Terang Bulan Masa Kecil dan Kini

3

Terang bulan, full moon memiliki arti yang berbeda beda di segala usia. Jika puluhan tahun lalu terang bulan yang masih terngiang diingatan adalah bermain “slodoran” yang merupakan permainan masa kecil yang aslinya bernama “Go Back Shoot Door” tapi karena anak kecil lebih mudah ngomong “slodoran“. Terang bulan menjadi saat tepat untuk berkumpul di lapangan apalagi jika tepat esok harinya adalah hari Minggu , malam Minggu digunakan untuk bermain di lapangan. Lapangan rumput dan sebagian berdebu disulap menjadi lapangan slodoran menggunakan abu dari sekam yang akan memberi kesan warna putih menjadi enam kotak. Semua yang pernah tinggal di desa pasti pernah mengalaminya.

Bagi yang muda beranjak dewasa malam Minggu , Sabtu malam tetap digunakan untuk bemain dan bercengkerama di bawah temaram sinar bulan menambah kesan romantis bukan di kafe atau mall dengan cahaya listrik yang menyilaukan dengan ditemani kopi  produk luar negeri  tapi kopi tumbukan sendiri  di bawah sinar bulan. Zaman yang masih “asri” saat anak anak seusia Sekolah Dasar menaiki atau memiliki sepeda adalah barang mewah, saat belum ada benda yang namanya Handphone atau telepon genggam. Bahkan saat menonton televisi hanya bisa dilakukan di rumah kepala desa atau orang “berada” yang bisa memiliki. Saat sinar Rembulan menjadi sinar paling cerah di malam hari karena belum ada listrik. Itulah suasana di masa kecilku.

2

Kini sinar bulan tak akan begitu terlihat terang jika memandangnya sambil menyalakan lampu listrik. Pergi ke tanah lapang dan jauh dari sinar lampu dari bumi adalah cara asik menikmati cahay bulan. Setidaknya kini sudah berubah. Tak ada lagi anak anak kecil bermain “slodoran” di malam hari meski di lapangan desa kami bahkan sudah disemen. Anak anak usia SMP pun kini sudah asik dengan gadgetnya dan bahkan asik kebut kebutan dengan motor milik orangtuanya.

Saat sinar bulan adalah terang yang digunakan oleh para orangtua untuk menjelaskan arti bersyukur, arti mengagumi karya Sang pencipta. Alam menjadi cara orangtua untuk mengajarkan pada anak anak Sang Pengada Segala Yang Ada. Seperti puteriku yang masih selalu bertanya siapa pencipta Bulan, Bintang  di malam hari dan Matahari di Siang hari. Kearifan kearifan lokal yang mulai terkikis dan pergeseran dalam memahami dunia dan isinya. Segala perubahan yang baik dan juga buruk beriringan. Bahkan dalam memaknai saat saat bulan terang benderang.1

Kini gadget dan sosial media, jejaring sosial lebih dominan menjadi sarana ekspresi bebas! Mengelu di Sosial Media, jejaring Sosial, bahkan berdoa , dan menyampaikan segala keluhan. Mungkin hanya sedikit anak anak dan remaja yang berkumpul di bawah sinar bulan sambil bercengkerama tanpa memegang gadgetnya.

Terang bulan di masa kecil dan kini  pasti tetap sama, namun perubahan dalam semua hal membuat cahaya bulan menjadi sebuah fenomena yang bergeser pemaknaannya. Kearifan lokal di masing masing daerah yang belum banyak tersentuh modernisasi bisa jadi masih seperti masa kecilku. Namun sinar bulan, Bulan yang bersinar benderang akan tetap sama dan Sang Pencipta tetap menyinari dunia dengan benda malam ini untuk menyinari bui dan seisinya.

Iklan
Categories: Bulan, Inspirasi | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: