Malioboro : Memori Historis

Malioboro 0

Jalan Maliboro (Foto : Inijogja.co.id)

Yogyakarta: Kenangan kenangan itu. Kota historis yang memberiku banyak pengalaman.. Semuanya datang, pergi entah dalam bahagia entah dalam kesedihan. Datang dalam bahagia dan pergi dalam kesedihan. Bertemu untuk sebuah perpisahan dan perpisahan oleh kematian. Itu yang terjadi di Yogyakarta.

Malioboro

Malioboro (Foto: Aris Mundayat/ Jogjatrip.com)

Kisah itu : ngonthel menyusuri jalan kaliurang menuju ring road, menyusuri parit parit di dekat UGM..dikempesi ban sepeda oleh polisi..tahun 2004 yang memberi banyak arti dan goresan historis di buku hidupku. Atau jalan jalan menyusuri Malioboro

Salah satu kisah yang masih kuingat adalah saat nongkrong di depan benteng Vredeburg bersama salah seorang konfraterku kala itu. Nyore dan santai sambil minum es tebu yang segar di hari yang panas. Saat itulah konfraterku mengajak “taruhan” dan itu pasti akan menjadi tertawaan bagi kami kalau bertemu.

Di mana sih dan apa sih Benteng Vredeburg, bisa di tengok di sini:
http://yogyakarta.panduanwisata.com/hiburan/benteng-vredeburg-manifestasi-perdamaian-yang-terjaga-hingga-saat-ini/

Sebagai senior yang pastinya sudah banyak kawan di Jogja ia yakin akan menang taruhan. Terus apa taruhannya? kata dia: Siapa yang pertama bertemu dengan orang yang di kenal di sini nanti dia yang akan traktir makan malam!

Wah jelas ketar ketir ini mana mungkin aku kenal sama orang orang di situ karena kawan kawanku masa SMA yang kuliah di Jogja sudah wisuda dan meninggalkan Jogja.

Tapi lima belas menit kemudian aku menengok ke arah alun alun setelah aku sempat berjalan sejenak di seberang jalan di depan kantor pos lama yang ada di seberang benteng Vredeburg.

benteng-Vredeburg-300x207

Benteng Vredeburg (Foto: yogyakarta.panduanwisata.com)

Tanpa disangka sangka muncul kawan kos saat di Pringsewu. Ia ga salah lagi itu kakak kelasku namanya Refo Gifta. Dia pun kaget melihat aku duduk duduk di depan benteng Vredeburg.

Bertahun tahun tak bertemu dengan mas Refo dia masih ingat aku dan sebaliknya. Spontan dia teriak ” Widiiiiii!”

Meski sama sama di Jogja karena kesibukan masing masing kami tak pernah bertemu dan saat bertemu di Malioboro ia pun kaget.

Ngobrol ngalor ngidul sambil memperkenalkan konfraterku akhirnya ia pamit karena ia sedang ada janji sama kawannya di Kota baru.

“Ayo siapa yang traktir ini?” ujarku pada konfraterku.

“Nyerah deh kalahh pada babak pertama” ujarnya.

Setelah itu aku hendak menyruput es tebu yang tadi aku minum. Saking asiknya kami ngobrol rupanya dari tadi aku tak menyadari kalau minuman di gelas plastik yang kuletakkan di kursi semen sudah berpindah ke tangan orang. Bukan kawanku tapi seseorang yang berpakaian compang camping dan juga rambut acak acakan.

“Tuh es mu diminum sama kakakmu!” kata konfraterku sambil tertawa.

Setelah bertemu dengan kawanku konfraterku rupanya sudah janjian juga dengan kawannya di Malioboro. Malioboro, memang memiliki banyak kenangan dan sisi historis bagi siapapun, mungkin jika belum tahu atau belum pernah ke Malioboro bisa melihatnya di wikipedia:

Jalan Malioboro (bahasa Jawa: Hanacaraka, ꦢꦭꦤ꧀​ꦩꦭꦶꦲꦧꦫ, Dalan Malioboro) adalah nama salah satu kawasan jalan dari tiga jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Secara keseluruhan terdiri dari Jalan Pangeran Mangkubumi, dan Jalan Jend. A. Yani. Jalan ini merupakan poros Garis Imajiner Kraton Yogyakarta.

Pada tanggal 20 Desember 2013, pukul 10.30 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X nama dua ruas jalan Malioboro dikembalikan ke nama aslinya, Jalan Pangeran Mangkubumi menjadi jalan Margoutomo, dan Jalan Jend. A. Yani menjadi jalan Margomulyo.[1]

Terdapat beberapa obyek bersejarah di kawasan tiga jalan ini antara lain Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg, dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.

Jalan Malioboro sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas jogja dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan gudeg khas jogja serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya para seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art, pantomim, dan lain-lain di sepanjang jalan ini.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_Malioboro

Seusai menikmati sore di Malioboro kami mampir di UGM dan akhirnya menuju ke Utara menyusuri jalan kaliurang. Makan nasi goreng Seafood bersama di pinggir jalan Kaliurang dan menyruput es krim di kafe.

Malioboro…Yogyakarta dan kenangan itu..

644482_589313647760199_1096046858_n

Aku dan kawan kawan di depan kampus (Foto: Hendricus Widiantoro)

Iklan
Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Foto Perjalananku, Inspirasi, Yogyakarta | Tag: , , , , , | 3 Komentar

Navigasi pos

3 thoughts on “Malioboro : Memori Historis

  1. Teologi tu ilmu yg mempelajari apa bro?

    • Filsafat dan Teologi,,itu gampangnya sastra dll mas bro..kalau secara khusus ya katakanlah itu “pesantren” untuk kami yang beragama nasrani gitu ..dulu waktu kami kuliah juga sering mahasiswa/i UII (Universitas Islam Indonesia) juga kuliah di tempat kami untuk belajar perbandingan agama, filsafat Barat, Timur…

    • Teologi (bahasa Yunani θεος, theos, “Allah, Tuhan”, dan λογια, logia, “kata-kata,” “ucapan,” atau “wacana”) adalah wacana yang berdasarkan nalar mengenai agama, spiritualitas dan Tuhan..

      lengkapnya bisa dibaca di sini mas biar bisa lebih mencerahkan: http://id.wikipedia.org/wiki/Teologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: