menuju Pulau Rimau Balak (Hendricus Widiantoro)

Berangkat dari keprihatinan tersebut aku memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan yang tak biasa. Menyeberang ke salah satu pulau yang ada di Selat Sunda. Butuh waktu sekitar 15 menit dari dermaga Keramat dalam kondisi ombak yang tenang untuk sampai di Pulau bernama Rimau Balak tersebut. Pulau Rimau Balak tepat berada di dekat Pelabuhan Bakauheni sehingga bagi para traveler yang melintas di Selat Sunda menggunakan kapal Roll on Roll Off dari Pulau Jawa menuju Pulau Sumatera pasti akan melihatnya.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Rimau Balak aku disambut dengan keindahan alam pulau kecil di dekat Pulau Sumatera ini. Awalnya sebagai pejalan hal yang ingin kucari adalah spot untuk diving dan kegiatan untuk hiking di daerah yang baru. Namun karena perjalanan cukup singkat itu membuat aku bersama rekanku memutuskan untuk mengeksplore beberapa bagian pulau tersebut. Pulau Sumatera terlihat dengan ciri khas Menara Siger yang kulihat dari kejauhan.

Berada di pulau yang hening tersebut, menikmati hiruk pikuk yang biasa kualami. Hingga aku justru bertatap muka dan bertegur sapa dengan seorang laki laki tua bernama Abdurachmin yang berumur sekitar 57 tahun tengah asik memunguti biji biji yang berada di lumpur yang belakangan kuketahui itu adalah biji Mangrove atau pohon Bakau. Ketika kutanyakan kepadanya biji biji Bakau yang panjang tersebut sengaja akan ditanamnya di pantai yang tak jauh dari gubuk temapt tinggalnya. Ditanam dengan berjajar dan beberapa kulihat sudah cukup tinggi tumbuh dengan subur.

Menurut Abdurachmin yang mengaku asal Banten dan menetap di Pulau Rimau ini ia prihatin melihat pohon pohon Bakau yang kini hampir hilang dari Pulau Rimau Balak. Tanpa diminta, tanpa perintah siapapun ia berinisiatif menanamnya setelah kian hari dilihatnya pohon kelapa yang ditanamnya tumbang diterjang hempasan air laut. Penanaman pun dilakukan ketika dirinya sedang tak bekerja di kebunnya yang berada di pulau tersebut. Hasilnya ribuan Mangrove tumbuh subur danterlihat hijau berjajar rapi. Ia mengaku sengaja menanamnya seperti pagar agar saat besar bisa menjadi pagar hidup dari terjangan air laut.

1

Pulau Rimau Balak (Hendricus Widiantoro)

Pemikiran bodohku terbakar. Mengapa uang ratusan juta yang diceritakan oleh pengelola resor tersebut tak diberikan saja kepada laki laki tua yang tak mengharapkan publisitas ini. Laki laki yang menanam dengan kesadarannya akan pentingnya menjaga pulau dari abrasi. Ia pun tak memberiku banyak teori. Memintaku ikut memunguti biji biji Bakau dan menanamnya. Mangrovisasi bukan semata publisitas tapi kesadaran warga pesisir pantai secara swadaya tanpa diminta.

Seperti perjalanan perjalanan sebelumnya yang aku lakukan harus ada hal bermanfaat yang aku lakukan. Mengikuti jejak sang bapak tua tersebut aku pun mengumpulkan biji biji bakau yang mengambang di pinggir pantai. Memilih bibit bibit tersebut untuk ditanam di pinggir pinggir pantai.

Perjalanan pertama bersama kawanku dengan menanam beberapa pohon Mangrove hanyalah sebuah titik awal. Pulau Rimau Balak yang memilki beberapa spot diving pun ternyata menyimpan sebuah potensi wisata yang ada di antara pohon bakau. Kulihat sang bapak itu memasang perangkap kepiting bakau yang akhirnya bisa dijual ke pengepul yang akan mengambil dari Pulau Sumatera.

Mangrove

Pak Abdurachmin menanam Mangrove

Perjalanan kedua selanjutnya konsep wisata yang dimerger dengan penananaman mangrove serta kepedulian kepada warga khususnya anak sekolah akhirnya seperti gayung bersambut. Aku mengajak sekitar 30 orang yang tergabung dalam komunitas 1000 guru untuk melakukan Traveling And Teaching di Pulau Rimau Balak tersebut.

Puluhan peserta yang tergabung dalam komunitas 1000 guru selain mengajar bagi anak anak di Pulau Rimau Balak juga mengedukasi warga agar lebih memperhatikan potensi wisata yang ada di Pulau tersebut. Menjadi volunteer wisata yang dilakukan oleh peserta selain mengajar salah satunya dengan menanam pohon pohon bakau di sepanjang jalan dari dermaga menuju ke perkampungan warga. Selain itu sebuah konsep agar para traveler atau wisatawan yang datang ke pulau tersebut bisa menanam pohon bakau sehingga ada kenangan serta akan bermanfaat untuk menjaga kelestarian pohon bakau akhirnya mulai diterapkan.

Pulau Rimau

Sampai di Pulau Rimau Balak

Traveler 3

Terus menanam

Setidaknya kini dari waktu ke waktu traveler yang ingin ke pulau Rimau Balak memiliki sebuah agenda perjalanan yang sellau wajib dilakukan yakni menanam Mangrove atau Bakau. Selain menikmati perjalanan wisata di Pulau Rimau Balak yang dalam satu paket perjalanan bisa menikmati berjalan berkeliling pulau, menikmati keheningan, diving, memancing, berenang dengan diakhiri menanam mangrove.

Sebuah konsep yang kudapatkan secara kebetulan saat pertama kali menginjakkan kaki di pulau tersebut kemudian aku tularkan kepada para traveler yang ingin menikmati pulau tersebut. Selain ini adalah solusi agar warga bisa memanfaatkan pohon bakau tersebut menjadi habitat berkembangbiaknya ikan dan kepiting bakau, agenda menanam Mangrove selalu menjadi kegiatan yang mengasikkan bagi para wisatawan yang berkunjung ke pulau kecil di Selat Sunda tersebut.

Traveler 4

Menanam Mangrove pola berjajar

Traveler 1

Penulis ikut menanam bibit Mangrove

Menjaga alam dan menyatukannya dengan kehidupan warga untuk bisa dijadikan tempat tujuan wisata memang tak mudah. Namun catatan perjalanan dari waktu ke waktu selalu memberiku hal terbaik untuk tak hanya menikmati perjalanan tapi memberi manfaat bagi warga yang ada di tempat wisata tersebut. Setidaknya sebagai traveler aku bangga bisa meninggalkan hal hal positif untuk tempat wisata di daerahku.

Iklan
Categories: MAngrove, Pelabuhan Bakauheni, Pulau Rimau Balak, Traveler, Wisata | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: