Monthly Archives: Februari 2015

Mengajak Puteriku Memahami dan Menghargai: Edisi Imlek 2566

Suasana Tahun Baru Imlek yang jatuh hari ini adalah kesekian kalinya bisa kuikuti. Sebelumnya karena huan dan keadaan membuatku tak bisa mengikuti dan berkunjung ke beberapa kerabat yang merayakannya.

Widi Imlek 8

Images : Hendricus Widiantoro

Widi Imlek 9

Images; Hendricus Widiantoro

Sebuah keberuntungan sekaligus kebersyukuran pastinya bagi yang masih bisa merayakan Tahun Baru Imlek pada 2015 initerutama etnis Tionghoa yang tinggal di Kalianda Lampung Selatan.

Widi Imlek 6

Image: Hendricus Widiantoro

Kali ini aku langsung menuju Vihara Dharma Sasana di Kalianda yang terletak di Jalan Pratu M Yusuf No 89 Kalianda. Bau dupa dan hio yang dibakar yang dinyalakan oleh umat yang bersembahyang di tempat tersebut beraroma harum dan aku disambut oleh pengurus vihara dengan ramah.

Rupanya si Kokoh sudah hapal wajah karena hampir tiap Imlek aku selalu berada di situ untuk mengabadikan momen yang istimewa tiap tahunnya di vihara tersebut. Ia mempersilakanku untuk mengambil gambar sebab ia sedang disibukkan oleh jemaat yang akan sembahyang.

widi Imlek 5

Images: Hendricus Widiantoro

Di luar beberapa polisi berjaga, sementara di dalam beberapa umat sedang berdoa. Pengurus vihara lainnya pun sibuk memeriksa ratusan lilin berwarna merah yang menyala. Lilin tersebut rata rata memiliki label nama sesuai keluarga yang membawanya. Tanda ungkapan syukur dalam tahun yang baru.

Karena aku ada di dalam Vihara beberapa umat yang datang pun sempat mengucapkan Qiong Hi! padaku dan kujawab serupa. Seusai mengambil gambar aku malah diminta mendekat oleh si kokoh,” de ini ada kue keranjang kan jarang jaran ada!” dengan berpamitan dan berterima kasih : xie xie kokoh! aku meninggalkan Vihara tersebut yang masih dipenuhi doa doa umat Budha tersebut.

Widi Imlek 4

Images: Hendricus Widiantoro

Dalam kalender yang didasarkan oleh perhitungan bulan, Tahun Baru Imlek 2015 dirayakan pada Kamis, 19 Februari ini dan secara hitungan lunar tadi merupakan tahun baru yang ke-2566. Sedangkan menurut perhitungan shio (dalam tradisi Tionghoa), tahun 2566 adalah tahun kambing.

Sayang karena tadi malam hujan aku tak bisa ikut melihat doa malam hari jelang pergantian tahun sehingga baru bisa datang pagi harinya bersama puteriku.

Widi Imlek 3

Images: Hendricus Widiantoro

Menurut pengurus Vihara beberapa persiapan menjelang Imlek biasanya dilakukan oleh etnis Tionghoa: Mendekorasi ulang rumah, membersihkan barang-barang dan menyortir barang yang sudah lama diganti yang baru, menyiapkan baju untuk dipakai saat Tahun Baru Imlek, dan tak ketinggalan ialah menstok bahan makanan yang nantinya akan dimasak saat makan malam Tahun Baru Imlek.

Widi Imlek 2

Images: Hendricus Widiantoro

Dari pagi hingga siang umat Budha nampak berdatangan rata rata bersama anggota keluarganya. Berdoa dengan khusuk dan penuh dengan harapan di tahun baru ini.

Amat istimewa bagiku bersama puteriku bisa berkunjung ke salah satu keluarga yang ada di Kalianda. Kue keranjang dan sajian khas yang ada saat Imlek tersaji di meja. Tanpa lupa pula angpao pun menjadi tradisi yang tak pernah telat saat Imlek kali ini.

Imlek 9

Images: Hendricus Widiantoro

Sebagai masyarakat yang majemuk, akupun tak lupa mengucapkan:

Gong Xi Fat Cai 2566. Xin Nian Khua Le. Wan She Ru Yi, semoga tahun baru 2566 ini menjadi awal yang baik.

Widi Imlek Utama

Images: Hendricus Widiantoro

Widi Imlek1

Images: Hendricus Widiantoro

Imlek 12

Images: Hendricus Widiantoro

Iklan
Categories: Angpao, Imlek 2566, Kalianda, Lampung Selatan, Tahun Baru China, Tionghoa, Vihara | Tag: , , , , , , | 6 Komentar

South Lampung Is Gate Of Sumatera Island Have Full Tourism Potential

Government of South Lampung will make the District Kalianda as one of the tourist cities in the area .

Widi-Ruwat Laut 7

Siger Tower from Muara Piluk Bakauheni Village (Images: Hendricus Widiantoro)

South Lampung Regent , Rycko Menoza SZP in Kalianda always said the District Kalianda is the district capital and has a fairly full tourism potential , both natural attractions of the mountains , marine tourism , and cultural tourism so it is worthy of being the area tourist destination .

Then, go Rycko , Kalianda has also interesting attractions such as hot baths Way Sulfur , which is not shared by other regions .

” This potential deserves attention and our pride to be developed , in addition to attracting tourists also can generate local revenues to improve the welfare of the people , ” he said .

Widi_News8

Boom Port in Kalianda (Images: Hendricus Widiantoro)

Rycko said , in order to support the development of tourism , the government is conducting a wide range of development support to beautify City Kalianda .

” Among our hotel development that will mix with shopping centers and other facilities and infrastructure as a means of lodging and entertainment community , ” he said .

Then , the development of culinary Pier Kalianda Bomb , is expected to be a culinary tour , a variegated garden eat seafood and regional specialties .

Krakatau 5

Child Of Krakatoa Mount

In addition , the construction of the Great Mosque of the Dome of the central diamond city will also include shopping facilities and a rest area for the people who stopped at City Kalianda because it is located in Sumatra highway .

Development of green open space areas and city parks for environmental sustainability as well as the breath of the earth and community recreation facilities .

Rycko added Kalianda City as the cleanest city which has been awarded several times Verse of the President . Because it is expected that the award can be maintained , with the support of the community to familiarize maintain the cleanliness and beauty of the city .

Lets come to South Lampung Regency

To Know about South Lampung Regency Lets visit my posting before :

https://hendricuswidiantoro.wordpress.com/2014/10/03/are-you-a-backpacker-traveler-welcome-to-south-lampung-regency/

https://hendricuswidiantoro.wordpress.com/2014/09/12/my-lovely-place-south-of-lampung-regency/

Thanks too for  UniversalIndonesia.com

Categories: Beach, Lampung, My Backpacking, South lampung, South Lampung Regency, Tourism | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Berbuat Hal Kecil Untuk Pantai Pantai di Lampung Selatan

Sebuah Keprihatinan untuk bisa berbuat #Saveourbeach:

Pantai 1

Kali ini aku ingat dengan rekanku Fitri, si pecinta alam yang gigih dan penuh perjuangan. Beberapa gunung di Sumatera sudah didakinya diantaranya Gunung Dempo, Gunung Tanggamus, Gunung Rajabasa , Gunung Krakatau dan gunung gunung yang lain.

Tak hanya gunung dia mengaku juga si pecintai pantai, pantai yang selelu memberinya banyak inspirasi. Semua hal yang berkaitan dengan alam dan pendakian alam, explore hutan dan juga pantai.

Lampung Selatan dikenal Kabupaten Gerbang Sumatera memiliki bentang alam yang sangat indah membentang dari Tanjung Tua di Bakauheni hingga Ketibung dihiasi dengan bentangan pantai yang eksotik di pantai barat dengan pulau pulaunya.

Pantai 2

Ini salah satu pantai di Lampung Selatan, Pantai Minang Ruah (Hendricus Widiantoro)

Selain itu di Pantai Timur membentang dari Bakauheni menuju Ketapang juga pantai dan pulau pulau kecil menghiasi.

Kekayaan pantai tersebut menambah aset dan juga penghasilan bagi para pelaku wisata yang menambah pundi pundi di sektor wisata. Namun apakah keindahan alam tersebut dibarengi oleh upaya penyelamatan biota yang ada di sekitarnya.

Miris saat berada di beberapa pantai, mau menyelam banyak pecahan beling dan kaca serta sampah sampah plastik. Tapi di beberapa tempat masih ada lokasi yang bisa digunakan untuk melakukan penyelaman.

Lalu aku berkata kepada Fitri: “Apa kita cuma jalan jalan saja tanpa berbuat untuk tempat yang kita kunjungi?”

Menanggapi hal tersebut ia langsung berujar: “Ayo lakukan sesuatu #Saveourbeach katanya. Jiwa petualangan dan kecintaannya terhadap alam terketuk sebagai mahasiswa pecinta alam. Melakukan hal positif dengan secara sukarela berbuat untuk pantai pantai yang dikunjungi menjadi sebuah konsep yang terbersit saat itu dan langsung dilakukan. Baca lebih lanjut

Categories: Bersih pantai, Kisahku, Pantai, Perjalanan, Wisata | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Menanam Mangrove Di Sebuah Pulau Kecil Selat Sunda

Melakukan traveling, berwisata menjadi kegiatan rutin yang selalu aku lakukan. Namun sering kali perjalanan wisata yang sebelumnya kulakukan adalah perjalanan yang hanya menikmati kesenangan dan berbagai fasilitas yang bersifat memanjakan mata, pikiran dan suasana baru, tak berkonsep dan hanya sekedar jalan jalan.

AB3

Dermaga Keramat titik poin keberangkatan ke Pulau Rimau Balak (Hendricus Widiantoro)

Hingga suatu ketika aku memutuskan melakukan perjalanan yang memang diniati untuk melakukan sebuah aktifitas menanam yang memang sempat menggelitik untuk kuprotes meski bukan dengan kata kata tapi dengan tindakan.

Aku masih ingat beberapa waktu sebelumnya di wilayah Lampung Selatan tempat aku berasal, sebuah tempat wisata yang ada di pesisir pantai mengaku memberikan uang tanggungjawab sosial kepada masyarakat senilai ratusan juta untuk menanam Mangrove. Namun pengelolaannya diberikan kepada sebuah organisasi untuk menanam Mangrove di daerah wisata tersebut. Namun hasilnya tanaman mangrove yang sedianya bisa tumbuh justru mati dan nilai uang dan hasil penanaman Mangrove pun tak sebanding dan proyek Mangrovisasi bernilai fantastis tersebut. Semuanya gagal total dengan Mangrove yang mati dan bahkan publisitas yang pernah dilakukan tak lagi menyisakan Mangrove yang tumbuh. Miris namun terjadi.

Konsep wisata alam yang semula direncanakan sepertinya tak berjalan dengan semestinya dan berbanding terbalik dengan biaya yang sudah dikeluarkan. Sempat ada penyesalan dari sang pengelola resor saat berbincang denganku saat aku dimintanya untuk melihat konsep baru yang diciptakannya yakni hutan wisata dengan menananam berbagai jenis tanaman langka di resornya. Konsep ini sepertinya yang cocok sehingga akhirnya terus berjalan dan pohon pohon yang ditanam pun teus tubuh besar.

Merahku

Di atas kapal menuju Pulau Rimau Balak (Hendricus Widiantoro)

Berangkat dari keprihatinan tersebut aku memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan yang tak biasa. Menyeberang ke salah satu pulau yang ada di Selat Sunda. Butuh waktu sekitar 15 menit dari dermaga Keramat dalam kondisi ombak yang tenang untuk sampai di Pulau bernama Rimau Balak tersebut. Pulau Rimau Balak tepat berada di dekat Pelabuhan Bakauheni sehingga bagi para traveler yang melintas di Selat Sunda menggunakan kapal Roll on Roll Off dari Pulau Jawa menuju Pulau Sumatera pasti akan melihatnya. Baca lebih lanjut

Categories: MAngrove, Pelabuhan Bakauheni, Pulau Rimau Balak, Traveler, Wisata | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

KMP Legundi, KMP Sebuku Selamat Datang di Selat Sunda

???????????????????????????????

KMP Sebuku di Bakauheni (Foto: Hendricuswidiantoro.wordpress.com)

Bagi para Ferry Mania alias pecinta kapal ferry di Selat Sunda pasti akan melihat dua kapal baru yang berlayar di Selat Sunda. Kedua kapal tersebut didominasi warna biru dan merupakan dua kapal baru yang sudah diluncurkan oleh Menteri perhubungan (kala itu EE.Mangindaan ) dan diluncurkan pertama kali pada bulan Agustus 2014 dan juga September 2014.

Kapal  pertama yakni KMP Legundi, kenapa dinamakan Legundi. Seperti diketahui Legundi merupakan salah stu pulau yang cukuo di kenal berada di Teluk Lampung dan juga masih dalam wilayah Selat Sunda. Kapal inimemiliki panjang 109,40 meter; lebar 19,60 meter; tinggi geladak utama 5,60 meter; serat air 4,10 meter; dan kecepatan 15,00 knot. Kapal itu didesain berkapasitas 812 orang serta mampu menampung kendaraan sebanyak 21 trailer, dua tronton, 37 truk medium, dan 77 sedan atau multipurpose vehicle. Baca lebih lanjut

Categories: Kapal Ferry, Kapal Roro, KMP Legundi, KMP Sebuku, Selat Sunda | Tag: , , , , , , , | 2 Komentar

Seharga Rp 750 Juta Pohon Baobab Asal Afrika “Memang Tak Salah” Hadir di Jakarta

images (1)Jika melihat dan mendengar Pemprov Jakarta membeli sebatang pohon seharga Rp 750 juta mungkin ini agak terdengar aneh, tapi nyata. Namun memang pohon ini adalah salah satu pohon yang sangat unik di dunia dengan beragam cerita dan keunikannya. Pohonnya yang besar dan tentunya bisa berumur panjang tak salah jika pohon Baobab merupakan salah stu pohon mahal karena juga termasuk langka.

Nah mengapa demikian, berikut alasannya:

Apakah Anda mengenal pohon Baobab yang memiliki nama latin Adansonia Digitata. Ya pohon ini memang asing di telinga masyrakat Indonesia, pohon ini hidup di dataran rendah di Afrika dan Australia.

Baobab dikenal dengan pohon aneh, boleh dibilang keanehan tersebut berasal dari struktur pohon yang ‘terbalik’ dan hanya memiliki sedikit daun. Cabang-cabang pohon Baobab seperti mencuat ke udara, seolah-olah telah ditanam terbalik.

BIG 0

Legenda setempat menyatakan bahwa dewa Thora tidak menyukai Baobab tumbuh di kebunnya, sehingga ia melemparkannya dari atas dinding surga ke bumi di bawah, dan meskipun pohon itu mendarat terbalik namun pohon itu terus tumbuh.

Cerita lain menyebut ketika Baobab ditanam oleh Dewa, pohon itu terus berjalan, sehingga Tuhan menarik pohon itu ke atas dan menanamnya terbalik untuk menghentikannya bergerak. Baca lebih lanjut

Categories: Adansonia Digitata, Baobab, Kisahku, pohon unik | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.