Lestarikan Tradisi Generasi Ke Generasi : Silaturahmi dan Kebersamaan

Melestarikan tradisi yang sudah turun temurun dari tahun ke tahun apalagi tradisi yang adiluhung harus tetap dijaga oleh warga di Dusun Sumbersari Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan. Tradisi malam 1 Suro ataupun dalam penanggalan sebagai tahun baru Hijriyah ataupun malam 1 Muharram tetap menjadi sebuah tradisi yang masih terjaga hingga kini. Suasana kesederhanaan dan kebersamaan yang begitu kental tanpa memandang suku, agama apapun.

9

Malam 1 Suro di Dusun Sumbersari Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan 24/10/2014 (Foto: Hendricus Widiantoro)

Prosesi atau tepatnya tradisi ini sudah mulai sejak puluhan tahun silam. Dari yang penulis ingat sejak duduk di bangku Sekolah Dasar hingga kini bahkan tradisi semacam ini masih berlangsung bahkan justru semakin lestari dan ditunggu tunggu oleh semua warga di Dusun Sumbersari. Dari sore hari kesibukan sudah mulai terasa di setiap rumah.  Menyiapkan hidangan yang akan dibawa pada malam harinya di tenpat yang sudah biasa menjadi titik sentral kegiatan tersebut di Dusun Sumbersari yakni di pertigaan jalan.

Para ibu ibu pada sore hari mulai memasak dengan hidangan berbagai jenis. Semuanya dijamin sangat enak untuk lidah warga di pedesaan seperti kami apalagi anak anak yang pasti akan sangat antusias menyambut datangnya kegiatan ini. Nampan yang terbuat dari rangkaian pelepah pisang menjadi ciri khas dengan wadah wadah daun pisang yang dibuat menyerupai mangkok untuk meletakkan makanan yang biasanya memiliki menu: nasi, lauk pauk lengkap.

Sekitar pukul 18:00 WIB pada malam ini (24/10/2014) di pertigaan jalan yang menghubungkan Dusun dari arah Timur ke Barat dan Selatan ke Utara sudah berkumpul ratusan warga. Tua muda, anak anak sberdatangan dengan membawa nampan dari pelepah pisang, plastik atau berbagai wadah lain lengkap dengan makanan yang tersaji.

1

Anak anak mulai berkumpul di antara hidangan takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

Oleh banyak warga dari generasi ke generasi acara ini dinamakan “Takiran”. Namun apapun istilahnya terlihat kebahagiaan terpancar dari wajah wajah anak anak yang ada di Dusun Sumbersari. Sebelum acara dimulai anak anak akan bermain di bawah temaram lampu jalan yang menerangi tempat akan dilangsungkannya acara.

Setiap keluarga yang datang biasanya membawa porsi makan sesuai jumlah keluarga yang ada di masing masing Rumah Tangga kadang juga memberi lebih.  Tradisi ini menurut tetua kampung kami Nasruloh meski kental dengan nuansa Islami dan memang demikian namun kentalnya tradisi Jawa menjadikan tradisi ini tetap lestari. Bahkan dalam pengalaman dari tahun ke tahun simbol simbol tersebut menjadi lebur karena kebersamaan, silaturahmi.

Kebersamaan, melestarikan tradisi dari generasi untuk menjalin silaturahmi membuat acara ini tak lekang oleh waktu dan tak tergerus oleh modernisasi.  Bahkan generasi yang ada di perantauan selalu merindukan saat saat seperti ini.

Setelah ratusan warga berkumpul maka hidangan yang diletakkan di jalan dengan arah Barat-Timur, Selatan-Utara tersebut dikelilingi oleh warga. Tetua kampung akan memberikan kesempatan untuk memimpin doa yang dilantunkan menurut agama yang dianut oleh warga. Sebuah pluralisme yang masih saling menghormati satu sama lain. Bahkan jika mau dilihat Masjid dan Gereja di Dusun Sumbersari berdiri berhadapan layaknya MAsjid Istiqlal dan Katedral di Jakarta.

Doa pertama dimulai dari pemuka agama Islam dan selanjutnya pemuka agama Kristen Katolik. Inti doa kurang lebih sama memohon keselamatan dan tak lupa bersyukur atas panen, rejeki, serta kebersamaan di Dusun kami  di tahun tahun yang sudah lewat dan memohon keselamatan untuk waktu mendatang yang akan dijalani. Setelah doa dari masing masing agama selanjutnya tetua kampung akan memberi pengarahan dan inilah waktu yang ditunggu!

Keseruan tradisi ini terekam dalam foto foto berikut:

9

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

10

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

11

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

2

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

3

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

4

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

5

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

6

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

7

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

8

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

Setiap orang per kepala dipersilakan mengambil makanan yang dibawa oleh seluruh warga. Diperkenankan mengambil dan tak boleh dibuang asal dimakan. Biasanya warga akan mengambil makanan yang bukan dibawanya dari rumah melainkan mengambil yang milik keluarga lain. Simbol pemberian satu sama lain. Inilah momen yang paling disukai oleh anak anak. Terkadang terkesan berebut namun di sinilah yang menjadi kenangan tak terlupakan bagi mereka. Harapan agar tahun depan pun masih bisa melanjutkan acara serupa didengungkan oleh tetua kampung.

Iklan
Categories: Inspirasi, Kisahku, Pluralisme | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: