Kuntum Merah Putih di Pulau : Backpackeran Pulau Terluar

Merah Putih , bendera negeriku

Bunga bunga di pulau

Dengan ribuan pulau dan satu di antaranya ada di Selat Sunda

Pulau Rimau Balak

Gambar

Bunga Krokot di Pulau Rimau

Cuaca berangin, cerah, laut tenang begitulah informasi yang aku peroleh dari salah satu temanku di atas kapal Roll on Roll Off di Selat Sunda. Pikiran yang terbersit adalah melintasi laut, tepatnya selat yang berada di Selat Sunda. Kali ini tak melintasi Selat Sunda namun Selat antara Pulau Sumatera dan Pulau Rimau Balak.

Ini adalah perjalanan kesekian kalinya ke pulau ini untuk liburan melepaskan diri dari kepenatan, mencari ketenangan dan suasana masyarakat yang dengan senang hati menerima kehadiranku sebagai seorang Backpacker.

Tak harus jauh jauh pergi karena aku masih ada di Lampung Selatan.

Pulau Rimau Balak  seperti pulau pulau lainnya, Pulau ini  berada di perairan Selat Sunda ini dan masuk  wilayah Kecamatan Ketapang,  yang sebelum mengalami pemekaran dahulu masih berada di Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.

Letak geografis terletak pada koordinat 05o51’29’’ LS dan 105o46’58’’ BT memiliki luas lebih dari 500 Ha.  Pulau Rimau Balak ini sudah dihuni oleh warga sejak lama. Ada beberapa dusun di pulau ini yang masih masuk Desa Sumur Kecamatan Ketapang, dusun dusun tersebut diantaranya  Dusun Peritaan, Dusun Gusung Berak, Dusun Sukamaju,Dusun Buah .

Dengan kuda besiku akhirnya seperti biasanya untuk menempuh jarak terdekat aku putuskan ke Dusun Keramat. Dusun Keramat kental dengan Pulau Kecil diantara Pulau Sumatera dan Pulau Rimau Balak, sesuai namanya pasti pulau tersebut memiliki sejarah sendiri.

Gambar

Dermaga di Keramat

Perjalanan awal bersama teman backpakerku dimulai dari dermaga sederhana (nyaris rusak bahkan di beberapa bagian). Ramah tamah seperti biasanya jurus backpacker untuk bisa membaur dengan warga.  Akhirnya seorang warga Pulau Rimau Balak , Agus bersama rekannya mau mengantarkan  kami. Rupanya dia baru saja selesai menjual ikan hasil tangkapannya ke tempat penjualan ikan di dusun Keramat

Gambar

Mengibarkan Merah Putih

Dengan perahu sederhana bermesin perahu kecil tersebut dinaiki empat penumpang. Alun tenang yang semula di pinggir sedikit berubah ketika sampai di tengah. Kecepatan terpaksa diturunkan membiarkan kami terombang ambing sejenak. Tapi akhirnya kami bisa merapat di Pulau tersebut.

Terlihat dari kejauhan kapal kapal Roll On Roll Off yang melintas dari pelabuhan Merak ke Bakauheni dan sebaliknya.

Sampai di Pulau sebagai tanda terima kasih meskipun awalnya mas Agus menolak namun kuletakkan sekedar untuk membeli rokok padanya. Kebaikan hatinya menyeberangkan kami pastinya akan kuingat.

Bukan di dermaga tapi kami merapat di sebuah rumah sehingga harus melewati teras rumah warga.

Melihat muka muka yang aneh mereka menebak kami pasti bukan dari daerah sekitar Bakauheni atau Ketapang.

Tujuan yang ingin kulihat di Pulau ini pastinya melihat dari dekat keseharian warga. Beberapa warga pun terlihat selain bertani, berkebun banyak yang memlihara ternak kambing. Perjalanan pun kami lanjutkan melihat sebentar SDN 3 Sumur yang ada di pulau tersebut, namun menurut sang penjaga sekolah hari ini memang sedang libur.

Beristirahat di rumah warga tatapanku melihat hijaunya pohon bakau yang berada di sekitar rumah warga. Dari penuturan warga beberapa tanaman bakau yang terlihat berjajar rapi ditanam seorang warga bernama Abdurrohim.

Perjalanan selanjutnya menemui pak Abdurrahim, laki laki yang masih terlihat gagah tersebut sedang berbicang dengan rekannya.

Ngobrol dengan penuh semangat akhirnya ia mengisahkan awal mula ia dengan senang hati setiap berada di pinggir pantai tak lupa memunguti setiap buah bakau yang tercecer.

Gambar

Pak Abdurahim

Dari pengakuannya ia mulai menanam bibit bibit pohon bakau tersebut sekian tahun lalu. Namun beberapa tanaman bakau yang masih terlihat pendek diakuinya masih berumur sekitar 6 bulan.

Gambar

Jajaran bibit Mangrove

Ia memang sudah berumur sekitar 61 tahun, tinggal di Pulau Rimau sekitar 15 tahun lalu. Badan renta tak menyurutkannya untuk pergi ke kebun menanam pisang, menanam singkong, bahkan menanam berbagai jenis sayuran untuk bisa dijual ke daratan. Setidaknya dengan menanam berbagai tanaman yang bisa dijual ia bisa membayar atau membeli bahan bakar minyak untuk mesin diesel pembangkit listriknya.

“Butuh sekitar Rp 10.000 sehari untuk menghidupkan diesel, itupun dipakai dari jam 6 sore hingga jam 12 malam. Sekedar untuk penerangan dan mencari hiburan di pulau ini, ” tuturnya padaku.

Beberapa warga di pulau ini menggunakan tenaga surya untuk penerangan serta tenaga untuk menyalakan televisi, hiburan untuk melihat dunia luar dari pulau ini.

Gambar

Pak Abdurahim di rumahnya

Rumah panggung sederhana tersebut bagiku adalah homestay, dengan semilir angin dan kesejukan udaranya, kebun di atasnya lengkap dengan hutan yang masih ditumbuhi pepohonan besar adalah sumber penghudupan baginya dan warga di pulau tersebut.

Ia mengaku masih bisa memanen tanamannya tiga bulan sekali untuk dijual kepada pengepul yang akan membawanya ke pasar pasar di daratan. Tapi yang menyejukkan mataku adalah bunga bunga yang bisa aku lihat di pekarangan rumah panggung  dari kayu bayur  tersebut. Bunga merah putih yang terlihat indah, menandakan kerajinan laki laki tua tersebut bersama sang istri.

Gambar

Bunga krokot

Dari atas panggung tersebut aku bisa langsung melihat dermaga yang ada di pulau tersebut. Dermaga dari beton yang beberapa diantaranya sudah rusak.

Gambar

Hijau

Tapi tempat ini adalah sebuah tempat terindah yang ada di bumi ini. Setidaknya jika mau selain treking, hiking bahkan di Pulau Rimau ini ada beberapa lokasi snorkling, diving yang indah. Kalaupun ingin memancing pun lokasi ini bisa menjadi tempat yang pas.

Gambar

Dermaga Pulau Rimau

Kapan nanti aku akan kembali mengunjungimu bungaku

Bunga Merah Putih di Pulau Rimau Balak

Lebih terinspirasi lagi dengan laki laki tua renta yang menjadi pelopor untuk melestarikan tanaman bakau. Tanpa ada yang menyuruh dan lagi lagi bukan pekerjaan proyek.  Ratusan tanaman bakau tersebut aku harap saat aku diizinkan kembali sudah tumbuh subur. Ia pun tak mengharapkan imbalan apapun, hanya sebuah harapan dermaga yang ada di Pulau tersebut bisa diperbaiki serta jalan menuju perkampungan serta di sekolah yang nyaris hilang jika pasang datang.

Gambar

Menanam Mangrove

Aku akan selalu merindukan berada di pulau ini..

Iklan
Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Foto Perjalananku, Inspirasi, Kisah Kisahku | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Kuntum Merah Putih di Pulau : Backpackeran Pulau Terluar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: