Monthly Archives: Oktober 2014

Hak Kita : Cinta, Pertobatan, Penyembuhan

Cinta, pertobatan, dan penyembuhan adalah bagian dari kehidupan manusia, terutama manusia yang percaya. Untuk bisa mencapai ketiganya (dimana ketiga hal tersebut kalau kita perhatikan merujuk pada kebaikan hidup) kita harus berani lepas dari intimidasi/tantangan supaya bisa disembuhkan. Bagaimana tanggapan kita terhadap panggilan Tuhan ketika dalam kesusahan? Apakah sama seperti saat senang?

images

Kita lihat kisah di Yeremia 31 : 7-9, dimana Nabi Yeremia menghibur umat Israel yang sedang galau dalam pencobaan (ada di pembuangan). Sukacita merupakan satu kunci untuk bisa lepas dari intimidasi. Sukacita adalah kunci supaya tidak merasa terbuang di dunia.

Selain itu, jaminan kita untuk mendapatkan cinta, pertobatan, dan penyembuhan bukanlah sekedar dokter pintar ataupun cinta dari seorang pasangan idaman, namun seorang Imam Agung yang tidak lain adalah Yesus Kristus sendiri (Ibrani 5:1-6)

SacredHeartofJesus-16

Sacred Heart Of Jesus (Photobucket.com)

Adalah sia-sia kalau kita hidup tanpa berusaha ‘naik level’ dalam kehidupan rohani kita. Hendaknya kita “menemukan wajah Yesus dalam kehidupan kita” Markus 10 : 46-52 menunjukkan kisah seseorang yang fokus dan percaya, kontras dari orang sakit di tepi kolam (baca preach Anjing hidup diatas singa mati oleh kak Tommy tanggal 13 Oktober).

Kira-kira kenapa ya Markus kurang kerjaan sekali sampai-sampai menulis nama orang tua (“Bartimeus anak Timeus)?

1. Dari segi rohani : Nama Timeus berarti “beban, kotor, polusi, bodoh”. Hal ini menunjukkan bahwa Bartimeus sendiri lahir dari keluarga yang ‘kotor’, tidak baik, dan tidak hidup untuk Tuhan. Dosa membuat kita menjadi ‘buta’, kehilangan arah, dan ditolak. Namun nanti kita lihat bahwa ia diubahkan oleh kehadiran Yesus.

2. Dari segi duniawi, dalam ilmu linguistik ada yang disebut dengan Ethos, Logos dan Pathos. Tiga tehnik ini dipergunakan dalam tulisan untuk membuatnya persuasif dengan menyampaikan fakta-fakta atau mempengaruhi emosi. Nampaknya Markus menggunakan teknis logos, dimana ia menunjukkan bahwa “Bartimeus benar-benar ada, kejadian ini benar, dan ia merupakan anak dari Timeus (supaya orang yakin bahwa tokoh Bartimeus bukan karangan belaka”)

Bartimeus berani dan secara semangat menuntut pemulihan dari Yesus, meskipun ditegur dan dimarahi orang-orang (refleksi dari intimidasi dan halangan-halangan duniawi). Ia tidak patah semangat hanya karena dunia memberinya kesulitan (ingat bahwa ia buta, suatu halangan besar yang membuatnya sulit menggapai Yesus). FOKUSNYA hanya kepada Yesus dan ia melakukannya dengan SEMANGAT, SUKACITA, dan KEYAKINAN.

Pada awalnya Yesus tidak langsung menanggapi panggilan pertama Bartimeus, namun ia semakin keras berteriak dengan rasa percaya bahwa Yesus pasti memberi kasihan padanya. Teriakan Bartimeus demikian : “Yesus anak Daud, kasihanilah aku” bukan “Yesus anak Daud, sembuhkanlah aku”. Bartimeus menghargai otoritas pribadi Yesus sebagai Tuhan, dia tidak langsung meminta melainkan sekedar meminta ‘belas kasihan’ – soal apa yang dilakukan Yesus kepadanya selanjutnya, ia tidak peduli dulu. Kita pun dalam meminta dari Tuhan harus seperti Bartimeus : tidak putus asa apabila belum ditanggapi/dijawab, dan meminta dengan mengingat otoritas Tuhan itu sendiri (tidak seenaknya meminta – ingat bahwa sesungguhnya Tuhan yang maha memberi dan mengerti kebutuhan kita).

Pada akhirnya, Tuhan BERHENTI dan MERESPON pada panggilan Bartimeus. Nah, harusnya kitapun bisa seperti itu, memanggil Tuhan dengan penuh keyakinan supaya Tuhan secara khusus berhenti dan merespon kita untuk memberi cinta, pertobatan, dan penyembuhan. Permasalahannya adalah, apakah kita memanggil Tuhan dengan iman yang berkualitas? Mencontoh dari Bartimeus, kita bisa mengintip seperti apa iman yang berkualitas itu :

1. Fokus kepada Tuhan : Bartimeus berteriak2 hanya untuk mendapatkan perhatian Tuhan, bukan malah ngotot minta orang disekitarnya untuk membantunya bertemu dengan Tuhan. Ia yakin Tuhan sendiri yang akan menghampirinya secara personal

2. Cuek terhadap goncangan, dan malah membuatnya semakin termotivasi untuk memanggil Tuhan-ayat 48

3. Percaya bahwa Tuhan mendengar dan merespons kita, sekaligus percaya bahwa Tuhan sanggup melakukanNya. Bartomeus di ayat 51 tidak menggunakan kalimat permohonan tanya : “bisakah engkau membuatku sembuh?” namun menggunakan kalimat permohonan seru : “Rabuni, supaya aku dapat melihat!”, perlu kita catat bahwa Yesus sendiri yang bertanya DULUAN “apa yang dapat kuperbuat bagimu?” Sehingga Bartimeus berani menjawab seru demikian (ingat poin tentang menghargai otoritas Tuhan diatas)

4. Tidak lupa dan membalas kebaikan Tuhan – ayat 52, ia menjadi mengikuti Yesus sehabis disembuhkan.

5. Menanggalkan beban duniawi – ayat 50 ‘outer garment’ menggambarkan demikian
Bartimeus tidak malu untuk menghadap Tuhan, memanggilnya dengan berteriak-teriak, dan MEMINTA sesuatu (penyembuhan) meskipun ia mungkin sebelumnya orang yang terbuang, tidak pernah belajar agama, dan hidup dalam sisi gelap.

Kita pun tidak perlu malu untuk mengungkapkan iman kepada Tuhan seburuk apapun kondisi iman kita saat ini. Memang kita dituntut untuk hidup dalam iman yang berkualitas supaya kita bisa diperanakkan seperti Yesus sendiri, tapi tidak pernah ada batasan ‘minimum’ untuk meminta bimbingan dari Tuhan sendiri. Yesus mengerti segala permasalahan kita maka ungkapkanlah segala kekayaan (dalam arti baik kekurangan dan kelebihan) hidup kita kepadaNya (mempasrahkan). Dengan cara ini iman kita tentunya akan lebih ‘berkualitas’ karena kita memohon bimbingan langsung dari sang Imam Agung, dan ia akan dengan senang hati memberikan bimbingan lewat Roh Kudus supaya iman kita bisa ‘naik LV’.

hky-6

Jesus Christ

Serta verse ini yang sungguh menyembuhkan:

Mata yang bersinar bagai permata
Bukan jaminan hati yang jujur berkata
Rambut yang halus bagai ombak
Diwakili oleh hati yang terombak
Kulit yang halus bagai pesir persia
Memancarkan cinta yang berbisa

Sentuhan telunjuk di pipi lembutnya
Menjadikanmu iblis pecicilan

Dua helaian di rambutnya
Menjadikanmu seorang kawan

Bercanda tawa dengan kawannya
Menajiskan dirimu dihadapannya

Menggodanya dengan senyum fana
Menjadikanmu penghiburannya

Perasaan yang tulus tak lagi terbaca dari bola mata
Hati yang jujur tak lagi ternilai dari ucapan doa

Pembaca firman bukan jaminan kedewasaan
Penyembahan bukan jaminan keperawanan
Puji pujian bukan jaminan kejujuran

Hatimu nullus tapi membius
Matamu tulus tapi membius
Kulitmu mulus tapi membius
Imanmu lurus tapi membius

Say Thank to Jesus and  Asiaril on November 2012, see more on: https://shadowrote.wordpress.com/page/5/

Iklan
Categories: Inspirasi, Kisah Kisahku, Kisahku | Tag: , , , , , | Tinggalkan komentar

Wisata Keluarga Nuansa Pantai di Kalianda

Mencari tempat wisata di Kalianda Lampung Selatan yang pertama kali terbersit adalah wisata di tepi pantai. Hal tersebut cukup tepat sebab pantai, laut, ombak, pasir merupakan hal yang sangat disukai berbagai usia dan kalangan. Bermain air dan mengajak keluarga adalah sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan. Antusiasme untuk berenang memang menjadi keinginan anak anak yang memang paling senang jika diajak bermain air. Dari pagi putriku sudah sibuk ingin mengajak renang.

5

Pantai Ketang Kalianda Minggu 26/10/2014 (Foto: Hendricus Widiantoro)

Awalnya pilihan kami ingin pergi ke kolam renang yang ada di Kalianda yang pastinya banyak pilihan. Namun sebuah miskomunikasi membuat renang di kolam renang diurungkan alias batal. Mengapa? Sebab saat sampai di kolam renang ternyata kolam renang tutup sekitar pukul 17:00 sedangkan kedatangan kami pun cukup mepet  sehingga asumsi waktu berada di kolam renang akan sangat singkat. Bersama keluarga kawanku kami pun balik kanan untuk pergi ke laut dan mengurungkan niat untuk renang di kolam renang. Namun dalam perjalanan ke pantai anugerah Ray Of Light menghujam ke langit menjadi momen yag patut diabadikan sore itu. Baca lebih lanjut

Categories: Kalianda, Keluarga, Kisahku, Pantai, Wisata | Tag: , , , , , , , | 5 Komentar

Lestarikan Tradisi Generasi Ke Generasi : Silaturahmi dan Kebersamaan

Melestarikan tradisi yang sudah turun temurun dari tahun ke tahun apalagi tradisi yang adiluhung harus tetap dijaga oleh warga di Dusun Sumbersari Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan. Tradisi malam 1 Suro ataupun dalam penanggalan sebagai tahun baru Hijriyah ataupun malam 1 Muharram tetap menjadi sebuah tradisi yang masih terjaga hingga kini. Suasana kesederhanaan dan kebersamaan yang begitu kental tanpa memandang suku, agama apapun.

9

Malam 1 Suro di Dusun Sumbersari Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan 24/10/2014 (Foto: Hendricus Widiantoro)

Prosesi atau tepatnya tradisi ini sudah mulai sejak puluhan tahun silam. Dari yang penulis ingat sejak duduk di bangku Sekolah Dasar hingga kini bahkan tradisi semacam ini masih berlangsung bahkan justru semakin lestari dan ditunggu tunggu oleh semua warga di Dusun Sumbersari. Dari sore hari kesibukan sudah mulai terasa di setiap rumah.  Menyiapkan hidangan yang akan dibawa pada malam harinya di tenpat yang sudah biasa menjadi titik sentral kegiatan tersebut di Dusun Sumbersari yakni di pertigaan jalan.

Para ibu ibu pada sore hari mulai memasak dengan hidangan berbagai jenis. Semuanya dijamin sangat enak untuk lidah warga di pedesaan seperti kami apalagi anak anak yang pasti akan sangat antusias menyambut datangnya kegiatan ini. Nampan yang terbuat dari rangkaian pelepah pisang menjadi ciri khas dengan wadah wadah daun pisang yang dibuat menyerupai mangkok untuk meletakkan makanan yang biasanya memiliki menu: nasi, lauk pauk lengkap.

Sekitar pukul 18:00 WIB pada malam ini (24/10/2014) di pertigaan jalan yang menghubungkan Dusun dari arah Timur ke Barat dan Selatan ke Utara sudah berkumpul ratusan warga. Tua muda, anak anak sberdatangan dengan membawa nampan dari pelepah pisang, plastik atau berbagai wadah lain lengkap dengan makanan yang tersaji.

1

Anak anak mulai berkumpul di antara hidangan takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

Oleh banyak warga dari generasi ke generasi acara ini dinamakan “Takiran”. Namun apapun istilahnya terlihat kebahagiaan terpancar dari wajah wajah anak anak yang ada di Dusun Sumbersari. Sebelum acara dimulai anak anak akan bermain di bawah temaram lampu jalan yang menerangi tempat akan dilangsungkannya acara.

Setiap keluarga yang datang biasanya membawa porsi makan sesuai jumlah keluarga yang ada di masing masing Rumah Tangga kadang juga memberi lebih.  Tradisi ini menurut tetua kampung kami Nasruloh meski kental dengan nuansa Islami dan memang demikian namun kentalnya tradisi Jawa menjadikan tradisi ini tetap lestari. Bahkan dalam pengalaman dari tahun ke tahun simbol simbol tersebut menjadi lebur karena kebersamaan, silaturahmi.

Kebersamaan, melestarikan tradisi dari generasi untuk menjalin silaturahmi membuat acara ini tak lekang oleh waktu dan tak tergerus oleh modernisasi.  Bahkan generasi yang ada di perantauan selalu merindukan saat saat seperti ini.

Setelah ratusan warga berkumpul maka hidangan yang diletakkan di jalan dengan arah Barat-Timur, Selatan-Utara tersebut dikelilingi oleh warga. Tetua kampung akan memberikan kesempatan untuk memimpin doa yang dilantunkan menurut agama yang dianut oleh warga. Sebuah pluralisme yang masih saling menghormati satu sama lain. Bahkan jika mau dilihat Masjid dan Gereja di Dusun Sumbersari berdiri berhadapan layaknya MAsjid Istiqlal dan Katedral di Jakarta.

Doa pertama dimulai dari pemuka agama Islam dan selanjutnya pemuka agama Kristen Katolik. Inti doa kurang lebih sama memohon keselamatan dan tak lupa bersyukur atas panen, rejeki, serta kebersamaan di Dusun kami  di tahun tahun yang sudah lewat dan memohon keselamatan untuk waktu mendatang yang akan dijalani. Setelah doa dari masing masing agama selanjutnya tetua kampung akan memberi pengarahan dan inilah waktu yang ditunggu!

Keseruan tradisi ini terekam dalam foto foto berikut:

9

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

10

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

11

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

2

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

3

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

4

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

5

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

6

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

7

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

8

Takiran (Foto: Hendricus Widiantoro)

Setiap orang per kepala dipersilakan mengambil makanan yang dibawa oleh seluruh warga. Diperkenankan mengambil dan tak boleh dibuang asal dimakan. Biasanya warga akan mengambil makanan yang bukan dibawanya dari rumah melainkan mengambil yang milik keluarga lain. Simbol pemberian satu sama lain. Inilah momen yang paling disukai oleh anak anak. Terkadang terkesan berebut namun di sinilah yang menjadi kenangan tak terlupakan bagi mereka. Harapan agar tahun depan pun masih bisa melanjutkan acara serupa didengungkan oleh tetua kampung.

Categories: Inspirasi, Kisahku, Pluralisme | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Pantai, Kebersamaan dan Pemberian Waktu

Pantai, kebersamaan dan pemberian waktu. Hari ini inspirasi itu muncul saat kebersamaan dengan puteriku di pantai ini. Pantai Ketang Kalianda yang merupakan salah satu garis pantai berpasir cukup bagus untuk bermain bersama anak anak dengan catatan adanya pengawasan sangat ekstra.

4

Pantai Ketang Kalianda Lampung Selatan . Kebersamaanku dan puteriku. (Foto: Hendricus Widiantoro)

Seperti biasanya aktifitas harianku masih mengalir seperti biasa. Bangun dan setelah bisa mandiri kini ia sudah mengerti kewajiban hariannya untuk sekolah. Dari mulai bangun tidur, mandi hingga berpakaian yang sudah tanpa perlu dibantu. Usai beres semua aktifitas pagi ini selanjutnya mengantar ke sekolah meskipun jarak sekolah cukup dekat. Rutinitas harian tersebut menjadi sebuah tanggung jawab bagiku sebagai seorang Singleparents.

Setelah mengantarnya ke sekolah selanjutnya rutinitas pekerjaan yang harus aku lakukan telah menanti. Namun semuanya mengalir dan tetap dijalani dengan penuh rasa syukur. Meskipun demikian hari ini waktu secara khusus untuk mengajaknya bermain di pantai adalah sebuah hal yang cukup menyenangkan.

“Ayo mandi kita jalan jalan ke pantai! ” ujarku seusai bekerja dan ia pun berteriak kegirangan.

“Mandi ya pa! main pasir main ombak !” teriaknya.

Meskipun akan ke pantai tapi aku justru memintanya mandi di rumah terlebih dahulu karena memang pastinya aku tak akan membiarkannya mandi di pantai. Waktu bersama puteriku adalah hal yang paling utama. Bahkan dalam mengerjakan beberapa kewajiban pekerjaanku saat bersamanya pun tetap menjadi hal wajib.

A

Puteriku: Hendricus Widiantoro

 

Terkadang meski aku di depan laptop ia pun terkadang main di sampingku bersama teman sebayanya entah menggambar atau corat coret di kertas yang kusiapkan. Memandangnya tumbuh dan berkembang layaknya seorang puteri lainnya yang pastinya tumbuh dan berkembang bersama ayah dan ibunya secara lengkap adalah sebuah rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Kebersamaan hari ini bisa mengajaknya main ke pasir pantai, bermain ombak. Tak ada niat untuk mandi karena kondisi perairan yang tak cukup bagus. Namun dari tawa dan semangatnya untuk menikmati keindahan pantai membuatku bahagia. Pantai Ketang memang cukup bagus dinikmati dalam saat saat tertentu dan pastinya tetap memperhatikan keselamatan untuk bermain bersama keluarga di sini. Baca lebih lanjut

Categories: Inspirasi, Kisah Kisahku, Papa Backpacker | Tag: , , , | 8 Komentar

Peristiwa Demi Peristiwa Di Mata Kameraku

Sebuah peristiwa terkadang terjadi secara kebetulan atau karena kesengajaan. Inilah yang terjadi padaku hari ini. Saat akan melakukan kegiatan seperti biasa ke arah Bakauheni. Jalanan yang begitu berdebu plus macet di tanjakan Desa Sukabaru akibat pengerjaan rigid membuat perjalanan ke arah Bakauheni sedikit terhambat.

Guling 1

Truk terguling di depan KSKP Bakauheni saat aku melintas (Foto: Hendricus Widiantoro)

Namun hunting untuk sebuah hal menarik pastinya akan membutuhkan perjuangan. Setidaknya perlu kewaspadaan dan kehati hatian melintas di Jalan Lintas Sumatera karena jalan ini merupakan sebuah jalan terpenting di Sumatera. Ribuan kendaraan berbagai jenis hampir melintasi jalan ini setiap saat.

Berbagai peristiwa kecelakaan akibat kelalaian pengendara serta kelayakan jalan dan kelayakan kendaraan terkadang terjadi di Jalinsum. Bahkan hari ini yang tanpa sengaja melintas di Jalinsum tepatnya di bekas jalan yang amblas beberapa tahun lalu dan beberapa waktu lalu akibat longsor.

Seperti biasa kamera dan pastinya gadget harus selalu siap untuk mengabadikan momen yang kadang harus kuambil. Pastinya dengan kehati hatian karena berbagai faktor. Faktor pertama adalah keselamatanku sendiri. Menepi dan mengambil angle yang tepat adalah keharusan karena Jalinsum merupakan jalan yang cukup ramai pada jam jam tertentu sehingga aku harus berhati hati.

Hari ini peristiwa yang ada di jalan kutemui lagi. Sebuah Truk fuso dengan nomor polisi BE 9728 CD yang bermuatan lempengan alumunium foil terguling di ruas jalan lintas Sumatera (Jalinsum) kilometer 60/70 di Dusun Pandegolan, Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, sekitar pukul 08.00 wib, Selasa (21/10/2014).

Truk fuso melaju dari arah Bakauheni dan hendak ke Palembang. Saat memasuki tikungan jalinsum di Dusun Pandegolan, muatan truk bergeser ke arah sisi kiri bak. Hal itu mengakibatkan kendaraan tersebut kehilangan keseimbangan.

“Muatan begeser ke sebelah kiri. Akibatnya truk kehilangan keseimbangan dan terguling,” kata Pri, sopir truk saat aku mencoba menanyai sang sopir. Kadang tak mudah untuk mengorek keterangan akan sebuah peristiwa. Bahkan sebuah hal yang membuat profesi jurnalis sangat rentan.

“Jangan ambil gambar siapa yang minta kamu ambil gambar sana pergi jauh ini kecelakaan bukan untuk konsumsi publik”

Itu pengalaman yang pernah kurasakan saat meliput sebuah peristiwa meskipun aku berada di jarak yang aman pun masih ada pihak yang tak memperbolehkan untuk mengambil gambar. Itulah resiko dan aku harus menghormatinya.

Nah beruntung dalam kejadian hari ini tidak ada korban dalam peristiwa tergulingnya truk tersebut. Namun sampai dengan pukul 11.00 wib truk masih belum dievakuasi dari sisi Jalinsum.

truk

Truk terguling di Penegolan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Lepas dari peristiwa tersebut hari ini aku masih melihat evakuasi kapal penumpang Caitlyn yang gagal sandar di Balauheni. Evakuasi yang dramatis itu memang berlangsung lama namun sayang momen tersebut terlewatkan.

Dari keterangan yang kuperoleh peristiwa pagi ini yakni gagal sandarnya KMP Caitlyn akibat mesin mati di bagian sisi kiri, Kapal Motor Penumpang (KMP) Caitlyn milik PT Munic Line mengalami gagal sandar setelah melakukan olah gerak dan manuver.

Aan 3

KM Caitlyn milik PT Munic Line 21 Oktober 2014 saat gagal sandar akibat kerusakan mesin wings (Foto: Hendricus Widiantoro)

Bahkan insiden tersebut sempat membuat kapal tug boat TB Merak yang siaga di dermaga plengsengan  diterjunkan, untuk membantu kapal milik PT Munic Line tersebut sandar di dermaga II Pelabuhan Bakauheni sekitar pukul 8.30 WIB, Selasa (21/10/2014).

Dari  keterangan beberapa anak buah kapal akibat peristiwa tersebut ratusan penumpang yang menggunakan jasa penyeberangan KMP Caitlyn dari Pelabuhan Merak yang akan menuju Pelabuhan Bakauheni sempat menyaksikan dan mengabadikan peristiwa tersebut.

Menurut  Kepala Cabang PT Munic Line di Bakauheni Joko Sunaryo insiden tersebut langsung bisa diatasi dan kapal bisa bersandar di dermaga II.

“Setelah dilakukan pengecekan mesin kembali normal dan akan kembali ke Pelabuhan Merak dalam kondisi tanpa penumpang untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujar Joko Sunaryo.

Dihubungi terpisah, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas V Bakauheni  Captain Yoshua P.S.I Anthonie MM mengaku sudah menerima laporan terkait insiden tersebut. Menurutnya ada sedikit kerusakan di bagian mesin KM Caitlyn.

“Kondisi mesin oke, hanya katup bahan bakar yang ke block dan langsung bisa diperbaiki sebentar. Selanjutnya kapal kembali ke Merak namun tanpa muatan dari pelabuhan Bakauheni” ungkap Captain Yoshua.

Kapal ro-ro yang melayani rute pelayaran Merak-Bakauheni, KMP Caitlyn diproduksi di Jepang tahun 1989 dan bisa mengangkut penumpang sebanyak 500 orang dan kendaraan 60 unit. Selain itu juga dilengkapi peralatan keselamatan sebanyak 600 pelampung dan sekoci.

Caitlyn Widi

KM Caitlyn sesaat setelah mengalami kerusakan mesin 21 Oktober 2014 (Foto: Hendricus Widiantoro)

Berbagai peristiwa yang terjadi di jalan kadang luput dari kameraku namun mau tak mau harus kuambil. Meski demikian dengan etika dan juga kehati hatian untuk mengabadikannya karena tak semua orang memiliki sifat yang sama dan untuk mengambil gambar meski tak harus memakai portofolio namun izain dan juga menghormati hak hak orang lain tetap perlu. Setidaknya kerja jurnalis memang penuh resiko seperti yang pernah kualami diusir, ditolak maupun mendapat hal hal yang tak mengenakkan. Namun semua hal tersebut ada hikmah dan bisa untuk terus belajar.

Beberapa peristiwa yang cukup dramatis yang sempat kuabadikan di mata kameraku diantaranya kejadian berikut ini:

Guling2_MariaFlora

Truk terguling di Jalinsum Desa Pasuruan Penengahan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Guling1_MariaFlora

Truk terguling di Jalinsum Desa Pasuruan Penengahan (Foto: Hendricus Widiantoro)

AAA

Bus terbakar di Jalinsum Desa Banjarmasin Kecamatan Penengahan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Bahuga Pratama

Bahuga Pratama paska mesin terbakar (Foto:Hendricus Widiantoro)

Bahuga Setelah terbakar

KMP Bahuga Pratama paska terbakar (Foto: Hendricus Widiantoro)

Blong Rem1

Truk terguling di Desa Sukabaru (Foto: Hendricus Widiantoro)

Categories: Adventure and Treking, Jurnalistik, Kisah Kisahku | Tag: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Ray Of Light : Kebaikan Alam Di Mata Puteriku

Awalnya aku tak tahu apa itu Ray Of Light secara teoritis. Namun yang pasti keindahan yang ada di langit karena berkas sinar Matahari ini waktu itu tertangkap oleh mata puteriku yang masih berusia 4 tahun. Kuingat waktu itu pada sore hari 4 Desember 2010. Hingga kini kuingat hal hal kecil tersebut yang selalu memberiku sebuah inspirasi dalam memandang hal yang tak sepenuhnya pandanganku sendiri. Sebuah kolaborasi selalu indah. Kolaborasi bersama puteriku dalam hal melihat seni alam yang indah dari Sang Pencipta.

Langit 1

ROL di Selat Sunda dari pantai Kunjir Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Saat berjalan jalan di tengah sawah puteriku melihat ke langit dan melihat berkas sinar Matahari di ufuk Barat yang menembus awan memberi kesan berkas cahaya itu menembus awan. Sinar yang bagiku indah untuk diamati karena awan bergerak sedikit saja akan timbul cahaya yang berbeda.

Hal pertama yang diucapkan puteriku adalah “pa itu ada sinar bagus banget”. Tak ada kamera digital apalagi kamera DSLR kala itu (bahkan memiliki keduanya adalah sebuah mimpi). Namun memiliki gadget Nokia 6600 yang kala itu masih cukup bagus membuat moment tersebut tak terlewatkan untuk dijepret. Setidaknya kini ia sudah mencoba untuk belajar fotografi di usianya yang masih belia.

S20

Puteriku Ezranda CJP dengan Nikon D5000 (Foto: hendricus Widiantoro)

Kebiasaan puteriku memang begitu: melihat hal unik pasti dijepretnya. Kadang bahkan handphone yang ada dipegangnya untuk mengambil foto kupu kupu atau papanya lagi tidur pun di foto. Namun itulah yang terjadi momen yang tak akan dan mungkin sulit didapat bisa terdokumentasi karena mata puteriku itu.

“Pa pa, surga terbuka pa tuh lihat awannya terbuka , mana cepat hp nya ayo difoto pa!”

Sebenarnya secara teori ROL atau Ray of Light jika di terjemahkan secara bebas adalah berkas sinar pada hasil foto yang tertangkap oleh sensor kamera. Berkas sinar ini bisa didapat secara alami dari sinar matahari dan sinar buatan dari lampu atau lighting. Aku pun perlu belajar hal tersebut dari tutorial fotografi dari tutorial online tentang hal itu meski agak sulit menerapkannya karena momen alami pasti akan sulit dan meskipun demikian hal tersebut bisa diatasi dengan aplikasi Photoshop.

Blog tutorial Pojok Fotografi ini kiranya sangat bagus untuk diterapkan bahkan dilengkapi dengan foto foto keren yang dijadikan contoh apa itu ROL: http://exifdatafoto.blogspot.com/2013/03/cara-membuat-efek-rol-pada-foto-dengan-plug-in-photoshop.html

Dalam tutorial tersebut tertulis begini: Berkas sinar ini bisa didapat secara alami dari sinar matahari dan sinar buatan dari lampu atau lighting. ROL merupakan salah satu faktor yang membuat sebuah foto menjadi ‘Wow’ dan lebih berdimensi…

Bagaimana cara menghasilkan ROL pada hasil foto kita? Ada beberapa cara, diantaranya:

1. Secara alami.
Cara ini agak sulit dan membutuhkan kesabaran ‘tingkat tinggi’ karena harus menunggu ‘kebaikan’ alam menampakkan wujudnya sesuai kebutuhan kondisi ROL. Biasanya di pagi hari yang sedikit berkabut ROL akan terlihat di sela-sela dedaunan, atau sore hari menjelang matahari terbenam ROL akan terlihat di antara awan-awan mendung.

2. Dengan rekayasa di lokasi pemotretan.
Efek ROL diciptakan sedemikian rupa di lokasi pemotretan dengan menggunakan asap buatan (bisa dari smoke machine atau asap hasil pembakaran dan memanfaatkan sinar matahari atau menggunakan continuous lighting).

3. Olah digital pada hasil foto.
Efek ROL dihasilkan dengan menggunakan software editing foto atau olah digital antara lain yaitu photoshop.

Aku bersyukur bisa mengabadikannya saat nyore jalan jalan bersama puteriku. Namun lebih dari itu semua faktor keberuntungan agaknya menjadi faktor penting bisa melihat dan mengabdikannya.

“Foto foto ROL itu terdokumentasi karena  faktor pertama yakni “kebaikan alam” dan “keberuntungan” puteriku”

Berikut foto sederhana yang kuambil dari gadget Nokia 6600 kala itu karena jalan jalan sore bersama puteriku dan sebuah ROL yang kuambil di Selat Sunda saat jalan jalan bersama kawan kawanku saat berada di tepi pantai. Cahaya itu mengarah ke arah Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Berikut foto foto kolaborasi keindahan dan kebaikan alam di mata puteriku dan gadhet sederhana Nokia 6600:

Langit 31

ROL dari Dusun Sumbersari Kecamatan Penengahan Lampung Selatan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Langit 41

ROL dari Dusun Sumbersari Kecamatan Penengahan Lampung Selatan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Langit 51

ROL dari Dusun Sumbersari Kecamatan Penengahan Lampung Selatan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Langit 61

ROL dari Dusun Sumbersari Kecamatan Penengahan Lampung Selatan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Langit 71

ROL dari Dusun Sumbersari Kecamatan Penengahan Lampung Selatan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Langit 81

ROL dari Dusun Sumbersari Kecamatan Penengahan Lampung Selatan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Langit 91

ROL dari Dusun Sumbersari Kecamatan Penengahan Lampung Selatan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Langit 221

ROL di Air Terjun Cugung Rajabasa (Foto: Hendricus Widiantoro)

Sumber untuk belajar lebih lengkap dan mendetail  saya sarankan lihat blog ini: http://exifdatafoto.blogspot.com/2013/03/cara-membuat-efek-rol-pada-foto-dengan-plug-in-photoshop.html

Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Fotografi, Kisah Kisahku, Papa Backpacker | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Mengejar Pagi di Legon Pari Sawarna

Hendricus Widiantoro

sunrise 26 Deburan Ombak Pagi Hari di Legon Pari (Hendricus Widiantoro)

Mengejar Sunrise adalah moment yang pling “Males”,, diuprek uprek mas Dedi suruh bangun padahal masih pingin molor di Villa,,eh masih diketok sama yang punya Villa “Ayo bangun” wah wah suara kodok di sawah masih berbunyi, tukang parkir masih berselimut sarung harus terpaksa bangun.

Membawa motor jalan melewati dua jembatan gantung yang masih gelap,,goyang kanan goyang kiri…tapi ga afdol kalau ga mengabadikan moment Sunrise di Legon pari…Meski sedikit kecewa karena Awan telah menelannya beberapa menit setelah terbit…Tapi tak apalah …

Perjalanan menuruni menaiki bukit akhirnya bertemu dengan deburan ombak di Legon Pari.

Berikut perjalanan di Legon Pari:

Sunrise 5 Sunrise

Sunrise 4 Menikmati pagi hari

Sunrise 3 Poster Legon Pari

Sunrise 2 Goyang goyang jembatan gantung

Sunrise 1 Harus hati hati

Sunrise 32 Sawarna dari puncak bukit (Foto: Hendricus Widiantoro)

Sunrise 9 Legon Pari

Sunrise 10 Legon Pari

Sunrise 7 Pantai Legon Pari

Sunrise 6 Masih Pagi

Sunrise 8 Sunrise in Legon Pari Beach Sawarna (Foto: Hendricus Widiantoro)

Sunrise 11 Deburan Ombak di Legon Pari pagi…

Lihat pos aslinya 24 kata lagi

Categories: Kisah Kisahku | Tinggalkan komentar

Backpaker My Spirit , My Journey : Bermodal Google Maps dan GPS to Sawarna

Hendricus Widiantoro

Legon 18 Bentangan Pantai Sawarna dari ketinggian yang menawan

Perjalanan backpakeran kali ini dengan modal nekat, berbekal dengan peralatan seadanya (backapker banget pokoknya) Naked Backbacker…kalau dikatakan touring kayaknya sih ga standart banget soalnya toh kuda besi hanya dipakai menghantar minus standar ala backpaker sejati he  he…

Lets Go hei hoooo…dimulai pukul 15.00  hari Jumat (20/9/2013) berangkat dengan ciuman dari puteriku dan foto yang dijepret olehnya dengan Blackberry (yang akan ada di Ios dan Android)…

Starpoint tetep di kantin Rukun lokasi favorit di Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan. Bersama Mas Dedi kami berangkat memulai debut pertama kami ke Pantai Sawarna Beach dengan berbekal Google Map dan GPS. Sama sama belum pernah ke pantai ini he he.. tapi peta dari google dan penunjuk arah di jalan selalu menjadi patoka.  Pukul 17:01 dengan kuda besinya mas Dedi yang handal kami naik ke KMP Windu Karsa Pratama…dengan standar khusus pastinya he he ala backpacker.  Yach seperti biasanya…

Lihat pos aslinya 646 kata lagi

Categories: Kisah Kisahku | Tinggalkan komentar

Godhong Sambung Nyowo

Hendricus Widiantoro

Ibuku banyak menanam tanaman ini, bahkan yang unik ada seorang bidan dan mantri yang saat sakit justru minta daun tanaman ini sama ibuku,,,namanya Sambung Nyawa.,mungkin karena bisa mengobati, menyambung nyawa dinamakan Sambung Nyawa.

images (10) Sambung Nyowo

Sambung Nyawa adalah jenis tumbuhan tahunan yang banyak digunakan dalam perubatan di negara-negara asia tenggara seperti Malaysia, Indonesia dan Thailand. Namun sebenarnya ia adalah tumbuhan asli Mynmar dan Cina. Ia boleh hidup dalam lingkungan ketinggian 1 hingga 500 meter dari paras laut. Ia mudah membiak melalui keratan batang dan mudah tumbuh di kawasan yang agak redup, intensiti cahaya pada kadar 40- 50 %, suhu udara berkisar antara 20 -30 C dan mempunyai kelembapan yang sederhana, dengan taburan hujan tahunan antara 1500 – 2500mm.

“Tumbuh dengan batang menegak, atau kadang-kadang bagian pangkalnya rebah di atas tanah dan keluar akar, berbatang basah, bercabang, berwarna keunguan. Tanaman ini bisa  mencapai ketinggian 6 meter dan berbau harum”

Daun tunggal…

Lihat pos aslinya 347 kata lagi

Categories: Kisah Kisahku | Tinggalkan komentar

Kau Cantik Jika Jauh Oh Menara Siger

Menara SIGER. Sebuah bangunan berbentuk SIGER yakni mahkota yang biasa dikenakan oleh gadis Lampung dalam acara acara besar dan bahkan merupakan mahkota khas yang digunakan dalam kegiatan kegiatan penting seperti saat pernikahan maupun saat dalam tarian. Sebenarnya apa yang ditawarkan dari keindahan menara yang didominasi warna kuning keemasan dan merah tersebut?

Blog 3

Menara Siger (Foto: Hendricus Widiantoro)

Siger yang dikenal sebagai mahkota  mudah ditemukan di Lampung bahkan dalam  produk produk tertentu kini memakai simbol Siger sebagai ciri khas dan keunikan dari Lampung. Wujudnya bisa berupa gambar atau bentuk fisik. Siger dalam arti sebenarnya mahkota yang biasa dikenakan wanita Lampung, memang sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat ” Sang Bumi Ruwa Jurai” ini.

Di beberapa tempat bahkan memasang bentuk siger. Demikian juga kantor dinas/instansi pemerintah dan swasta di Lampung tidak ketinggalan memasang siger. Bentuk mahkota perempuan itu menjadi daya tarik Lampung, simbol yang menjadi ciri khas Lampung.

Blog 4

Menara Siger dari kejauhan (Foto: Hendricus Widiantoro)

Agaknya inilah yang mendorong Pemerintah Provinsi Lampung mewujudkan siger dalam bentuk menara.  Layaknya Monumen Nasional (Monas) di Jakarta, pembangunan Menara Siger di Lampung dimaksudkan sebagai ciri khas, atau mengingatkan wisatawan akan wilayah Lampung. Lokasi yang berada di puncak bukit membuat Menara Siger mudah dilihat dari kejauhan bahkan terkesan “SANGAT INDAH” jika dilihat dari jauh apalagi saat malam hari Menara tersebut disinari dengan lampu yang membuat kesan menara tersebut lebih indah.

Seingatku tepat di bawah Menara Siger masih ada Giant Letter bertuliskan LAMPUNG yang menyala di waktu malam yang kini agaknya sudah tak begitu menyala. Akan terlihat indah dikala malam. Menara Siger pada siang hari terlihat berwarna kekuningan dan merah.

Zero 8

Selat Sunda dari atas Menara Siger (Foto: Hendricus Widiantoro)

Di bagian atas Menara Siger, terbentuk tujuh kerucut yang simetris, dengan satu kerucut di tengahnya yang lebih tinggi. Tiga kerucut masing dibangun di sebelah kanan dan kiri. Kerucut tersebut dipercaya masyarakat setempat melambangkan tujuh gunung yang berada di Lampung.

Jika menengok sejarahnya Menara Siger dibangun tahun 2005 dan diresmikan tahun 2008. Menara tersebut didirikan di atas Bukit Gamping, Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan. Wisatawan yang datang dari arah Pelabuhan Bakauheni bisa langsung melihat menara yang didominasi warna merah dan kuning emas. Menara Siger memiliki enam tingkat dan berada di ketinggian 32 meter.

Futsal Jelang Buka Puasa

Menara Siger dari samping (Foto : Hendricus Widiantoro)

Di dalamnya terdapat kereta kencana dan juga display tentang kabupaten yang ada di Lampung dan juga keistimewaan masing masing kabupaten baik sisi wisata maupun keberagaman daerah di Lampung yang bisa dilihat sambil bisa membeli oleh oleh khas Lampung baik makanan maupun cindera mata.

Pegunjung yang memang melintasi Lampung, sebagian besar tidak melewatkan untuk mampir ke Menara Siger. Dari ketinggian Menara Siger wisatawan bisa melihat  ke arah Selat Sunda yang menjadi penghubung Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. dari kejauhan terlihat kapal kapal Roll On Roll Off hilir mudik dari Pelabuhan Bakauheni dan Pelabuhan Merak Banten.

ZERO 1

Tugu Zero Sumatera (Foto: Hendricus Widiantoro)

Zero 7

Selat Sunda

Kini di Menara Siger sudah dilengkapi dengan teropong untuk melihat Selat Sunda dengan menggunakan lensa teropong tersebut dengan cara memasukkan koin sehingga pengunjung bisa melihat suasana Selat Sunda dari dekat. Selain teropong pengunjung kini bisa menikmati Flying fox yang disediakan oleh pengelola. Para penghobi panjat tebing pun sudah disiapkan lokasi panjat dinding di sisi Timur.

Masih belum puas dengan wahana tersebut masih ada wahana jam Matahari, wahana bermain anak anak yang biasanya dibuka saat kegiatan tertentu dan juga even khusus. Lapangan futsal juga disiapkan untuk menjadi tempat olahraga bagi pecinta futsal di samping lokasi pertunjukan yang disiapkan oleh pihak pengelola Menara Siger.

Bagi fotografer atau pecinta foto hal wajib yang perlu dilakukan di tempat ini adalah selfie, foto bersama atau narsis. Karenanya aku menulis judul “Kau Cantik Jka Jauh Oh Menar Siger”. Mengapa? karena bagiku pribadi keindahan Menara Siger akan terlihat dari kejauhan dan kecantikannya akan semakin anggun jika dilihat dari jauh. Tapi ini sih pendapat pribadi he he.

Hampir di semua jejaring sosial bagi yang pernah ke Menara Siger pasti akan memposting pernah berada di sini lengkap dengan foto foto selfie atau bersama kawan kawannya. Setidaknya tempat ini merupakan tempat indah salah satunya yang ada di Lampung Selatan yang berupa bangunan.

Kau Cantik jika jauh oh Menara Siger. Keindahan itu pasti “relatif” dan semua memiliki persepsi dalam memandang Menara Siger ini baik dari bawah, atas, kejauhan atau dari manapun.

Berikut beberapa orang yang memanfaatkan Menara Siger untuk berfoto:

Hasibuan 5 Hasibuan 1 Hasibuan 2 Hasibuan 3 Hasibuan 4

Siger 3 Siger 1 Siger 2

Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Fotografi | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.