Mangrovisasi Bukan Semata Publisitas

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Rimau Balak bukan keindahan alam pulau kecil di dekat Pulau Sumatera ini yang kusaksikan. Aku justru bertatap muka dan bertegur sapa dengan seorang laki laki tua bernama Abdurachmin yang berumur sekitar 57 tahun tengah asik memunguti biji biji yang berada di lumpur yang belakangan kuketahui itu adalah biji Mangrove atau pohon Bakau. Ketika kutanyakan kepadanya biji biji Bakau yang panjang tersebut sengaja akan ditanamnya di pantai yang tak jauh dari gubuk temapt tinggalnya. Ditanam dengan berjajar dan beberapa kulihat sudah cukup tinggi tumbuh dengan subur.

Menjaga Api 3 Widi

Penanam Bakau , penjaga pantai dari Abrasi (Foto: Hendricus Widiantoro)

Menurut Abdurachmin yang mengaku asal Banten dan menetap di Pulau Rimau ini ia prihatin melihat pohon pohon Bakau yang kini hampir hilang dari Pulau Rimau Balak. Tanpa diminta, tanpa perintah siapapun ia berinisiatif menanamnya setelah kian hari dilihatnya pohon kelapa yang ditanamnya tumbang diterjang hempasan air laut. Penanaman pun dilakukan ketika dirinya sedang tak bekerja di kebunnya yang berada di pulau tersebut. Hasilnya ribuan Mangrove tumbuh subur danterlihat hijua berjajar rapi. Ia mengaku sengaja menanamnya seperti pagar agar saat besar bisa menjadi pagar hidup dari terjangan air laut.

Aku masih ingat saat di wilayah Lampung lainnya dari pemilik resort yang ada di pesisir pantai mengaku memberikan uang tanggungjawab sosial kepada masyarakat senilai ratusan juta untuk menanam Mangrove. Namun nilai uang dan hasil penanaman Mangrove pun tak sebanding dan proyek Mangrovisasi bernilai fantastis tersebut gagal total dengan Mangrove yang mati dan bahkan publisitas yang pernah dilakukan tak lagi menyisakan Mangrove yang tumbuh. Miris namun terjadi.

Menjaga Api 1 Widia

Penanaman Mangrove pola berjajar (Foto:Hendricus Widiantoro)

Pemikiran bodohku terbakar. Mengapa uang ratusan juta tersebut tak diberikan saja kepada laki laki tua yang tak mengharapkan publisitas ini. Laki laki yang menanam dengan kesadarannya akan pentingnya menjaga pulau dari abrasi. Ia pun tak memberiku banyak teori. Memintaku ikut memunguti biji biji Bakau dan menanamnya. Mangrovisasi bukan semata publisitas tapi kesadaran warga pesisir pantai yang apinya tak akan padam meski hidup terasa berat tanpa fasilitas listrik, air bersih dan infrastruktur memadai seperti jalan serta dermaga yang memprihatinkan.

Lewat Abdurachmin, aku mengerti kesadaran untuk berbuat bagi lingkungan seharusnya bukan karena ingin mendapat pujian. Bahkan meski ia sempat dibilang kurang kerjaan namun Bakau yang ditanamnya usia tahunan pun sudah subur ditambah dengan bakau bakau usia bulanan yang akan menjadi saksi kegigihan laki laki tua ini. Semoga api semangat bagi para pecinta lingkungan tanpa pamrih sepertinya akan terus menyala.

Iklan
Categories: #MenjagaApi, Inspirasi, Lampung, Pelabuhan Bakauheni, Pulau Rimau Balak | Tag: , , , , | 6 Komentar

Navigasi pos

6 thoughts on “Mangrovisasi Bukan Semata Publisitas

  1. Pak Abdurachmin mungkin dianggap ga ‘menjual’. Salut!

  2. keren bgt si bapak ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: