Pilkada Tak Langsung dan Petani Kampung

Masih ramai di Timeline Jejaring sosial  Twitter soal hal hal berikut ini dan yang teratas adalah tagar yang intinya Malu kepadamu SBY:  #ShameOnYouSBY #SaveSpongebob #DanyRahmatR_isBack PLTU #AdiSNyobaMainTTILagi #EduFairST UU Pilkada DPRD Demokrasi Saya Kecewa

Bahkan simbol Presiden SBY pun menjadi bahan olok olok di Twitter dan jejaring sosial Facebook, ramai berkeliaran di Timeline seperti berikut ini yang pastinya memiliki maksud:

10629573_10202210499978514_3619385341258648918_n

Tagar #Rakyat sepakat memberi gelar berkeliaran di Timeline

Politik, keresahan masyarakat. Tapi masyarakat yang mana? Bagi kami orang kecil apakah kami juga masyarakat? seperti itulah sempat menjadi tanda tanya bagi yang saat ini meributkan soal RUU Pilkada yang akhirnya secara voting disahkan bahwa DPRD lah yang akan memilih kepala daerah. Kepala daerah untuk ribuan atau jutaan manusia akhirnya dipastikan akan dipilih oleh puluhan atau ratusan wakil di dewan terhormat masing masing daerah.

Seluruh anggota DPRD pastinya sudah bisa ditebak akan merasa senang atas keputusan tersebut sebab di tangan merekalah nantinya keputusan akan dibuat dan menjadi sebuah harapan untuk kepemimpinan kepala daerah lima tahun mendatang di masing masing daerah.

images (14)

Gedung DPR-MPR

Tapi rasanya malas membahasnya..Kucoba menengok ke luar jendela, ke sawah, ke kebun. Daun daun berjatuhan, rumput rumput mulai mengering, kemarau melanda dan bahkan tanah di swah mulai retak dan air sulit didapatkan. Terus apa hubungannya sama Pilkada Langsung atau tak langsung.

Ga ada korelasinya kan? namun cobalah bertanya kepada para petani, orang orang kecil. Cukup pentingkah hal tersebut?

Di tengah musim kemarau: harga harga yang merangkak naik, bahkan isu kenaikan Bahan Bakar Minyak yang akan naik, dan juga persoalan kemasyarakatan yang mendera rakyat Indonesia apakah hal tersebut layak diperjuangkan.

Aku sempat bertanya pada seorang petani yang menggembala kerbau di bawah pohon kelapa yang menanungi rumput rumput yang masih hijua untuk sekedar makan kerbaunya.

“Pak sudah tau belum nanti kepal daerah bupati, gubernur dipilih oleh DPRD” ujarku pada pak Bejo

Opo kui mas? yang nyoblos bukan kita lagi ya?”  tanya pak Bejo padaku

“Wah benke wae mas apa untungnya juga buat kita!” ujarnya

Ngobrol ngalor ngidul dan berganti topik akhirnya sampai juga pada topik masih seputar tani dan pertanian. Ia mengeluhkan hal hal yang berkaitan dengan petani yang juga tak lepas dari kebijakan pemerintah. Soal pupuk yang kadang langka dan mahal, soal bensin yang mau naik, soal kekeringan di sawah akibat air irigasi tak nyampai ke sawahnya. Kenapa ga nyampai? karena proyek pengerjaan untuk irigasi yang dilakukan terkesan asal asalan sehingga beberapa diantaranya bocor.

Urusan petani kecil yang ingin dan diharapkan adalah bisa menanam padi di sawah dengan pengairan yang lancar, pupuk dan obat obatan lancar, panen dan jika bisa menjual gabah atau berasnya dengan harga sesuai. Tidak sebaliknya saat harus membeli obat, bibit, dan pupuk mahal namun saat dijual harganya anjlok. Memprihatinkan!

Panen 2

Padi siap panen (Foto: Hendricus Widiantoro)

Bisa panen dan hasil padinya mencukupi kebutuhan ekonomi, bisa untuk menyekolahkan anak. Itulah sebagian kesejahteraan bagi mereka setidaknya akan membawa ketentraman bagi warga.

Nah…pak Bejo mungkin mewakili atau setidaknya suara pihak yang apatis dengan hal hal yang terjadi di elit atas sana. Sebuah perbandingan antara yang atas dan bawah. Pilkada Tak Langsung dan petani Kampung di mana nantinya petani kampung itu tak lagi dilibatkan.

Penting ga penting sebenarnya keputusan yang ada di elit atas namun pastinya mereka tak memikirkan nasib rakyat kecil.Pilkada tak langsung ini merupakan sebuah sistem yang pernah dilakukan di Indonesia dan bukan hal yang baru. produknya sudah bisa dilihat di sejarah dan setelah itu Pilkada Langsung pun dilakukan beberapa waktu.

Kini jika sistem ini akan dilangsungkan lagi pemilihan kepala daerah dengan cara tak langsung apakah ini akan membaw dampak positif bagi rakyat?

Petani kampung seperti pak Bejo pasti tak bisa menjawabnya. Ia hanya bisa memandang swahnya yang kering, kerbaunya yang makan di antara tanah kering.

Tunggu saja waktunya..seperti petani menunggu musim panen..

Panen 4

Padi di sawah (Foto: hendricus Widiantoro)

Petani tetap menjadi orang paling sabar. Seperti yang kubaca dalam renungan berikut:

Di Tengah Musim Gugur Bersabarlah..

Jangankan menatap masa depan, menjalani hidup hari demi hari saja sudah sangat terasa berat. Firman Tuhan ini menasihatkan agar kita tetap sabar dan kuat dalam menghadapi masa-masa sukar di akhir zaman ini. Dikatakan, “Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan!” (Yakobus 5:7a). Kata ‘bersabar’ disebutkan berulang-ulang dengan harapan supaya setiap anak Tuhan menyadari akan hal ini. Bersabar adalah kunci untuk menghadapi situasi kehidupan sekarang ini.

Tuhan mengajar kita untuk belajar dari kehidupan seorang petani yang begitu sabar menantikan masa panen, karena kehidupan petani sangat bergantung pada hasil panennya. Karenanya mereka terus bersabar mulai dari saat menanam benih, merawat tanaman itu tumbuh, hingga musim panen tiba. Itu bukanlah waktu yang singkat, tapi melalui proses yang begitu panjang. Dikatakan oleh yakobus para petani melewati 2 musim yaitu musim gugur dan musim semi.

Ketika musim gugur datang semua tanaman mengalami terik, di mana dedaunan dan bunga-bunga rontok; pohon-pohon menjadi gundul. Meski demikian para petani tidak menjadi kecewa apalagi putus asa, mereka tetap sabar dan bertekun karena tahu bahwa pada saatnya masa itu akan lewat dan berganti dengan musim semi. Di musim semi inilah daun-daun mulai menghijau, tunas bermunculan, bunga-bunga bermekaran, dan pohon-pohon pun mulai menghasilkan buah pertanda bahwa masa panen telah tiba.

Jika kita sedang ada di ‘musim gugur’, seolah-olah tidak ada harapan, menderita sakit-penyakit, kesulitan ekonomi, jangan bersungut-sungut dan menggerutu

Sumber: http://airhidupblog.blogspot.com/2012/06/di-tengah-musim-gugur-bersabarlah.html

Iklan
Categories: Alam, Inspirasi, Politik, renungan | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: