Di Bawah Pohon Lamtoro Pak Tua itu Menyalakan Api Hidupku

Dalam cuaca panas, berdebu diantara kendaraan berbagai jenis di sepanjang Jalan Lintas Sumatera arah Pelabuhan Bakauheni kupacu kendaraan roda duaku. Siang yang panas menyengat tersebut tak menghalangiku untuk melaju ke sebuah tempat yang selalu menarik perhatianku namun selalu belum ada waktu untuk berhenti. Hingga saat tersebut memberiku kesempatan untuk berhenti sejenak untuk melihat aktifitas para pemecah batu yang sering ada di pinggir Jalan Lintas Sumatera Desa Sukabaru.

Widi1_Menjaga Api

Mengumpulkan pasir

Tebing tebing terjal yang dihancurkan biasanya dipenuhi dengan gubuk gubuk beratapkan pelepah kelapa kering untuk berteduh. Namun kini pemandangan tersebut sudah tak terlihat lagi karena para pemecah batu manual tersebut sudah kalah dengan alat berat yang memindahkan batu batu tersebut ke penampungan untuk selanjutnya dihancurkan dengan mesin penghancur batu.

Tak menemukan para pemecah batu tak lantas membuatku berhenti. Aku menyusuri jalan berbatu keluar dari jalan beton Jalinsum KM 55. Jalan berbatu yang kulalui membawaku ke sebuah lembah kecil dan tebing yang memunculkan sebuah air terjun kecil yang jika hujan terlihat indahnya saat air terjun tersebut mengalir dari ketinggian.

Widi5_Menjaga Api

Sambil menjaga dua ekor kerbau, mengangkut pasir

Sesampainya di bawah kulihat seseorang sedang menumpahkan satu irig (semacam alat angkut yang dibuat dari anyaman bambu) dengan alas dari sendal jepit bekas. Lelaki itu terlihat sesekali menyeka keringat karena sengatan matahari. Aku mendekatinya tanpa ingin mengganggunya kuawali percakapan disela sela aktifitasnya dan tetap  menjawab dengan ramah.

Setelah beraktifitas sesekali ia duduk di bawah pohon Lamtoro yang tumbuh di sekitar lembah bekas tambang batu tersebut. Lelaki itu bernama Rahman, warga Dusun Buring yang sehari hari dipercaya menjaga serta menggembalakan dua ekor kerbau milik puteranya. Sambil menunggu kerbau  itu merumput ia memanfaatkan waktu  dengan mengumpulkan pasir kali. Rahman mengaku diusianya yang sudah 40 tahun ia masih kuat mengangkut satu demi satu irig bambu tersebut.

Kenyataan yang kulihat ini pastinya berbeda dengan yang kulihat saat aku menjalani pendidikan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dulu. Aliran lahar dingin yang berubah menjadi pasir diangkut dengan menggunakan mobil dan diangkut dengan alat yang cukup modern, terlihat cepat dan bahkan dalam hitungan singkat truk demi truk tersebut membawa kubik demi kubik pasir ke berbagai wilayah di Yogyakarta.

Kenyataan ini tentunya berbeda dengan yag kulihat semasa di Yogyakarta. Lelaki tua ini mengangkut pelan pelan, selangkah demi selangkah pastinya tak akan mampu mengumpulkan pasir dalam jumlah banyak hingga berkubik kubik. Namun kesabaran dan juga sesekali memperhatikan dua ekor kerbau yang digembalakannya membuatku melihat semangat seorang anak manusia yang masih tetap berjuang dan memiliki api semangat dalam hidupnya tak terkendala usia.

“Saya menjualnya ke pengepul, namanya pak Suko tapi nanti kalau jumlahnya sudah cukup banyak , ya sekitar semingguan baru bisa terkumpul banyak, ” ujar pak Rahman kepadaku di bawah pohon Lamtoro.

Pasir sekitar satu kubik dihargai sekitar Rp 70 ribu. Pak Rahman juga mengaku semasa masih kuat tenaganya ia sempat menjadi pemecah batu yang berasal dari tebing tebing di pinggir Jalinsum untuk diremuk dengan alat linggis dan palu sehingga batu berukuran sedang akan berubah menjadi batu ukuran kecil untuk batu split. Memecah batu dalam waktu cukup lama pun terkadang hanya menghasilkan rupiah yang cukup untuk mengepulkan asap dapurnya. Namun masa masa itu sudah lewat dan kini ia hanya bisa bekerja sesuai kemampuan fisik yang tak lagi kuat bertenaga seperti tahun tahun sebelumnya.

Disela sela mengangkut pasir saat memindahkan tumpukan pasir di dasar sungai kering tersebut terkadang ia mengisahkan padaku ia tak mau merepotkan anak anaknya meski sudah tua. Bahkan ia justru senang anak anaknya bekerja di luar Sumatera diantaranya di Serang, banten di pabrik sepatu. Sementara dua ekor kerbau tersebut salah satu hasil anaknya bekerja dan dibelikan kerbau hingga beranak satu.

Widi6_Menjaga Api

Pasir dikumpulkan sementara sebelum dibeli pengepul

Rahman, lelaki tua itu seolah memperlihatkan kenyataan hidup bukan dengan kata kata mellainkan dengan tindakan bahwa usia tua tak menjadi penghalang untuk tetap bekerja bahkan pekerjaan berat sekalipun. Tak peduli panas terik kulihat api semangat hidupnya tak padam. Tak mau merepotkan orang lain dan melakukan pekerjaan yang baginya bisa menyambung hidup.

Aku tak bisa memberinya apa apa kali ini. Seusai pamit dengannya aku memacu roda duaku untuk pulang ke rumah. Semangat yang ada di hadapanku tadi seolah membakar api hidup dalam diriku. Semangat itu tak boleh pudar mengingat usiaku masih dianugerahi muda dibanding pak Rahman. Menjelang Natal kuharap aku bisa memberinya sesuatu untuk keluarganya entah apapun itu nantinya.

Sesampainya di rumah kulihat ban motor bagian depan tertembus paku. Bercampur lelah, kecewa dengan ban motor yang bocor sambil membawanya ke tukang tambal ban pikiranku masih teringat pak Rahman. Tak boleh mengeluh hanya karena ban bocor. Di bawah pohon Lamtoro ia membakar api hidupku untuk giat bekerja selagi muda. Membuatku lebih bersyukur, meski aku dalam kondisi susah sekalipun aku tetap harus melihat orang lain yang harus berjuang untuk hidupnya.

Iklan
Categories: Inspirasi, Kisah Kisahku, Kompetisi #MenjagaApi, Menjaga Api | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: