Monthly Archives: Desember 2013

Dermaga Menganga, Senyuman di Banner Banner Itu

Meski harapan terkadang tak menjadi kenyataan
Tapi ia tak akan berhenti
menitipkan harapan pada bakau bakau kecil yang ditancapkannya di lumpur tepi dermaga
suatu ketika ia berharap pasang tak naik

atau menerpa kaki panggung rumahnya

Image

Dermaga

pagar pagar bakau berjejer
Ia tak peduli apa kata mereka

tak peduli senyuman terpampang di banner banner
atau tertempel di stiker yang mengotori papan rumah kayunya
ia yakin masih ada harapan
berjalan menuju dermaga
tanpa lumpur, tanpa kuatir berjalan di kecipak air ketika pasang datang

Image

dermaga

Ia sadar sesadarnya masih bagian Republik ini
Masih melihat MERAH PUTIH berkibar
di atas perahunya

Image

Ia masih berharap dermaga menganga masih bisa menjadi harapan
Tak kuatir kaki akan terperosok sebelum melintas Pulau

Image

Kapal Patroli

Apakah banner banner tersenyum itu
akan terus melihatnya
atau hanya sesaat

Setidaknya ia masih bisa melangkah

Diantara lubang lubang dermaga yang menganga

kemudian melihat senyum lagi dari banner banner

dengan warna warna cerah menyala

Berharap demaga itu bisa lebih indah dari sebelumnya

Image

Dermaga menganga

Meski renta ia masih menitipkan sebuah kalimat padaku

“Anak muda sampaikan pada mereka

Kami juga masih bagian dari MERAH PUTIH”

Aku tak mampu menjawabnya

Aku tak kuasa memberinya harapan

tapi aku akan kembali lagi

Melihat bakau bakau menyapaku lagi

memandang laut dari rumah kayu itu

Image

Mereka masih bagian dari REPUBLIK ini

Aku akan datang lagi

berada di antara kalian

ikut merasakan kekuatan serta semangat yang masih membara

menanam api api di antara lumpur

Image

Selalu bersemangat..

Sumbersari- Pulau Rimau- 05.12.2013

Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Inspirasi, Kisah Kisahku | Tinggalkan komentar

Kuntum Merah Putih di Pulau : Backpackeran Pulau Terluar

Merah Putih , bendera negeriku

Bunga bunga di pulau

Dengan ribuan pulau dan satu di antaranya ada di Selat Sunda

Pulau Rimau Balak

Gambar

Bunga Krokot di Pulau Rimau

Cuaca berangin, cerah, laut tenang begitulah informasi yang aku peroleh dari salah satu temanku di atas kapal Roll on Roll Off di Selat Sunda. Pikiran yang terbersit adalah melintasi laut, tepatnya selat yang berada di Selat Sunda. Kali ini tak melintasi Selat Sunda namun Selat antara Pulau Sumatera dan Pulau Rimau Balak.

Ini adalah perjalanan kesekian kalinya ke pulau ini untuk liburan melepaskan diri dari kepenatan, mencari ketenangan dan suasana masyarakat yang dengan senang hati menerima kehadiranku sebagai seorang Backpacker.

Tak harus jauh jauh pergi karena aku masih ada di Lampung Selatan.

Pulau Rimau Balak  seperti pulau pulau lainnya, Pulau ini  berada di perairan Selat Sunda ini dan masuk  wilayah Kecamatan Ketapang,  yang sebelum mengalami pemekaran dahulu masih berada di Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.

Letak geografis terletak pada koordinat 05o51’29’’ LS dan 105o46’58’’ BT memiliki luas lebih dari 500 Ha.  Pulau Rimau Balak ini sudah dihuni oleh warga sejak lama. Ada beberapa dusun di pulau ini yang masih masuk Desa Sumur Kecamatan Ketapang, dusun dusun tersebut diantaranya  Dusun Peritaan, Dusun Gusung Berak, Dusun Sukamaju,Dusun Buah .

Dengan kuda besiku akhirnya seperti biasanya untuk menempuh jarak terdekat aku putuskan ke Dusun Keramat. Dusun Keramat kental dengan Pulau Kecil diantara Pulau Sumatera dan Pulau Rimau Balak, sesuai namanya pasti pulau tersebut memiliki sejarah sendiri.

Gambar

Dermaga di Keramat

Perjalanan awal bersama teman backpakerku dimulai dari dermaga sederhana (nyaris rusak bahkan di beberapa bagian). Ramah tamah seperti biasanya jurus backpacker untuk bisa membaur dengan warga.  Akhirnya seorang warga Pulau Rimau Balak , Agus bersama rekannya mau mengantarkan  kami. Rupanya dia baru saja selesai menjual ikan hasil tangkapannya ke tempat penjualan ikan di dusun Keramat

Gambar

Mengibarkan Merah Putih

Dengan perahu sederhana bermesin perahu kecil tersebut dinaiki empat penumpang. Alun tenang yang semula di pinggir sedikit berubah ketika sampai di tengah. Kecepatan terpaksa diturunkan membiarkan kami terombang ambing sejenak. Tapi akhirnya kami bisa merapat di Pulau tersebut.

Terlihat dari kejauhan kapal kapal Roll On Roll Off yang melintas dari pelabuhan Merak ke Bakauheni dan sebaliknya.

Sampai di Pulau sebagai tanda terima kasih meskipun awalnya mas Agus menolak namun kuletakkan sekedar untuk membeli rokok padanya. Kebaikan hatinya menyeberangkan kami pastinya akan kuingat.

Bukan di dermaga tapi kami merapat di sebuah rumah sehingga harus melewati teras rumah warga.

Melihat muka muka yang aneh mereka menebak kami pasti bukan dari daerah sekitar Bakauheni atau Ketapang.

Tujuan yang ingin kulihat di Pulau ini pastinya melihat dari dekat keseharian warga. Beberapa warga pun terlihat selain bertani, berkebun banyak yang memlihara ternak kambing. Perjalanan pun kami lanjutkan melihat sebentar SDN 3 Sumur yang ada di pulau tersebut, namun menurut sang penjaga sekolah hari ini memang sedang libur.

Beristirahat di rumah warga tatapanku melihat hijaunya pohon bakau yang berada di sekitar rumah warga. Dari penuturan warga beberapa tanaman bakau yang terlihat berjajar rapi ditanam seorang warga bernama Abdurrohim.

Perjalanan selanjutnya menemui pak Abdurrahim, laki laki yang masih terlihat gagah tersebut sedang berbicang dengan rekannya.

Ngobrol dengan penuh semangat akhirnya ia mengisahkan awal mula ia dengan senang hati setiap berada di pinggir pantai tak lupa memunguti setiap buah bakau yang tercecer.

Gambar

Pak Abdurahim

Dari pengakuannya ia mulai menanam bibit bibit pohon bakau tersebut sekian tahun lalu. Namun beberapa tanaman bakau yang masih terlihat pendek diakuinya masih berumur sekitar 6 bulan.

Gambar

Jajaran bibit Mangrove

Ia memang sudah berumur sekitar 61 tahun, tinggal di Pulau Rimau sekitar 15 tahun lalu. Badan renta tak menyurutkannya untuk pergi ke kebun menanam pisang, menanam singkong, bahkan menanam berbagai jenis sayuran untuk bisa dijual ke daratan. Setidaknya dengan menanam berbagai tanaman yang bisa dijual ia bisa membayar atau membeli bahan bakar minyak untuk mesin diesel pembangkit listriknya.

“Butuh sekitar Rp 10.000 sehari untuk menghidupkan diesel, itupun dipakai dari jam 6 sore hingga jam 12 malam. Sekedar untuk penerangan dan mencari hiburan di pulau ini, ” tuturnya padaku.

Beberapa warga di pulau ini menggunakan tenaga surya untuk penerangan serta tenaga untuk menyalakan televisi, hiburan untuk melihat dunia luar dari pulau ini.

Gambar

Pak Abdurahim di rumahnya

Rumah panggung sederhana tersebut bagiku adalah homestay, dengan semilir angin dan kesejukan udaranya, kebun di atasnya lengkap dengan hutan yang masih ditumbuhi pepohonan besar adalah sumber penghudupan baginya dan warga di pulau tersebut.

Ia mengaku masih bisa memanen tanamannya tiga bulan sekali untuk dijual kepada pengepul yang akan membawanya ke pasar pasar di daratan. Tapi yang menyejukkan mataku adalah bunga bunga yang bisa aku lihat di pekarangan rumah panggung  dari kayu bayur  tersebut. Bunga merah putih yang terlihat indah, menandakan kerajinan laki laki tua tersebut bersama sang istri.

Gambar

Bunga krokot

Dari atas panggung tersebut aku bisa langsung melihat dermaga yang ada di pulau tersebut. Dermaga dari beton yang beberapa diantaranya sudah rusak.

Gambar

Hijau

Tapi tempat ini adalah sebuah tempat terindah yang ada di bumi ini. Setidaknya jika mau selain treking, hiking bahkan di Pulau Rimau ini ada beberapa lokasi snorkling, diving yang indah. Kalaupun ingin memancing pun lokasi ini bisa menjadi tempat yang pas.

Gambar

Dermaga Pulau Rimau

Kapan nanti aku akan kembali mengunjungimu bungaku

Bunga Merah Putih di Pulau Rimau Balak

Lebih terinspirasi lagi dengan laki laki tua renta yang menjadi pelopor untuk melestarikan tanaman bakau. Tanpa ada yang menyuruh dan lagi lagi bukan pekerjaan proyek.  Ratusan tanaman bakau tersebut aku harap saat aku diizinkan kembali sudah tumbuh subur. Ia pun tak mengharapkan imbalan apapun, hanya sebuah harapan dermaga yang ada di Pulau tersebut bisa diperbaiki serta jalan menuju perkampungan serta di sekolah yang nyaris hilang jika pasang datang.

Gambar

Menanam Mangrove

Aku akan selalu merindukan berada di pulau ini..

Categories: Adventure and Treking, Backpackeran, Foto Perjalananku, Inspirasi, Kisah Kisahku | 1 Komentar

Hidup Makin Berarti Dengan Dokumentasi

Hari ini Pukul 7:53 WIB aku lihat lagi pada hari yang sama di tahun 2006  aku duduk di pinggir danau berkabut itu, yah,,Waduk Ir Sutami Karangkates Malang Jawa Timur.

Gambar

Bendungan Karangkates

Pastinya ada seseorang di sisiku (entah di mana dia sekarang),

Tapi I Lose My self Tonight  lagu yang aku dengerin semalam dari One Republic membuatku tak harus mengingat saat saat indah itu, aku harus melanjutkan hidupku. Semuanya pasti sangat indah di masa depan bersama puteriku yang pagi ini dalam guyuran hujan kuhantar ke sekolahnya. Baca lebih lanjut

Categories: Adventure and Treking, Inspirasi, Kisah Kisahku | Tag: , , , | 1 Komentar

I Lose My Self Tonight

Image

Masih dengan alunan yang nge-beat punya One Republic malam ini 22:30 PM

pastinya melalui Radio Streaming Kencana FM 98.6 Malang:

I stared up at the sun 🙂
Thought of all the people, places and things I’ve loved
I stand up just to see
Of all the faces,
you are the one next to me

You can feel the light start to tremble
Washing what you know out to sea
You can see your life out the window, tonight…

If I lose myself tonight
It’ll be by your side
I lose myself tonight…
Woah, woah , woah

If I lose myself tonight

”’

Selalu bersemangat, menyemangati diri,,kalau bukan diri sendiri siapa lagi..

Lagunya OneRepublic ini selalu membuka hati dari penggalan penggalan hidup yang sudah aku lewati..

Menghitung hari untuk melihatnya selalu tersenyum bersamaku, dari matahari terbit hingga terbenam.

Selalu kupandang ke arah Timur : Jauh di sana di kota Apel, saat kisah itu bermula..

Tujuh,,angka ini sangat penting bagiku. Tujuh tahun sebentar lagi Tuhan memberikan berkat yang selalu akan menjadi anugerah terindah dalam hidupku..

You can feel the light start to tremble
Washing what you know out to sea
You can see your life out the window, tonight…

If I lose myself tonight

Aku ada dalam genggamanMU dan aku tak ingin lepas dari MU ..

If I lose myself tonight God,,keep your Little angle for me..

I Love Jesus my Saviour, I Love My Family, My Daughter, All Of You Who Love Me…

( Thanks OneRepublic , Sumbersari 03/12/2013 22:41 PM)

Categories: Kisah Kisahku | Tinggalkan komentar

Edisi Ngonthel : Urip Kuwi Golek Jeneng … Ojo Mung Golek Jenang ? Really?

Ngonthel ndisek yuk:

Image

Sepeda Onthel Mbah Parijan

Hujan,,,suaranya membuat genting di atas kamar seperti alunan musik..Mau tidur belum bisa, si kecil sudah bobo dengan memeluk boneka panda kesayangannya, padahal ratusan boneka berbagai macam ada di lemari tapi entah ga tau kenapa sampai kunyel, dekil dia suka memeluknya…dibawa tidur ke manapun : Bahkan saat aku ajak backpackeran ke Jakarta, Bogor pun masih sempat mau dibawa:

“Pa dede panda di bawa nggak?”

“Waduh de, di Jakarta banyak boneka”

Tapi,,,kini dia lagi pingin sepeda, karena sepeda yang dibelikan buatnya sudah ga bisa dipakai lagi, bukan karena rusak tapi karena tingginya sudah membuatnya harus punya sepeda baru.

Penengahan-20140426-04517

Boneka koleksi Ezra

Tak patah semangat, dia pun menyimpan recehan demi recehan di celengan ayam, celengan bebek, dan celengan kaleng. Tapi belum kuberikan juga untuknya sebuah sepeda, bukan karena tak mampu beli tapi dia sudah tau mana yang harus lebih dahulu dibeli.

Sebuah lemari etalase untuk boneka boneka kesayangannya yang ingin dibelinya lagi.

Sepeda…

Jadi inget sewaktu mendapat petuah dari seorang bloger lain..naik sepeda itu tak melulu soal berapa jarak tempuh yang sudah ditempuh, namun ada hal lain yang lebih bisa dihayati dari hal tersebut.

Butuh kayuhan demi kayuhan, tapi ga setiap saat harus mengayuh tergantung kondisi jalan,,kalau nanjak ya dikayuh, kalau turunan masak mau dikayuh terus, ” mblandang” kata mbahku …

“Koyo ngonolah urip le…”

“Yo mbah”

Hidup terasa indah bukan karena jumlah umur, tapi bagaimana kita menikmati setiap detik untuk mendapatkan umur tersebut …

Bersepeda juga bukan masalah barang beroda dua tanpa mesin itu, atau onderdil serta material penyusun sepeda itu. Namun,  gimana caranya  menggunakan sepeda dan segala aksesorisnya agar memperoleh pengalaman perjalanan yang lebih josss…

Pastinya untuk dinikmati, bisa diceritakan, bukan juga buat pamer,,,

Yo  koyo ngonolah urip.

Kehidupan tak melulu harta yang dicari, didapatkan, tapi bagaimana memberi arti  harga yang kita punya untuk membuat hidup kita lebih berharga secara batin, bukan hanya secara nominal.

Lagi lagi mengenang nasehatnya:

“Thole,,urip kuwi golek jeneng … ojo golek jenang” …

Kalau bahasa gaulnya sekarang kurang lebih:

“Hidup itu cari nama bukan cari makan..”,

Artine,,,hidup itu harus bermanfaat (bagi orang banyak) sehingga membuat nama yang baik, bukan hidup hanya cari harta tapi tak membuat perbedaan apa-apa.

Sama dengan sepeda, buat apa punya sepeda kalau cerita yang kita punya hanya pada saat kita membelinya

“bangga harganya, ,merknya yang terkenal dan bla bla..”

Bukan pada saat menaikinya  tapi perjalanan ke mana saja, bertemu siapa saja, atau membawa diri ke siapa saja untuk bermanfaat bagi siapa saja.

“Terus apa urusan kamu?”

he he inilah hidup, kadang diri merasa sombong,,segalanya sudah dimiliki; Kecantikan, ketenaran, kemapanan, atau bahkan kemandirian.

Namun lebih dari itu semua apakah EGO bermanfaat bagi orang lain?

Ataukah justru membawa sakit bagi orang lain sampai tak terlupakan…

Image

Me and Ezra

Lalu aku ingat dengan sepeda yang tak atau belum kubelikan buat puteriku yang sebentar lagi ulang tahun.

Juga boneka miliknya: Kenapa ada boneka yang bagus, bahkan sangat bagus dengan bulu bulu halusnya, tapi dia ga suka?

Kenapa dia justru sayang sama boneka dekilnya? Kenapa mereka yang diberi kemapanan, kecantikan pun belum mendapat apapun yang diharapkannya?

Kenapa memilih untuk menantang “main stream” yang ada.

Yach itulah filosofi diri dan setiap orang pasti berbeda beda.

Tapi setuju sama mbahku:

Urip bukan sekedar mencari harta, tapi seberapa bermanfaat dan memanfaatkan diri bagi orang lain.

“Hidup terasa indah jika sedikit saja memberi manfaat. Apapun itu bentuknya…”

(Kamarku yang dingin di bawah rintihan hujan, hati beku,  Sumbersari 03/12/2013)

Categories: Kisah Kisahku | Tinggalkan komentar

Kembali Ke Kehidupan Part 1

KEMBALI  KE  KEHIDUPAN

Autocronology n Ontology

Image

Jepretan dari atas KMP Dharma Rucitra I (Hendricus Widiantoro)

                            

 Ezranda Christeva Jevin Papilaya

Januari 2013

Penerbit:

Khen Publishing

Image

Ezra

Aku ingin menuliskannya, menuliskan saat saat membawanya dalam keheningan. Tanpa kemewahan ataupun sesuatu untuk dibanggakan. Namun aku mampu dan bisa.

Hingga menjelang saat saat waktu itu akan kembali ia menanyakan kepadaku:

Saat yang terbaik untuk membawanya dalam bahagia.

 Namun aku tak akan pernah melupakan saat saat itu.  Surabaya- Blitar- Malang- Yogyakarta- Lampung.Semuanya menorehkan kisah yang membesarkan kami.

Pabila  Kau mencinta, janganlah berkata: Tuhan  ada di dalam hatiku, tapi sebaiknya engkau merasa, aku berada di dalam Tuhan

(Kahlil Gibran, The Prophet).

“Poetry is My Religion “

(Ide Hintze)

Jiwaku ada dalam halaman-halaman ini

(Pope Jhon XXIII)

Manusia diberi kemampuan oleh Tuhan untuk berharap dan berharap, sampai kemudian dia berharap untuk mengambil kelopak kelalaian dari matanya. Sehingga dapat menyaksikan diri sejati. Dan siapa yang menyaksikan diri sejati maka ia telah menyaksikan kebenaran dari kehidupan yang sejati untuk dirinya. Untuk semua manusia, dan alam semesta.

Kahlil Gibran

Ia yang telah menginspirasiku dalam banyak hal.

Dari Dalam Lubuk Hatiku

Dari dalam lubuk hatiku seekor burung bangkit  dan terbang menuju angkasa. Semakin tinggi ia terbang, semakin besar ia tumbuh. Mulanya ia  hanyalah seperti seekor burung laying-layang, kemudian menjadi seekor  burung  penyanyi, kemudian seekor rajawali. Kemudian menjadi sebesar awan di musim semi dan kemudian memenuhi segenap langit yang penuh bintang.

Dari dalam lubuk hatiku seekor burung terbang menuju angkasa dan bertambah besar lagi ketika ia terbang. Tetapi ia belum meninggalkan hatiku.

Oh  imanku, pengetahuanku yang begitu liar, bagaimana bisa aku terbang setnggi itu untuk menyaksikan bersamamu jiwa manusia yang agung sedang menulisi langit?

Bagiamana aku dapat mengubah lautan dalam diriku menjadi kabur, dan menguap bersamamu menuju angkasa yang tak bertepi?

Bagaimana mungkin seorang tahanan dalam kuil dapat melihat  kubah emasnya? Bagiamana pula sebuah bij dapat membentangkan diri untukmembungkus buahnya?

Oh  imanku, aku dirantai di dalam batang-batang perak dan kayu hitam, dan aku tak dapat terbang bersamamu.

 Dari dalam hatiku engkau masih terbang menuju angkasa, dan jika hatiku dapat merengkuhmu, aku akan puas.

(Kahlil Gibran).

Sumbersari,  4/2002/ 3: 40  Gibran-Henk Juli 2002

Hidupku tak kumengerti cintaku tak kumengerti. Semuanya hilang bagai mimpi. Mereka berkata tentang srigala dan tikus. Minum dari  sungai yang sama. Tempat singa melepas dahaga. Mereka berkata tentang elang dan burung-burung hering. Mencabikkan paruhnya ke dalam bangkai. Dalam damai, keduanya. Di kehadiran bangkai-bangkai mati itu. Oh cinta, yang tangan lembutnya mengekanng hasrat-hasratju. Membuatku lapar dan dahaga.  Akan martabat dan kebanggaan. Jangan biarkan nafsu kuat terus mengganguku . Memakan roti dan meminum anggur. Menggoda diriku yang lemah ini. Biarkan rasa lapar menggigitku. Biarkan rasa haus membakarku. Biarkan aku mati dan binasa. Sebelum kuangkat tanganku untuk cangkir yang  tidak kau isi dan mangkuk yang tidak kau berkahi.

Sumbersari,  5/2002/ 4: 02

Merasuk ke relung kehidupanku. Kehadiranku membawa makna. Hatiku beku ketika cinta memanggil. Sukma bergetar memenjarakan rajawali di hatiku. Mengapa cerita yang hilang mengusik kesendirianku. Hilang kehidupan yang kususun dalam perwajahan kisahku. Perjalanan menghantar jalanku dalam setiap sudut , sungguh bermakna.  Kubunuh  pilu di dadaku  saat gejolak ada dalam sudut makna. Persaudaraan terwujud, kasih memberi dan menuangkan warna-warna di kehidupanku. Penuh cerita yang ada  pada hari-hariku.  Semuanya karenamu.

Palembang- Kebingunanku. 7/2002/ 4:20 jui 2002

Memilih adalah suatu hal yang membingungkanku. Bagaikan memilih  seorang istri, mengarahkan sukmaku  untuk dapat mencintai, untukNya. Spritual yang membingungkan. Antara kehendak yang makin mengarahkan diriku pada sebuah keputusan. Dalam kebingunganku, memasrahkan pada sukma yang abadi. Sang Khalik yang memanggilku.

Palembang- Pencerahanku. 8/2002/ 4: 50

Pertalian yang tak memungkinkan bersua. Pelayanan demi pelayanan dirimu. Awal-awal hidupku yang sungguh memberi makna pencerahan. Semua indah, ada makna yang tersibak kala semuanya terwujud. Pemberian dari yang Agung. Sebuah relasi yang membukakan makna kehidupan. Syukur padaMu.

Palembang- Memberi Arti. 10/2002/ 3:55

Rohku melayang layang mengepakkan sayap leinginanku. Melepaskan setiap detik  keinginan yang menggebu. Kehadiran yang menciptakan  nuansa. Membaka gejolak keinginan yang meghadorkan bayag-bayang. Kini hilang  dalam kenangan. Memberikan aku kesempatan  untuk diam.Aku terkurung dalam diri yang memiliki ribuan keinginan. Pesonanya menebarkan kisah dalam hari hariku.  Terbersit sebuah kesucian diri yang ternodai.  Salah yang menyayat-nyayat. Diri yang berhadapan dengan keinginan sesaat. Hadir lalu pergi tak member arti. Hanya sebuah kehendak sesaat yang tersalurkan di kesempitan diriku.

 Dear Paparazzi!!!!

Aku tak mengerti, namun aku tahu Tuhan tahu yang terbaik buatku dan buatmu..

To Be Continue….

Categories: Kisah Kisahku | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.