Tiga Lelaki Desa Berhati Mulia Para Penjaga Tradisi

Setiap hari Minggu suasana dusun Sumbersari, sebuah dusun kecil di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan yang berada di kaki Gunung Rajabasa ini mengalun lembut alunan musik gamelan dari seorang rumah warga. Alunan musik gamelan yang merupakan musik tradisional Jawa tersebut bukan dimainkan oleh orang dewasa melainkan anak usia Sekolah Dasar. Rumah milik Rukun Haryoto, lelaki berusia sekitar 60 tahunan tersebut memang menjadi tempat Paguyuban Keluarga Yogyakarta yang menjadi tempat berlatih musik gamelan para anak anak sekolah dasar.

Tradisi 2

Gamelan yang diajarkan oleh Rukun Haryoto kepada anak anak usia sekolah dasar( Foto: Hendricus Widiantoro)

Bersama dua laki laki lainnya yakni Widodo, Ngadiyuk, dengan sabar Rukun Haryoto mengajari anak anak yang sehari hari sudah mengenal gadget modern itu untuk bermain musik tradisional. Kesabaran terlihat dari tiga lelaki yang hidup sebagai petani dan pensiunan guru tersebut untuk mengarahkan anak anak tersebut mengenal not angka dan mengaplikasikannya dengan gamelan yang terdiri dari  Kendang,Rebab, Balungan yang terdiri dari Demung, Saron, Peking. Slenthem, selain itu Bonang, Kenong,Kethuk, Gambang,Gender, Siter, Kempul,Suling, Gong, masing masing dengan fungsinya.

Tradisi1

Belajar musik gamelan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Tiga lelaki ini memang memiliki semangat dan keinginan untuk tetap menyalakan api tradisi yang mungkin telah luntur dalam budaya Jawa khususnya bagi anak anak zaman sekarang yang sudah ditelan modernisasi. Mengajarkan pada anak anak usia sekolah dasar yang bisa saja memilih alat alat musik modern. Tetapi semangat dan antusiasme anak anak tersebut terlihat saat dengan seksama memperhatikan ketukan demi ketukan gamelan sesuai yang dipegang dan sesuai nada yang dihapalkan.

Menyalakan api semangat bagi generasi muda untuk tetap melestarikan tradisi meski sudah tergores modernisasi tak mematahkan semangat tiga lelaki berhati mulia ini. Menjaga tradisi langsung diterapkan dengan mengajari anak anak usai sekolah dasar dengan belajar langsung. Musik gamelan akan terus mengalun dengan ketukan tangan tangan mungil mereka berkat kegigihan tiga lelaki ini.

Bagiku memainkan gamelan terakhir kali kulakukan saat ada di kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta di kampusku Jalan Kaliurang dan kini dari dusun kecil ini masih ada semangat para sesepuh untuk tetap menularkan dan mewariskan tradisi musik gamelan. Menjaga api itu tetap jelas terlihat dari langkah yang dilakukan para lelaki ini agar generasi mendatang tetap bisa memainkan gamelan meski dunia sudah modern. Menjaga api tradisi di sebuah dusun kecil sehingga setiap minggu alunan gamelan masih bisa didengarkan oleh berbagai usia.

Tradisi 3

Anak anak usia sekolah dasar ini dengan seksama berlatih gamelan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Bagiku, sebagai bagian dari dusun kecil ini, menyemangati para pemuda untuk melestarikan tradisi tetap kulakukan dengan caraku. Meski dusun kecil dua kelompok kuda kepang bernama Sari Budhoyo dan Jaranan Sumbersari menjadi kelompok jaranan atau kuda kepang yang sering ditanggap oleh desa lain. Dusun kecil kami yang tetap menjaga api tradisi bagi generasi mudanya. Selain itu kelompk Karawitan milik Paguyuban Keluarga Yogyakarta pun rajin berlatih setiap Minggu malam dan Rabu malam.

Iklan
Categories: #MenjagaApi, Inspirasi, Kisahku | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: