Nonton Shutter Island Biar MIKIR …

BwcWU1NCcAAppnx

Poster Film Shutter Island

Sehabis menonton film di Trans TV Shuter Island jadi mikir.Memang film yang dirilis tahun 2010 yang dibintangi aktor Leonardo Di Caprio ini membuat bingung. Bingung akan alurnya dan bahkan hampr terjebak untuk menebak nebak endingnya seperti film lain yang sudah bisa ditebak endingnya.

Bv5sGesIgAAdxiW

Leonardo Di Caprio

Namun bukan hal tersebut yang dibahas: Setidaknya ada yang pernah membahasnya di blog yang kucoba searching.

Shutter Island*, sebuah film bertemakan psikologi yang cukup menarik dan layak tonton ditengah film-film sampah tak layak tonton yang hanya mengandalkan kecantikan dan kehebatan visual efect berbumbu adegan percintaan sebagai pemanis. Sebagai film berat, film ini [sama halnya dengan film-film berat lainnya] sangat tidak disarankan untuk mereka-mereka yg hanya ingin puas menyaksikan adu laga atau pamer kekuatan atau menangis atau lelah tertawa setelah menonton sebuah film [sebaiknya anda mencari film drama picisan atau komedi atau film action yang taunya cuma mengumbar kekerasan fisik yang dangkal].

BvMnQFuCQAEwpTf

Fery

Shutter Island adalah sebuah cerita yang diangkat dari sebuah novel yang bernuansa psikologi atau lebih tepatnya lagi tentang kegilaan [awalnya saya menyangka ceritanya akan memiliki kemiripan dengan Veronika Memilih Mati Karya Paulo Coelho, ternyata jauh berbeda]. Bercerita tentang seorang agen polisi yg mendapat tugas menyelidiki kasus larinya seorang pasien dari rumah sakit jiwa yang khusus menangani pasien-pasien sakit jiwa yang tergolong berat [dan dianggap monster mengerikan jika berada ditengah-tengah masyarakat]. Rumah sakit jiwa tersebut berada di sebuah pulau bernama Shutter Island yang cuma bisa diakses dengan sebuah kapal fery. Dalam proses penyelidikannya sang agen polisi tahu bahwa rumah sakit jiwa tersebut hanyalah kedok dari sebuah operasi penciptaan hantu-hantu pembunuh melalui pencucian dan pengontrolan pikiran. Penyelidikan terus berlanjut dan akhirnya sang agen polisi menyadari bahwa ternyata penyelidikan yang dia lakukan ternyata tidak lebih dari bagian dari jebakan dan proses perekrutan dirinya. Sang agen akhirnya terjebak dan tak mampu lagi keluar dari shutter island dan proses perekrutan yang memanfaatkan trauma yg dialaminya. Sebagaimana halnya orang yang telah di vonis gila, semakin dia mencoba menjelaskan secara rasional apa yang terjadi semakin dia akan dianggap gila dan semua yang dia lakukan dianggap sebagai bagian dari pertahanan diri.

Kalau kita menarik semuanya dalam kehidupan sosial kita maka akan terlihat bahwa apa yang digambarkan dalam cerita Shutter Island sesungguhnya rill ditenga-tengah kehidupan kita. Lihatlah bagaimana trauma diciptakan dalam kehidupan kita, pemboman yg tidak jelas siapa pelakunya namun menelan korban yang jelas, teroris yang kita tak pernah tahu siapa namun jelas ada korban, bencana non bencana alam [ledakan gas, lumpur lapindo, krisis pangan, iklim yang tak lagi menentu, dan bencana-bencana lainnya] yang jelas-jelas merupakan akibat perbuatan manusia, kesemua itu terus berulang dan pastilah melahirkan trauma yang berujung pada gangguan kejiwaan. Contoh terbaru adalah informasi yang dilontarkan SBY terkait dengan ancaman teror atas dirinya yang kemudian menjadi alasan untuk memunculkan sosok teroris baru beserta otak dibaliknya. Dan akhirnya kontrol dilakukan melalui trauma yang direkayasa sedemikian rupa. Perlawanan terhadap kontrol ditengah-tengah trauma yang berhasil direkayasa tidak lebih dari sebuah kegilaan dan semakin kita melawan maka semakin kita dianggap gila, paranoid, dan label penyakit kejiwaan lainnya.

Lalu apa yang harus dilakukan ?

Diakhir Film Shutter Island sang agen polisi berkata “lebih baik menjadi monster mengerikan, dari pada mati dalam damai”

yaaa … itulah yang harus dilakukan, kita mengikuti kontrol yang ada sampai tingkatan segila-gilanya sembari terus memelihara kesadaran akan apa yang sesungguhnya terjadi..

Ulasan ini bisa selengkapnya dibaca di sini:

http://klubfilm.blogspot.com/2010/08/tentang-film-shutter-island.html

Namun yang agak menggelitik adalah di akhirnya kenapa penulis blog tersebut membuat kesimpulan seperti ini:

Diakhir Film Shutter Island sang agen polisi berkata “lebih baik menjadi monster mengerikan, dari pada mati dalam damai”

padahal kalau tak salah dengar si Marshal mengatakan:

What’s better? Live as a monster or died as a good man -Shutter Island-

“which would be worse? to live as a monster? or die as a good man?”★ Shutter Island

Kalau diterjemahkan bebas sebuah pertanyaan pilihan:

“Lebih baik mati sebagai orang baik atau hidup sebagai monster”

Any Way, film di Trans TV malam ini memang menjadi trending topik di TWITTER: Setidaknya di urutan keempat.
Trends ·

#SS6SeoulDay1

#GhaitsaKenang
#TanyaSuperSoccer
Shutter Island
#FinalAudition
Selamat Tidur Juga Upil
#RisingStarINA
Judika
The Maze Runner
Rising Star Indonesia
Ga salah jika banyak yang membuat tagar ##shutterisland karena memang menarik dengan gaya Leonardo Di Caprio yang sangat mumpuni dalam perannya.

Beberapa akun yang membuat tagar tentang film ini diantaranya:
ShagitaIP ‏@ShagitaImania

“You don’t have a friend marshal-shutter island” I think the same thing was happen to me too
*Movie Invader* ‏@moviein_vader

“Which would be worse – to live as a monster? Or to die as a good man?” -Shutter Island

Tapi apapun resensi dan pembahasan soal film ini film Psikologi ini sangat bagus. Bener kata sang penulis blog di atas ga usah nonton jika memang tak suka film ini. Namun buatku menonton film ini mengingatkanku pada saat di Joga komunitas film mencari sebuah film psikologi untuk dibahas alurnya dan tentunya relevanisnya dengan zaman sekarang.

BwnIRovIgAMA0ML

Shutter Island

Melihat pembahasan tersebut memang bisa menjadi sebuah refleksi di zaman sekarang Kegilaan bisa saja diciptakan oleh orang lain bahkan jika bisa sebiah sistem bisa menciptakan manusia manusia gila..

sang dokter bahkan mengungkapkan Trauma= Luka dan ia mengatakannya dalam bahasa Latin dan Jerman.

Film yang membuat penonton berpikir. Jika mau mikir. MIKIR MIKIR! kata cak lontong..

Iklan
Categories: Bioskop, Film, Inspirasi, Resensi | Tag: , , , | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Nonton Shutter Island Biar MIKIR …

  1. Pusing deh nonton beginian. Nonton yg komedi atau action ajalah.

    *disambit remot tipi*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: