Perjuangan Para Porter Pelabuhan

Ombak sedang tak bersahabat bagi kapal kapal Roll On Roll Off di perairan Selat Sunda saat aku menyusuri gangway pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan pada puncak liburan tahun baru, sekolah. Ribuan penumpang pejalan kaki berjejal di gangway, tangga menuju ke kapal di dermaga 1,2,3  karena keterlambatan jadwal kapal yang bersandar.

Buruh Utama

Porter Pelabuhan Bakauheni (Foto: Hendricus Widiantoro)

Bukan karena keinginan nahkoda serta ABK kapal melainkan cuaca perairan yang terlihat berombak cukup tinggi dengan angin kencang. Sempat berbincang dengan Otoritas Kesyahbandaran pelabuhan Bakauheni cuaca memang sedang tak bersahabat sehingga keselamatan harus diutamakan dalam pelayaran. Kapal kapal yang bersandar di semua dermaga pun agak kesulitan melakukan olah gerak untuk sandar.

Buruh 1

Menunggu kapal sandar

Liburan yang sudah berakhir membuat para pekerja, anak sekolah, serta semua orang yang berlibur dari Pulau Sumatera dan ingin kembali ke Pulau Jawa membludak di Pelabuhan Bakauheni. Ini adalah sebuah momen untuk mencari rejeki bagi para “buruh tenteng” (Istilah ini sebenarnya muncul dari kegiatan mereka yang banyak menenteng barang barang milik penumoang dengan imbalan yang disepakati kedua belah pihak, istilah yang memang mereka sendiri ucapkan padaku). Namun bagiku sebutan porter lebih terlihat memberi kesan bahwa pekerjaan mereka pun sama dengan pekerjaan lain untuk nafkah, apapun sebutan yang diberikan orang kepadanya.

Muhdsin , laki laki berusia sekitar 40 tahun bersama kawan kawannya berjibaku dengan penumpang yang turun dari bus, travel, angkutan pribadi yang baru turun dari terminal Rajabasa Lampung dan tiba di Bakauheni. Mata Muhdsin dan kawan kawan harus jeli melihat bagai mobil dan barag barang bawaan berupa tas, karung maupun kardus yang merupakan bawaan milik penumpang. Berpacu dengan waktu dan rivalitas penuh persaudaraan Muhdsin akan menawarkan kepada pengguna jasanya untuk diangkatkan barang barang bawaannya dengan upah tentunya. Mereka mudah ditemukan dan dikenali dari seragam warna orange dan nomor nomor yang melekat di seragam tersebut.

Buruh 3

KMP Titian Murni yang akan sandar

“Saya tidak mematok upah yang memberatkan penumpang yang pasti kami ada kesepakatan dan pastinya tidak memberatkan bagi penumpang yang barangnya kami angkat. Kalau pun mereka memberi lebih itu kami terima sebagai rejeki yang harus disyukuri, ” ungkap Muhdsin.

Muhdsin memang hanya salah satu dari puluhan buruh tenteng atau porter pelabuhan yang mengenakan seragam berwarna orange tersebut. Mendapatkan upah Rp 20.000 sekali angkut atau lebih merupakan sesuatu yang wajar sebanding dengan rasa lelah yang didapat mengangkat barang  bawaan milik penumpang yang akan naik kapal maupun yang turun dari kapal. Ada sekitar 70 orang buruh tenteng di pelabuhan Bakauheni yang setiap hari melakukan pekerjaan yang dilihat orang sebagai sebuah pekerjaan berat yang membutuhkan tenaga ekstar tersebut.Buruh 10

Sebanyak 70 orang buruh tenteng tersebut pun memilki asosiasi atau perkumpulan yang memiliki aturan, seragam dan tentunya kesepakatan dalam melakukan pekerjaannya. Menurut Muhdsin dan kawan kawannya yang kutemui di gangway pelabuhan Bakauheni  setiap hari dibagi dalam shift tertentu agar setiap buruh mendapat porsi yang sama. Namun untuk waktu waktu tertentu terbuka kemungkinan untuk tak terikat pada shift terutama saat hari hari besar atau liburan di mana calon penumpang maupun penumpang kapal mencapai ribuan dan itu adalah peluang.

Jarak dari terminal menuju kapal diperkirakan mencapai ratusan meter dengan menaiki tangga dan berjalan melalui gangway. Porter pelabuhan tersebut akan menenteng barang bawaan milik penumpang dan menuju kapal atau sebaliknya turund ari kapal. Terkadang pemilik barang bisa berjalan lebih cepat dari porter dan sebaliknya bisa saja porter seperti Muhdsin akan lebih cepat berjalan karena merasakan barang bawaan yang cukup berat sehingga lebih memilih setengah berlari agar cepat sampai.

Hasilnya, puluhan ribu hingga ratusan ribu berhasil dikumpulkan oleh Muhdsin dan puluhan porter lainnya berhasil dibawa pulang tentunya setelah dikurangi makan dan juga keperluan rokok bagi yang merokok. Sebagian disisihkan untuk membayar iuran perkumpulan atau organisasi Buruh Tenteng sebesar Rp 30.000 per bulan.  Muhdsin yang mengaku berasal dari Pulau Jawa mengau sudah sejak tahun 2010 menjadi porter pelabuhan. Uang yang didapatkan dipergunakn untuk membiayai anak anaknya sekolah dan tentunya untuk modal usaha istrinya yang kebetulan juga menjadi penjual asongan bermacam minuman di Pelabuhan Merak.

Anak Baim

Penumpang menunggu kapal

“Pekerjaan apa saja saya lakoni mas yang penting halal dan tak merugikan orang lain. Meski ada cibiran dan kesan negatif ke kami yang kadang ini itulah ada barang hilang atau apalah tapi yang jelas kami tetap menjalankan pekerjaan ini dengan niat yang baik,” ujar Muhdsin yang menanti kapal Titian Murni siap sandar di dermaga II Pelabuhan Bakauheni.

Muhdsin pun tak menampik jika ada beberapa kawannya yang benar benar nekad untuk mendapatkan penumpang yang membutuhkan jasanya. Nekad yang dimaksud adalah berloncatan ke kapal yang sedang dalam posisi bersandar dan belum sepenuhnya berhenti. Aksi tersebut memang cukup beresiko layaknya para anak koin yang berlompatan dari kapal ke laut untuk mendapatkan uang yang dilemparkan para penumpang. Meloncat dari tangga Gangway menuju kapal bukan tanpa resiko karena ketinggian sekitar 5 meter dan besi besi yang sewaktu waktu bisa mengundang bahaya. Beberapa porter melakukannya untuk mendapatkan pengguna jasa sebelum kapal bersandar.

Buruh 2

Menanti

Selain suka mendapatkan upah dari jasanya tersebut, Muhdsin dan kawan kawan pun terkadang mengalami kegetiran saat tak ada yang mau memakai jasanya untuk mengangkut barang, ia menerimanya dengan ikhlas. Terkadang cuaca yang tak baik membuat sakit dan karena pekerjaan mereka menggunakan tenaga maka kekuatan fisik benar benar sangat dibutuhkan.  Semuanya dijalani dengan harapan ia bisa mengumpulkan uang untuk kebutuhan istri dan anak anaknya.

Buruh tenteng, Porter  pelabuhan adalah salah satu potret kehidupan yang ditemui saat para pejalan akan melakukan perjalanan ke Pulau Jawa maupun Sumatera. Mereka juga bekerja untuk menafkahi keluarganya. Semua pekerjaan memiliki resiko dan juga tingkat kesulitannya masing masing, yang pasti mereka adalah sesama yang berjuang untuk hidup.

Kulihat Muhdsin dengan gontai keluar dari kapal Titian Murni. Ia tak mendapatkan penumpang yang mau menggunakan jasanya karena memang tak banyak penumpang yang membawa barang yang bisa dibawakannya , rata rata membawa tas kecil dan beberapa yang membawa barang bawaan banyak justru sudah lebih dahulu dibawa oleh kawannya sesama porter pelabuhan. Ia mengusap keringatnya dengan handuk kecil yang dibawanya, lalu melintas di depanku dan sempat berpamitan padaku untuk berpindah ke dermaga lain yang akan “bongkar” untuk mencari penumpang lain. Semoga engkau diberi kesehatan pak!

Berikut foto foto mereka:

Buruh 4

Kembali dengan hampa

Buruh 5

Banyak beban

Buruh 6 Buruh 7 Buruh 8 Buruh 9

Iklan
Categories: Buruh Angkut, Buruh tenteng, Inspirasi, Kisahku, Pelabuhan Bakauheni | Tag: , , , , , , , | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Perjuangan Para Porter Pelabuhan

  1. Semua demi keluarga tercinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: