Mendinginkan Hati di Air Terjun Way Kalam

Go Lost 1

Air Terjun Way Kalam Kecamatan Penengahan Lampung Selatan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Akhir pekan, tas backpackerku dan Revo kesayangan sudah menunggu. Seperti tradisi sebelum sebelumnya jika ada kawan baru pulang dari luar daerah hal paling utama adalah mengunjungi lokasi lokasi yang tak pernah ditemui di kota. Kali ini salah seorang kawanku dari Provinsi Banten pulang kandang.

Menghirup udara perkotaan membuatnya ingin menikmati hawa dingin pegunungan ditambah cuaca yang cukup panas dan berdebu. Plus ingin merasakan keheningan di antara pepohonan hutan yang rimbun dan mendengarkan suara “kawan kawannya” di antara pepohonan berusia puluhan tahun diantara aliran air di punggung Gunung Rajabasa. Ya hari ini kami mengunjungi Air Terjun Way Kalam .

“Sekaligus mendinginkan hati, mendinginkan pikiran. Di kota bising, kadang emosi dan pikiran tak terkontrol maklum macet dan hiruk pikuk hampir jadi santapan sehari hari. Ayo menghilang sejenak! Menemui kawan kawan lama di pepohonan dan bebatuan serta air terjun” ujarnya.

0_2

Tebing menyerupai Green Canyon di jalan menuju Air Terjun Way Kalam (Foto: Hendricus Widiantoro)

Biasanya Narso kawanku ini mengajak ke pesisir untuk keliling Gunung Rajabasa dengan motor. Namun cuaca panas agaknya mengurungkan niat untuk menyusuri pantai. Setidaknya kebutuhan akan udara dan hawa sejuk membuat keputusan destinasi yang akan dilakukan untuk : hiking, traking, panjat tebing, panjat gunung kali ini adalah Air Terjun Way Kalam di Kecamatan Penengahan Lampung Selatan. Bagi yang berasal dari daerah Penengahan dan sekitarnya pasti tak asing dengan tempat ini. Apalagi di masa masa sekolah biasanya Pramuka menjadikan tempat ini sebagai salah satu tujuan dan jalur untuk hiking

Perjalanan dengan destinasi Air Terjun Way Kalam, Desa Way Kalam, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, terlaksana juga meski sebelumnya akan mengajak kawan lainnya karena tak bisa terpaksa kami berangkat berdua menggunakan Revo. Rupanya di tempat tersebut beberapa anak muda sudah lebih dahulu berada di lokasi air terjun.

1

Air Terjun Way Kalam diambil 4 Oktober 2014 (Foto: Hendricus Widiantoro)

Meskipun musim kemarau namun  pemandangan alam Way Kalam dari mulai masuk melalui Desa Banjarmasin  menuju ke desa  Way Kalam sudah terasa kesejukannya. Dari titik ketinggian biasanya dapat dilihat laut yang membiru  namun karena cuaca pada hari ini agak kurang mendukung berkabut membuat laut tak terlihat. Kontur jalan yg menanjak ke punggung Gunung Rajabasa di ketinggian tertentu memungkinkan para tourist melepaskan pandangan menyaksikan keindahan alam sekitar dan dataran dibawahnya.

View  tersebut kalau kata kawanku dan menurutku juga sih hampir sama jika dibandingkan dengan dengan situasi di kawasan Puncak di Bogor, Jawa Barat atau daerah Batu di Malang, Jawa Timur. Meski sebelumnya infrastruktur jalan menjadi kendala para wisatawan untuk datang karena jalan menanjkan dan jelak namun kini jalan mulus beraspal membuat kendaraan jenis motor dan mobil pun bisa sampai ke Desa Way Kalam. Menuju ke lokasi air terjun baru ada jalan setapak berbatu dan kemudian jalan beton yang cukup bagus.

Sesaat menuju ke lokasi Air Terjun Way Kalam, pemandangan kita dimanjakan kala menyusuri jalan beton (ukuran satu meter lebar, untuk roda dua) yang mengular menembusi perkebunan kopi dengan panorama serba hijau dan udaranya yg terasa sejuk. Bentuk jalannya yg meliuk-liuk dan berbelok-belok, sungguh menyenangkan.

Plang Way Kalam

Papan penunjuk arah ke Way Kalam (Foto: hendricus Widiantoro)

Sesampainya di posko penjagaan sekaligus lokasi parkir terdapat dua gubuk untuk beristirahat. Kami parkir kendaraan di lahan yang disediakan.  Banguann tersebut pun masih cukup sederhana , warga stempat yg mengelolanya.  Kalau fasilitas?  he he  sementara jangan ditanya dulu. Hanya berupa pondokan bambu yang bisa dipakai  untuk duduk warga yg menjaga. Untuk saat ini lupakan soal toilet, lupakan keperluan2 dadakan sebab tidak ada warung, apa lg fasilitas pendukung wisata air terjunnya!

Di penghujung jalan beton di posko penjagaan, rute menuju air terjun berupa jalan setapak menurun berundak-undak dengan tiang tiang bambu untuk pegangan yang saat ini mungkin sudah harus diperbarui (Atau jika memungkinkan bisa diganti dengan besi atau sejenisnya yang lebih kuat: Ini pasti terkait birokrasi he he ). Untungnya kami datang di saat musim kemarau sehingga jalan setapak tersebut tidak licin.

Dalam kondisi musim hujan akan terasa licin dan harus berhati hati. Keadaan jalan yang licin dengan turunannya yang terjal dan bertebing, serta tanpa pengamanan, menjadi sangat2 beresiko. Pengamanan sangat mengandalkan sulur-sulur akar yang tumbuh alami di sekitar jalan yang dilalui. Otomatis  di jalan turun semua orang harus berhati hati.

Panjat 1

Jalan turun ke air terjun (Foto:Hendricus Widiantoro)

Jalan menurun hingga ke dasar aliran air memakan waktu sekitar 10-20 menit dengan suasana petualangan yg memacu adrenalin. Merasakan sensasinya di sini terutama yang tak terbiasa olahraga dengan jalan menurun membuat kaki harus menapak dengan ekstra lebih keras menahan. Rasa pegal pasti akan menjadi bonusnya di antara pergelangan kaki, paha dan pinggang pastinya (Aku selalu ngos ngosan naik turun di trek ini) apalagi badanku yang kini agak berisi alias ndut.

Menahan bobot sendiri saja agak kesulitan. Jadi kalau mau ke sini memang harus siap mental dan kesehatan.

Go Lost 2

Air Terjun Way Kalam bersama Narso si Narsis (Foto: Hendricus Widiantoro)

Tiba di dasar aliran air,  kami melihat ada empat orang anak usia SMA yang sedang asik berada di aliran air. Rupanya demam batu mulia dan juga batu untuk dijadikan batu cincin membuat mereka berburu batu di aliran air terjun tersebut. Kami langsung menuju ke atas menyusuri aliran air. bebatuan besar yang saat musim kemarau ini tak licin membuat perjalanan kami menjadi lebih cepat sampai di ceruk yang merupakan lokasi limpahan air terjun dari ketinggian sekitar 30-50 meter lebih itu.

Sesampainya di lokasi air terjun embun dari air yang mengguyur dari atas terlihat membuat kawanku mulai menggigil. Tapi bagiku itu menyegarkan dan sungguh menjadi semangat untuk mandi dan berenang di kolam airnya. Air terjun  tampak menghujam dari atas bebatuan dan membuat udara menjadis semakin dingin.

Di dasar air terjun terdapat kolam bentukan alam dengan kedalaman setengah meter dan lebar kurang-lebih 5×5 meter. Cukuplah bagi 3-4 pengunjung untuk mandi di kolam bahkan puluhan jika musim hujan karena menjadi semakin luas. Curahan air terjun juga menantang untuk disiramkan ke badan dengan menahan hempasannya.

Ritual selfie, atau dokumentasi menjadi hal wajib di sini. Akhirnya setelah mandi, dan merasakan hempasan air terjun Way Kalam perjuangan untuk naik ke atas lagi menjadi beban berat bagiku. rasanya ga kuat tapi mau ga mau harus naik.

Setidaknya hari ini Amazing banget! Berikut foto foto di Air Terjun Way Kalam:

20
6 7
13 14 15 16 17 18 19

Iklan
Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Inspirasi, Kisah Kisahku, Perjalanan | Tag: , , , , , , , | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Mendinginkan Hati di Air Terjun Way Kalam

  1. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ke Air Terjun Way Kalam,
    Semoga bisa memberikan Kesan buat Anda & Mohon Maaf bila ada hal yang kurang berkenan dihati..

    Salam,
    Kunjungi Fanspage kami di :
    https://www.facebook.com/AirterjunWaykalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: