Kuhirup Segarnya Udara Desa

Hendricus Widiantoro

Tak terjebak macet,, bahkan macet sekitar satu kilometer di tempat aku sekarang tinggal adalah sebuah “anugerah” bagi orang untuk menontonnya. Macet pun disebabkan karena faktor cuaca sehingga penyeberangan di Pelabuhan Bakauheni agak terhambat.

Namun bukan kemacetan yang perlu disyukuri, tetapi aroma bunga kopi di pagi hari lengkap dengan suguhan suara tupai pohon di atas pohon nangka dekat dengan jendela kamarku yang membuat hangat rasa hatiku. Pagi pagi jarang kudengar suara raungan kendaraan yang memekakkan telinga dan terganti oleh suara burung burung pagi hari.

Image

Kalau pun bangun pagi kesegaran udara di desa selalu memberiku inspirasi, inspirasi banyak hal. Tak hanya menyemangati untuk melakukan aktifitas namun inspirasi untuk melakukan banyak hal.

Di sawah kedua orangtuaku selalu menjadi tempat yang nyaman untuk dijadikan lokasi menyepi. sebuah gubuk yang kubangun bersama ibu, bapakku setidaknya menjadi tempat memandang Gunung Rajabasa yang membiru di kejauahan.

Kesegaran udara di desa adalah anugerah. Tak akan kudapatkan di tempat…

Lihat pos aslinya 77 kata lagi

Iklan
Categories: Kisah Kisahku | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: