Bukit Jempol, Bukit Gajah..Lahat I Miss It!

images (7)

                                                     Bukit Jempol credit: Net

Palembang- Lahat Sumatera Selatan sebuah perjalanan yang selalu kuingat dalam hidupku. Perjalanan selama 5-6 jam dari Palembang menuju ke arah Bengkulu, setelah melewati Ogan Ilir, Prabumulih, Muara Enim dan Lahat,  Perjalanan menggunakan mobil dari Palembang menuju Lahat dengan rute yang sangat memanjakan mata masih kuingat saat live in dan promosi panggilan, sebuah kenangan yang menjadi sejarah hidupku dan pastinya tak akan terlupa bagi kelas Gramatica, Sytaxis, Poecis dan Rhetorica. Sebuah misi yang pasti akan diingat oleh ratusan siswa hingga kini. Memperkenalkan sekolah kami kepada para siswa TK hingga SMA di Lahat Sumatera Selatan. Seperti halnya dusun-dusun lain di Sumatera Selatan, kondisi wilayah yang berbukit, rumah-rumah panggung kayu dengan kebanyakan penduduknya yang sehari-hari bekerja berkebun kopi menjadi suasana yang kulewati.

images (8)

                                         Lahat

Saat itu aku ingat perjalananku bersama dengan Romo Joseph dengan mobilnya sementara yang lain naik bis. Meskipun sudah sangat lama namun hal yang tetap terpatri di pikiran adalah Bukit Jempol dan Bukit Gajah di lahat, Sumatera Selatan. Jarak yang cukup jauh dari palembang ke Lahat sekitar 217 kilometer.

Tapi karena candaan dari Romo Joseph membuat perjalanan tersebut ga terasa ditambah dengan lagu lagu romantis yang disukai Romo Joseph meskipun lagunya agak ga jelas karena pake bahasa Perancis.

Tahun 2002, belum ada dan tepatnya yang pasti ga ada yang memiliki gadget untuk berfoto. Satu satu satunya foto yang dimiliki oleh Romo Kusmaryadi selalu menjadi moment buat berfoto bersama di setiap lokasi yang kami singgahi. Foto dicuci cetak terus dipajang dan jika ada foto yang bersangkutan maka minta dicuci (strategi marketing kala itu .).

images (7)

Legenda dan Kisah Lokal

Tentang bukit jempol pasti hal ini boleh dibilang aneh tapi nyata. Entah kenapa jarang sekali atau sulit sekali mengambil foto gunung telunjuk atau sering orang lahat bilang gunung jempol mistis nya sekira nya sudah di foto atau sudah pas posisi foto nya kadang suka tidak ada gambarnya di layar handphone atau kamera. Ya boleh percaya boleh ga nama nya juga mitos.

Ada sebuah mitos mengenai bukit telunjuk yang saya dengar dari nenek saya. Dia berkata bahwa untuk mengambil gambar gunung telunjuk tidak semudah mengambil gambar pemandangan alam lainnya. Karena setiap kali mata mengarah ke bidikan kamera, pasti tak berapa lama gambar itu akan hilang gambarnya dari memmory kamera.

Ada orang yang menamai gunung ini dengan sebutan gunung telunjuk, tapi lebih banyakan yang menyebutnya gunung jempol. Dah, nggak usah dipermasalahkan, yang penting keduanya adalah nama-nama jari.

Kalau menurut ceritanya yang saya tau dari nenek saya adalah konon pada suatu hari, di sebuah desa tinggallah seorang ibu dan anak. Ibu dan anak itu hidup dengan miskin. Si anak suka melawan orang tua dan anak itu juga setiap hari hanya ingin makan kalau lauknya ikan. Ibunya pun setiap hari juga pergi ke sungai untuk memancing ikan.

Tapi, lama-kelamaan ikan di sungai itu habis, karena setiap hari selalu ditangkap. Sang ibu pun berkata pada anaknya “anakku, ikan di sungai telah habis. Bagaimana bila kamu tidak usah makan ikan lagi?”. Anak itu pun menjawab “ibu, aku tidak mau makan kalau bukan selain ikan!”. Ibunya pun bingung, dengan tingkah anakanya itu yang hanya mau memakan ikan. Karena bingung ibu itu masuk ke dalam hutan. Dan berkata lah ibu itu di dalam hutan dengan sedih “ya Tuhan, mengapa anakku tidak makan yang lain selain ikan? Sedangkan ikan di sungai itu telah hampir habis. Seandainya aku bisa jadi gunung telunjuk, aku ingin supaya anak ku melihat ku sebagai sebuah gunung”.

Permohonan ibu itu terkabul. Saat itu juga sang ibu menjadi sebuah gunung, dan bentuk gunung itu pun seperti jari telunjuk. Di rumah anak itu pun mencari ibunya kemana-mana, hingga akhirnya dia masuk ke dalam hutan. Dia menemukan sebuah gunung yang berbentuk telunjuk, dan telunjuk itu mengarah kepada anak itu. Anaknya itu pun akhinya sadar bahwa gunung itu adalah ibunya. Karena pada gunung itu ada benda milik ibunya. Anak itu hanya bisa menangis dan berteriak “ibu.. kenapa ibu menjadi sebuah gunung” sambil membenturkan kepala nya ke pohon. Akhirnya anak itu pun mati dan ibunya tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena telah menjadi gunung telunjuk.

Sesudah melewati daerah tersebut sampailah kami di Lahat dan kebetulan aku mendapat homestay di Bukit Gajah. Rumah seorang warga yang menyambut kami bersama salah satu kawan dari Wonogiri Jawa Tengah. Kenapa dinamakan bukit Gajah pun masih membuatku bertanya tanya.

Waktu dua hari Sabtu minggu digunakan oleh siswa dari sekolahku untuk bertemu dengan siswa siswa TK hingga SMA di Lahat yang pastinya memperkenalkan sekolahku di Jalan Bangau 60. Meskipun sehari saat di Lahat menyisakan kesan yang cukup dalam dalam hidupku.

Lahat, mungkin kapan kapan aku diberi waktu untuk mengunjungi tempat itu.

Next trip..

Iklan
Categories: Backpackeran, Foto Perjalananku, Kisah Kisahku | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: