Perang APBD, Cyber War Dimulai

Mendengar kata APBD maka yang terbersit dalam pemikiran adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Itu tidak salah dan memang benar sebagian besar orang pasti berpikiran demikian. Namun dalam hal ini APBD yang dimaksud adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Data. Data yang dimaksud tentunya dalam banyak hal terutama dalam era digital sekarang. Saat orang sudah memakai Blackberry Messenger , Android untuk berkirim pesan tak hanya SMS tapi juga data.images (16)

Nah akhirnya muncul pemikiran gokil dari kawan. APBD Online pun harus ada. tentunya beralasan.

APBD Online pun ada. Rezim era kartu ini sangat tahu pentingnya #
pusatData dan #Media. Jadi bukan kategori Rezim yang bodoh totok #KeepAwake

Keperluan akan data pun kini menjadi semakin penting dengan adanya komunikasi yang semakin menjadi kebutuhan utama tak hanya sandang, pangan dan papan. Budget untuk membayar data pun pastinya mau tak mau harus dipikirkan. Hingga pasti ada orang yang rela membeli pulsa namun lebih memilih tak merokok untuk memenuhi kebutuhan akan data yang diperoleh dengan membeli paket internet yakni dengan pulsa.

Tapi tetap tak bisa dipungkiri ada orang yang lebih memilih tak makan tapi bisa merokok untuk memenuhi kebutuhannya akan paket data kepulan asap alias rokok (he he, kisah nyata kawan sendiri). Data data seperti itu pun mau tak mau akan menjadi kebutuhan yang harus tersususn di dompet dan buku keuangan pribadi.

Paket data itulah yang harus dibuat agar seseorang lebih pintar mengelola daftar untuk kebutuhannya. Jangan sampai hanya karena untuk kebutuhan data maka kebutuhan akan yang lain jadi terbengkelai. Jangan sampai karena demi pulsa lantas mengalokasikan anggaran makan untuk beli pulsa internet atau untuk paket data.

images (15)

Lalu kini Anggaran Pendapatan dan Belanja Data pun mulai menyentuh ke ruang politis. Bagaimana data data transaksi elektronik, transaksi keuangan sangat diperlukan untuk menjerat seseorang terlibat korupsi atau tidak. Lihatlah Komisi Pemberantasan Korupsi yang dengan cepat menetapkan calon Kapolri BG sebagai tersangka. Pastinya data data dari PPATK menjadi alat bukti meski ini akan terus bergulir, ke mana arahnya, tunggu saja.

Tak sampai di sini isu terus bergulir seiring dengan perang data. Presiden Jokowi yang memilih untuk calon tunggal Kapolri pasti memiliki data yang berbeda dengan data yang dimiliki oleh KPK. Data yang sama sama penting pastinya.

Isu-isu Black Campaign seperti penyebaran foto-foto seperti ini bukanlah hal baru di Indonesia. Banyak orang-orang petinggi negara yang terkena jebakan foto seperti ini beberapa tahun yang lalu.

Usai ditetapkan sebagai tersangka hal hal lain terkait dengan data mulai muncul: Usai Tetapkan Budi Gunawan sebagai Tersangka, KPK Digempur Isu Miring

wpid-blurimage14-1-2015-9-51-25-jpg x

Sebagian berita tersebut begini:

Rabu (14/1/2015), beredar foto-foto Ketua KPK, Abraham Samad dengan seorang wanita. Pada foto itu, Abraham sedang mencium dan memeluk sang wanita.

Abraham, ketika dihubungi Metrotvnews.com, membantah isu tersebut. Dia mengatakan ada pihak tertentu yang sengaja mengedarkan foto palsunya.

“Ini gosip yang sengaja disebarkan untuk menghancurkan diri saya dan mengkriminalisasi saya,” tulisnya, Rabu.

Banyak netizen yang juga tidak percaya dengan keaslian foto tersebut. Mereka menilai orang-orang tertentu sengaja mengedarkan foto ini melalui media sosial untuk menggoyahkan KPK.

“This is war. Stand tough, Pak!” tulis seorang netizen, Amir Syarif Siregar, dalam akun Twitter-nya, ‏@Sir_AmirSyarif.

Selengkapnya di sini:

http://news.metrotvnews.com/read/2015/01/14/344807/usai-tetapkan-budi-gunawan-sebagai-tersangka-kpk-digempur-isu-miring

Data data yang dikirimkan berupa data elektronik melalui pesan gambar entah asli atau palsu hasil Photosop atau bukan pasti akan memiliki efek yang lebih dalam dan bermakna politis. Itu sangat pasti.

Inilah zamannya merapikan APBD, sebab data data yang sederhana tersebut akhirnya bisa digunakan untuk pihak pihak yang berbeda kepetningan untuk tujuan dan maksud yang berlainan juga.

Saat masyarakat kelas menengah ke bawah masih mengurusi APBRT (Anggaran Pendapatan dan Belanja Rumah Tangga) nun jauh di sana di puncak kekuasaan sedang terjadi perang data, perang APBD. Entah mau disebut perang atau tidak sungguh ini sebuah fenomena betapa pentingnya sebuah data.

Peperangan di dunia maya pun bertebaran. Kubu kubu saling menyerang dengan tweet tweet nya yang mempunyai argumen masing masing. Saatnya perang APBD dimulai dan Cyber Army bergerak.

Data tersebut dikirim melalui email: email memerlukan internet dan internet adalah pengirim data berkecepatan tinggi sesuai dengan provider yang menyediakan datanya. Untuk mengetahui data tersebut haruslah diketahui sumbernya dari mana email tersebut berasal dan apa tujuannya.

images (14)

Semoga semua menjadi jelas di saat masyarakat bawah membenahi APBRT nya dan di pemerintahan terjadi perang APBD. Zamannya sudah perang Cyber. Perang Data. Tentunya akan bermunculan Cyber Army dan Tweet War sudah mulai terlihat. Dipihak siapakah kamu atau hanya mengamati.

Iklan
Categories: APBD, Calon Kapolri, Cyber War, Perang Data, Politik, Presiden | Tag: , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: