Baju Sobek di Ruang Anjungan Tunai Mandiri

images (10)

A Book (www.nnklaw.com)

Don’t judge a bool by its cover! juga Don’t ever judge a book by a page! Pepatah itu pernah diungkapkan seseorang kepadaku saat ia memberi advice kepadaku tentang menilai seseorang. Benar pepatah tersebut pada zaman sekarang, tepat dan terkadang memang demikian meskipun tidak semua hal seperti itu. Jangan menilai sebuah buku dari cover nya saja.

Nyatanya aku memiliki banyak buku yang terlihat dari luar adalah buku buku berpenampilan dekil, jelek bahkan beberapa diantaranya berdebu.

Beberapa diantaranya bahkan dengan sampul buku jelek yang kulihat dari tahun 1960an. Namun yang membuat aku menyukai buku tersebut adalah buku buku tersebut masih enak dibaca meskipun dengan menggunakan ejaan tempoe doeloe.

Bahkan buku buku lama yang kusimpan tersebut lah yang membuatku menguasai beberapa bahasa asing diantaranya Jerman dan perancis meski sedikit sedikit dan bahasa Latin.

Bicara soal buku hal tersebut juga yang kuingat saat masuk ke Toko Buku Gramedia di Jalan Merdeka Bandung. Beragam buku sangat bagus dan bahkan ada buku yang sangat tebal dengan cover yang menarik namun buku tersebut pastinya tak pernah dibuka karena masih tertutup dengan plastik. Kalau mau tahu isinya pasti kudu membelinya meski di belakang ada sinopsis atau sedikit resensi tentang buku tersebut.

Penilaian tentang buku mungkin sama dengan penilaian orang. Melihat buku dari covernya dengan asumsi buku yang terlihat bagus pasti di dalamnya bagus: isinya, bahasan yang dikupas buku tersebut, penulisnya ataupun perihal yang ditulis dalam buku tersebut.

Namun pastinya tak selalu begitu: Jadi jangan pernah melihat buku dari covernya.

Demikian juga dengan hidup, orang. Hari ini peristiwa tersebut nyatanya terjadi juga dalam hidupku. Aku berniat mengambil beberapa digit uang dalam mesin ATM yang ada di salah satu bank di tempat tinggalku.

images (7)

time4teablog.wordpress.com

Seperti biasanya kuajak puteriku kecilku sekaligus untuk melihat pasar malam yang masih berlangsung sampai sekarang.

Karena seperti biasa anakku kuajak masuk ke dalam ruangan anjungan Tunai Mandiri tersebut. Merasa kedinginan dia akhirnya keluar dan dia malah keluar masuk buka tutup pintu kamar ATM tersebut.

Ga disangka muncul seorang anak kecil yang agaknya datang bersama dengan ayahnya yang membawa mobil. Dari awal kami masuk dia pun sudah menunggu antrian. Mungkin dia tertarik dengan adanya anak kecil di ruangan ATM sehingga dia mengintip dari luar.

Memang agak lama juga di dalam sebab memang hari ini untuk keperluan adikku dan juga karena sebagai singleparents aku harus memanage finansial pribadiku merangkap seorang ayah dan seorang ibu maka kuambil beberapa dari yang kusimpan.

Tak salah anak kecil tersebut tampak gelisah sambil melirik anakku. Anakku pun keluar lagi setelah masuk kembali. Agaknya anakku melihat si anak kecil yang seusianya dan sama sama wanita ini.

images (6)

                               net

Satu, dua , tiga bahkan empat akhirnya aku satu demi satu memasukkan kartu plastik tersebut. Si gadis kecil tersebut rupanya mengintipku dari dalam.

Pandangannya kulihat sepertinya melihat ke bajuku. Alamaaak..rupanya bajuku agak sobek dan terkesan compang camping karena saat keluarin motor robek akibat terkena gagang pintu. Kupikir biarlah cuma sebentar nanti ganti lagi.

Kisahnya menjadi lain setelah beberapa menit akhirnya aku keluar dan puteriku menungguku di luar. Di luar sudah ada beberapa orang yang juga akan menarik tuai dari Anjungan Tunai Mandiri tersebut setidaknya ada empat orang dengan maksud yang sama termasuk si kecil tersebut dengan papanya.

Agaknya anakku bersandar di dekat motor sambil mengamati gadis kecil tersebut. Mengamati dan mendengarkan! agaknya itu yang semoat terekam oleh puteriku.

Dalam perjalanan pulang puteriku dengan polosnya sempat ngomong padaku sebab dia kubonceng di belakang.

“Papa tadi anak kecil yang sama papanya bawa mobil ngelokke papa” (ngelokke= menghina).

“Loh kenapa emang Zra?” (Anakku Ezra kupanggil Zra)

“Katanya papa pake sendal jepit, bajunya sobek, bawa motor kok ngambil uang lama banget”

Hah?

Entahlah yang jelas aku sempat berpikir gadis kecil yang mengintipku di kaca ATM, datang bersama papanya dengan mobil tersebut mengamatiku, anakku.

Mungkin dia melihat kami hanya membawa motor bahkan melihat bajuku yang sobek di bagian kiri. Mungkin dia sempat mengatakan kepada papanya kok ada ornag yang terkesan “kere” dan hanya membawa motor pakai sendal jepit mengeluarkan empat ATM di ruangan tersebut.

Aku katakan pada anakku jangan diingat kata kata anak tadi. Mungkin buat puteriku dia akan ingat dia dan papanya dianggap miskin dilihat dari luarnya. Dilihat dari cover dan penampilannya dan itu memang harus kuakui.

Namun pengalaman hari ini memberi pelajaran buat puteriku: Dia melihat dan mendengar bahwa seseorang seusianya pun melihat hal lain di dalam hidup kami.

Kembali merenung mungkin di luar sana banyak orang penampilannya menarik, wah namun apakah penampilan tersebut juga berbanding lurus dengan kehidupan mereka. Toh banyak pengemis di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya yang penampilannya tak terduga nyatanya dalam sehari dia bisa menghasilkan uang jutaan. Sapa tahu?

Melihat orang lain memang tak hanya dari satu sisi. Bisa melihat penampilan orang dari penampilannya tapi di lain waktu penampilan juga menipu artinya tak selalu begitu.

Hari ini anakku kuajarkan ga boleh memandang orang dari penampilannya bahkan jika ia melihat pemulung di jalan atau dia kenal pengambil “rongsokan”. Pernah kubilang jangan meremehkan mereka sebab meskipun penampilan mereka seperti itu bisa jadi hidup mereka mewah atau lebih berada dari kami.

Hari ini aku dan puteriku kembali belajar dari anak kecil yang melihat kami dan dipandang kurang. Semoga anakku pun bisa belajar untuk jangan menilai orang hanya sekilas dan langsung men-judge nya.

images (5)

net

Don’t judge a bool by its cover! Don’t ever judge a book by a page!

Wikipedia: http://en.wikipedia.org/wiki/Don’t_judge_a_book_by_its_cover

don’t judge a book by its cover” is a metaphorical phrase which means “you shouldn’t prejudge the worth or value of something by its outward appearance alone

Iklan
Categories: Inspirasi, Kisah Kisahku, Pelajaran Hidup | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: