Hidup Makin Berarti Dengan Dokumentasi

Hari ini Pukul 7:53 WIB aku lihat lagi pada hari yang sama di tahun 2006  aku duduk di pinggir danau berkabut itu, yah,,Waduk Ir Sutami Karangkates Malang Jawa Timur.

Gambar

Bendungan Karangkates

Pastinya ada seseorang di sisiku (entah di mana dia sekarang),

Tapi I Lose My self Tonight  lagu yang aku dengerin semalam dari One Republic membuatku tak harus mengingat saat saat indah itu, aku harus melanjutkan hidupku. Semuanya pasti sangat indah di masa depan bersama puteriku yang pagi ini dalam guyuran hujan kuhantar ke sekolahnya.

Danau atau tepatnya waduk tersebut mampu menampung air sebegitu banyaknya untuk dijadikan bahan pembangkit listrik tenaga air. Apakah hati pun sebesar itu untuk membangkitkan sebuah tenaga yang positif, ya pastinya.

Ingat ada di Jawa Timur jadi ingat juga makam bung Karno dan perpustakaannya. Setiap minggu atau hari libur hanya dengan berjalan kaki aku selalu sowan beliau untuk sekedar melihat lihat foto foto perjuangannya di masa lalu sebagai bapak Bangsa.

Namun yang membuat aku selalu berdecak kagum adalah semangat masa masa mudanya. Baik atau buruk dia tetaplah pendiri bangsa Indonesia. Semangat itulah yang selalu memberiku kekuatan.

Tak hanya ziarah, biasanya aku betah berlama lama di tempat ini, biasanya tirakatan atau kalau tidak berlama lama di perpustakaan yang ada di sini:

Gambar

Makam Bung Karno Blitar Jawa Timur

Di lantai atas dengan jendela kaca itulah aku berlama lama. Bukan untuk mengenang masa lalu ataupun membuka lembaran demi lembaran sejarah hidup. Tapi ini yang selalu membuatku melihat Tuhan selalu mengiringi langkahku di bagian Indonesia di manapun: di Palembang, di Jakarta, di Yogyakarta, di Lampung, di Surabaya, bahkan saat aku duduk di antara keheningan peristirahatan terakhir Bung Karno:

Entah aku lupa harinya seusai melihat “Lukisan yang berdetak jantungnya” Bung Karno aku naik ke lantai dua. Untuk membaca apapun yang menarik. Pas ada majalah Intisari, majalah yang selalu menjadi bahan rebutan untuk dibaca teman teman asramaku di palembang dulu.

Pas dan tepat yang kubaca edisi November 2005..kubuka lembar demi lembar majalah tersebut, sampai pada halaman terakhir tersebut aku melihat artikel ini:

“Hidup Makin Berarti Dengan dokumentasi”

Seolah terbawa dengan isi tulisannya, dan pastinya ga percaya sampai tepok jidat, bahkan meminta temanku Ni Wayan untuk membacakannya untukku, ia di akhir tulisan ada nama penulis Hendricus Widiantoro, Palembang.

“Loh ini nama kamu Wid”, kok Palembang?”

Dia taunya aku adalah orang Lampung yang kemudian sekolah di Yogyakarta lalu ke Surabaya dan Blitar. Ni Wayan baru tahu kalau aku pernah sekolah di Palembang. Ia benar itu memang tulisanku di tahun 2004 saat dosenku menjanjikan kami nilai A untuk mata pelajarannya jika kami bisa “tembus” dan dimuat di koran, majalah sekelas Intisari atau Koran Kompas atau bahkan The Jakarta Post.

Ia benar, hidup adalah sebuah dokumentasi, namun tak semua orang mampu, atau tepatnya mau untuk mendokumentasikannya. Entah sukses, bahagia, luka, perjalanan hidup perlu untuk dijadikan dokumentasi.

Namun tak perlu lagi aku menuliskannya, aku sekarang bisa searching di mbah Google dengan kata kunci Dokumentasi hidup setidaknya banyak link yang menuju ke tulisan di Intisari yang kutulis, dan aku membacanya kembali dari sudut yang berbeda.

Ya inilah hidup seperti air yang mengalir di atara bebatuan:

Gambar

Keren

Setidaknya seperti pepatah jawa kemarin ” Urip iku golek jeneng ora mung golek jenang”..kalau diartikan mendalam hidup bukan melulu mencari harta atau makan namun mencari manfaat bagi orang lain…

Ada yang perlu dikenang dan terutama yang bermanfaat bagi orang lain:

Bagaimana caranya mendokumentasikannya, ini tips dari majalah Intisari dan beberapa tulisan yang pernah aku buat dan aku pinjam lagi:

Dalam kehidupan, seseorang pasti memiliki pengalaman seru, menyenangkan, maupun menyedihkan. Namun, acap kali pengalaman itu terbang begitu saja bak angin lalu. Agar masa lalu jadi lebih bermakna, perlu dibuat dokumentasi hidup. Caranya:

1. Biasakan menulis setiap peristiwa – menarik maupun tidak – dalam buku harian.

2. Bila ada foto sejak masa kecil, simpanlah dengan baik. Beri keterangan peristiwa, tempat, serta orang yang terlibat dalam foto tersebut.

3. Buatlah semacam buku perjalanan, yang berisi catatan perjalanan dalam setahun. Tuliskan kapan, tujuan, tanggal, dan lamanya bepergian.

4. Sediakan buku khusus untuk refleksi dan riwayat hidup. Buku ini dapat dimanfaatkan untuk mencatat refleksi hidup kita atau menuliskan riwayat hidup selama ini.

5. Mulailah membuat autobiografi. Untuk itu, gunakan empat data di atas: buku harian, album foto, buku perjalanan, dan buku refleksi.

Dengan begitu, Anda telah memberi makna hidup dan bersyukur kepada-Nya atas perjalanan hidup yang selama ini dijalani. Sekaligus memberi inspirasi agar selalu berbuat positif, tidak saja bagi diri sendiri, tapi juga bagi keluarga dan generasi mendatang.

Tulisan ini dimuat di Majalah Intisari edisi November 2005 dengan judul asli ” Hidup Makin Berarti Dengan Dokumentasi”. Penulis : Hendricus Widiantoro

Inilah linknya:

http://intisari-online.com/read/hidup-makin-berarti-dengan-dokumentasi

Selain itu masih ada yang membuatnya lagi :

bloger:

http://azzuralhi.blogspot.com/2009/06/dokumentasi-jadikan-hidup-semakin.html

Sambil teriring doa mendoakan puteriku di hari harinya, Tuhanku jagalah kami selalu…

Gambar

Jelekku

(Pagi yang tenang, cerah dengan sinar matahari yang menembus kamarku, Sumbersari 4/12/2013)

Iklan
Categories: Adventure and Treking, Inspirasi, Kisah Kisahku | Tag: , , , | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Hidup Makin Berarti Dengan Dokumentasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: