My Solo Backpacking: Melihat, Mendengar, Memandang Diri

Aku sang pejalan yang menyukai keheningan dan keindahan

Aku sang pejalan yang menyukai keheningan dan keindahan

Dermaga 1 Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan pada sore itu. Awalnya sudah naik ke atas KMP  Mufidah namun karena kapal tersebut hendak achor terpaksa aku turun lagi. Tak sekedar karena hendak anchor namun tiba tiba Syahbandar Pelabuhan Bakauheni menelponku..

Sebuah kebetulan yang sangat membantu karena pada saat ia mengajakku melihat CCTV dari ruangannya untuk melihat semua gangway Pelabuhan Bakauheni ia bercerita tentang masa mudanya. Suka berpetualang: bahkan hobinya mengumpulkan benda benda dari berbagai wilayah di Indonesia. Sangat Amazing banget menurutku. Tak mengherankan ia tau apa resiko dan kebutuhan selama perjalananku berpetualang:

Solo Backpacker.

Selalu begitu yang kulakukan: Menepis segala luka yang ada, segala penat yang harus kubuang. Sederhana saja aku tak ingin merepotkan orang lain mencoba mengatasi semuanya dengan mandiri termasuk untuk mengatur semua budget  yang harus kukeluarkan.

Sebuah amunisi sudah diberikan oleh Syahbandar Pelabuhan Bakauheni lengkap dengan petuahnya. Go go Good bye Sumatera Island.

Kali ini:

Fuga Mundi in Silentium Magnum, Bandung Wet Java Indonesia..

“Am I Wrong… kudengarkan lagu ini sambil membuat video klip perjalanan Solo Backpacking ku.

Lyrik yang selalu kuulang ulang..

Am I wrong for thinking out the box from where I stay?
Am I wrong for saying that I choose another way?

I ain’t tryna do what everybody else doing
Just cause everybody doing what they all do
If one thing I know, I’ll fall but I’ll grow
I’m walking down this road of mine, this road that I call home

So am I wrong
For thinking that we could be something for real?
Now am I wrong
For trying to reach the things that I can’t see?

But that’s just how I feel,
That’s just how I feel
That’s just how I feel
Trying to reach the things that I can’t see..

Segarnya aroma kebun Teh

                                   Segarnya aroma kebun Teh

Perjalanan malam hari adalah sebuah perjalanan yang harus kujalani. Kapal yang cukup lama dan terombang ambing di Selat Sunda nyaris selama 3 jam toh tak ku mabok laut. Sudah biasa.

Terbiasa hidup di pelabuhan memang sedikit menguntungkan. Bisa tidur di manapun memang sudah wajib bagi backpacker macam aku. Low budget tapi harus tercapai tujuan yang kumaksud.

Memperkirakan waktu, tahu harus berangkat kapan itulah para calon penumpang di pelabuhan Merak

Memperkirakan waktu, tahu harus berangkat kapan itulah para calon penumpang di pelabuhan Merak

Perkiraan untuk sampai terminal Leuwi Panjang Bandung Jawa Barat pastilah subuh atau dini hari setidaknya tak masalah buatku. Meski ingin naik bus Kramat Djati namun karena menunggu di bawah jalan layang Merak sangat lama bus Armada Jaya Perkasa tak masalahlah.

Membayar ongkos Rp75.000,- sekali jalan rasanya cukup puas apalagi di dalam bus hanya sekitar beberapa penumpang tak lebih dari 10 orang. Kernet dan sopir bus sempat ngomel ngomel karena tak dapat penumpang tapi ini kesempatan untukku jadi RAJA duduk di kursi tepat di belakang sopir. Bus yang tak banyak terisi penumpanng dari Merak-Cilegon-Serang bahkan hingga menuju Tol Cipularang tersebut cukup nyaman untuk backpacker sepertiku.

Sampai di terminal Leuwi Panjang masih pagi hari jam 01:30 WIB langsung diterpa hawa dingin kota Bandung yang brrr. menusuk ke tulang. Setidaknya ini puluhan kalinya aku ke Bandung meski pertama kalinya di terminal leuwi Panjang sebab sebelumnya aku selalu turun di terminal Kelapa.

Tujuanku masih jauh di daerah Karang Tineung (Ribet juga melafalkan kata kata dalam Bahasa Sunda yang terkadang antara ejaan dan pengucapannya berbeda) tapi lama lama bisa.

Untuk mengganjal rasa lapa dan dingin: Mie rebus ala Bandung plus teh hangat setidaknya bisa memberiku kehangatan di Bandung ini. Bus bus dari berbagai wilayahpun berdatangan dan tenda kaki lima yang menjual makanan dan minuman mulai terisi oleh berbagai macam penumpang dengan tujuan yang berbeda beda; Semuanya rata rata menunggu hingga pagi hari karena beberapa trayek kendaraan belum ada di hari sepagi ini.

Meski demikian ada saja tukang becak, sopir taksi yang dengan segala cara menawarkan jasa untukku.

“Aa kamana? taksi aja Aa 75 rebu aja” tawaran sopir taksi kujawab dengan gelengan dan ia menurunkan harga hingga 50 ribu bahkan hingga 25 ribu. Aku jawab aku menunggu angkot saj pagi hari. Namun ia tetap ngotot dan akhirnya kutinggal minum teh hangat lagi dengan mata sedikit mengantuk.

“Ayo naik becak aja Aa’ masih aja tukang becak tersebut menawarkan jasa juga.

Akhirnya pagi pun datang dan DAMRI  pertama yang kutunggu datang. Sebenarnya untuk trayek dalam kota jika sabar cukup membayar Rp 3.000,- di kota Bandung pun sudah sampai tujuan. Semangat low price, low budget tetap aku pegang meski godaan Taksi terus terngiang.

“Kamu backpacker bro…” dalam hatiku.

Setidaknya pagi hari jam 07:30 sampailah aku ditujuanku..

perjalanan di Kota Bandung dimulai dan beberapa tempat yang kukunjungi adalah tempat yang sebelumnya memang pernah kukunjungi:

Braga, Dago, Cihampelas, beberapa tempat lainnya.

Tak hanya itu Cimahi yang berbatasan dengan kota Bandung pun menjadi tujuanku. Lembang.

Agak aneh kali ini karena memang nyaris tak banyak jepretan kamera yang kuambil..nyaris tak ada 30 jepretan:

Suasana dari sebuah sudut di Kota Bandung

Suasana dari sebuah sudut di Kota Bandung

Hal yang tak pernah terjadi selama aku di Bandung adalah menikmati bulan Purnama. Meskipun tertutup mendung namun sesaat ada yang bisa kuabadikan.

Bulan Purnama di Kota Bandung

Bulan Purnama di Kota Bandung

Bandung:

Setidaknya banyak hal yang perlu menjadi refleksi dalam hidupku. Kehidupan di bandung dengan glamour nya dengan hingar bingarnya. Kota yang sumpek dan meski demikian banyak taman kota yang masih tersisa. Bangunan bangunan peninggalan Belanda yang kokoh terjaga.

Bandung kali ini di luar Mindstream: Tak ada Gedung Sate, Tak ada hal hal lain yang istimewa.

Banyak menjadi permenungan akan kisah kisah yang kualami dari bermacam orang yang kutemui. 

So am I wrong
For thinking that we could be something for real?
Now am I wrong
For trying to reach the things that I can’t see?

But that’s just how I feel,
That’s just how I feel
That’s just how I feel
Trying to reach the things that I can’t see..

Bandung 12 Agustus 2014

 

 

 

Iklan
Categories: Kisah Kisahku | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: