Pohon Asam Kering : Refleksi Hidup dan Kematian!

Kering_Widi15

Pohon Asam Jawa di depan Dekranasda Lamsel

Hari ini sambil menunggu perwakilan Duta Besar dari negara sahabat yang melakukan kunjungan ke Lampung Selatan ke kantor Dekranasda lalu ke Gunung Krakatau , namun mataku justru tak tertarik dengan para duta besar tersebut. Meskipun yang datang ada sekitar 6 duta besar : Dari Amerika Serikat, Belarusia, Polandia, Korea Utara, Kazhakstan namun tetap saja pandanganku tertuju pada sebuah pohon Asam Jawa yang berdiri dengan kokoh, namun dia sudah MATI.

Gagah dan kokoh meski semuanya kering dan pastinya sudah MATI. Namun justru keindahan muncul saat pohon tersebut sudah mati. Keindahan tersebut juga pastinya akan tertangkap oleh orang yang memiliki sense of art. Meski aku bukan seniman namun melihat pohon tersebut langsung memiliki persepsi dan visi yang lain lebih dari sekedar pohon kering.

Pohon ini bukan pohon biasa pastinya dan jika melihat pohon sudah sebesar dan setinggi itu pasti pohon tersebut berumur cukup tua.

Kering_Widi4

Pohon Asam Jawa di depan Dekranasda Lamsel

Ngintip Wikipedia langsung deh ketemu ASAM JAWA yang kokoh berdiri di hadapanku. Kuputari pohon tersebut dan kuamati dari bawah hingga pucuknya. Dalam Wikipedia ketemu juga info tentang pohon ini: http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_jawa

Asam jawa, asam atau asem adalah sejenis buah yang masam rasanya; biasa digunakan sebagai bumbu dalam banyak masakan Indonesia sebagai perasa atau penambah rasa asam dalam makanan, misalnya pada sayur asam atau kadang-kadang kuah pempek.

Asam jawa dihasilkan oleh pohon yang bernama ilmiah Tamarindus indica, termasuk ke dalam suku Fabaceae (Leguminosae). Spesies ini adalah satu-satunya anggota marga Tamarindus. Nama lain asam jawa adalah asam (Mly.), asem (Jw., Sd.), acem (Md.), asang jawa, asang jawi (berbagai bahasa di Sulawesi) dan lain-lain[1]. Juga sampalok, kalamagi (Tagalog), magyee (Burma), ma-kham (Thai), khaam (Laos), khoua me (Kamboja), me, trai me (Vietnam), dan tamarind (Ingg.)[2]. Buah yang telah tua, sangat masak dan dikeringkan biasa disebut asem kawak.

Tapi bukan membahas soal tanaman tersebut…aku hanyalah seorang pejalan yang mencintai keindahan dan seni dan entah mengapa justru inspirasi muncul saat melihat pohon asam jawa ini.

Aku sendiri merupakan penikmat seni yang masih amatir belum terlalu dalam. Entah kenapa aku menyukai tanaman kering yang terkadang jika aku menemukannya di sungai kadang kubawa pulang saat kecil. terlihat melankolis memang, tapi segala sesuatu yang membuatku harus menatap keatas memberikan refleksi yang merasuk ke dalam sukmaku.

Berbicara tentang pohon yang kering, semua makhluk hidup pastinya akan mati. Semua yang bernyawa akan kering dan mati. Setidaknya hal tersebut hal penting yang dapat kurefleksikan. Masuk ke dalam pikiranku aku dan pohon asam Jawa tersebut sama sama ciptaanNYA. Punya masa untuk jatuh, kalah, gugur, atau bahkan mati. Aku memang tak sekuat itu untuk hidup sesuai dengan kemauan. Pada ujungnya , saatnya, ketika diriku semakin tua, atau ketika masalah dari luar menimpa diriku, aku pasti akan jatuh, gugur atau mati.

Aku teringat dengan 1 Petrus 1 ayat 24 “sebab semua yang hidup adalah seperti bunga rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering dan bunga gugur.” Ternyata benar juga. Petrus yang mengutip kembali firman yang sebelumnya ditulis oleh Nabi Yesaya ini sangat rill. Kita memang hanya seperti bunga rumput, atau seperti dedaunan yang tadi. Akan layu dan gugur. Wah, hari itu aku tiba-tiba merenung sejenak menyadari betapa ngga ada apa-apanya aku ini.

Kemudian apa hubungannya dengan pohon asam Jawa yang tetap tegak berdiri ini? Bagiku ini memiliki makna entah buat orang lain mungkin terkesan tak berarti, mati ya mati kering dan akan dibakar di bara api.

Lebih ke dalam lagi, pohon yang kering ini masih menyisakan kekokohan dan juga sarang sarang burung di puncaknya. Pastinya dulu pohon ini pernah hijau dan menghasilkan buah asam yang cukup banyak hingga saatnya mengering dan mati.

Perjuangan dari kecil hingga besar , berbuah dan mati pasti sudah dialami pohon tersebut. Bahkan lebih dari itu pohon tersebut telah mengalami berbagai macam cuaca hujan, panas dan bahkan juga menyaksikan berbagai peristiwa manusia yang ada di sekitarnya.

Namun setelah hidup pohon tersebut akhirnya kering dan mati. Meskipun di masa hidupnya pasti ia sudah memberi manfaat bagi semua makhluk hidup demikian pun saat sudah mati ia masih terlihat indah. Kematian yang masih bisa memberi keindahan.

Mampukah aku?

Seperti apakah penampakan pohon asam yang kumaksud berikut pose posenya:

Kering_Widi1

Kering meski kokoh

Kering_Widi4

Asam Jawa

Kering_Widi15

Ranting ranting

Kering_Widi4

Kering

Kering_Widi1

Kokoh

Kering_widi13

Kering

Kering_Widi14

Asam

Kering_Widi15

Kering

Kering_Widi16

Sarang burung di puncaknya

Kering_Widi4

Kering

Kering_Widi17

Kering kerontang dan mati

Iklan
Categories: Alam, Foto Perjalananku, Fotografi, Inspirasi, Kisah Kisahku | Tag: , , , | 6 Komentar

Navigasi pos

6 thoughts on “Pohon Asam Kering : Refleksi Hidup dan Kematian!

  1. poto pohonnya keren,,, 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: