Jembatan Selat Sunda : Pengkhianatan Hakikat Negara Maritim?

Akan tiba saat dimana sesuatu yang kita bangun dalam jangka waktu yang tak sebentar akan dihancurkan oleh keburukan dan ketamakan orang lain dalam waktu singkat. Bahwa semua itu kita peroleh dari hal-hal yang tidak benar. Namun, tetaplah membangun. Tegakkan kembali kebaikan-kebaikan itu. Itulah sebuah nasehat pagi ini yang kupakai untuk membuka postinganku kali ini. Sebuah nasehat yang mengena dan memang kualami dalam kehidupan ini.

2130197

Konsep Jembatan Selat Sunda (Net)

Namun tulisanku kali ini bukanlah soal nasehat ataupun kata kata bijak namun soal yang menjadi isu nasional bahkan isu yangs elalu didengung dengungkan sejak aku duduk di Bangku sekolah dulu. Isu terkait Sunda Strait Bridge atau Jembatan Selat Sunda. Bayangan bayangan sebuah jembatan berukuran panjang, tinggi, lebar yang membentang di antara Pulau Jawa ke Pulau Sumatera tersebut terus terngiang ditambah foto foto yang sudah dicanangkan. Namun yang menjadi kenyataan jembatan antar Pulau di Indonesia yang sudah terealisasi adalah Jembatan Surabaya Madura penghubung Pulau Jawa dan Pulau Madura.

Judul dalam artikel media daring yang kubaca memang ada benarnya yang ditulis oleh Yayan Sopyani Al Hadi: Pembangunan JSS Khianati Hakikat Negara Kepulauan. Berikut tulisan yang membuat berpikir membuat merenung benarkah selama ini rencana Mega Proyek yang didengung dengungkan tersebut?

???????????????????????????????

Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS)berbanding terbalik dengan kondisi Indonesia sebagai Negara Kepulauan. Dalan Negara Kepulauan, laut merupakan penghubung antar-pulau, dan bukan pemisah antar-pulau.

Karena itu, secara tegas Indonesia Maritime Institute (IMI) menolak pembangunan JSS ini. Direktur IMI, Y Paonganan, mengatakan pembangunan JSS yang akan menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera ini diperkirakan akan menelan dana 200 an trilyun. Dan pembangunan JSS adalah bentuk pengkhianatan tehadap NKRI sebagai negara kepulauan yang harusnya mengedepankan strategi maritim dalam membangun negara ini.

“Seharusnya yang dilakukan adalah meningkatkan infrastruktur maritim di Selat Sunda seperti penyebarangan Merak-Bakaehuni dan merampungkan pembangunan PIB (Pelabuhan Internasional Bojonegara) di Serang Banten,” kata Paonganan, Rabu malam (31/7).

Bahkan lanjut Paonganan, JSS juga akan menghalangi ALKI Selat Sunda yang merupakan amanat dari UNCLOS 82 sebagai konsekuensi dari dicetuskannya Deklarasi Djuanda 1957. “Pemerintah jangan terlalu yakin dan ambisius dengan pembangunan JSS, perlu dipertimbangkan faktor-faktor lainnya yang kemungkinan justru akan mempermalukan Indonesia di mata Internasional,” ungkapnya.

Selain itu, Ongen, kerap Paonganan disapa, menambahkan kerawanan gempa di Selat Sunda sudah diwanti-wanti oleh pakar geologi. Aspek oseanografi juga harus diperhatikan dalam pembangunan JSS yang bisa berpotensi mengubah pola arus yang akan berimplikasi terhadap kehidupan biota laut yang ada diperairan Indonesia.

“Penolakan kami bukan tanpa sebab, karena JSS merugikan semua sektor,” tandas Ongen. [ysa]

Nah konsep Pembangunan JSS akhirnya dibatalkan atau setidaknya “ditunda” untuk jangka waktu yang tak ditentukan oleh pemerintahan Presiden Jokowi-JK.

Beberapa hal yang membuat berpikir diantaranya : Biaya JSS Rp200 T lebih baik dialihkan ke Infrastruktur Lain, Proyek Jembatan Selat Sunda Resmi Dibatalkan, JSS Batal Pemerintah Akan Perbaiki Dermaga dan pelayanan, Menhub Setuju Jembatan Selat SUnda Dibatalkan.

Kenapa bisa batal sih? Pertanyaan itu pasti terucap jika mendengar pernyataan Jembatan Selat Sunda Dibatalkan. Berikut alasannya yang ditulis Raisa Adila, jurnalis Okezone.

Batalnya proyek Jembatan Selat Sunda (JJS), akan membuat pemerintah membangun proyek-proyek lain yang lebih menguntungkan. Pasalnya, pemerintah akan mengganti JSS dengan proyek-proyek dermaga.

“Gampang. Kurangi kapal-kapal tua, tambah dermaga perbaiki sistem pelayanan, dan taruh kapal baru,” ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Andrinof Chaniago di kantor Kemenkeu, Jakarta, Kamis (6/11/2014).

Andrinof menambahkan belum memikirkan letak penambahan dermaga baru yang direncanakan. Namun, itu akan menjadi pembahasan secara teknis selanjutnya.

“Secara hitung-hitungan kalau nambah dermaga dan armada ya masalah kita itu terjawab,” ungkap Andrinof.

Kuantitas kapal dan frekuensi lalu lintas yang lambat, lanjutnya, sebagai permasalahan utama pada lalu lintas Selat Sunda. Sementara itu, ketika ditanyakan mengenai anggaran untuk tambahan dermaga dan armada, Andrinof tidak memberikan keterangan lebih jelas.(rzy)

Secara pribadi beberapa hal yang kulihat di lapangan adalah adanya banyak dermaga yang hancur, tak layak dan bahkan rusak dan tak bisa dipakai lagi hal yang sangat miris jika kembali melihat sejarah bahwa negara Indonesia adalah negara MARITIM. Negara yang lautnya lebih luas dari daratannya. Fakta bahwa dermaga dermaga penghubung antar pulau yang sangat memprihatinkan tak bisa dipungkiri seperti yang kujepret berikut ini:

AB4

Dermaga Keramat Kecamatan Ketapang yang rusak (Foto: Hendricus Widiantoro)

AB 5

Dermaga Keramat Kecamatan Ketapang yang rusak (Foto: Hendricus Widiantoro)

AB1

Dermaga Keramat Kecamatan Ketapang yang rusak (Foto: Hendricus Widiantoro)

AB3

Dermaga Keramat Kecamatan Ketapang yang rusak (Foto: Hendricus Widiantoro)

Negara yang pulau pulaunya banyak seolah justru meninggalkan konsep kelautannya dan inilah yang membuat nama Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan ngotot untuk menjadikan laut sebagi sebuah lahan yang bagus untuk ekonomi bangsa.

Jika JSS dibatalkan maka “Pengkhianatan” terhadap konsep maritim bisa kembali direnungkan apa saja yang perlu dibenahi. Pastinya dermaga dermaga penghubung antar pulau, kapal kapal yang representatif. Apalagi dalam kenyataannya banyak tempat wisata yang harus menyeberang antar pulau justru menggunakan kapal kapal tradisional yang keselamatannya masih perlu ditingkatkan.

MAritim 2

Nelayan (Foto :Hendricus Widiantoro)

Maritim 1

Dermaga Rusak (Foto : Hendricus Widiantoro)

Jika rencana pemerintah akan memperbaiki dermaga dan pelayanan maka Pelabuhan Merak Bakauheni taka kan selalu menjadi langganan kemacetan akibat armada yang kurang dan dermaga yang kurang yang selama ini menjadi persoalan klasik alasan lamanya Siling Time di Selat Sunda.

Pembatalan Jembatan Selat Sunda semoga bisa mengafirmasi kalimat pengkhianatan terhadap konsep negara kepulauan. Jika hanya jargon dan tak dibenahi oleh pemerintah maka kalimat kalimat itu tak akan menjadi kenyataan.

Para wisatawan, pemudik, penumpang, masyarakat, warga antar Pulau pastinya harus mendapatkan sarana prasarana layak khusunya dalam transportasi laut: dermaga yang layak, kapal layak dan pelayanan yang lebih baik. Semoga konsep kemaritiman yang digaungkan Presiden Jokowi benar benar akan menjadikan bangsa Indonesia kembali ke masa kejayaan Maritim seperti yang dibaca dalam literatur sejarah masa masa sekolah.

Semoga semboyan Jalesveva Jaya Mahe : Di Laut Kita Berjaya tidak tertelan gelombang laut dan bukan hanya menjadi slogan Angkatan Laut tapi menjadi jati diri bangsa Indonesia. Tak ada lagi Jalesveva Jayamahe ora ono duite (Kenapa?) karena dari beberapa percakapan yang kulakukan dengan pelaku pengamanan di laut kapal kapal patroli tak bisa berjalan karena tak ada solar. Biaya operasional untuk mengamankan laut dari pelaku pelaku ilegal fishing dan pencuri ikan kurang. Ini sebuah pekerjaan rumah pemerintahan Jokowi.

Jalesveva Jayamahe!

Iklan
Categories: Inspirasi, Jembatan Selat Sunda, Jokowi, Kisahku, Maritim | Tag: , , , , , , , , , | 7 Komentar

Navigasi pos

7 thoughts on “Jembatan Selat Sunda : Pengkhianatan Hakikat Negara Maritim?

  1. gk kebayang klo jd

    • Jujur aku secara pribadi ga mendukung karena banyak faktor. JSS aja blm jadi mba Winny, investor atau pemodal sudah “menghabiskan” beberapa tanah di sini. Beberpa tanah yg ada di sini bahkan sudah dikuasai oleh orang dri luar. Menggiurkan JSS tersebut bagi para kapitalis dan JOKOWI tepat membatalkan JSS. Itu bagus banget menurutku. Banyak faktor menjadi pertimbangan dan konsep MARITIM memang harus kembali ditekankan NUSANTARA bukan JEMBATANRA…

  2. judulnya tulisannya bagus… Saya sependapat dengan penulis, tidak tepat jika menghubungkan pulau satu dengan pulau lainnya dengan jembatan. Perbaikan dermaga dan transportasi laut yang perlu diperbaiki 🙂

    • Saatnya Indonesia “kembali” ke Kejayaan Maritim mas JONAZ..biarkan Menteri Perhubungan JONAS melakukan tugas untuk “menghubungkan” pulau pulau yang ada di Indonesia dengan Armada armada kapal yang bagus dan layak. Negara Maritim yang jaya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: