Sang Pemilik Mata

images (6)

Mata (Google)

Hari baru akan berganti ketika aku menginjakkan kaki di rumah ini. Rumah yang tampak mewah, besar, dengan garasi dan halaman yang super besar dan luas. Tiang-tiang penyangga berdiameter 150 sentimeter dengan kokoh menyangga dak lantai dua dan atapnya. Taman di halaman depan dan belakang rumah hasil desain arsitektur ruang terbuka bergaji bak Anggota Dewan menyejukkan mata. Tak kurang sebuah kolam renang berukuran 9 x 5 meter juga menghiasi halaman belakang. Rumah bergaya kebaratan ini tampak diminati hampir setiap orang yang lewat didepannya.

Kaya ataupun miskin. Mungkin hanya orang tuna netra yang enggan jika secara cuma-cuma diberikan rumah yang sepertinya layak dikatakan istana. Memang, penampakan luar sangat mudah mengecoh siapapun pemilik mata. Juling atau normal atau bahkan belo sekalipun. Tetapi jika kita lihat lebih dekat, rumah ini lebih tepat disebut kos-kosan. Aku menganggapnya demikian. Hanya menjadi tempat persinggahan sekedar merebahkan badan. Terasa sempit dan sering terasa membosankan.

images (7)

Kolamrenang.com

 

Jakarta. Orang bodoh mana lagi yang rela mencicipi kerasnya kehidupan disini tanpa persiapan. Apalagi hanya bermodalkan nekat. Bersiaplah untuk diselengkat. Kalian boleh bertaruh denganku kalau hidup di Jakarta sama kerasnya dengan hidup di medan perang. Atau bahkan lebih buruk. Hidup di medan perang sepertinya selalu dikejar maut. Membuatmu selalu bersiap bertekuk lutut. Setiap langkah dan tindakan harus dipertimbangkan matang-matang. Salah sedikit nyawa melayang. Salah banyak teman seperjuangan terlentang, tak bernyawa. Salah langkah musuh menyergap atau mungkin terkena sial menginjak ranjau darat. Dan berujung sekarat.

Kurang lebih hidup di Jakarta sama seperti itu. Bedanya, jika di medan perang salah mengambil keputusan akan berakhir dengan kematian, di Jakarta justru orang-orang yang mati yang akan membunuh kalian. Mengubah kalian menjadi zombi. Mayat hidup. Kanibal. Mengubah kalian menjadi sama seperti mereka. Mencabik-cabik daging saudara mereka sendiri. Tanpa hati. Melahapnya dengan rakus seperti melahap santapan berbuka puasa.

Aku beruntung tetap menjadi diriku sendiri. Bukan zombi. Mungkin modalku tidak hanya sekedar nekat tapi juga cermat. Aku selamat. Aku tetap aku. Diriku. Mereka tetap mereka. Diri mereka. Zombi. Kanibal.

 

Aku tergolong sukses di Jakarta. Terlihat dengan pekerjaanku yang selalu membuat orang lain, mereka, iri. Mereka, pemilik panca indera yang hanya menggunakan matanya. Sepanjang hari kerjaku hanya diam mulai dari matahari memperlihatkan keangkuhan cahayanya sampai-sampai tak ada yang sanggup menatapnya lama-lama, hingga tenggelam ditelan malam dan digantikan gemerlapnya lampu Ibu Kota. Walau hanya diam tapi lihatlah aku. Aku kaya. Rumahku mewah. Pemilik mata hanya sanggup memimpikan ini semua. Kasihan.

Hasratku sangat tinggi. Sepertinya lebih tinggi dari Marilyn Monroe atau siapalah artis-artis barat itu. Aku selalu ingin disetubuhi, dinikmati, dipakai. Aku hanya “dipakai” di momen-momen tertentu. Padahal, aku wangi, bersih, lembut, dan tergolong mahal. Tapi entah mengapa mereka melewatkanku. Menggantinya dengan yang tak seberapa. Bahkan cenderung hina. Alasannya? Dalil cinta. Membosankan!Sekian lama aku menahan hasratku hingga terpenuhi. Kukuasai diriku hingga rasanya tak terperi lagi. Siapapun, tolong bantu aku salurkan ini…

 

********

Dewasa ini mereka sedang terkena demam berpasang-pasangan. Mungkin karena sejalan dengan bertambahnya umur mereka. Mungkin juga karena dampak teknologi maupun jaringan sosial yang berkembang pesat. Pun karena sinema elektronik dan film televisi yang makin tak karuan mutunya. Mungkin juga karena satu orang dengan pendapat bodohnya mem-post isi otak kopongnya di akun jejaring sosial. Dan dengan anehnya, mereka mengamini. Mungkin karena candaan. Mungkin juga serius. Entahlah yang jelas pendapat bodoh mereka tentang berpasangan telah menjamur dari kalangan tua hingga ABG. Ternyata mudah sekali menyebarkan kebodohan kepada pemilik mata.

Seperti musim kawinnya burung Merak kurang lebih. Semua berlomba. Berlomba untuk mendapat pasangan. Seolah hidup soliter merupakan aib yang besar layaknya borok berdiameter 3 senti meter di wajah pemiliknya. Semua mencoba terlihat menarik. Dari elegan sampai antik. Mereka meng-edit rupa mereka. Berbekal teknologi, rupa mereka dari hitam berubah putih. Dari gembil menjadi tirus. Dari kusam menjadi cerah.

Semua berlomba menata tampilan mereka. Semua ingin menjadi sempurna. Demi memuaskan para pemilik mata. Demi menutupi aib mereka. Demi mendapat pasangan. Demi bisa berjalan bergandengan.Mereka mengubah apapun menjadi indah menurut sepengelihatan para pemilik mata. Seakan malu dengan pemberian asli Tuhan mereka. Kira-kira seperti inilah zombi-zombi Ibu Kota.

Si miskin ingin terlihat kaya. Si seksi ingin terlihat sensual. Si jelek ingin terlihat rupawan. Seolah terlihat tak ada lagi ruang kekurangan. Si miskin menikah dengan si kaya, lalu si kaya diracun. Jadilah si miskin menjadi kaya. Si seksi karena sukses terlihat sensual sembilan bulan kemudian beranak satu. Sayangnya akibat diperkosa ayah tirinya sendiri. Si jelek operasi plastik. Sayangnya ketika pulang kampung, orang tuanya sendiri tidak mengakui dirinya karena menurut orang tuanya anaknya tidak serupawan ini. Orang tuanya ingin anaknya yang jelek saja. Si pintar nan licik ingin bertambah kaya. Jadilah dia memintar-mintari si bodoh. Sayangnya si bodoh telat menyadari. Hingga akhirnya si bodoh jatuh miskin. Tapi, biarkanlah semua seperti ini. Toh, aku hanya penonton. Penikmat semua pertunjukan mereka ini. Lebih seru lebih baik. Menunggu klimaks-klimaks yang asik. Pertunjukkan yang ditayangkan secara live sehari-harinya ini merupakan hiburanku. Hiburan ala Ibu Kota. Hiburan ala Jakarta. Atau bahkan kota Lainnya. Tapi, Aku menginginkan yang lebih. Yang lebih, lebih ekstrim, lebih kejam, lebih berbahaya dibanding medan perang yang hanya berkomplikasi dengan kematian atau cacat tetapi dengan gelar pahlawan.

Entah apa yang mereka tuju. Kehidupan modern seperti inikah yang mereka dambakan? Atau hanya sekedar mengikuti arus yang mereka ciptakan sendiri? Yang akhirnya menghanyutkan mereka yang sejak awal hanya mengikuti tanpa tahu konsekuensi. Celakalah sang pengikut arus. Mereka tidak tahu tujuan mereka. Seperti nelayan yang berlayar tanpa tahu arah. Tersesat tertiup angin barat dan timur. Tak paham arti bintang utara. Terombang ambing mengikuti ombak pasang dan surut. Tersesat dibawah teriknya matahari yang membakar kulit dan bersama kedinginan malam yang menusuk tulang. Hingga pada akhirnya mati. Mati kehausan. Mati bodoh. Entah mana yang lebih tepat. Meminum air laut dengan harapan dahaganya hilang. Pemilik mata yang malang.

Dalam lamunanku tiba-tiba hasratku meninggi. Entah apa yang merasukiku. Aku ingin disetubuhi sekarang. Aku ingin dinikmati sekarang. Aku ingin dipakai sekarang. Lagi-lagi dahagaku melayang, melayang kembali.Siapapun, tolong bantu aku salurkan ini…

******

Akhirnya tersalurkan. Namun sampai sekarang aku tak tahu apa yang mereka pikirkan. Mereka hanya memakaiku di dua momen tertentu saja sepanjang hidup mereka. Pertama saat beribadah. Kedua saat mengunjungi rumah duka. Akupun tak tahu mengapa mereka menamaiku koko. Aku bukan turunan China. Mataku besar. Sebesar jengkol tua.

Kadang mereka juga menamaiku muslim. Padahal aku tidak beragama. Aku tak percaya Tuhan. Jika Tuhan memang ada, aku ingin dia memakaiku sekarang. Nyatanya doaku tak pernah jadi nyata. Mungkin Tuhan memang tak ada. Atau mungkin Tuhan tak berselera.

Ah, apalah arti sebuah nama. Yang berharga toh tetap berharga walau buruk nama. Seperti sebatang emas 3 kilogram. Meskipun namanya kuubah menjadi tahi pun tetap bernilai ratusan juta rupiah. Hmmm, tapi rasa penasaranku belum juga habis. Hasratku belum sepenuhnya turun. Aku ingin dipakai.Sekarang. Lalu saat itu tiba…

“Nak, kamu nggak solat jumat?”

“Memangnya ini hari apa?”

“Jumat, nak! Yaampun!”

“Oh! Iya, Bu, hampir lupa!”

“Huh, bagaimana,sih! Ini baju kokonya sudah Ibu setrika”

“Bukan baju koko, baju muslim kali buuuu hahaha”

(Cerpen ini ditulis oleh Diano Ramadhan Fauzan yang mengirimnya via email)

 

13/06/2013 21:16

Iklan
Categories: Backpackeran, Kisahku | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: