A Little Piece of Hiden Paradise In Bakauheni

Gambar

Pantai Blebug Kecamatan Bakauheni

Ini adalah kisah #Saveourbeach dan #Ekspedisimandiri pantai pantai di Lampung Selatan ku.

Memasuki Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni seperti sebelum sebelumnya. Merasa bukan berada di Lampung Selatan. Setidaknya ini dirasakan oleh rekan perjalananku. “Kok seperti di daerah Papua atau daerah mana ya mas?’.

Perasaan berbeda tersebut bukan karena infrastruktur jalan yang memang (maaf) memprihatinkan meskipun tetap sudah representatif jika dilalui dengan cukup hati hati karena ada beberapa bagian jalan yang memaksa aku harus turun dari kendaraan.

Setidaknya dari pintu masuk gerbang desa di dekat POM Garuda Hitam jika dimusim panas jalan yang dilalui sudah cukup bagus. Keramahan warga yang ada di sisi kanan dan kiri sepanjang perjalanan sedikit membasuh rasa panas yang menyengat.

Gambar

Perbukitan Blebug dilihat  dari Pantai

Masuk semakin dalam hamparan ladang pohon durian Monthong, karet, pohon pisang memanjakan mata. Semakin ke dalam di turunan Blebug mata akan semakin terlena dengan landscape asli di perbukitan kaki Gunung Rajabasa di kejauhan.

“Kayak lokasi shooting film The Lord Of the Ring ya mas” kata Sangga rekan perjalananku. Bahkan kesan tertarik akan alam tersebut saat melihat jurang jurang dan bukit bukit menjulang di sana sini meskipun tak sempat mengabadikannya karena sudah terlanjur ingin menikmati destinasi utama kami: PANTAI BLEBUG.

Pantai Blebug atau Blebuk (Kalau dilihat dari istilah katanya sih merujuk pada kata Blebug yang aku dengar dari tetua tetua di sekitar Desa Kelawi bersumber dari kata blebug yang menurut mereka adalah Tsunami dalam bahasa sekarang. Inilah yang menarik perjalananku kali ini).

Gambar

Bagan Apung di Pantai Blebug

Merujuk pada mba Yuli Nugrahani yang sudah mengesankan pantai ini dengan kalimat kalimatnya. Aku sudah lama tak mengunjungi pantai ini dan setidaknya ini kali kesekian aku mengunjunginya.

Pantai Blebug terletak di Bakauheni. Tidak sampai satu jam perjalanan dari Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, naik ojek atau mobil pribadi. Jalan sangat jelek tapi menawarkan pemandangan hijau berliku yang bervariasi : kebun pisang, kelapa, perkampungan, sawah, samar-samar laut. Pantainya sendiri masih perawan.

Ada deretan potongan-potongan karang yang terhampar jadi benteng antara laut dan pantai berpasir putih. Aku dan Sangga berdiri di sana di kelilingi air, beberapa meter dari pantai. Lihat, ada burung besar melayang di atas! Dan para nelayan yang baru pulang melaut di ujung pantai sebelah sana itu mendapatkan banyak ikan karena bulan belum purnama.

Gambar

Nelayan, pulau Sebesi, pantai dan bukit

Suasana hening, dan laut yang membiru menjadi pemandangan awal saat aku mebnginjakkkan kakiku di pasir pantai ini. Sebuah perbedaan yang kontras saat menghadap ke laut. Di sisi kanan menghadap ke pantai yang terlihat hamparan pasir nyaris tak ada batu terhampar.

Namun di sisi kiri kulihat hamparan batu berbagai jenis dan beberapa diantaranya menyerupai benteng pelindung pantai.

Beberapa nelayan terlihat mencari ikan dengan cara tradisional menggunakan jaring. Beberapa perahu tertambat di samping dermaga apung yang ada di pantai tersebut.

Ombak putih yang berkejar kejaran menjadi pemandangan lengkap dengan pemandangan Gunung Pulau Sebesi, Gunung Rakata Purba, Anak Krakatau, Pulau Sertung dan Pulau Panjang yang samar samar terlihat akibat tertutup penguapan.

Gambar

Air tawar, Air laut, Perbukitan, Ombak

Perbukitan hijau di sepanjang mata menyapu ke arah Timur dan Barat dan ini menyajikan pemandangan yang menakjubkan bagi “pengagum keindahan”.

Setidaknya lelahnya perjalanan di jalanan terjal melewati bukit dan lembah mengingatkan lagu film kartun Ninja Hatori:

“Mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke Samudera, bersama teman berpetualang!”

lagu yang dinyanyikan puteriku Ezranda Christeva JP si pecinta pantai tersebut seakan mengiringi.

Gambar

Perahu nelayan, Bagan Apung

Masih seperti sebelumnya di ekspedisi pantai pantai lainnya. Kamera sudah terpasang dan aku setidaknya mengakui bukan fotografer, persis yang dibilang akun @Jamhurim 72 aku setidaknya penjepret misterius. Jeprat sana jepret sini saja sebagai dokumen.

So meski hari ini belum bisa menemui tua tua kampung yang bisa menceritakan kisah pantai Blebug di kala dahsyat Krakatau 1883 yang mengakibatkan terhempasnya beberapa desa belum terjawab.

Batu batu di perbukitan yang terlihat bersusun seakan menjadi saksi dan ini akan menjadi bukti sejarah di masa silam.

Gambar

Sangga Sang Pejalan  

Ini hanya seculi kisah dan akan ada kisah lain.

Jejak terserak di pantai Blebug:

Gambar

                                    Aku dan perahu

Gambar

 Si pejalan

Gambar

Aku dan Pantai    

#Saveourbeach  South Lampung Regency

Bakauheni 17 April 2014

Iklan
Categories: Kisah Kisahku | 9 Komentar

Navigasi pos

9 thoughts on “A Little Piece of Hiden Paradise In Bakauheni

  1. wah… kerennya…

  2. lampung hiks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: