Pengumpul Pasir yang Tak Tau Arti Korupsi

Pasir1

Pengumpul pasir (Foto: Hendricus Widiantoro)

Semua orang memiliki cara untuk menyambung hidupnya dan menghidupi keluarganya. Bahkan untuk survive dari hidup ini orang akan melakukan berbagai cara: entah yang baik atau tidak. Bahkan yang berpenampilan baik pun tak semuanya melakukan hal yang baik, konkritnya para koruptor yang menghabiskan uang rakyat untuk kepentingan pribadi: memperkaya diri sendiri, mengumpulkan harta sebanyak mungkin tentunya bukan untuk rakyat tapi untuk keluarganya sendiri. Meskipun demikian toh pekerjaan mereka dipandang baik di mata orang sekelilingnya karena pelaku korupsi ini adalah orang yang rata rata memiliki jabatan tinggi entah di sebuah lembaga pemerintahan maupun di lembaga non pemerintah.

Aku pernah ditantang untuk membuat impian : apa yang akan kamu lakukan jika kamu diberi kedudukan dan atau kekayaan dari hasil korupsi. Aku hanya diam karena hal hal yang ditanyakan tersebut merupakan sebuah pertanyaan yang mungkin membuatku bertanya tanya: siapakah aku ini?

Faktanya korupsi masih bisa dan terus terjadi. Dalam perjalananku kucoba mendekati seorang pencari pasir. Ia berusia kira kira 40 tahun atau lebih karena aku mengobrol bersamanya tak sengaja. Rasa empatiku muncul, sebungkus rokok kuberikan padanya dan mengajaknya mengobrol di sela sela istiahatnya. Dua ekor kerbau yang berada di kubangan air terlihat memperhatikan kami.

Dalam istirahatnya aku sempat menayakan kepadanya mengapa ia mau mengangkut pasir di tempat yang sepi dan bahkan orang tak mau berada di tempat sepi tersebut. Ia mengaku sambil menunggui dua ekor kerbau milik puteranya daripada tak melakukan apa apa diangkutnya pasir dengan alat yang dibuat sedemikian rupa untuk mengangkut pasir. Satu angkatan demi angkatan hingga terkumpul.

“Daripada menganggur de, saya ambil pasir ini lalu saja jual ke pengepul” ujar laki laki tua yang sebagian rambutnya sudah memutih tersebut.

Pasir 2

Pengumpul pasir (Foto: Hendricus Widiantoro)

Dengan langkah pelan ia berkali kali turun naik dari dasar sungai kering yang menyimpan pasir dan batu tersebut. Hatiku terasa teriris. Inilah Lampung Selatan dengan segala keindahan dan tentunya dengan denguan dan semboyan Gerbang Pulau Sumatera. Masih ada sekeping luka yang tersisa di antara rerimbunan pohon dan tersembunyi di dasar lembah.

“Pak pernah dengar korupsi enggak yang di tv tv itu?” kataku sambil memintanya untuk berteduh di bawah pohon.

“korupsi apaan ya de?” ucapnya.

Pertanyaan tak kulanjutkan yang pasti ia tak mengetahui apa itu korupsi dan apa itu duit negara yang digerogoti oleh para koruptor.

“Saya mah nyari pasir untuk dijual de, kalau sudah banyak nanti dijual paling dapat 70 ribu satu rit nya” ujarnya.

Lelaki ini hanya pengumpul pasir dan ia tetap memiliki harapan untuk bekerja. Langkah demi langkah untuk membawa sewadah demi sewadah yang dipanggulnya. Alat dari bambu yang dimodifikasi dengan sendal jepit tersebut pasti terasa berat mengingat usianya yang tak lagi muda.

Ia tetap berharap bisa membahagiakan anak anaknya. Istrinya. Harapan bagi semua orang yang memiliki keluarganya.

Harapan terhadap adanya bantuan kompensasi BBM yang menurutnya didapat cukup untuk makan, tak lebih untuk hal lain.

“Lihatlah dan bukalah mata batinmu, melihat yang lemah dan terluka namun semangatnya tak kan pernah pudar. Hingga Tuhan kan berikan jalan…”

Aku ingat syair lagu dalam acara tv swasta tentang kehidupan orang orang pinggiran tersebut. Semua itu ada di sekitar kita.

Semoga engkau diberi kesehatan dan kekuatan selalu pak!

Pasir 6

Pengumpul pasir (Foto: Hendricus Widiantoro)

Pasir 3

Pengumpul pasir (Foto: Hendricus Widiantoro)

Iklan
Categories: Inspirasi, Kisahku | Tag: , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: